18

1049 Words
Vian tengah sibuk diruang tamu pack house, tanganya tidak berhenti bergerak diatas keyboard. Mengupload video berkebunnya kemarin bersama Emma dan Eli di akun youtubenya. "Kau tampak sibuk aunty" suara bariton itu menghentikan gerakan jari Vian diatas keyboard. Vian mendelik tidak suka dengan panggilan pria yang kini sudah duduk disebelahnya dan memeluknya dari samping, mengendus dirinya seperti anjing. Ah...bukan mereka serigala bukan anjing. "Ku patahkan leher mu jika berani memanggilku aunty lagi Ken!" "Seram sekali kau, pantas saja Uncle Jay menyukai mu" "Aku bukan valak yang seram Ken, kau tidak bisa membedakan mana galak dan seram hah, dan berhenti mengendus dileher ku, geli" Vian mencubit tangan Ken yang melingkar dipinggangnya, membuat Ken merengut dan menjauhkan sedikit dirinya dari Vian. Tapi tidak melepas belitan tangannya dipinggang Vian. "Kau ini, biarkan saja. Uncle Jay sedang tidak ada, kapan lagi aku bisa bermanja manja dengan mu seperti ini lagi jika Alpha posesif itu ada" Vian tidak peduli, lebih memilih mengabaikan Ken dan melanjutkan pekerjaanya. "Apa yang sedang kau kerjakan?" Tanya Ken penasaran karena di abaikan oleh Vian sejak tadi. "Oh....mengedit Video? Sudah berapa memang subscriber mu?" "350k" "Lumayan heh" Kembali hening, Vian sibuk dengan Videonya dan Ken yang sibuk menenangkan diri dengan terus menempel pada Vian. Setelah selesai dengan urusanya Vian menutup laptopnya dan menghadap ke arah Ken, menatap sahabatnya itu dengan tatapan menyelidik. Vian kenal Ken bukan satu atau dua tahun tapi lima belas tahun. Vian bisa tau Ken sedang memiliki masalah atau tidak hanya dari raut wajah dan tingkah laku Ken, jika Ken sudah mulai manja dan menempel padanya Ken sedang memiliki masalah dan sedang menenangkan diri dengan cara memeluknya seperti tadi. "Apa?" Tanya Ken ketika sadar akan tatapan Vian yang menyelidik padanya. "Kau ada masalah?" Tanya Vian to the poin. Ken diam sejenak, menghela nafas dan menarik Vian agar bersandar padanya. "Baby, bisakan kau bersama ku saja, jangan dengan uncle Jay. Sepertinya aku tidak bisa tanpa mu" Vian langsung saja mencubit pinggang Ken, ada apa dengan sikap Ken ini. Jika ada yang mendengar perkataanya dan melapor pada Jayden habis sudah Ken. "Yang serius Ken, aku tidak bercanda. Katakan apa kau sedang memiliki masalah?" "Ya...dan hanya kau yang bisa menenangkan ku saat ini" Ken kembali menarik Vian agar bersandar di dadanya. "Apa masalah mu?" "Tidak serius, hanya patah hati" Ken selalu terbuka pada Vian, apapun yang membebani hatinya akan Ken ceritakan hanya pada Vian. "Patah hati, sepertinya ada yang kau belum ceritakan pada ku. Katakan siapa gadis kurang beruntung itu" Ken tertawa ringan, jika saja Vian tau siapa wanita itu, sudah bisa dipastikan Vian tidak akan mengatakan hal seperti itu. "Kau benar, dia mungkin kurang beruntung dan aku yang beruntung jika mendapatnya. Kau tau, hari ini dia dilamar oleh kekasihnya" "Kau menyukai kekasih orang?!" Tidak ada salahnya memang menyukai kekasih seseorang, karena perasaan suka adalah hak setiap orang. Tapi Vian hanya bingung, pasalnya Ken tidak pernah sekali pun serius menyukai wanita, apalagi sampai patah hati seperti ini. "Kau sangat menyukai wanita itu?" "Tidak, aku mencintainya" Ini bukan Ken seperti biasanya, Ken tidak pernah serius menjalin hubungan dengan wanita bisa semenyedihkan ini? Karma memang berlaku. "Apa sangat menyakitkan, seberapa menyakitkan?" Vian mengelus lengan Ken yang memeluknya saat ini, ntah mengapa ia juka ikut sedih melihat Ken sesedih ini. "Tidak tau, kau akan tau jika sudah merasakanya saja" "Aku tidak mau merasakanya, aku takut Ken" Jayden melonggarkan dasi yang ia kenakan, saat ini ia sedang berada diperjalanan kembali ke pack house. Rencana 3 hari di Russia