Flashback ( masa kecil)
Winter berulang kali menggosokkan tangannya,dia sangat kedinginan saat ini,salju turun sangat lebat pagi ini dan sial nya ibu nya malah meminta dia pergi ke minimarket untuk membeli beberapa bahan Makanan.
“Aduh” Winter memegang lutut nya yang berdarah,dia meniup niup lutut nya yang berdarah,salah nya juga tidak hati hati saat berjalan.
Winter menaikkan kepala nya ke atas,dia berusaha sekuat tenaga menahan air mata yang ingin keluar dari mata nya,tidak dia tidak boleh menangis dan pingsan disini.
“nggak boleh nangis” Ucap Winter sambil menaikkan kepala nya
Winter mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru,pandangannya mulai mengkabur dan jika dia pingsan disini dia bisa mati kedinginan.
“ku mohon seseorang datang lah” ucap Winter sambil berdoa dalam hati nya,perlahan kegelapan menyelimutinya..
***
Winter membuka mata nya perlahan,cahaya yang menusuk mata nya sedari tadi sudah mulai terlihat jelas,Winter mengangkat kepala nya dan melihat ke tangannya yang terpasang infus,Winter menarik nafas nya kesal lagi lagi dia harus terbaring lemah di ranjang rumah sakit ini untuk kesekian kalinya karena penyakit nya ini.
“terimakasih nak Axel,jika tidak ada kamu bisa bisa Winter mati kedinginan disana”
Winter mengalihkan pandangannya saat mendengar suara ayah nya sedang bersama dengan orang yang paling terakhir Winter ingin lihat.
“nggak apa apa pak,saya senang bisa menjalankan tugas saya” ucap Axel sambil tersenyum,Winter memutar bola mata nya laki laki iblis itu bertingkah seperti seorang pahlawan di depan ayah nya.
Ayah Winter pun balas tersenyum dan mengambil beberapa lembar uang ratusan dan memberikannya ke Axel
“ini gaji kamu karena sudah menjaga Winter selama ini” ucap Ayah Winter sambil memberikan uang itu,Axel yang melihat itu pun menerima nya dengan senang hati
“terimakasih pak,saya berjanji akan menjaga Winter selama hidup saya” Ucap Axel sambil berpamitan pergi
Winter yang sedari tadi melihat nya hanya diam,walaupun berjuta juta kali Winter mengatakan kepada Ayahnya kalau Axel tidak sebaik yang Ayahnya pikirkan tetap saja Ayah nya tidak akan pernah mendengarkannya,di mata Ayahnya Axel adalah pahlawan dan pelindung Winter.
“kamu sudah bangun sayang?” tanya ayah Winter sambil mendekati bed putri nya itu
Winter mengangguk dan mengulurkan tangannya meminta pelukan dari ayahnya,walaupun ibu Winter telah meninggal saat melahirkan Winter tetapi Winter tidak kekurangan kasih sayang sama sekali.
Ayahnya akan selalu memanjakan dia dan menuruti semua keinginan Winter.
“Ayah boleh aku pulang sekarang?” tanya Winter memohon sambil menatap Ayahnya
Ayahnya mengangguk “kalau kamu sudah sehat,kita bisa pulang hari ini lagian kamu ada ujian kan besok?”
Winter menepuk jidatnya,dia lupa kalau ada ujian akhir semester besok,matilah dia mana Winter belum belajar sama sekali.
**
Winter berulang kali menggaruk kepala nya,semua soal yang dia lihat terlihat sama,Winter tidak bisa menjawab satupun soal,Winter mendongakkan kepala nya kedepan dan melihat Axel yang mengerjakan soal dengan mudah.
“waktunya tinggal setengah jam lagi” ucap pengawas kelas,Winter dengan cepat menundukkan kepala nya lagi dan sial dia sama sekali belum menjawab soal nya,jika bukan insiden masuk rumah sakit kemarin dia pasti sudah bisa menjawab soal ini setidak nya beberapa.
“xel” ucap Winter sambil menusukkan pulpennya ke badan Axel
“hm” balas Axel,dia memundurkan badannya sedikit untuk mendengar perkataan Winter
“lihat jawaban kamu dong,aku belum sama sekali” ucap Winter memelas
Axel memalingkan badannya lalu tersenyum manis ke Winter dan memperlihatkan kertas jawabannya ke Winter.
“dalam mimpi kamu” ucap Axel dan menariik kertas jawabannya dengan cepat,dia pun berdiri dan mengumpulkan jawabannya kepada pengawas,sedangkan Winter hanya bisa ternganga melihat kelakuan Axel.
**
Winter duduk di di depan kelas nya sambil meminum minuman yang dia beli di kantin tadi,sungguh dia sangat kesal dengan Axel seandainya saja pria itu mau memperlihatkan jawabannya barang sedikit sudah pasti jawaban Winter ada yang benar.
“minta minuman kamu” ucap Axel tiba tiba dan menarik minuman Winter tetapi dia kalah cepat,Winter terlebih dahulu menjauhkan minumannya dan membuang nya ke bak sampah.
“sudah habis” ucap Winter cuek dan berjalan meninggalkan Axel,tetapi Axel dengan cepat menarik tangan Winter untuk berhenti.
“kamu kenapa sih” ucap Winter sambil menarik tangan Winter,Winter yang melihat tangannya di tarik Axel pun mnarik kembali tangannya.
