Eli terdiam menatap Jayden, pandanganya lurus menghunus wajah tampan adiknya itu. Ruangan sunyi, membuat ketukan kaki Eli terdengar jelas.
"Kau tau, kau adalah orang yang paling t***l. Bagaiaman bisa kau berjanji seperti itu pada seorang gadis, apalagi dia unmate. Kau letakkan dimana otak mu saat mengatakan itu Jayden adam William!"
Jayden hanya diam mendengar kemarahan Eli, tidak berniat memperburuk keadaan.
"Batal kan janji mu itu Jay, kau tidak bisa melakukanya"
"Tidak bisa Eli, aku berjanji atas nyawa ku sendiri. Kau tidak perlu khawatir, aku yakin Baby akan maklum nantinya"
Eli mengehela nafas, adiknya ini dengan sifat keras kepalanya adalah hal yang mampu membuatnya ingin angkat tangan menyerah.
"Jay dengar aku, kau tidak paham hati wanita. Sekali kau melukai dan menghancurkan hati wanita, maka akan susah untuk mengembalikannya
"Jangan membuat Vian terluka dan kecewa, karena aku tidak yakin setelah kau membuatnya kecewa dia akan berbaik hati memaafkan mu"
"Dia akan memaafkan ku, aku yakin"
"Jangan terlalu yakin Jay, Vian tidak seperti yang diluaran sana"
Setelah mengatakan itu, Eli pergi meninggalkan Jayden. Ia ingin adiknya itu, memikirkan perkataanya. Eli ingin yang terbaik untuk adiknya, ia tidak ingin Jayden mengambil langkah yang akan menghancurkannya suatu hari nanti.
~ * ~
Ckelek....
"Baby"
Ketika masuk ke dalam kamar, Jayden disuguhkan pemandangan kamar yang kosong. Tidak ada Vian seperti biasanya.
"Baby?" Sekali lagi Jayden memanggil Vian, berharap Mate nya itu berada didalam kamar mandi. Tapi hasilnya nihil, Vian tidak ada.
Jantung Jayden berdegup kencang, ada perasaan takut menyusup dihatinya. Tidak, Vian tidak mungkin meninggalkanya. Ia tidak berbuat kesalahan apapun yang membuat Vian pergi.
Satu tepukan dibahunya membuatnya langsung berbalik. Betapa terlejutnya ia saat melihat Vian yang berdiri dihadapanya dengan sebuah gelas berisi air ditanganya.
"Baby"
Jayden langsung berhambur memeluk Vian dengan sangat erat, nafasnya menderu berat seperti habis maraton.
"Jay?"
"Aku pikir kau menghilang atau kabur, jangan tinggalkan aku Baby"
Vian mengelus punggung Jayden dengan sebelah tangnya, dan tangan yang satu masih memegang gelas.
"Kau ini kenapa berbicara seperti itu, aku tidak akan pergi jika kau tidak macam macam"
Vian mengurai pelukan Jayden sedikit, menyodorkan gelas air yang ia bawa. "Minumlah....kau pasti haus dan lelah, sebaiknya segera istirahat" ucap Vian.
Jayden tersenyum senang, Vian mulai memperhatikanya. Dengan segera ia mengambil gelas yang disodorkan Vian dan meminumnya sampai habis.
"Apa yang terjadi selama aku pergi?" Tanya Jayden yang sedikit penasaran. Pasalnya Vian jadi lebih perhatian setelah ia pergi, lihat bahkan sekarang Vian membantunya membuka dasi dan Jas, sudah layaknya pasangan saja bukan.
"Tidak ada yang sepesial, memang kenapa kau bertanya?"
"Hanya saja kau jadi lebih perhatian"
"Kau tidak suka aku perhatian?"
"Tidak, aku suka. Tapi hanya penasaran"
Vian tersenyum, sedikit berjinjit dan mengecup pipi dan bibir Jayden sekilas. Mengalungkan lenganya pada leher Jayden.
Sontak hal itu membuat Jayden senang dan bertanya tanya, apa gerangan yang terjadi dan mengubah Vian menjadi manis seperti ini.
Bukan mau mengatakan selama ini Vian tidak manis, hanya saja perlakuannya kali ini sedikit berbeda.
Pertama kalinya berlaku sepertinya ini.
"Aku hanya mencoba dekat dengan mu, agar kita bisa saling terbuka dan mencinta. Aku rasa mulai bisa menerima segalanya"
Betapa bahagianya Jayden mendengar kalimat Vian itu, bahkan Eldrik berguling kesenangan dalam pikiranya.
"I love you"
~ * ~
"Baby, apa yang kaulakukan disini"
Vian bisa merasakan adanya tangan yang sedang memeluknya dari belakang, dan seseorang yang sedang mengendus dilehernya.
"Disini dingin Baby, kau bisa sakit"
"Aku tidak akan kedinginan jika kau memeluk ku seperti ini Jay"
Jayden tersenyum mendengarnya, seakan Vian senang jika ia memeluknya seperti ini. Usapan halus pada lengannya tambah membuat Jayden senang, jika ini ilusi biarkan dirinya terjebak lebih lama lagi didalamnya.