dipercepat, ia merindukan Vian. Rasanya ingin selalu memeluk Matenya setiap malam, dan menatap wajah polos tampa make up Vian setiap pagi. Benar benar membuatnya rindu. Jayden merogoh saku jas yang ia kenakan, mengambil ponsel nya dan memeriksa CCTV yang ia pasanga di setiap sudut pack house agar bisa melihat aktifitas Vian setiap saat. Ada beberapa titik CCTV itu dipasang, mulai dari kamar, ruang pakaian, tangga, dapur, ruang makan, dan ruang tamu. Jayden hampir saja melempar ponselnya keluar jendela karena kesal melihat apa yang terpampang dilayar ponselnya itu, keponakan laknatnya itu berani sekali memeluk Vian seperti itu. Lihat bahkan mereka terlihat seperti sepasang kekasih, s****n bahkan Jayden saja masih belum seleluasa itu memeluk Vian. "Tambah kecepatannya?" "Maaf?" "Percepat kecepatanya, aku harus segera sampai ke pack" Supir itu mengangguk patuh, dan segera menambah kecepata mobil agar sampai dipack dengan segera. Apa yang harus Jayden berikan sebagai peringatan pada keponakanya itu, jika Vian sudah dipastikan akan ia buat lemas diatas ranjang, makan Ken? Haruskah Jayden mematahkan tangan keponakanya yang berani kurang ajar itu. Membuat pening kapala saja, belum selesai teka tiki yang Almora katakan, ia harus kembali pusing dengan tingkah Ken yang kelewatan intim dengan Vian. "Masa lalu yang gelap dan hampa menciptakan dendam sepanas bara, rangkaian huruf yang salah akan membawa petaka" Itulah yang Almora katakan sebelum berteriak histeris dan mengusir nya dengan tidak sopan, baru saja Jayden menampakan diri dihadapannya kalimat itu langsung saja meluncur dari mulut Almora. Tidak terasa mobil yang membawa Jayden sudah sampai di pack house. "Jayden" Jayden berbalik badan ketika mendengar suara melengking dari arah belakangnya, siapa yang berani memanggilnya hanya dengan nama tampa rasa hormat sedikit pun. Bruk... Tubuh kecil seseorang menubruk tubuh Jayden dan memeluknya erat "aku merindukan mu" Jayden terkejut saat mengenali siapa yang memeluknya itu, Alice! Alice, adik Billy dan teman masa kecil Jayden. "Alice, sejak kapan kau disini?" "Sudah sejak lama, tapi aku tinggal diluar pack, kau tau kan Jay" Cup...cup... Tubuh Jayden menegang saat Alice berjinjit dan memberi kecupan pada pipi dan rahangnya, Jayden takut ada yang melihat dan melapor pada Vian. Jayden mencoba melepaskan pelukan Alice dari tubuhnya, tapi semakin Jayden berusaha maka semakin keras Alice memeluknya. Bisa saja Jayden dengan mudah mendorong Alice, tapi ia tidak mau menyakiti Alice nantinya, cukup sekali memberikan luka permanen pada wanita itu, tidak lagi. "Kau tau Jay, saat sampai di negara ini aku ingin langsung menemui mu. Tapi s**l sekali pekerjaan yang diberikan tempat ku bekerja seakan akan tidak membiarkan ku untuk segera menemui mu" Alice merengut menceritakan aktifitasnya yang menghambatnya bertemu Jayden, bahkan Alice semakin memeluk Jayden dan menyandarkan dirinya pada d**a Jayden. Billy yang baru saja tiba di halaman pack house langsung terkejut melihat Alice yang memeluk Jayden, bahkan Billy menatap Jayden horor. "Jay aku kau menginap disini, aku ingin bercerita banyak pada mu. Aku ingin kau menggenggam tangan ku seperti dulu sebelum tidur" Baru saja Jayden ingin menyuarakan penolaknya, Alice menyela ucapanya. "Kau sudah berjanji pada ku Jay, akan ada disetiap aku butuh dan akan selalu bersama ku, ingat" Terkutuklah Jayden yang pernah berkata seperti itu pada Alice, jika saja ia tidak terlalu terbawa perasaan ia tidak akan berjanji seperti itu. Jayden menatap Billy seakan berkata jauhkan Alice dari ku, tangani dia agar tidak menginap dipack. Billy tidak berkata apapun, matanya terbelak menatap seseorang yang berada dibelakang Jayden. "Jayden" Oh...holy s**t! Tbc
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD