Batal Bunuh Diri

1640 Words
Dalam keadaan menangis, Zelda buru-buru keluar dari rumah tersebut. Tak ada yang tahu, karena dia keluar saat masih jam tiga dini hari. Ada banyak penjaga, tetapi Zelda tetap berhasil kabur. Dia lewat tembok belakang agar aman dari penjaga di depan gerbang. "Jika aku tahu kejadiannya akan begini, aku tak akan sudi tinggal dengannya?! Pura-pura baik ternyata dia punya niatan buruk padaku," monolog Zelda sembari menangis sesenggukan. Awalnya, dia merasa jika mimpi buruknya telah berakhir. Marvin sangat peduli dan baik padany. Tetapi duka akibat kehilangan orang tuanya, masih menghantuinya. Lalu sekarang ada luka lain yang harus ia obati. "Aku yang salah. Hiks … harusnya aku tidak mudah percaya padanya. Dia itu orang asing, cuma adik angkat Ayah, dia dan aku bukan keluarganya. Hiks … hiks …." Zelda menangis sesenggukan, berhenti dan terdiam sebuah jembatan. Tak ada orang di sini, hanya Zelda. 'Apa aku bunuh diri saja yah? Hiks … aku bisa bertemu Mama dan Ayah. Dan aku tidak harus menanggung ini semua.' "Argkkkkk …!" Zelda menjerit dan berteriak kencang, meluapkan perasaan sesak di dadanya dan rasa sakit di hatinya. "Sekarang aku sudah tidak punya siapa-siapa, kenapa aku harus bertahan di sini, Tuhan?! Aku membenci tubuhku, aku membenci keluargaku, aku membenci semuanya! Hiks … hiks … aku benci!" Zelda menatap air deras di bawah jembatan, entah kenapa air dibawah sana seperti memanggil namanya supaya Zelda melompat ke bawah. 'Keluarga. Dia menyebutku keluarga tetapi dia membuatku jijik pada diriku sendiri,' batin Zelda, berjalan perlahan ke pinggir jembatan. "Aku ingin mati!" Byuarrr Zelda melompat ke bawah, berharap jika kematian langsung menyapanya. Dinginnya air sungai seketika mengigit kulit Zelda, menusuknya hingga ke tulang-tulang. Beberapa detik Zelda bertahan, tetapi …. "Hah." Zelda berenang ke permukaan, menghirup oksigen dengan rakus kemudian marah sembari menangis frustasi. "Sialan!" maki Zelda, kembali menitihkan air mata sembari memukul-mukul permukaan air dengan marah, "aku lupa kalau aku bisa berenang di sungai. Argkkkk! Mau mati saja sulit," gerutu Zelda sembari menjerit dan terus memukul permukaan air sungai. Dingin? Dia tak peduli! Yang Zelda mau, dia mati sekarang ini juga. Zelda sudah hancur, tak ada yang berharga dalam dirinya lagi. Dia tak punya apa-apa yang harus dia pertahankan di dunia ini. Mimpinya? Zelda punya mimpi menjadi seorang desainer yang famous, tetapi sekarang mimpi dan harapan Zelda hanyalah sebuah kematian. Dia ingin mati! Zelda ingin tenggelam, tetapi otaknya yang masih berfungsi tidak mengizinkan Zelda melakukan itu. Zelda sangat tertekan dan kesal, dia hanya ingin mati namun alam seperti tak mengizinkan. Tiba-tiba cahaya senter memenuhi sungai, mengarah pada Zelda yang masih menangis sembari memukul-mukul air sungai. Dia cukup kaget melihat cahaya yang menerangi dirinya. Namun Zelda lebih kaget lagi ketika mendengar suara teriakan iblis yang menakutkan. "Zelda Amira!" Teriak seseorang dari atas sana, suaranya menggelegar marah dan murkah. Zelda mendongak, spontan membelalak ketika melihat siapa orang yang meneriakinya di atas. Banyak bodyguard dan … orang yang sangat Zelda takuti saat ini. Marvin Abelard! 'Aku tidak mau kembali de--dengannya. Aku-- aku takut!' batin Zelda, buru-buru masuk dalam air–memilih menyelam agar Marvin tak tahu kemana Zelda akan pergi. "Gerrrr …." Marvin menggeram marah ketika melihat Zelda masuk dalam sungai. Tanpa pikir panjang, Marvin melompat ke bawah untuk menyusul Zelda di bawah sana. "Tuan!" teriak Neon, panik dan khawatir pada Tuannya. Namun terlambat, Marvin lebih dulu melompat ke bawah sana. Setelah dalam sungai, Marvin muncul ke permukaan untuk melihat ke mana Zelda berenang. "Zelda, berhenti di sana!" geram Marvin saat melihat Zelda berenang ke arah seberang. Dari atas, bodyguard langsung turun ke bawah–ke pinggir sungai, berniat menangkap Nona muda mereka. Sedangkan Zelda, melihat pada bodyguard sudah di pinggir sungai dia linglung dan panik. Putus asah, Zelda pasrah dibawa hanyut oleh arus. "Cik, sialan!" maki Marvin marah, berenang dengan cepat untuk menangkap Zelda. Untungnya dia bisa meraih tubuh itu dan membawanya ke tepi sungai, meskipun Zelda terus memberontak dan melawan. "Uhuk-uhuk-uhuk." Setelah ditepi sungai, sudah di permukaan dan tanah, Zelda terduduk sembari terbatuk-batuk. Dia melawan ketika Marvin membawanya ke tepi, akibatnya banyak air yang masuk melalui hidungnya. Itu perih dan menyakitkan! "Stupid!" Geraman halus dan rendah terdengar dari sebelah Zelda, tetapi dia sama sekali tak peduli–memilih menunduk dan diam-diam menangis. Setelah gagal bunuh diri, sekarang Zelda tertangkap oleh pria bejad ini. Awalnya Zelda merasa beruntung bertemu dengan Marvin, tetapi sekarang dia merasa ini adalah musibah. Jika waktu boleh diundur, Zelda tak sudi ikut dengan pria ini. "Ambilkan Jas-ku di mobil," ucap Marvin pada salah satu anak buahnya. Dengan patuh, anak buahnya tersebut beranjak dari sana. Kemudian tak lama orang yang dia suruh tersebut datang lagi dengan membawa jas yang Marvin minta. Marvin menyampirkan jas tersebut ke tubuh Zelda, setelahnya dia menggendong perempuan itu dan membawanya dari sana. Zelda hanya diam, membeku dalam ketakutan dan bayang-bayang mengerikan dalam kepalanya. Pria ini berhasil menangkapnya dan Zelda akan dibawa ke tempat neraka itu. *** "Aku meminta maaf, Amore," ucap Marvin dengan nada serak dan rendah, setelah dia mengganti pakaian dan begitu juga dengan Zelda. "Aku bukan keponakan kandungmu, karena itu kan, kau melecehkanku?" cicit Zelda, menatap takut bercampur gugup pada Marvin. Semuanya membaik akhir-akhir ini, tetapi karena kejadian 'itu, semua kembali buruk dan kelam. Andai waktu bisa diputar. Sungguh! Zelda tak ingin ikut dengan Marvin. "Amore, tidak begitu." Marvin duduk di depan Zelda, di mana Zelda terduduk merenung di atas ranjang, memeluk lutut dengan air mata yang terus berjatuhan melintasi pipi. "Aku melakukan kesalahan padamu, dan aku meminta maaf," ucap Marvin dengan lembut dan tulus, mengulurkan tangannya untuk menghapus air mata Zelda. "Aku tulus ingin menjagamu, kau satu-satunya keluargaku. Hanya kau dan aku, Amore," ucap Marvin lagi. Dalam hati dia mengumpat dan menggeram marah. Sialan! Itu disebabkan oleh wanita jalang tadi. Ketika dia pulang, Zelda tak ada di rumah. Dia terus menunggu namun yang datang malah seorang maid, mengantarkan minuman padanya dan berniat menggoda Marvin. Seumur hidup, baru kali ini ada maid jalang yang lolos masuk ke rumahnya. Selama ini, bahkan tak ada perempuan yang berani terang-terangan menyukai Marvin. Dia terkenal dingin dan sadis, meskipun wajahnya rupawan tetapi banyak perempuan yang memilih menjauhinya. Mereka takut! Baru jalang tadi yang dengan lancang menggoda dan bahkan menjebaknya. Saat Marvin sadar dia dijebak, Marvin langsung masuk dalam kamarnya. Dia buru-buru berendam dengan air dingin untuk menghilangkan hasrat yang membakar dirinya. Hampir saja dia berhasil, perlahan rasa terbakar dalam dirinya menghilang–pikirannya mulai jernih dan debaran jantungnya mulai normal. Namun, pintu kamar mandi tiba-tiba terbuka–Zelda di sana, dalam keadaan basah kuyup dan terlihat menggiurkan. Panas kembali dengan cepat menyebar ke tubuh Marvin. Hasratnya muncul dan bahkan lebih besar. Pikirannya kacau, tak melihat Zelda sebagai keponakannya–melainkan sesuatu yang nikmat