Cukup lama mereka diam dalam posisi seperti itu, sampai Jayden mendengar helaan nafas dan wanita cantik dipelukanya ini.
"Kau kenapa Baby?"
"Hanya bosan Jay, aku bosan"
Benar juga, sudah mau dua minggu Vian hanya berada di sekitar pack house atau kamar. Terakhir kali ia keluar dan berakhir dengan pertengkaran hebat itu.
"Kau ingin keluar?"
"Apa boleh?" Vian membalikan tubuhnya, matanya berbinar binar mendengar ajakan Jayden.
"Boleh, tapi dengan ku"
"Terserah, yang pasti aku boleh keluar. Ah...terimakasih Jay"
Vian memeluk gemas Jayden, memberi kecupan ringan pada seluruh wajah Jayden dan leher Jayden.
"Stop baby, kau bisa membuat gagal rencana keluar kita jika melanjutkanya"
"Mengapa?"
"Karena aku akan langsung menerkam mu diatas ranjang sampai pagi menjelang"
Mata Vian melotot, bersiap memukul Jayden. Tapi Jayden lebih cepat berlari menjauh, tawa Jayden menggema menandakan ia sangat senang saat ini.
"You're p*****t old man!"
"I'm baby, cepat ganti pakaian mu. Kita akan berkencan malam ini"
~ * ~
Mereka sampai disalah satu tempat yang biasa dijadikan tempat kencan sebagian besar warga kota.
"Wow"
Vian berseru riang, berminggu minggu terkurung dalam pack membuatnya sangat merindukan dunia laur terutama dunia malamnya.
"Kau senang?"
"Sangat, terimakasi Jay"
Vian mengecup bibir Jayden sekilas, lalu menarik Jayden untuk berjalan jalan. Mereka mengunjungi berbagai tempat untuk berfoto, makan dan bersenang senang. Sampai mereka kelelahan dan memilih sebuah cafe sebagai tempat istirahat.
"Kau mau makan lagi?"
"Apa boleh?"
"Tentu baby, apapun untuk mu"
Vian tersenyum dan memanggil pelayan untuk mencatat pesanan mereka "aku pesan cheese cake, dan latte" ucap Vian
lagu Ed sheeran perfect mengalun indah dibawakan oleh seorang penyanyi disana, menambah kesan romantis yang tercipta diantar Vian dan Jayden.
Vian ikut menyanyi mengikuti alunan lagi sambil memakan cake nya, sampai belepotan. Dengan jepol tanyanya, Jayden membersihkan bibir Vian. Ia sangat senang melihat Vian yang banyak berekspresi seperti ini, tersenyum dan tertawa terutama.
"Jay kau tau, aku sebenarnya hari ini sedang kesal"
"Kesal mengapa?"
"Kau tau, Ken sudah tidak jujur pada ku. Dia menyimpan kegundahanya sendiri dan tidak menceritakanya pada ku, aku merasa dia tidak menganggap aku sahabat lagi sepertinya"
Sebenarnya Jayden sangat kesal mendengar nama Ken, ia jadi ingat Ken yang dengan kurang ajarnya memeluk Vian.
"Tidak semua permasalah harus selalu diceritakan dan dibagi dengan orang lain Baby, ada kala lebih baik disimpan untuk diri sendiri"
"Tapi bukankah sebaiknya di ceritakan agar tidak menjadi kesalah pahaman, kau tau setiap orang mempunyai pandangan yang berbeda beda"
Ntah mengapa melihat Vian tersenyum setelah mengatakan hal itu membuat dirinya gelisah, tapi Jayden coba menampiknya, perasaannya saja mungkin.
Vian menikmati kembali cake nya, pembicaraanya dengan Jay sudah tidak sehat jika dilanjutkan.
"Jay kau mau kemana?" Tanya Vian ketika Jayden tiba tiba langsung berdiri, alis Vian mengkerut melihat wajah Jayden yang tampak kaku.
Namun hanya sebentar, Vian kembali tersenyum. "Baby, aku ke toilet sebentar tunggulah disini" Vian mengangguk, dan Jayden pergi meninggalkanya.
"Ah....sakit sekali"
~ * ~
"Jay pelan pelan, aku bisa terjatuh nanti" seakan tuli, Jayden terus menarik Vian menjauh dari keramaian, seakan ada hantu yang mengejarnya.
"Jay kau ini sebenarnya kenapa, tingkah mu aneh"
Bruk...
Jayden langsung menarik Vian kedalam g**g dan memojokan tubuh Vian ditembok, menghimpit Vian dan langsung mencumbu Vian dengan liar.
Vian tidak sempat memberontak ketika Jayden semakin menekanya, mengulum bibirnya seperti seseorang yang berpuasa ciuman bertahun tahun, sangat rakus.
Lidah Jayden membelai bibir Vian, membelai setiap saraf rongga mulut Vian dengan permainan lidahnya yang panas.
Tau Vian hampir kehabisan nafas, Jayden melepas cumbuanya. Menempelkan kening mereka dengan nafas yang sama sama menderu hebat.
"Jay ka-"
"Baby, I want you"
Tbc....