Aku dan seorang gadis bernama Carlotta Alexis memang sangatlah dekat. Keakraban kami bermula dikarenakan kami berdua adalah satu-satunya murid baru di kelas kami. Jadi, kami saling memahami satu sama lain. Aku beruntung karena kami rupanya juga menjadi teman satu kamar, bersama dua murid lainnya yang tak lain adalah Hilary dan seorang gadis berkacamata bernama Sheila.
Dengan kepribadian Carlotta yang ramah dan selalu heboh, Carlotta bisa dengan mudah berteman dengan siapa saja. Dia adalah anak yang sangat terbuka dan tidak bisa berbohong. Karena sifatnya yang polos inilah, Carlotta sama sekali tak mampu menyimpan rahasia. Termasuk satu fakta bahwa dia ternyata menyukai seorang murid Menara Utama—menara para murid lelaki di St. Christoper—bernama Josh Wilson. Aku menyadari hal ini saat kedatangan pertama kami di asrama.
St. Christoper memang memiliki peraturan yang tidak memperbolehkan murid laki-laki untuk bertemu dengan murid perempuan kecuali pada acara-acara tertentu. Apabila memang ada keperluan yang mendesak, perizinannya pun sangat rumit. Namun, pada hari pertama pembukaan asrama, murid-murid asrama putri dibebaskan untuk berbaur dengan murid-murid Menara Utama. Tak heran apabila hari pertama menginjakkan kaki di asrama seusai libur panjang adalah hari yang didamba-dambakan oleh seluruh murid.
Tampaknya, Carlotta, yang sekalipun merupakan anak baru, juga menantikan hari pembukaan tersebut.
Pada hari itu aku menyaksikan Carlotta sedang asyik berbincang dengan seorang lelaki. Aku memerhatikan mereka dari jauh. Aku memang tak tahu apa yang sedang mereka bicarakan—jarakku terlalu jauh—tetapi, yang aku tahu, gadis berambut merah menyala itu tampak gugup. Akhirnya dia malah membalikkan badan dan lari sekencang-kencangnya.
Tidak lama setelah kejadian tersebut, Carlotta mengaku kalau dia sejatinya tergila-gila dengan lelaki bernama Josh itu—bahkan sampai dia tak mampu bicara di depannya langsung. Ia pun mengklaim bahwa dia sudah menyukai Josh sejak mereka ada di sekolah dasar. Rupanya, Josh adalah teman masa kecil Carlotta yang paling ia sayangi.
Tak heran apabila menyaksikan sosok Josh yang kini sudah terbujur kaku dengan kondisi tak wajar mampu membuat Carlotta meronta-ronta hingga akhirnya tidak sadarkan diri.
Carlotta langsung digotong ke ruang kesehatan. Akan tetapi, setelah siuman pun, dia masih menangis tersedu-sedu. Hal itu berlanjut sekalipun kini dia sudah diperbolehkan untuk kembali agar ia bisa beristirahat di kamarnya.
Aku merasa prihatin dengan kondisi Carlotta. Gadis polos itu pasti terguncang. Dia tak berhenti sesegukan selagi memeluk lutut di atas ranjang. Bahkan, Sheila, seorang gadis pemalu yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan ini semua juga tampak syok. Sedari tadi dia hanya duduk di tengah-tengah kasurnya dengan tatapan nyalang yang membuatku khawatir.
Aku tak habis pikir. Mengapa hal-hal buruk selalu terjadi pada orang yang sama sekali tak layak mendapatkannya?
“Josh… dia tidak mungkin mati…,” rintih Carlotta pilu. Ia memeluk lututnya erat lantas menangis tersedu-sedu. Aku yang ada di sampingnya mencoba untuk menenangkan dengan cara memeluk pundaknya.
Berbeda denganku yang berusaha sekuat tenaga untuk menghibur Carlotta, Hilary justru lebih kelihatan penasaran ketimbang khawatir dan ketakutan. Berulang kali ia mondar-mandir di dekat jendela sambil menggigit jari telunjuknya—tanda bahwa ia sedang berpikir keras. Hal itu membuatku berdecak geram.
“Hilary,” panggilku.
Gadis itu berhenti. “Apa?”
“Tak bisakah kau berhenti mondar-mandir seperti itu? Kau membuatku semakin resah,” ujarku.
