Istri?
Laki-laki tampan yang diketahui benama Ega Pamungkas itu pun tak tahu harus berekspresi seperti apa. Ketika ia ingin menyela dan mengoreksi jika wanita bernama Rere itu bukanlah istrinya, eh malah Bu dokternya ngomong lagi.
"Melihat kalian berdua yang masih sangat muda ini, itu artinya kalian pengantin baru, kan? Hebat loh kalian, masih muda tapi sudah memutuskan untuk menikah. Kalau kata saya, keputusan kalian itu patut diacungi jempol, setidaknya bisa terhindar dari pergaulan bebas. Kalau sampai hamil di luar nikah kan bisa repot. Ngurus nikahnya sulit. Belum lagi hukuman moral yang akan diterima."
Dokter ini sok tahu! Sumpah deh, masak iya masih muda begini dikira sudah menikah? Walau dengan alasan menikah muda, tapi kan itu enggak banget untuk Rere!
Anti menikah muda! No way!
Rere itu tipe pemikir dimana hidup itu sampai usia minimal 63 tahun, kalau di usia 20 sudah menikah, berati 43 tahu harus stress memikirkan keluarga, dong?
Tidak! Tidak! Mana mau! Menikah itu paling tidak usia 30 tahun! Biar adil senang-senang dan stressnya!
Ih, kesel deh! Dari tadi dikatai suami istri melulu. Kan malu, tapi bisa apa? Dokternya ngoceh melulu. Dan lihatlah itu, si laki-laki yang menyerempetnya saja sampai tak bisa berkata apa-apa!
"Di layar monitor, ini adalah gambaran rahimnya Nona Rere, semua nampak baik-baik saja. Tidak ada yang aneh atau berbahaya... Tidak ada kista atau apapun itu."
Dokter memberitahu tentang kondisi rahimnya Rere. Ia menjelaskan dengan sangat detail apa yang ia ketahui dan apa yang ia lihat di dalam proses USG itu.
Setelah sekitar 15 menitan, USG itu pun selesai. Asisten suster memberikan tisu untuk membersihkan sisa gel di perutnya Rere, di sini asisten suster memberikannya pada Ega. Jadi, Ega yang harus bertanggung jawab untuk membantu membersihkan sisa gel USG yang ada di permukaan perutnya Rere.
Rere ingin menolak, tapi suasana menjadi tidak mendukung. Alhasil, ia pasrah saja meski harus menahan malu. Sumpah, baru kali ini ia menujukan perut rampingnya pada pria asing! Mana tidak ia ketahui lagi siapa namanya. Haissh...
Lalu, tidak lama setelah itu, merasa sisa-sisa gel yang ada di atas permukaan perutnya itu sudah bersih karena bantuan dari laki-laki yang tidak dikenalnya itu, Rere kemudian segera merapikan pakaiannya yang berupa setelan atasan dan bawahan. Kaos berwarna putih dan rok pendek selutut.
"Ini saya buatkan resep obat yang harus kalian berdua tebus di apotek rumah sakit. Obat ini akan membantu menstabilkan hormon Nona Rere. Obat ini akan memberhentikan menstruasi Nona Rere. Lalu, nanti, kira-kira 24-an hari lagi kemungkinan Nona Rere akan kembali mengalami menstruasi lagi. Kalau hari menstruasi Nona Rere kembali tiba, tolong Nona Rene kembali kontrol lagi ke rumah sakit ini, ya..."
Rere hanya mengangguk saja sambil menerima catatan dengan bentuk tulisannya bahkan tidak lebih indah dari cekeran ayam dari dokter kandungan yang cantik itu. Ia sudah mind blowing dengan apa yang terjadi saat ini. Namun yang lebih penting memang soal rahimnya. Beruntung, itu bukanlah hal yang serius.
"Bu dokter, lalu bagaimana dengan nyeri menstruasi saya? Rasanya sakit sekali, sampai serasa mau pingsan saja." Tanya Rere.
"Nona jangan khawatir, saya sudah meresepkan pereda nyeri juga khusus untuk menangani rasa sakit pada menstruasi."
"Ahh, begitu ya... Terima kasih banyak, Bu dokter..."
"Sama-sama... Sampai ketemu di pemeriksaan nanti, Nona Rere dan suami..."
Dan suami ya?
Mau menyela, tapi tidak penting lagi, kan? Pemeriksaan juga sudah selesai. Akhirnya, dengan canggung baik Rere maupun Ega, mereka berdua pun hanya mengangguk saja untuk menjawab dokter itu.
***
"Maaf ya, aku pasti berat, kau sampai keringetan begitu. Untung apoteknya tidak terlalu jauh." Ujar Rere usai mendapatkan obat yang diresepkan dokter kepadanya.
Rere terus dibopong oleh Ega selama berjalan ke sana dan ke mari.
"Tidak apa-apa, aku hanya berpikir jika aku hanya sedang mengangkat setengah kwintal beras saja." Jawab Ega.
Rere mendelik. "Hei, beratku hanya 45 kg! Jangan korupsi 5 kg dong! Enak saja setengah kwintal!"
"Tch, itu hanya perumpamaan! Kau sensitif sekali jadi cewek."
"Tuan, ketahuilah, jangan pernah sekalipun membahas soal berat badan dengan cewek! Kau bisa mati tahu!"
"Astaga... Mana ada!"
"Ada lah! Sini, aku nasehati kau, kau itu harus lebih peka pada cewek! Kalau kau tidak peka, nanti tidak akan ada cewek yang mau menikah denganmu!"
"Hn."
