Kehilangan Hal Berharga

1548 Words
"Kau sedang apa, Amore?" Suara bariton yang berat dan seksi berhasil mengagetkan Zelda. "Hah?" kagetnya, spontan mundur dan menabrak d**a bidang orang tersebut. "Maaf, Paman," cicit Zelda pelan sembari menjauh dari Marvin. Zelda canggung dan kikuk pada Marvin, terlebih tatapan pria ini selalu menghunus tajam ke arahnya. Marvin masih orang asing bukan? "Kau sedang apa?" tanya Marvin, mengulangi kalimatnya–menatap keponakannya tersebut dengan tatapan yang menghunus tajam. "Aku--aku mencari Paman," jawab Zelda, berusaha untuk tidak gugup walau kenyataannya suaranya tetap terdengar gugup. 'Hais, kenapa aku gugup begini? Perasaan aku tak pernah se gugup ini saat berhadapan dengan orang. Apa jangan-jangan dia ini siluman ampibi?' "Kau merindukanku, Amore?" Marvin tersenyum tipis, mengacak surai di pucuk kepala Zelda dengan pelan, dan sebelum perempuan ini sempat protes Marvin langsung menarik Zelda dari sana. Dia menbawa Zelda ke ruang makan, sejak dia menbawa Zelda ke rumah ini Zelda belum makan. Tentu saja! Zelda tertidur sudah delapan jam. Anak ini ternyata tidurnya lama, atau mungkin faktor kehilangan. Orang tua Zelda baru meninggal seminggu yang lalu. Dari pengawasannya secara diam-diam, anak ini tak pernah tidur. Pernah! Tetapi baru beberapa menit langsung terbangun, waspada pada Om dan tantenya. Ketika Zack dan Indah meninggal (orang tua Zelda), Marvin masih berada di luar negeri. Karena itu dia tidak ada saat Zelda membutuhkan topangan. "Tidak, Paman." Zelda menggelengkan kepala, duduk di sebuah kursi meja makan setelah dipersilahkan oleh Marvin. 'Wajahnya lempeng, auranya dark, dan berbicara seperti di musim salju alias dingin. Tapi dia sedikit manis. Apa ini yang dikatakan tsundere? Tapi Tsundere tidak punya panggilan manis. Mungkin Paman Marvin memang spesies ampibi. Dua alam.' "Jadi kenapa kau mencariku?" Marvin duduk di kursi ujung meja, masih bersebelahan dengan Zelda. Sebelum dia pergi, mungkin dia bisa menemani anak kecil ini untuk makan. Anak kecil? Tidak, Zelda sudah berusia dua puluh satu tahun. Zelda bukan lagi anak kecil. Namun, mungkin karena sangat merindukan sosok ini, bagi Marvin Zelda tetaplah bayi mungil kecil kesayangannya. Ah, mulai sekarang Zelda adalah kesayangannya. Baby girl-nya sudah kembali, Marvin sudah menemukannya serta memilikinya lagi. "Umm … ini rumah Paman?" tanya Zelda hati-hati dan pelan. Takut pertanyaannya tersebut menyinggung Marvin. "Humm." "O--oh." Zelda beroh dia, masih gugup pada pria ini. Mungkin karena masih kaget jika dia punya paman. Tampan! Zelda baru menyadarinya. Marvin sangat tampan, berkarisma dan mempesona. Pamannya ini punya alis tebal, mata yang selalu menghunus tajam, hidung mancung, bibir pas dan seksi, rahang kokoh dan pipi tirus. Ah, tidak ada cela sama sekali. Dia tampan dan sempurna, mungkin cacat di ekspresi saja. Bagi Zelda wajahnya lempeng, dan ditambah sorot matanya yang tajam, pamannya ini terlihat seperti pria dingin yang baru terbangun dari peti mayat. "Paman, aku sangat berterimakasih karena Paman datang diwaktu yang tepat. Saat mereka mengusirku dan aku tidak tahu harus kemana, paman datang dan membawa ku kemari." "It's okay, Mi Amore," singkat Marvin. Harusnya itu kalimat manis, tetapi entah kenapa kesannya malah horor bagi Zelda. Hais, jika bukan adik dari ayahnya, Zelda akan protes karena terus-terusan dipanggil Amore oleh pria ini. Namun, dia juga tidak berani protes–wajah Marvin memang tampan tetapi terkesan