Ia pun berhenti melakukan apa yang tadi dia lakukan. Saat ini kedua mata Hilary tertuju padaku. “Sarah,” panggilnya.
“Apa?”
“Tidakkah kau pikir bahwa ini semua aneh?” Ia kembali mondar-mandir.
“Apa yang aneh? Melihatmu hilir-mudik seperti orang linglung begitu?”
“Tentu bukan!”
“Lalu?”
“Kau tahu, bagaimanapun juga Josh itu murid Menara Utama, kan?”
“Ya,” jawabku singkat. “Tentu saja.”
“Dan kau juga tahu bahwa murid menara utama, dengan murid menara kita sama sekali tak boleh bertemu, kan?”
“Ya.”
Akhirnya Hilary berhenti. Kedua matanya menatapku, Carlotta, dan Sheila secara bergantian. Lalu mulutnya berkata, “Kalau begitu, bagaimana Josh bisa ada di menara kita?”
Kemudian terjadilah hening panjang yang menyelimuti kami berempat. Kami larut dalam pikiran masing-masing. Otakku sudah memproses berbagai peristiwa buruk yang mungkin menimpa kami semua. Aku pun menelan ludah. Aku sama sekali tak siap.
Mendengar ucapan Hilary yang ada benarnya itu, tangis Carlotta jadi makin keras. Aku hanya bisa memeluknya lebih erat.
Hilary menjengukkan kepalanya ke bawah. Kemudian keningnya berkerut. Lantas ia melambaikan tangannya kepadaku, menyuruhku mendekat. Dengan penuh tanda tanya, aku menuruti perintahnya.
“Ada apa?” tanyaku.
“Lihat itu.” Hilary menunjuk ke bawah. Aku pun mengikuti ke mana jari telunjuknya mengarah.
Aku segera dibuat melipat dahi. Kulihat beberapa polisi berbincang dengan wajah serius di samping kantung mayat yang tadi aku dan Hilary lihat. Beberapa orang guru termasuk Nyonya Audrey Brooklyn, selaku kepala asrama juga ada di sana. Raut wajah mereka kelihatan sangat tegang. Aku dan Hilary hanya mampu memerhatikan kejadian itu dari kejauhan.
“Mengapa korban itu masih belum dibawa pergi?” tanyaku sejurus kemudian.
“Mungkin mereka masih melakukan olah Tempat Kejadian Perkara?” jawab Hilary sekenanya.
Aku hendak menyahut, tetapi urung begitu kusaksikan salah seorang polisi sekonyong-konyong membuka kantung jenazah itu.
Tampaklah wajah pucat Josh dengan mata tertutup rapat dan kepala yang bersimba darah. Helaan napas tercekatku dan Hilary terdengar nyaris bersamaan. Namun, aku segera menyadari sesuatu yang aneh dari pemandangan mengerikan itu. Ada satu hal yang rupanya sudah aku lewatkan.
Terdapat sesuatu yang mengotori wajah pucat Josh yang kini tak lagi bernyawa.
“Hilary,” gugahku panik selagi mengguncang lengan gadis di sampingku. “Apa itu yang ada di wajah Josh? Bukankah itu….”
“Pasir putih,” ujarku dan Hilary serentak.
Kami saling berpandangan untuk beberapa detik. Hingga tiba-tiba saja kedua mata Hilary terbelalak. Gadis itu segera enyah dari jendela dan ia pun menarik tanganku kuat-kuat. Ketua kelasku membawaku turun ke lantai bawah.
“Hilary! Kita mau ke mana?” tanyaku selagi berusaha untuk menyejajarkan kakiku. Gadis ini berlari seperti orang dikejar hantu!
“Rumit untuk dijelaskan,” jawab Hiary singkat. “Kau sebaiknya melihat dengan kedua matamu sendiri.”
Melihat dengan kedua mataku sendiri?
Aku tertawa renyah. “Akan sangat kurhargai jika kali ini bukan pemandangan menakutkan.”
Hilary tersenyum sekilas. “Aku tidak bisa berjanji.”
Bulu kudukku belum-belum sudah berdiri tegak.
“Namun,”—Hilary menyeringai—“aku yakin kau akan penasaran setengah mati setelah ini.”
Aku memutuskan untuk bungkam dan mengayunkan kedua kakiku dengan lebih cepat. Sebenarnya, hal mengerikan apa lagi yang harus aku saksikan hari ini?
*