“kamu yang kenapa,dari dulu selalu mengikuti aku kemana pun” ucap Winter
“ayah kamu minta aku jagain kamu Winter”
“aku sudah dewasa Xel,bukan anak kelas 1 SD yang perlu bimbingan setiap saat” ucap Winter jengah,sungguh Axel selalu mengikuti nya dari kelas 1 SD dan sampai dia kelas 3 SMA sekarang pria itu selalu berada di samping Winter tidak peduli sebanyak apapun Winter meminta nya pergi
“jika bukan karena penyakit kamu ini,aku pasti nggak seketat ini menjaga kamu” ucap Axel
“penyakit aku baik baik saja sebelumnya,tapi semenjak kedatangan kamu di hidup ku semuanya berantakan Xell,sedikit atau banyak kamu lah yang membuat penyakit aku ini semakin parah” Winter menatap wajah Axel dengan berang dan meninggalkan Axel yang masih diam.
Winter kembali ke kursi nya dan menaikkan kepala nya,sial emosi nya tidak bisa di kontrol dan jika seperti ini pasti sebentar lagi pandangan Winter akan menggelap,dia tidak ingin pingsan di sekolahan dan membuat semua orang tahu akan penyakit nya.
“jangan menangis please” ucap Winter dia mehentakkan kaki nya dan mendongakkan kepala nya berusaha mengatur emosi nya.
“tutup mata kamu dan bayangkan kamu sedang berada di suatu tempat yang selama ini kamu impikan” ucap Axel tiba tiba,pria itu datang dengan tiba tiba dan langsung menutup kedua mata Winter.
“aku minta maaf,karena aku emosi kamu menjadi tidak stabil lagi” ucap Axel lagi,dia masih menutup kedua mata Winter dengan tangannya.
Cukup lama Axel memegang mata hingga di rasa nafas Winter kembali normal.
“kamu sudah tenang?” tanya Axel sambil menjauhkan tangannya dari mata Winter
Winter mengangguk,sekarang dia sudah kembali normal lagi
“ini makanan kamu,makanlah selagi hangat” Axel memberikan sebungkus empek empek kesukaan Winter.
“lain kali kalau kamu seperti tadi,cukup tongakkan kepala lalu tutup mata kamu dan bayangkan hal yang kamu sukai,karena tidak selama nya aku bisa jaga kamu kaya tadi”
Winter menaikkan satu alis nya mendengar perkataan Axel,kenapa pria dihadapannya ini bisa menjadi begitu melankolis
Winter menggelengkan kepala nya,buat apa juga dia memikirkan perkataan Axel tadi
“iya,sekarang kamu keluar gih aku mau makan ini” ucap Winter sambil membuka bungkusan makanannya,Winter sangat menyukai empek-empek yang di jual di sekolahannya ini,menurutnya tidak ada empek-empek selezat ini sebelumnya.
Axel yang melihat nya pun hanya bisa tersenyum,dia bangkit dan meninggalkan Winter yang asik memakan empek-empek kesukaannya.
**
Winter mengambil bola golf yang melambung tinggi,jam sudah menunjukkan pukul 2 siang dan ayah nya dengan Axel tidak ada niatan untuk berhenti main golf.
“ayah,kita pulang ya,sedari tadi ayah juga nggak ada yang masuk” teriak Winter,dia sudah sangat lelah ada lebih dari 10 kali dia berlari mengejar bola golf yang jatuh.
“tunggu sebentar,biarkan ayah memasukkan bola satu kali” ucap ayah nya.
Winter duduk di kursi yang memang sudah di sediakan,dia tidak paham dengan ayah nya yang selalu semangat bermain golf apa;agi dengan Axel.
“ini minumannya” Winter mendongakkan kepala nya dan melihat Axel yang memberikan minuman kepada nya.
“nggak usah aku sudah bawa sendiri” ucap Winter dia mengambil minumannya dari tas kecil nya.
“kapan kalian pulang?” tanya Winter bosan,tingkat kebosanannya sudah mencapai level batas
“saat ayah bisa mengalahkan Axel” ucap ayah Winter sambil mengayunkan tongkat nya ke bola golf
Winter yang mendengar itu pun melototkan matanya,mau sampai kapan ayah nya main sedangkan sejak 3 jam lalu ayah nya selalu kalah melawan Axel.
Winter menjalankan kaki nya ke depan dan belakang dia mencari cara agar bagaimana ayah nya berhenti main atau setidak nya membiarkan Winter pulang.
“astaga,Ayah Winter lupa kalau hari ini ada les piano di sekolah” ucap Winter,sekuat tenaga dia mengeluarkan bakat akting nya agar ayah nya percaya
“bukannya kamu ada les hari selasa ya?” celetuk Axel,Winter memberikan kode kepada Axel untuk diam
“gini ayah,guru pembimbing kami selasa depan ada urusan ke luar negeri jadi jadwal nya di percepat hari ini” ucap Winter sambil mengedipkan mata nya berulang kali agar ayah nya percaya.
“kalau begitu kamu pulang sama Axel ya,ayah mau lanjut main” Winter menganggukkan kepala nya dengan cepat tidak peduli dia harus pergi dengan siapa asal dia bisa keluar dari tempat yang panas ini.