Diserempet Cowok Tampan
"Ya Tuhan, sakit sekali rasanya! Harus sampai kapan seperti ini?"
Rere Atmowiloto terus saja memegangi perutnya karena merasakan nyeri yang luar biasa. Ditambah, saat ini ia sedang menunggu reda kendaraan yang lalu lalang begitu ramainya.
Sudah hampir 10 menit menunggu, tapi belum juga bisa menyebrang. Padahal, rumah sakit yang ingin ia kunjungi ada di depan sana!
"Aku sudah menggunakan magic hand, tatapi tetap gagal! Kendaraan sialan, mengalahlah! Aku ingin menyebrang!"
Menengok ke kiri, ada 2 mobil lewat. Menengok ke kanan, masih ada 4 motor. Kembali menengok ke kiri, kosong. Yes, kosong! Namun, ketika menengok kembali ke kanan, b*****t! Ada truk yang lewat, mana dengan sangat cepat lagi.
"Kalau perutku tidak sakit, aku masih bisa bersabar! Akhh, sakit sekali... Oh, ahh, agak senggang... Itu mobil agak jauh, kan? Kalau aku berlari pasti tidak akan kenapa-napa... Tapi, mobilnya agak cepat, ya? ... Nyebrang? Tidak? Nyebrang? Tidak? Ahh, sudah nyebrang saja dah..."
Dan...
Ckittt....
Bruk...
Rere pun tak ingat dengan apa yang baru saja ia alami.
"Hei... Kau tidak apa-apa?"
"..." Siapa? Suara siapa ini?
"Hei, sadarlah... Kau tidak apa-apa, kan?"
"..." Ah, suara seorang laki-laki? Tapi, suara siapa ini?
Kok jadi terang, ya? Bukannya tadi sempat gelap?
Ini...
Waah... Apa sekarang sedang bermimpi melihat seorang pangeran yang tampan?
Apa laki-laki ini benar-benar nyata?
Ahh, tampannya... Mana pipinya mulus sekali lagi. Lalat hinggap pasti terpeleset tuh...
Kan...
Ini adalah pemandangan yang indah.
Tunggu... Bukankah tadi ada mobil yang 'menabrak' ya?
Oh, apa ini artinya dirinya sudah pindah ke surga lalu bertemu dengan bidadara tampan?
"Nona... Aku mohon, jawab pertanyaanku! Apa kau baik-baik saja? Kepalamu tidak terjedot aspal sehingga membuatmu gila, kan? Senyummu aneh dan tidak jelas."
Dan wreekkk... Gambaran surga itu pun langsung eror, penuh dengan pelangi dan semut, lalu pecah, dan menampar Rere dengan kenyataan.
"Gila matamu! Kau menyerempetku, Tuan! Lututku lecet! Uhh, perih sekali..." Umpat Rere karena ia dikatai gila oleh laki-laki yang ia ketahui sebagai pemilik mobil yang menyerempet dirinya.
Ia sampai lupa kalau perutnya juga sangat sakit.
"Lagian, itu juga salahmu, Nona! Kau menyebrang sembarangan! Harusnya kalau menyeberang itu pakai zebra cross! Bukan malah menyelonong kayak kucing punya 9 nyawa!"
"Aku terlalu malas berjalan 200 meter ke zebra cross! Tapi meski aku salah, aku kan terluka sekarang, kau tidak berpikir untuk tidak mau tanggung jawab, kan? Kau tidak akan melarikan diri begitu saja, kan?"
"Iya, iya, aku akan tanggung jawab sampai akhir kalau perlu."
"Benar kan sampai akhir? Awas saja kalau kau bohong!"
"Apa aku terlihat seperti seorang pembohong di matamu?"
Mereka saling menatap, tapi Rere langsung memalingkan wajahnya hanya dalam waktu kurang dari dua detik. Sumpah, bisa mirip kepiting rebus wajahnya kalau menatap lama-lama laki-laki yang ketampanannya seperti nun sukun ketemu Hamzah, jelas dan terang!
"Kau harus membantuku berjalan! Lututku lecet."
"Aku tahu, aku sudah melihat lututmu berdarah."
Rere kesulitan bangun, alhasil karena cuaca juga sudah panas, laki-laki yang menyerempet Rere pun tak sabaran, ia memilih untuk membopong Rere dan segera memasukan Rere ke dalam mobilnya.
Kebetulan mereka di dekat rumah sakit, jadi itu lebih baik. Hanya saja, laki-laki itu kaget karena Rere minta diantarkan ke poli kandungan.
"Hei Nona, aku tidak menghamilimu, tapi kenapa aku harus bertanggung jawab dengan membawamu ke poli kandungan?"
"Berisik deh, aku hanya harus memeriksakan rahimku. Itu saja!"
"Tapi yang lecet itu lututmu, bukan rahimmu! Kenapa malah ke poli kandungan? Harusnya ke IGD saja biar segera diobati!"
"Tch, aku itu ke rumah sakit memang mau ke poli kandungan, aku sudah mendaftar online semalam. Aku tidak mau telat antrian jika ke IGD terlebih dahulu!"
"Ke poli kandungan buat apa?"
"Berobatlah, masak buat beli tali kutang."
"Astaga, aku kan hanya tanya, kenapa jawabanmu absurd? Kau gadis yang aneh."
"Masak aku harus bilang kau tanya? Kau bertanya-tanya?"
Ini apa sih sebenarnya?
"Hei Nona, kalau mulutmu menya-menye lagi, aku cium kau sekarang juga!"
"Ci-Cium? Hah... Dasar m***m!"
"Hei!"
Laki-laki itu mengerem mendadak, dan hampir saja membuat Rere terjedot dashboard karena ia lupa tidak memakai sabuk pengaman.
"Tuan, kau mau melukaiku lagi? Yang pertama saja belum tanggung jawab, masak mau disakiti lagi?"
"Sudah sampai di parkiran, cepat turun!"
Rere manyun. "Gendong..."
"Haissh... Manja!"
"Kalau bukan karena mu, aku juga tidak akan manja seperti ini! ... Jadi, kau hanya modal tampan saja, ya? Tadi bilangnya mau tanggung jawab sampai akhir? Sekarang kok beda?"
Laki-laki itu ingin sekali meremas wajah gadis aneh yang saat ini sedang mengoceh di dalam mobilnya. Mimpi apa semalam sampai ia mengalami nasib sial seperti ini?
Akhirnya, ia hanya menghela nafas dan kemudian segera membopong gadis yang tak ia kenali itu menuju poli kandungan. Jelas, apa yang ia lakukan ini menarik semua perhatian orang yang ada di sana.
Sumpah demi apapun, laki-laki tampan ini tidak pernah sekalipun membuat heboh dengan tingkahnya yang absurd.
"Oh, itu pasti pengantin baru. Jadi masih sayang-sayangnya. Coba lihat setahun kemudian, pasti pusing karena tangisan bayi setiap malam."
"Hei, mereka saja kelihatan seperti anak kuliahan. Jangan bilang mereka ke poli kandungan karena ceweknya hamil duluan?"
"Wah, benar sekali itu... Anak-anak jaman sekarang kan kalau pacaran melebihi batas. Gila ya, padahal ceweknya cantik, cowoknya tampan, sayang sekali, kelakuannya kayak setan."
Laki-laki tampan itu mengepalkan tangannya menahan kesal. Kupingnya panas sekali mendengar omongan buruk soal dirinya. Ini adalah pengalaman pertama ia dikatai seperti itu.
Kelakuannya kayak setan?
"Sudah, jangan dengarkan mereka... Walau aku kesal, tapi sakit di perutku lebih sakit dari omongannya mereka... Berikan tanganmu, aku butuh pekuat!" Ujar Rere.
Laki-laki tampan itu memilih untuk memberikan tangannya pada gadis yang tak ia kenali itu, dan ya...
Awww... Sumpah sakit sekali!
"Kau ini cewek apa gorila sih? Tenagamu tidak main-main."
"Jangan banyak bicara, deh! Dasar cowok lemah! Begini saja kesakitan! Perutku lebih sakit, bodoh!"
"Aku tidak bodoh!"
Dan mereka malah adu argumentasi dengan tidak jelasnya. Meski baru pertama kali bertemu, tapi mereka berdua terlihat sangat 'akur' ya? Apa ini yang dinamakan jodoh?
Plaak...
Mana ada!
"Nona Rere Atmowiloto?" Asisten suster pun memanggil Rere tak lama setelah itu.
"..."
Namun, tidak ada jawaban. Asisten suster itu pun kembali memanggil nama Rere Atmowiloto.
"Panggilan untuk Nona Rere Atmowiloto nomor 27, silahkan masuk!"
"Ah, itu namaku!" Gumam Rere. "Saya! Itu nama saya!"