galak dan dingin. Zelda masih segan dengan pria ini. "Tetapi … tenang saja, Paman. Aku tidak akan menyusahkanmu dan keluargamu. Maksudku, mungkin Paman menerimaku secara tulus karena aku anak dari Kakak Paman Marvin. Tapi, tidak menutup kemungkinan kan istri dan anak Paman tidak suka aku di sini. Jadi secepatnya aku akan pergi dari sini. Aku sebenarnya tidak tinggal dengan Mama dan Ayah, aku kuliah dan mereka membeliku rumah yang dekat dengan kampus karena universitas-ku jauh dari rumah. Aku bisa tinggal di sana, Paman." "Sudah?" Marvin menaikkan sebelah alis. "Makanlah," lanjutnya ketika para maid menyajikan makan malam untuk Zelda. "Maksud Paman?" tanya Zelda dengan nada pelan, menatap Marvin aneh. Apanya yang sudah? "Kau tidak akan kemana-mana. Ini rumahmu dan kau satu-satunya keluargaku," ucap Marvin. "Mengerti?" lanjutnya. Zelda mengerjab-erjab. "Aku keluarga Paman satu-satunya? Loh, istri dan anak Paman kemana?" "Di depanku." Zelda spontan menoleh ke arah tatapan Marvin, dia menoleh ke belakangnya dan sebelahnya. "Di mana?" "Aku bercanda." "Oh." Zalda memangut-mangut. 'Nadanya cuek sekali. Apa dia kesal yah aku menanyakan pasal istri? Astaga, jangan-jangan Paman masih single! Kasihannya!!' *** Setelah makan malam itu, Marvin pamit ke luar negeri untuk beberapa hari. Katanya ada urusan mendadak. Sekarang sudah satu minggu berlalu tetapi Marvin belum ada kabar untuk pulang. Ah, sialnya, Zelda terlalu bodoh. Dia baru tahu jika Pamannya ini–adik angkat dari ayahnya ini merupakan CEO pemilik perusahaan brand fashion terbesar di negara ini dan Asia. ZelMard'Fashion atau lebih akrab dengan sebutan ZelMard, itu nama perusahaan dan brandnya–sebuah merek yang selalu Zelda impikan bisa ia beli dan pakai. Pantas saja Zelda merasa tak asing dengan nama Marvin. Ternyata dia adalah- Marvin Abelard, CEO perusahaan ZelMard yang katanya dingin dan anti pada wanita, alias tak tersentuh. Dan rumah ini, rumah yang sering Zelda serta kedua sahabatnya bahas setiap kali lewat dari sini. Saking besar dan mewahnya. Lalu sekarang, Zelda tinggal di sini. Dia masih tak percaya ini! Zelda beruntung apa bagaimana? Mendadak dia punya Paman yang merupakan seorang Miliarder. Zelda ingin kabur karena merasa minder dengan kekayaan Marvin, tetapi Zelda manusia tak tahu diri. 'Kapan lagi aku jadi Nona-Nona orang kaya, Cuk, kalau aku kabur dari sini?' gumam Zelda, berjalan santai di bawah derasnya rintikan hujan. Dia baru pulang dari cafe dekat kampus, habis melakukan perkumpulan dengan anak satu organisasi. Mereka membahas mengenai kegiatan organisasi serta keberlangsungan organisasi ketika anak semester tujuh melaksanakan penelitian serta magang. Yah, Zelda sudah memasuki semester tujuh dan sebentar lagi akan melaksanakan tugas akhir dari kampus. Zelda sekarang lebih baik, walau kerap kali dia merasa hampa dan rindu mendalam pada kedua orang tuanya. Namun, perlahan Zelda menerima kenyataan dan mulai berdamai dengan hidupnya sendiri. "Enak juga tinggal dengan Paman miliarder. Makan tinggal disiapkan, jajanan banyak, bioskop ada di rumah, pagi dibangunin Mbak-Mbak di sana, ke kampus diantar. Uang jajan mengalir deras. Dan paling penting, apapun yang aku minta selalu Paman Marvin berikan. Wah, besok-besok aku minta saham perusahaannya saja kali yah, siapa tahu dikasih," monolog Zelda, berjalan riang dibawah derasnya hujan. Dia sedang dalam mood yang baik, karena itu Zelda memilih berjalan kaki untuk pulang ke rumah. Tenang, dia jalan kaki dari depan gang rumahnya saja. Bukan dari cafe. Sampainya di rumah, para maid membelalak dan terlihat cemas. Namun, Zelda sama sekali tak peduli. Dia berjalan terus menuju ke kamarnya–kamar pertama kali Zelda datang kemari. Namun, ketika dia akan masuk, seorang maid mencegat tangan Zelda. "Tuan Marvin---" Zelda langsung memotong perkataan maid tersebut. "Marah? Cik, tenang saja kali, Mbak. Paman kan tidak di sini, caranya dia marah gimana?! Dan dia juga tak tahu kan kalau aku main hujan-hujanan?! Jadi aman." "Tapi …-" "Udah, Mbak. Aku kedinginan, aku mau ganti baju," jawab Zelda riang, berjalan dengan melompat kecil menuju kamarnya. Sampainya di sana, Zelda buru-buru masuk ke kamar mandi–ingin mengambil handuk dan sekaligus mandi. Namun-- Deg deg deg' Seorang pria tengah berendam di bath up, duduk dan spontan menegakkan punggungnya kala melihat Zelda masuk. Tatapan pria itu berbeda, seperti seekor harimau lapar melihat mangsa. Mendadak jua, napasnya memburu–seperti tak sabar untuk menerkam. Zelda beberapa detik mematung, syok bercampur gugup. Apa dia salah masuk kamar? Tidak mungkin! Di lantai ini hanya ada satu kamar dan ada gelang Zelda yang tertinggal jua di atas meja wastafel. Tapi kenapa Marvin di sini? "Aku--aku salah masuk," gugup Zelda dengan gelagatan. Dia bergerak mundur saat Marvin tiba-tiba berdiri dari bath up, itu membuat tubuh Zelda menegang dan serasa membeku secar tiba-tiba. Marvin berjalan ke arah Zelda, keadaannya sepenuhnya naked. Zelda sangat takut, terlebih ketika Marvin tak mengatakan apapun dan terus menatap Zelda dengan tajam. Sadar jika pria itu seperti berbeda, Zelda bergegas keluar dari sana. Dia berhasil kabur dari kamar mandi dan tengah berniat untuk kabur dari kamar ini. Namun, ketika sudah dekat dengan pintu, tubuhnya ditarik oleh Marvin. Pria itu menyentaknya dan menariknya dengan enteng ke arah ranjang. Demi Tuhan, Zelda memberontak. Namun, tenaga pria ini seperti berkali-kali lipat darinya. Zelda tidak bisa melawan dan kabur. Bug' Marvin membanting Zelda ke ranjang. Kemudian dengan cepat menindih Zelda. Seperti orang kerasukan, dengan kasar Marvin melepaskan pakaian Zelda yang basah. "Pa--Paman, a--aku Zelda. Aku Zelda …," jerit Zelda, berusaha menyadarkan Marvin yang terlihat seperti terpengaruh oleh sesuatu. "Paman, to--tolong … tolong! Aku--- aku keponakanmu, aku Zelda … tolong …." Zelda terus menjerit dan berteriak, terus memberontak ketika pria ini menodai tubuhnya. Tangan pria ini dengan kasar meremas miliknya dan mengigit kuat pundak Zelda juga–menandai gadis itu sebagai miliknya. "Argkkk …," jerit Zelda kesakitan, saat sesuatu di bawah sana menerobos masuk dengan paksa. "Sa--sakit, sakit … berhenti, Paman. Hiks … tolong berhenti!" Zelda terus meracau dan memberontak, segala usaha ia lakukan agar pria ini berhenti melakukan 'itu padanya. Meskipun tak ada harapan lagi, tetapi Zelda tak ingin pasrah. Dia tidak mau! Sayangnya, semakin Zelda memberontak dan menolak, maka Marvin semakin kasar dan brutal. "Pa--Paman Marvin, aku Zelda! Hiks … sakit. Berhenti! Kumohon berhenti! Paman!" pekik Zelda, suaranya mulai meredup dan tangisannya semakin nyata. "Aku Zel …-" Ucapan Zelda berhenti, dengan kasar pria ini meraup bibirnya–melumatnya secara tak sabaran, tak peduli jika bibir Zelda terluka serta berdarah. 'Aku ingin mati saja, Tuhan. Aku ingin mati! Pria ini bukan malaikat pelindungku, dia pria bejad! Hiks … Tuhan, tolong bantu aku! Aku ingin mati saja!'
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD