Prang....
Gadis kecil yang sedang terlelap itu terbangun mendengar suara pecahan benda yang berasal dari ruang tengah.
"Mommy" guman gadis kecil itu, masih dengan wajah sayu. Gadis kecil itu turun dari atas ranjang dan melangkah menuju ruang keluarga.
"Apa kau tidak bisa memperhatikan aku sedikit saja, kau terlalu sibuk dengan pekerjaan mu!"
"Aku seharusnya yang berkata seperti itu, kau yang terlalu sibuk. Apa salahnya aku bekerja, bukanya dari awal sudah seperti itu. Mengapa sekarang kau permasalahkan?!"
Gadis kecil itu mendengar dan menyaksikan kedua orang tuanya yang saling menyalahkan dan melemparkan tatapan tajam. Tubuh gadis kecil itu bergetar melihat keadaan ruang keluarga yang layaknya terkena badai.
Vas bunga pecah, bantal di sofa berhamburan, bingkai foto terbanting ke lantai. Gadis itu meringkuk di balik tembok pembatas ruang keluarga.
"Tentu saja aku mempermasalahkanya, kau tidak lagi bisa mengurus aku dan anak-anak seperti semula. Kau tau, tugas utama mu adalah mengurus keperluan ku dan anak-anak, bukanya pergi pagi dan pulang malam"
"Oh....bagaimana dengan mu?! Apa kau sudah baik menjadi suami dan daddy? Kau memintaku menjadi istri dan mommy yang baik tapi pada kenyataan kau saja tidaklah baik"
Gadis kecil itu mulai terisak dalam persembunyiannya "mommy, daddy stop it" gumannya dengan suara lirih. Gadis kecil itu semakin meringkuk menenggelamkan kepalanya di antara kakinya.
"Kau!"
"Apa?! Bukankah yang aku katakan itu benar? "
Tubuh gadis kecil itu semakin bergetar hebat, mulut kecilnya tak henti-henti memanjatkan do'a.
"Tuhan yesus, tolong hentikan mommy dan daddy. Aku tidak suka mereka berkelahi, aku tidak suka."
Bibir kecil itu tak henti memanjatkan do'a sambil berlinang air mata, dia mungkin tidak tau apa masalah kedua orang tuanya. Tapi yang dia tau, dia tidak suka keadaan saat ini.
Prang......
Suara benda pecah mengejutkan gadis kecil itu, menengok apa yang terjadi membuat gadis kecil itu terpaku.
Disana, diruang keluarga. Tangan mommy dan daddynya bersimbah darah, ntah darah siapa itu.
"Vivian"
Seketika pandangan gadis itu menggelap.
--
Nafas Vian tersengal sengal, kejadian itu lagi, kenangan itu lagi. Mengapa muncul lagi? Padahal Vian sudah terbebas dari rasa takut itu, tapi mengapa semuanya terungkit kembali.
Vian menatap punggung polos disebelahnya, Jayden tertidur begitu pulas. Bagaimana pun keadaan, jika Jayden sudah tertidur karena lelah pasti ia akan sulit bangun. Lihat bahkan ketika Vian bergerak Jayden sama sekali tidak terganggu.
Vian meraih jubah tidur yang tidak jauh dari jangkauannya, menutupi tubuhnya yang hampir polos. Vian berjalan keluar kamar, ingin mencari udara segar ditengah malam yang sangat terang ini.
Vian berjalan jalan ditaman bunga milik Emma. Suasana sunyi dan sedikit dingin cukup untuk membuat Vian rileks, alih alih takut Vian cukup nyaman dengan suasana malam ini.
Vian terduduk dibangku taman, menatap bulan yang tenggelam di awan hitam. Pikirannya melambung ke masa dimana semua kejadian membuatnya takut, sangat takut untuk melangkah maju.
Vian yang dulu sangat berbeda dari yang sekarang, jika sekarang dia bisa bergaul dan berinteraksi layaknya orang normal. Namun dulu, Vian sangat anti pada lingkungan, dia takut jika dunia yang kejam akan menyakitinya lagi. Hanya Ken yang ia terima disisinya, bahkan mommy nya saja tidak.
Vian yang dulu takut pada mommy dan daddy nya, sangat. Perceraian orang tuanya lah puncak ketakutannya.
Usianya yang masih kecil, disuguhkan pertengkaran, kebencian, dan ke egois tinggi kedua orang tuanya. Bagaimana ia bisa menerima? Jika saja perceraian orang tuanya bisa sedikit lebih baik, mungkin ia tidak akan terus dibayangi ketakutan yang amat teramat sangat.
Jika mengingat itu, relung hati Vian terasa sesak seakan terhimpit bongkahan es raksasa.
Vian meraba lehernya, sakitnya masih sedikit berasa. Tadi saat melihat sekilas di cermin, muncul sebuah tato di bekas gigitan Jayden tadi. Vian tau arti gigitan dan tato itu, ia terikat dengan Jayden.
Sekarang Vian berfikir apakah salah dengan pilihanya ini?
"Aww..."
Ringisan itu membuat Vian tertarik dari kenangan masa lalunya, seseorang baru saja memanjat tembok.
"Siapa disana?" Vian mendekat, ingin memastikan siapa dibalik semak itu.
"Astaga..."
Vian mundur selangkah, ia terkejut melihat siapa yang ada dibalik semak semak. Seorang gadis ntah siapa dengan rambut kotor oleh daun.
"Sialan....aku tidak memperhitungkan tingginya" gerut gadis itu tampa sadar keberadaan Vian.
"Hei...siapa kau" tanya Vian "ah...ternyata ada orang, aku ketahuan" ucap gadis itu.
Tentu saja orang, dasar tidak peka.
"Hei kau siapa?" Tanya Vian lagi karena gadis itu belum juga menjawab.
"Aku?"
Tentu saja, siapa lagi?!
"Ya, kau"
"Aku Alice"
"Kau penyusup?"
Mata Alice melotot, memang cara masuknya tidak elit dan terkesan mencurigakan. Tapi enak saja dia dikatakan penyusup, tidak tau saja Vian.
"Enak saja, kau yang siapa. Maid tidak akan berkeliaran jam segini"
Maid? What the hell, Alice tidak tau saja dengan siapa dia berhadapan.
"Kau mungkin yang maid, biar aku panggil penjaga"
Alice segera menarik tangan Vian, mencegahnya untuk memanggil penjaga. Bisa gawat jika sampai penjaga tau.
"Kau kurang ajar sekali, kau tidak tau siapa aku ya?"
"Memang siapa kau?"
"Ck...ini lah akibat Billy s****n yang mengasingkan ku ke Antarctica. Lihat"
Alice menurunkan sedikit pakaiannya dibagian bahu, memperlihatkan sebuah tato. Vian terkejut dan meraba lehernya.
Tato yang sama? Apa dari orang yang sama? Mungkin saja dari orang lain? Tapi dari yang ia baca, setiap werewolf mempunyai tanda yang berbeda. Tapi tato bulan sabit dengan lilitan mawar yang ada dibahu Alice dan dilehernya sama dan tidak mungkin dari orang yang berbeda bukan?
Tuhan...tolong katakan perkiraan ku salah.
"Lihat, kau pasti tau siapa yang memiliki lambang seperti ini di tengkuknya"
Vian semakin terkejut, bagaimana Alice tau tentang letak tato Jayden yang tersembunyi tengkuk Jayden dan tertutup oleh rambut Jayden. Vian saja baru tau tadi soal tato Jayden itu.
"Kau mau kemana?"
Vian menarik tangan Alice, menghentikan gadis itu. "Mau kemana kau?" Tanya Vian.
Hatinya gelisah. Tidak salah bukan ia gelisah pada orang yang membuat sesuatu dalam dirinya takut.
"Ck....sepertinya saat ini para maid sangat lancang, harusnya ada pelatihan untuk para maid" gerut Alice, menghempaskan tangan Vian dengan kasar.
"Dengar, bukan urusan mu aku mau kemana. Aku bebas di pack ini, tidak ada yang akan memarahi ku bahkan Jayden tidak akan berani, dia sangat menyayangi ku"
Vian terdiam, seakan ada sesuatu yang membuatnya bungkam. Suatu ketakutan.
"ALICE!!!"
Ingin rasanya Alice menghilang saat ini, s**l dia tertangkap basah oleh Billy. Alice menatap sengit Vian yang masih terpaku layaknya patung.
Ini salah Vian!!!
"Kau!" Billy langsung mencengkeram pergelangan tangan Alice, adiknya ini benar benar liar.
Billy mengalihkan tatapanya dari Alice, betapa terkejutnya dia melihat ternyata Vian yang sedang bersama adiknya ini. Keterkejutannya bertambah melihat wajah Vian yang memucat dengan tatapan kosong.
"Hei....kau baik baik saja" Billy mengguncang bahu Vian, menatap khawatir sang Luna.
"Kau apakan dia?" Tanya Billy kesal pada Alice, pasti adiknya ini berkata yang tidak tidak.
Alice mengangkat bahu acuh.
Tampa berkata, Vian berbalik meninggalkan Billy dan Alice. Billy terdiam menatap punggung mungil itu menjauh, tatapannya sedih dan khwatir.
Billy mengalihkan tatapnnya pada adiknya "apa?" Tanya Alice dengan muka tidak tau.
"Kau membuatnya rumit Alice"
--
Vian memasuki kamar, menemukan Jayden yang berada dipinggir ranjang.
"Baby, kau dari mana saja. Mengapa aku terbangun dan kau tidak ada diselah ku, kau membuatku takut"
Vian diam, menatap lurus Jayden. Menyadari keanehan Vian, Jayden menarik Vian agar duduk dipangkuannya mengabaikan fakta bahwa ia hanya menggunakan boxer.
"Ada apa dengan mu baby, dari mana saja hm?"
Tidak ada jawaban, Vian masih bungkam dan menatap lurus pada bola mata Jayden.
"Jay..."
"Ya?"
"Aku ingin pergi"
Tbc....