“Ada seorang murid yang dibunuh di gudang asrama.”
Spontan, aku berkata, “Apa-apaan maksudmu?”
Georgia langsung memekik keras-keras, “ADA SISWA YANG DIBUNUH. APA YANG KURANG JELAS DARI UCAPANKU?”
Tak perlu dikomando, aku langsung berlari ke luar kelas. Kini para gadis kelas satu mutlak memenuhi koridor. Mereka sibuk berbicara dan berbisik. Ada satu atau dua yang menangis dalam diam, sementara yang lain berusaha menenangkan. Dari raut wajah mereka, aku tahu ada sesuatu yang tidak beres. Ada sesuatu yang aneh terjadi.
Mereka semua terlihat ketakutan.
Separuh akalku masih tak bisa menerima perkataan Georgia. Itu tidak mungkin terjadi.
Aku memutuskan untuk bertanya kepada Hilary yang tiba-tiba muncul di sebelahku, “Apa yang sebenarnya sedang terjadi?”
“Aku tak tahu,” jawab Hilary sekenanya. “Hanya ada satu cara untuk memastikan.”
Walaupun tak tahu sedang ada apa, aku dan Hilary akhirnya tergopoh-gopoh menuruni tangga. Kami bertanya pada murid yang kebetulan berpapasan dengan kami. Lalu suatu fakta yang membuat bulu romaku berdiri terucap dari salah satu anak, “Seorang murid telah mati dibunuh.”
Aku dan Hilary tertegun ditempat.
Apa-apaan yang baru saja kudengar?
Kami berdua masih berusaha sekuat tenaga untuk mencerna perkataan barusan. Kami sama sekali tak mengucapkan apa pun dan hanya tertegun di tengah tangga sampai beberapa murid mendorong kami agar kami segera menyingkir.
“Aku… ini… maksudku…,” aku berusaha mencari kata-kata untuk menerjemahkan kebingunganku. Namun, agaknya aku tak mampu.
Hilary masih terpaku di tempatnya berdiri. Tatapannya nyalang.
“Hilary,” gugahku. “Ini semua hanya lelucon saja, kan?”
Tiba-tiba Hilary menarik tanganku dan mengajakku mengikuti langkahnya. Aku hanya bisa menurut. Hilary mengikuti asal suara keributan yang datang dari lantai paling dasar asrama. Kami melihat sekerumunan murid yang entah mengapa mengerubungi gudang asrama yang berada di bawah tangga. Aku dan Hilary segera ikut berjubel dengan gadis lainnya. Pada akhirnya kami pun berada di deretan terdepan. Aku melipat dahi saat melihat garis polisi sudah melintang rapi di depan pintu gudang yang terbuka.
Aku ingin menerobos masuk saking penasarannya. Akan tetapi, tiba-tiba sebuah suara berat terdengar menggelegar dari balik punggungku.
“Menepi! Pergi dari ambang pintu!”
Tanpa aba-aba, aku segera menyingkir. Aku pun menyadari suara siapa itu. Rupanya itu aparat kepolisian beserta beberapa guru di belakangnya. Aku meremas tangan Hilary yang ada di sampingku.
Apa pun yang sedang terjadi, aku tahu ini bukanlah hal yang baik.
Para guru sudah mengusir murid-murid untuk kembali ke dalam kelas masing-masing. Namun, aku dan Hilary masih tak rela meninggalkan tempat. Maka kami naik ke atas tangga dan memerhatikan lantai bawah secara diam-diam. Jantungku berdegup kencang. Kira-kira apa yang akan terjadi setelah ini?
Setelah sekian lama berlutut dan mengintip, akhirnya apa yang kami tunggu pun datang. Keluarlah dua orang polisi yang sedang membawa sebuah kantung—yang kuyakini adalah kantung mayat—keluar dari dalam gudang. Akan tetapi, kantung itu tak tertutup sempurna—membuat apa yang ada di dalamnya dapat kulihat dengan amat sangat jelas.
Kurasakan nyawa meninggalkan tubuhku.
Bersamaan dengan itu, kudengar teriakan yang memekakkan telinga. Kuedarkan pandanganku dengan liar kemudian kujumpai sosok Carlotta yang entah sejak kapan berada di ujung tangga. Ia menyaksikan hal yang sama denganku. Tubuh gadis itu luruh ke atas lantai. Ia menarik-narik rambutnya sendiri selagi menjerit histeris.
Mayat itu adalah Josh, murid Menara Utama, yang tak lain adalah cinta pertama Carlotta.
*