Berdasarkan kabar burung yang sering kudengar di asrama, asramaku ini berada di kota yang memiliki masa lalu kelam. Murid-murid yang sudah lama tinggal di sini kerap memberitahuku—yang notabene adalah murid baru—semua hal horor yang sejatinya sama sekali tidak ingin aku dengar.
Memang, reaksi apa yang harus aku berikan begitu aku tahu bahwa kota ini dulunya adalah kota yang ditakuti karena pernah dikuasai oleh geng paling brutal di negara? Terutama, apa yang harus kukatakan jika ternyata St. Christoper—asramaku—berdiri di atas lahan yang dulunya menjadi tempat pembantaian massal oleh para anggota geng itu?
Jika aku mengetahui semua hal ini sebelum aku resmi menjadi murid asrama, tentu saja aku tidak akan segan-segan menghapus St. Christoper dari daftar asrama idamanku.
Semua informasi baru ini mutlak membuatku jadi paranoid. Namun, layaknya film hantu yang membuatku tak bisa tidur, cerita-cerita ini mampu membuatku penasaran sekalipun aku tahu aku hanya akan dibuat tidak tenang setelah mendengarnya.
Ini semua berkat perbuatan beberapa temanku, yakni Hilary, ketua kelasku, yang ternyata pernah melakukan penyelidikan terhadap kasus ini; Ashley, yang tak lain adalah penduduk tetap kota; dan Janet, Si Pengumpul Kabar Burung. Saat ketiga gadis ini sudah sampai di kelas, tak jarang seluruh isi kelas akan segera menggiring mereka untuk duduk di satu deret bangku yang sama. Sedangkan kami semua—para pendengar yang penasaran setengah mati—akan membuat lingkaran dengan mereka di tengah-tengahnya.
“Kalian tahu apa?” ujar Janet dengan wajah serius. Gadis merambut hitam itu memelototi kami semua satu per satu, seolah ia hendak mengutarakan rahasia paling top sedunia.
“Apa, apa?!” seru kerumunan.
“Apa kalian tahu mengapa geng itu pernah dijuluki ‘Geng Paling Berbahaya di Dunia’?” lanjut Janet.
Carlotta, yang juga merupakan anak baru di asrama, menyahut dengan semangat, “Kau pernah bilang jika mereka tak kenal ampun dengan setiap target pembunuhan mereka. Beberapa korban juga hanya ditemukan beberapa anggota tubuhnya saja, kan? Mungkin itulah mengapa!”
Seorang gadis bernama Georgia menimpali, “Atau mungkin... karena mereka berpeluang untuk menjadi sekumpulan pasukan pembunuh pemakan manusia?”
Janet tersenyum lebar, seakan sudah menduga seluruh jawaban yang telah kami lontarkan. Setelahnya, gadis itu menggelengkan kepala.
“Itu poin yang bagus. Namun, sayangnya bukan itu jawabannya.” Tiba-tiba Janet menyikut Hilary. “Data apa yang kau punya, Ketua?”
Dengan raut wajahnya yang selalu terlihat tenang dan datar, Hilary buka mulut, “Ada kalanya komplotan itu berhasil merampas hampir sebagian alat kemiliteran negara.”
Tarikan napas tak percaya menguar.
Ketua kami melanjutkan, “Nyatanya, aku harus bilang kalau mungkin orang-orang keji itu jauh lebih cerdas dari pada aparat polisi yang biasanya hanya main senjata. Mereka pun berhasil membuat seluruh kota, maksudku hampir setiap negara, gentar dengan mereka. Komplotan pembunuh berdarah dingin itu bahkan menjadi siaga nomor satu di seluruh dunia. Ia menguasai beberapa negara bagian selama bertahun-tahun.”
Ashley, yang sedari tadi diam, kini ikut angkat bicara, “Aku bisa mengonfirmasi kebenaran cerita Hilary. Sebagai penduduk yang lahir dan besar di kota ini, ada saat di mana ada aturan tak tertulis yang secara tidak sadar telah para warga ikuti: tidak keluar rumah saat malam sudah larut, tidak bermain dengan orang asing, tidak membuka pintu rumah saat tidak mengharapkan tamu, bahkan beberapa keluarga elit mulai menyewa pasukan keamanan mereka sendiri.”
Untuk pertama kalinya dalam kegiatan diskusi harian itu, aku memutuskan untuk bertanya, “Itu… memang terdengar mengerikan. Namun, aku bertanya-tanya. Bagaimana cara mereka membajak persenjataan pemerintah? Bukankah itu tidak mudah? Maksudku, kita membicarakan pemerintah.”
“Kita memang membicarakan pemerintah, tetapi apa bedanya?” sambar Hilary selagi mengangkat alis. “Sekalipun kita memiliki pasukan militer atau kepolisian paling maju di dunia, tidak akan ada artinya jika orang-orang yang terlibat dalam sistem pemerintahan kita hanya mementingkan dirinya sendiri.”
“ ‘Mementingkan dirinya sendiri’?” Aku melipat dahi.
“Ya, Sarah, mementingkan dirinya sendiri.”
Aku menyernyitkan dahi. Hilary seakan tak berminat untuk menjelaskan poinnya lebih lanjut. Padahal, aku masih belum sepenuhnya memahami apa yang ia bicarakan.
