Seperti hari-hari sebelumnya, setelah pekerjaannya usai, Tiara akan memesan ojek online via aplikasi di gawainya. Gadis itu akan menunggu di dekat pintu gerbang rumah sakit dengan beberapa perawat lain yang juga melakukan hal serupa.
Tak butuh waktu lama, satu-persatu penumpang online itu mulai diangkut oleh pengemudi ojek. Dan tiba saat ojek yang dipesan Tiara datang, gadis itu berpamitan pada dua temannya yang masih tinggal. Dia menyambut helm berwarna hijau yang disodorkan oleh pengemudi motor. Belum sampai ia memakai benda tersebut, pergelangan tangan kanannya sudah dipegang oleh seseorang.
"Aku kan udah bilang mau jemput kamu, Sayang."
Tiara menoleh, sedikit mendongak. Seketika matanya membulat dan mulutnya ternganga kala mendapati Raka tengah mengerling padanya.
"Cancel ya Pak, ini ganti ruginya." ucap Raka pada driver ojek seraya memberikan helm yang tadinya berada di tangan Tiara. Tak lupa ia juga mengangsurkan selembar uang merah pada bapak-bapak itu.
"Nggak usah, Mas. Nggak pa-pa kok di cancel." tolak driver ojek itu sembari menyimpan helm di motornya.
"Rejekinya anak Bapak ini." Raka meraih tangan kiri pengemudi itu, memaksa agar menerima pemberiannya.
"Makasih ya, Mas. Semoga Mas sama Mbak langgeng terus. Biasa Mas, cewek kalau lagi ngambek emang gitu. Sok jual mahal dijemput nggak mau." ucap bapak ojek itu sambil berbisik di akhir kalimat karena Tiara menatapnya cukup tajam.
"He, iya Pak." sahut Raka agak canggung. Lalu ia berbalik menatap Tiara yang sepertinya sudah merencanakan untuk kabur. "Ayo pulang." ucapnya lembut seraya menggiring Tiara menuju mobilnya yang berada tak jauh dari posisinya.
Dua perawat yang masih tinggal menatap Tiara dan Raka. Ada yang dadah-dadah pada Tiara dan ada yang menggerakkan tangannya seperti sedang bersiul walau tak mengeluarkan suara.
Raka hanya tersenyum tipis sementara Tiara mendengus kesal. Sampai di samping mobil, pria itu lalu membukakan pintu untuk Tiara. Tangan kanannya masih memegang lengan gadis itu, antisipasi jika gadis galak itu lari kabur. Sedangkan telapak tangan kirinya ia letakkan di atas pintu, berjaga-jaga jika kepala Tiara sampai terantuk.
"Mau makan apa?" tanya Raka saat ia sudah berada di balik kemudi. Ia melirik Tiara yang duduk bersedekap dengan mimik wajah jengkel dan sebal. Sangat kentara di mata Raka.
"Mau pulang." jawab Tiara singkat, tanpa menoleh.
"Aku laper."
"Bodo." serobot Tiara lalu menatap Raka dengan kedua ujung bibir yang melengkung kebawah. "Kamu kenapa sih muncul lagi?" tanya gadis itu berteriak, tapi ada sedikit nada seperti merengek.
"Loh, emang aku pernah ilang?" sahut Raka dengan pertanyaan lain. Ia mulai melajukan kendaraan roda empatnya itu perlahan-lahan.
"Kenapa kamu nggak di sana aja? Kenapa pulang?" tanya Tiara setengah berteriak.
"Oh... jadi kamu baca chat aku?" Raka tersenyum, hatinya sedikit berbunga ketika ia mengetahui fakta bahwa Tiara tidak benar-benar mengabaikannya.
"Aku salah apa sebenernya sama kamu. Resek banget jadi orang." Tiara tak lagi menatap Raka. Ia menunduk dan menutup seluruh wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Ia sesenggukan dan hal itu membuat Raka langsung menepikan mobilnya.
"Hei, Ra." Raka panik. Gadis galak yang sering membentaknya itu kini menangis, menangis karena dirinya.
Tiara menolak saat Raka menyentuh lengannya. Ia menyamping memunggungi pria itu. Ia mengambil beberapa lembar tisu dari dalam tasnya lalu mengusap lelehan airmatanya yang entah mengapa bisa keluar begitu saja. Padahal tidak ada niatan sama sekali untuk menangis, apalagi di depan Raka.
"Ra ...."
Tiara kembali menolak Raka. Tanpa kata ia langsung membuka pintu mobil dan keluar dari kendaraan itu. Gadis itu berlari menyusuri trotoar menuju pangkalan ojek di ujung jalan. Mengabaikan Raka yang terus memanggil namanya.
"Ra, Tiara!" teriak Raka kencang. Pria itu menoleh ke samping ingin membuka pintu dan keluar untuk mengejar gadis galak pujaannya. Naas, ada beberapa motor yang berada persis di samping mobilnya hingga ia tidak bisa membuka pintu. Keadaan jalanan sedang macet ditambah suara klakson dari belakang yang membentaknya, menyuruhnya untuk segera melaju dan Raka tak bisa berbuat apa-apa selain memukul setir sebagai pelampiasan dengan mulut yang mengumpat.
×××××
Keesokan harinya Tiara bangun dengan kantung mata yang menebal. Semalam ia tertidur pukul satu dini hari dan terbangun saat adzan subuh. Padahal dia sudah menonaktifkan ponselnya hingga tak mungkin diganggu oleh pesan-pesan dari Raka. Tapi, kedua matanya seperti tidak mau terpejam. Dadanya terasa sesak bergemuruh. Seperti gelisah dan ingin menangis yang entah apa penyebabnya.
"Makasih ya, Pak." ucap Tiara sambil menyodorkan helm kepada driver ojek online yang telah mengantarnya ke tempat kerja. Ia lalu memberikan uang ongkos sebanyak yang tertera di aplikasi.
Gadis itu merapatkan jaketnya sambil berjalan masuk ke area rumah sakit. Ia hanya tersenyum saat rekan sejawatnya menyapa. Entahlah, pagi ini dia jadi malas bicara. Ada sedikit rasa kecewa saat gawainya ia aktifkan, tak ada satupun pesan dari Raka setelah kejadian kemarin.
Tiara sampai di ruang lokernya. Ia melepaskan jaketnya dan memasukkannya ke dalam loker. Tiara melihat pantulan wajahnya di cermin kecil yang menempel di pintu loker bagian dalam. Lalu sedikit merapikan tatanan rambutnya yang dicepol. Mukanya pucat dengan lingkaran hitam menghias di bawah mata. Benar-benar menyedihkan.
"Kamu sakit?"
"Ngagetin aja ih ...." ucap Tiara sambil mengelus dadanya sendiri kemudian menutup dan mengunci lokernya.
Santi menggeleng kecil. "Aku dari tadi lho di sini. Dari depan tadi aku terus panggilin kamu tapi kamunya nggak nyahut."
Dahi Tiara mengernyit. "Masa sih?"
"Kamu sakit ya? Udah sarapan belum? Kita cari obat dulu yuk." Santi lalu mengapit lengan Tiara dan berniat menyeretnya ke kantin rumah sakit.
"Aku udah sarapan kok. Dan aku juga nggak sakit. Cuma kurang tidur aja." tolak Tiara dan menyingkirkan tangan Santi yang mengamit lengannya.
"Begadang nonton drama?"
Tiara tersenyum kecil seraya mengangguk, berbohong.
"Umur segini udah nggak jaman kali Ra begadang nonton drakor." ucap Santi yang percaya begitu saja dengan kebohongan Tiara. Gadis agak gemuk itu kemudian berlalu dari Tiara. "Ya udah, aku duluan kalau gitu."
Tiara mengangguk kecil seraya tersenyum kaku. Beruntung Santi tidak benar-benar menyeretnya ke kantin. Dia sedang tidak nafsu makan saat ini.
×××
"Laundry nya pindah ke sini gaes." koar Dean setelah memasuki ruang kerja Raka dan melihat bosnya itu mondar-mandir seperti setrikaan baju. Pria lajang itu lalu duduk tanpa diperintah. "Kenapa, sih? Pusing gue lihatnya."
Raka berhenti berjalan, ia lalu duduk di kursi di samping Dean duduk. "Menurut lo kalau gue nggak ikut rapat gimana?"
"Mati."
"Gua serius dodol." ucap Raka geregetan. Kenapa sahabatnya yang satu ini tidak bisa diajak serius.
"Gua juga serius." ucap Dean sambil bersedekap. "Nih ya, ini kan rapat pemegang saham akhir tahun. Bokap ama abang lo nggak ada. Dan cuma lo yang punya kuasa di sini. Lo mau investor lo lari semua karena udah nggak percaya sama lo. Lo bakal ngerusak nama baik bokap lo dodol."
Raka mengangguk menyetujui ucapan Dean yang memang benar. Tapi Raka juga tidak bisa terus begini. Badannya memang berada di sini, tapi hatinya sudah ingin cepat-cepat bertemu Tiara. Semalam ia tak bisa tidur hingga menyebabkan ia terlambat datang ke kantor. Jari-jemarinya sudah berulang kali mengetikkan beberapa kata, tetapi berulang kali itu pula ia mengurungkan niat. Ia berpikir bahwa Tiara butuh waktu untuk sendiri.
"Masih berapa jam rapatnya?"
Dean melihat jam di pergelangan tangannya. "Satu setengah ...."
"Gue pergi dulu, nanti gue balik sebelum rapat. Gue janji." tutur Raka sambil melesat pergi setelah meraih kunci motor Dean di saku kemeja sahabatnya tersebut. "Gue pinjem motor lo."
"Dasar setan."
Bersambung.