Pukul setengah sembilan malam, Tiara menutup kitab suci Al-Qur'an nya. Meletakkannya di atas meja lalu melepaskan mukena yang ia pakai. Akhir-akhir ini gadis itu menjadi semakin rajin mengaji, karena memang hanya kepada sang pencipta ia bisa mengadukan segala keluh kesahnya dan bisa membuat hatinya menjadi tenang. Gadis itu lalu merebahkan tubuhnya yang lelah di atas kasur busa yang langsung menyentuh lantai tanpa alas. Pikirannya kembali mengawang, seolah langit-langit kamar kosnya itu adalah layar lebar yang tengah menampilkan wajah seorang pria yang diam-diam ia rindukan. Tiara menggeleng, ia tekuk bibirnya ke bagian dalam. Dia lalu meringkuk ke samping kala airmatanya tiba-tiba menyeruak lagi. Benar kata Dilan, rindu itu memang berat. Terlalu berat untuk ia tanggung sendirian. ×××××