Seolah bisa membaca ekspresiku, Janet menyahut, “Yang menjadi maksud Hilary adalah sebagian anggota pemerintahan dan geng itu sejatinya telah melakukan kerja sama.”
Sekonyong-konyong kerumunan kami berubah menjadi kericuhan.
“Bagaimana itu mungkin?!”
“Kau bilang ‘sebagian’? Siapa orang-orang terkutuk ini?!”
“Apa media berhasil mengekspos identitas petinggi negara yang terlibat?!”
Hilary menggeleng lesu. “Sayangnya tidak. Investigasi kasus ini terhalang oleh kenyataan bahwa beberapa jurnalis yang nekat membeberkan beberapa nama ke media malah berakhir di bui. Bahkan, wartawan yang bernama Anthony C. Peterson mati sebelum dia mempublikasikan sebuah artikel penting ke media massa.”
“Bagaimana kau tahu jika ada sebuah artikel yang belum dipublikasikan? Kan dia sudah mati,” celetuk Carlotta.
“Ada seorang rekan kerja Anthony yang mengetahui rencana itu. Ia pun nekat menerbitkan tulisan tersebut di media online,” jelas Hilary. “Namun, tiba-tiba saja artikel itu hilang dari internet. Rekan kerja Anthony ditemukan mati beberapa hari setelah artikel itu diunggah.”
Mendadak saja, hening. Bulu kudukku sontak meremang. Kalut dan ketakutan sarat mewarnai wajah teman-temanku. Beberapa dari mereka bahkan memutuskan untuk pergi lantaran ‘tak kuat’ mendengar ini semua. Sekalipun kini perang dingin antara komplotan itu dan pemerintah sudah berakhir, cukup sulit dipercaya bahwa ada oknum-oknum yang memang menyengajakan terjadinya segala kemalangan ini.
Ashley memecah hening, “Aku tahu ini terdengar mengejutkan, tetapi aku yakin memang begitu adanya.”
“Apa yang membuatmu begitu yakin?” tanyaku.
“Aku memang tidak memiliki bukti atau data apa pun seperti Hilary, tetapi saat komplotan itu berjaya di kota ini, ada kabar yang berkata kalau para warga yang kebetulan menjadi saksi kebrutalan geng itu diancam akan dibunuh kalau tidak tutup mulut.
“Asal kalian tahu saja, hal-hal yang melanggar hukum tidak dilakukan oleh mereka saja. Ada beberapa warga lokal yang memanfaatkan kesempatan ini untuk menghasilkan uang dari aktivitas ilegal. Semisal, seorang warga akan membangun usaha perjudian, dan mereka membayar anggota geng itu untuk menjadi proteksi mereka dari kepolisian dan pemerintah. Sistem ini memang menguntungkan, tetapi bukan dalam konteks yang baik.
“Bisa kalian bayangkan, hal-hal kriminal seperti ini saja terjadi di negara bagian. Siapa yang tahu apa yang sebenarnya terjadi di pemerintahan atau kepolisian? Bisa-bisa mereka melakukan konspirasi keji besar-besaran yang melibatkan orang-orang penting negara. Dan, bodohnya, kita sama sekali tidak menyadari jika ini semua terjadi di hadapan kita.”
Hening yang panjang itu berlanjut setelah Ashley menyelesaikan ucapanya. Kebanyakan gadis mutlak meninggalkan lingkaran dan kembali ke tempat duduknya. Hanya ada aku dan beberapa anak lain yang masih tinggal. Aku tahu jika aku takut setengah mati, tetapi aku juga tak sanggup membiarkan satu detail pun lolos.
Kurasa tak selamanya semiliki rasa ingin tahu yang tinggi itu baik.
Janet berucap, “Hilary, apa kau punya data apa pun yang bisa menunjukkan seberapa banyak orang pemerintahan atau kepolisian yang sudah bekerja sama dengan komplotan itu?”
Hilary menghela napas lelah. “Aku tidak yakin, tetapi—”
Ucapan Hilary terpotong oleh suara teriakan seorang gadis. Itu Georgia. Gadis dengan rambut cokelat muda itu berhamburan memasuki ruangan lantas ambruk tepat di depan kelas. Ia menjerit-jerit dengan histeris di atas lantai.
Nyaris seperti gerakan otomatis, kami semua berlari ke arahnya. Hilary memeluk bahu gadis itu dan menepuk-nepuk punggungnya lembut, seakan berusaha membuat Georgia sadar akan apa yang sedang diperbuatnya.
“Georgia, kau mendengarku? Hey, hey, Georgia?” Hilary berusaha mengajaknya bicara.
Hingga kini gadis itu masih berteriak-teriak dan menangis hingga pundaknya terguncang hebat. Di sela tangisan putus asanya itu, dia berulang kali menunjuk pintu kelas kami yang terbuka dengan jarinya yang gemetar. Aku pun baru menyadari jika kini keributan yang sama tengah terjadi di luar sana.
Hilary kembali bicara, “Georgia, apa yang terjadi? Apa yang kau lihat?”
Dengan kedua bibirnya yang gemetar, Georgia akhirnya menjawab, “Ada seorang murid yang dibunuh di gudang asrama.”
*