Rere pun berjalan sambil dipapah laki-laki yang menyerempetnya itu untuk masuk ke dalam ruang periksa di poli kandungan. Namun, ia dan laki-laki itu sempat mendengar kata-kata yang membuat kupingnya kembali panas.
"Oh pantas tidak dengar, menyempatkan diri buat bermesraan dulu dengan pacarnya."
"Ssshtt, maklum, hamil muda, jadi manja."
"Tapi karena dia budeg makanya antriannya menjadi semakin lama! Dasar tidak tahu diri! Kalau tidak mau mengantri, sana periksa di dokter pribadi!"
Yang terkahir ini adalah ibu-ibu hamil tua yang tak sabaran.
Pacar bukan, suami juga bukan! Woy, kalian semua salah menilai! Namun, Rere tak bisa mengatakan hal ini. Ia sempat melotot tapi laki-laki di sampingnya memilih untuk meminta maaf karena sudah membuat gaduh, dan setelah itu segera mengajaknya masuk ke dalam tempat pemeriksaan.
***
Di ruang pemeriksaan...
Seorang dokter cantik sedang tersenyum ke arah Rere dan laki-laki tidak dikenali ini. Tersenyum memang sudah menjadi SOP dokter ya? Walau kelihatan sekali agak dipaksakan. Jangan bilang dokternya di rumah sedang ada masalah? Suaminya selingkuh?
Tch, kenapa juga harus bahas hal ini? Itu tidak penting, kan?
"Ibu Rere Atmowiloto... Hmm, ada keluhan soal kandungannya, Bu? Atau ibu hanya ingin kontrol saja dulu?" Tanya dokter cantik itu.
"Dokter, saya masih 20 tahun!" Ujar Rere.
"Oh astaga, maafkan saya... Baiklah, saya akan memanggil Anda dengan sebutan Nona."
Rere menahan kesalnya, dalam hati ia mengutuk dokter ini yang tidak membaca data dirinya terlebih dahulu. Main asal tanya, sok dekat sekali ini dokter? Mana salah lagi.
"Begini, Bu dokter... Saya kemari bukan untuk memeriksakan kandungan saya, saya itu tidak hamil!"
"Tidak hamil, oke... Lalu, apa keluhan Anda?"
Rere melirik ke arah laki-laki yang tadi menyerempetnya ini. Sebenarnya ia merasa sedikit ragu untuk menceritakan tentang keluhan yang dirinya alami saat ini. Namun, ia memilih untuk masa bodoh karena sudah tidak tahan lagi dengan rasa sakit yang ada di dalam perutnya.
"Begini, anu... Menstruasi saya akhir-akhir ini tidak lancar. Bulan kemarin saya tidak menstruasi, lalu bulan ini saya menstruasi lagi, tapi sudah dua Minggu lebih tidak berhenti. Lalu, rasanya juga sakit sekali." Jelas Rere.
Laki-laki tampan itu hanya duduk santai di sampingnya Rere, seolah tidak terlalu terganggu meskipun Rere membahas soal menstruasi sekalipun. Jadi Rere juga akan bersikap biasa saja, toh pada akhirnya, setelah pemeriksaan ini selesai, ia dan laki-laki ini tidak akan bertemu lagi, kan?
Dokter kandungan cantik itu pun melakukan pemeriksaan pada Rere. Ia meminta Rere untuk berbaring di ranjang pemeriksaan karena harus melakukan USG pada rahimnya Rere.
"Maafkan saya, Tuan... Saya harus membuka baju Nona Rere untuk mengoleskan krim USG. Anda tidak masalah, kan?" Tanya asisten suster.
Karena tidak terlalu paham dan juga tidak terlalu memikirkannya lebih jauh, laki-laki itu pun hanya menganggukkan kepalanya.
"Baik, terima kasih... Ah, Nona Rere, saya juga akan sedikit menurunkan rok pendek yang Anda pakai. Rahim wanita itu letaknya agak ke bawah perut."
Apa lagi ini?
Laki-laki itu bisa menang banyak kalau begini! Rere pun segera memberikan kode untuk berpaling agar laki-laki itu tidak melihat perutnya yang ramping. Dan ya, sepertinya laki-laki itu tidak seburuk yang Rere kira. Laki-laki itu memahami kodenya dan segera memalingkan wajahnya ke sisi yang lain.
Kemudian, USG pun dimulai.
"Tuan, jangan mengalihkan pandangan! Coba kemari, lihatlah ini... Ini adalah rahim istri Anda..."
Istri?
Sebenarnya, mau sampai kapan salah paham ini, hah?