"Haish, sebenarnya kau paham tidak, sih? Kau ini, sulit sekali diajak berbicara... Sudahlah, pokoknya, intinya aku berterima kasih banyak karena kau sudah mau sungguhan bertanggung jawab sampai akhir kepadaku... Aku jadi tertolong walau lututku harus jadi korban terlebih dahulu."
"Soal lututmu, apa kau yakin hanya dengan memberinya revanol saja? Kita bisa ke IGD mumpung di sini."
"Ini lecetnya tidak separah itu. Palingan nanti hanya akan nyeri saja karena lukanya tepat di lipatan lutut. Aku sudah pernah jatuh naik sepeda sebelumnya, jadi ini tidak masalah."
Saat ini, Rere dan Ega sedang duduk di lobi rumah sakit. Di sini, dekat dengan pintu keluar, dimana Rere berniat untuk memanggil taksi online untuk pulang ke rumah.
"Kau bisa menghubungiku kalau lukanya bertambah parah."
"Heh? Apa itu artinya kau mengharap pertemuan kembali?"
"Sebenarnya sih tidak. Kau merepotkan, nanti aku dikira suamimu lagi. Aku kan tidak menghamilimu, kenapa juga semua orang menyangka aku suamimu?"
"Idih, memangnya aku tidak? Mana mungkin aku mau sama orang asing seperti dirimu, yang namanya saja aku tidak tahu."
"Ega..."
"Eh?"
"Namaku Ega Pamungkas, kau bisa memanggilku Ega!"
"Ah... Ega... Hmm, aku Rere Atmowiloto."
"Aku sudah tahu, tadi dengar dari mereka memanggilmu dengan nama itu."
"Hmm, apa perlu berjabat tangan?"
"Harus, ya?"
"Tch, niat kenalan tidak, sih?" Rere kesal sendiri. Namun, tangan Ega menjulur ke arahnya, dan ia pun menyambut tangan Ega dengan senang.
"Salam kenal..."
"Salam kenal, Ega..."
Keduanya berbagi senyuman.
"Memangnya kita sungguhan akan bertemu lagi?"
"Entahlah, yang jelas, setelah ini kita harus berpisah... Aku harus segera pulang untuk beristirahat. Eh... Akhhh..." Tiba-tiba ada rasa sakit yang kembali mendera perutnya Rere.
"Ada apa?" Ega tak bisa menyembunyikan rasa paniknya.
"Perutku sakit lagi..."
"Yang mana?" Ega reflek memegang perutnya Rere.
"Sebelah sini..."
Ega menggerakkan tangannya sesuai arah yang ditunjukkan oleh Rere. "Sebelah sini?"
"Ya, sebelah situ..."
Ega dengan lembut mengusap-usap perutnya Rere yang sakit itu. Entah apa, tapi ia berharap jika apa yang ia lakukan ini dapat membantu meredakan nyeri yang Rere rasakan.
Namun, tiba-tiba saja... Ada seorang wanita yang sangat Rere kenali datang dengan wajah penuh dengan emosi.
"JELASKAN PADA IBU SEKARANG JUGA! PEMANDANGAN APA INI, HAH?"
"I-ibu?" Rere melebarkan kedua matanya karena tidak menyangka akan bertemu dengan ibunya di rumah sakit.
Ah, bukankah tadi ibunya bilang akan menjenguk seorang teman yang katanya melahirkan di rumah sakit? Jadi, teman ibunya melahirkan di rumah sakit ini?
Ibunya Rere yang bernama Rianti itu pun melihat ke arah tangan Ega yang masih ada di atas perut anaknya.
Darahnya langsung mendidih.
"KAU PRIA KURANG AJAR! BERANI SEKALI KAU MELAKUKAN HAL KEJI PADA ANAKKU YANG TAK MEMILIKI AYAH ITU! TEGA SEKALI KAU MENGHAMILI ANAKKU SATU-SATUNYA!"
Rianti memukul-mukuli Ega karena menduga anaknya sudah dihamili oleh Ega.
Rere jelas tidak terima karena bukan ini cerita yang sebenarnya.
"IBU, HENTIKAN! TOLONG JANGAN PUKULI EGA, DIA TIDAK SALAH!"
"TIDAK SALAH APANYA? PRIA b***t INI SUDAH MENGHAMILIMU DAN KAU MASIH MEMBELANYA?"
"Ibu... Ini hanya salah paham..."
"SALAH PAHAM APANYA? JANGAN NGELES KAU, RERE! POKOKNYA, IBU MAU ANAK LAKI-LAKI INI TANGGUNG JAWAB!"
"ADUH IBU, TOLONG DENGARKAN PENJELASANKU DULU!"
"PENJELASAN APA LAGI, HAH? JELAS-JELAS KALIAN DI RUMAH SAKIT KHUSUS IBU DAN ANAK, KHUSUS KANDUNGAN! LALU, DIA MEMEGANG PERUTMU!"
"Tapi, Bu... Bukan seperti itu... Ega hanya..."
"AHH, SUDAH! POKOKNYA IBU TIDAK MAU TAHU... HEI KAU..." Rianti menatap tajam ke arahnya Ega.
"..." Ega masih terdiam, ia tidak tau harus bagaimana. Ini kali pertama ia menghadapi ibu-ibu yang sedang marah sambil mengomel tanpa jeda. Mana sampai memukul-mukul dirinya lagi.
Hei, dirinya itu tidak berbuat negatif pada anak orang! Apalagi sampai menghamili gadis muda yang baru saja ditemui oleh dirinya!
"NIKAHI RERE SECEPATNYA!"
Apa?
Nikahi?