untuk dikonsumsi. "Maafkan aku, Amore …," serak Marvin kembali, setelah dia menjelaskan apa yang terjadi. "Aku memerintahkan mereka untuk tidak membiarkan siapapun masuk, Amore. Kenapa kau bisa masuk?" ucap Marvin kembali, perlahan menarik Zelda dalam dekapannya. Zelda hanya diam ketika Marvin membawanya ke pelukan pria ini. Dia membiarkan tubunnya yang menggigil ketakutan di peluk oleh Marvin. Apa dia yang salah jika begitu? Seorang maid menghadangnya saat itu, tetapi Zelda yang nekat masuk dan enggan mendengarkan penjelasan maid itu. "I--ini kamar Paman?" ucap Zelda dengan nada lirih dan pelan, tercekik di tenggorokan–lidahnya terlalu kaku untuk berbicara dan rasanya dia masih ketakutan walaupun Marvin sudah menjelaskannya. "Humm." "Kenapa-- kenapa … aku di sini?" gagap Zelda, kepalanya kacau dan dia sendiri sulit menyusun kalimat yang benar. Dia terlalu takut! Masa depannya hancur oleh pamannya sendiri. Lalu sekarang apa? Menuntut tanggung jawab? Tidak mungkin Zelda melakukannya. Dia ogah jika harus menikah dengan Pamannya sendiri. Walaupun Marvin hanya adik angkat ayahnya. Tetap saja di mata Zelda pria ini pamannya dan sosok yang harus dia hormati seperti seorang keponakan pada paman. Lagipula usia mereka terpaut jauh. Zelda masih berusia dua puluh satu tahun, sedangkan pria ini …- tiga puluh lima tahun. Usia mereka terpaut empat belas tahun! Tua sekali. "Aku jarang di rumah, Zelda Amira. Dan … hampir tak pernah menginap. Karena itu, aku menempatkan-mu di sini. Ini kamar paling luas dan nyaman di rumah kita," jelas Marvin, mengelus dan mengusap lembut pucuk kepala Zelda. 'Ru--rumah kita katanya? Rumahku juga?' "Aku akan bertanggung jawab, Amore. Aku akan menikahimu." Deg deg deg Zelda seketika menjauh dari Marvin, menatap kaget dan tak percaya dengan pria tersebut. Bagaimana bisa pria ini ingin menikahinya? Mereka paman dan keponakan!! "Aku tidak mau!" Zelda menggeleng kuat dan meringsut ke kepala ranjang–menyilangkan tangan di depan d**a sembari menatap muram bercampur takut pada Marvin, "ka--kau pamanku! Aku tidak mau menikah denganmu! Aku lebih baik pergi dari sini." "Kau tidak bisa pergi dari sini." Tiba-tiba suara Marvin berubah dingin, "dan secepatnya kita akan menikah." "Paman gila?!" "Aku harus bertanggung jawab padamu." "Tidak perlu! Aku--aku tidak butuh dan tak harus menikahiku," bantah Zelda. "Apa yang akan kau jelaskan pada suamimu di masa depan kelak saat kau akan menyerahkan dirimu padanya? Kau akan mengatakan jika kau telah diperkosa oleh Pamanmu, begitu?!" desis dan geram Marvin, suaranya semakin dingin dan tatapan matanya berubah tajam. "Aku juga bukan paman kandungmu, kita tak ada ikatan darah, jadi kita sah-sah saja untuk menikah." "Aku tidak mau. Aku lebih baik hidup sendiri dari pada menikah dengan pamanku sendiri." Zelda dengan keras kepala terus membantah. Bagaimanapun, dia tak ingin menikah dengan pria tua ini. Sebenarnya usia tiga puluh lima tahun itu tidak tua, tetapi matang. Hanya saja, perbedaan usia mereka terlalu jauh! Zelda tidak mau! "Hidup sendiri?" Marvin menaikkan sebelah alis, "agar kau bisa keluyuran sesukamu dan bebas pulang malam. Orang tuamu sering mengadukan kelakuan burukmu padaku. Jadi aku sangat tahu!" Bohong! Bukan orang tua Zelda, karena Marvin tidak dekat dengan Zack. Tetapi, dia sendiri yang mengawasinya dari jauh. Ada rahasia antara Zelda, Zeck, dan Marvin! Zelda seketika terdiam, dia termakan ucapan Marvin. 'Jadi Paman memang dekat dengan Ayah yah? Tapi jika mereka dekat, kenapa baru sekarang aku mengenalnya? Aneh dan mencurigakan.' "Tapi usia kita sangat jauh. Aku ti--tidak mau menikah dengan Paman. Aku takut dikira simpananmu."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD