Sepanjang perjalanan Bryan dan aku sama - sama terdiam, kami berdua sibuk dengan pikiran kami masing - masing,
Aku melirik ke arah Bryan yang sedang mengendarai mobil,
"Dia benar - benar marah sepertinya," batinku.
Aku mengalihkan padanganku ke jendela mobil yang ada di samping kananku, memperhatikan jalanan yang gelap karena hari sudah malam namun masih terlihat terang karena di hiasi dengan lampu - lampu jalan,
Apa benar ya, aku ini sangat egois ?
Wajar kalau Bryan marah..
Aku meninggalkannya secara tiba - tiba tanpa mengatakan apapun padanya,
Dia pasti kebingungan melihat sikapku tadi dan juga dia pasti kebingungan untuk mencari keberadaanku,
"Manager,.." panggil Bryan memecahkan keheningan di antara kami berdua.
"Ya ?" sahutku.
"Saya mohon.. Jangan pernah menghilang secara tiba - tiba seperti tadi," ujar Bryan.
"Maaf.." ujarku, "Saya pasti sangat merepotkan anda,"
Bryan tampak menghela nafas, "Saya takut sesuatu yang buruk terjadi pada anda, apalagi handphone anda tidak aktif,.." ujar Bryan.
Begitu mendengar ucapan Bryan, aku baru sadar dan ingat bahwa aku belum menyalakan handphoneku lagi.
Cepat - cepat aku merogoh tasku dan mengeluarkan handphoneku, kemudian aku langsung menyalakan handphoneku kembali,
"Lalu karena terlalu panik, saya sampai tidak sempat menemui Pak CEO, Nona Ivory, dan Nona Leila.." lanjut Bryan.
Mati aku !!
Aku benar - benar lupa tentang Pak CEO, Ivory, dan juga Leila yang masih berada di bangsal rumah sakit ! Bisa - bisanya aku melupakan mereka !
Gawat !!
"Asisten Bryan, kalau begitu kita ke rumah sakit sekarang," ujarku panik.
Belum sempat Bryan menjawabku, handphoneku langsung berdering keras dan membuatku terperanjat kaget,
"H-halo ?" sapaku saat mengangkat telepon.
"DIMANA KAU ??!" suara teriakan Jhion membuatku menjauhkan handphoneku dari telingaku.
"Aku sedang dalam perjalanan kembali menuju rumah sakit," jawabku.
Jhion membuang nafas kasar, "Wensy !! Kau tidak tahu betapa khawatirnya aku ?! Kenapa kau meninggalkan rumah sakit tanpa memberitahu kami ?!"
"Ma-af.." ujarku pelan, "Ada hal penting yang harus aku urus,"
"Aku ketakutan setengah mati karena ku pikir kau dalam bahaya !" suara Jhion masih terdengar marah padaku, "Kenapa juga kau tidak bisa di hubungi ?! Kau mematikan handphonemu ?! Sebenarnya kau pergi kemana sih sampai - sampai tidak mengabari sedikit pun ?!"
Aku menyandarkan kepalaku pada jendela mobil, tidak salah jika Jhion dan yang lainnya marah padaku karena secara tiba - tiba aku pergi menemui Hillard tanpa memberitahu mereka,
"Maaf.. Sekitar 25 menit lagi aku akan tiba di rumah sakit," jawabku pada Jhion.
"Kau sendirian ?" tanya Jhion dengan suara yang lebih lembut dari sebelumnya.
"Tidak... Aku sedang bersama dengan Asisten Bryan saat ini,"
Jhion terdengar membuang nafas lega, "Baiklah.. Begitu sampai di rumah sakit, kau langsung saja pergi ke kamar rawat Viola, ya.. Kami menunggumu di sini,"
"Iya.." jawabku.
Setelah Jhion menutup teleponnya, aku langsung menghela nafas, coba saja jika tadi aku bisa mengendalikan emosiku dengan baik, aku pasti tidak akan membuat repot banyak orang.
"Mau tak mau aku pasti harus menjelaskan semuanya pada mereka," batinku.
"Asisten Bryan," panggilku.
"Ya, manager ?"
"Bisakah kita berhenti sebentar di toko roti yang ada di dekat sana ?" tanyaku sambil menunjuk sebuah bangunan mungil yang terlihat dari kejauhan.
"Maksud anda Bell Bakery ?" tanya Bryan.
"Betul.." jawabku.
"Tentu saja bisa, manager.." jawab Bryan sambil perlahan - lahan menjalankan mobilnya untuk pindah jalur di sebelah kiri jalan.
Bryan memarkirkan mobilnya tepat di depan toko "Bell Bakery" yang memiliki bangunan dengan tembok berwarna merah muda,
"Tolong tunggu sebentar di sini, Asisten Bryan.." ujarku pada Bryan sambil melepas sabuk pengamanku.
"Anda yakin saya tak perlu menemani anda ?" tanya Bryan.
Aku mengangguk, "Saya tidak akan lama," ucapku seraya membuka pintu mobil dan keluar dari dalam mobil.
Aku membuka pintu dan masuk ke dalam toko, aroma roti yang harum memenuhi rongga hidungku, untunglah aku datang saat toko tidak terlalu ramai dengan pembeli,
"Selamat datang di toko roti Bell Bakery," sapa seorang gadis muda yang menjaga toko roti tersebut, "Ada yang bisa saya bantu ?"
Aku melihat beberapa roti dan kue yang ada di dalam etalase kaca, "Tolong berikan saya 12 berliner strawberry," ujarku pada gadis penjaga toko kue itu.
"Baik, nona.." ujarnya sambil mengambil 12 berliner strawberry dari dalam etalase dan meletakannya di dalam sebuah box berbentuk persegi panjang, "Ada lagi yang lain ?"
"Hmm..." aku mengetuk - ngetuk jari telunjukku pada daguku, "Ah, tolong berikan juga 12 potong apfelstrudel," ujarku.
Gadis itu menganggukkan kepalanya seraya mengeluarkan 12 potong apfelstrudel dari dalam etalase dan memasukkannya dalam sebuah box berbentuk persegi,
Aku berjalan ke arah kasir dan gadis itu pun mulai menghitung jumlah yang harus aku bayar,
"Tolong hitung yang ini juga," ujarku sambil mengambil 3 toples vanillekipferl dan meletakkannya di depan meja kasir.
"Baik, nona.." jawab gadis penjaga toko itu, "Total semuanya adalah 22,4 euro, nona.."
Aku pun memberikan selembar uang senilai 50 euro kepada gadis tersebut dan dia pun mengembalikan 27,6 euro kepadaku, setelah menerima uang kembalian dan memasukkannya ke dalam tas, aku pun membawa semua roti dan kue yang sudah ku beli,
"Terimakasih sudah berkunjung di Bell Bakery, hati - hati di jalan, nona.." ujar gadis tersebut sambil tersenyum ramah padaku.
Aku membalas senyumannya sembari keluar dari toko kue.
Bryan rupanya sudah menungguku di luar mobilnya dan dengan cekatan dia langsung datang menghampiriku serta membantuku untuk memasukkan semua barangku ke dalam mobil, setelah itu aku dan Bryan pun masuk ke dalam mobil lagi untuk melanjutkan perjalanan kami menuju Rumah Sakit Vivantes.
~
Bryan memarkir mobilnya tepat di seberang lobby rumah sakit, kami berdua pun turun dari mobil secara bersamaan, tak lupa aku membawa turun sebuah box persegi panjang yang berisi 12 berliner strawberry, sebuah box persegi berisi 12 potong apfelstrudel, dan juga satu buah toples vanillekipferl dari dalam mobil.
"Biar saya bawakan, manager.." ujar Bryan seraya mengambil semua barang bawaanku.
Aku hampir ingin menolak bantuan Bryan, namun aku mengurungkan niatku karena rasa bersalahku.
Meskipun aku sangat menyusahkan dirinya hari ini, tapi dia dengan senang hati masih mau membantuku, rasanya seperti tidak menghargai dirinya jika aku menolak bantuannya.
"Terimakasih, asisten Bryan.." ucapku pada Bryan.
Bryan tersenyum hangat padaku sambil menganggukkan kepalanya, aku sempat terkesiap melihat senyuman Bryan.
Aku jarang sekali melihat Bryan ber-ekspresi seperti ini, sungguh pemandangan yang sangat langka !
Dan... Senyumannya sangat manis !
OMG !! Stop Wensy !!! Mari berhenti memikirkan hal konyol ini !
Aku dan Bryan berjalan memasuki lobby rumah sakit, seketika aku langsung menahan nafasku begitu melihat Pak CEO beserta dengan para bodyguardnya yang sepertinya menunggu kedatanganku dan Bryan di lobby rumah sakit,
GLEK !! Aku menelan salivaku dengan susah !
"Mati aku !" jeritku dalam hati, "Wensy, kau dalam masalah besar !"
Aku dan Bryan sudah berdiri di hadapan Pak CEO, kami berdua pun membungkukkan badan kami pada Pak CEO, "Selamat malam, Pak CEO.." ujarku dan Bryan bersamaan.
Pak CEO tak membalas sapaanku dan Bryan, dia berdeham sejenak, "Wensy.."
"Iya, Pak ?" jawabku yang masih tetap membungkukkan badanku di hadapan Pak CEO padahal Bryan saja sudah kembali berdiri tegak.
Jujur ! Setelah apa yang aku perbuat hari ini, aku tak punya keberanian sedikit pun untuk menatap mata Pak CEO.
"Apa yang kau lakukan, Wensy ?" tanya Pak CEO, "Apakah punggungmu tidak sakit ?"
"Saya tidak apa - apa, Pak CEO.." jawabku.
"Ada apa dengan hari ini ?" Pak CEO langsung bertanya padaku tanpa basa - basi.
Aku mengigit bibir bawahku, "Huaa !! Apa yang harus aku katakan ???" teriakku dalam hati.
"Wensy ?" Pak CEO memanggilku.
"M-aafkan saya, Pak.." ujarku kemudian, "Saya benar - benar minta maaf karena pergi begitu saja tanpa memberitahu anda,"
Pak CEO tampak menghela nafas, dan hal itu membuatku semakin merasa bersalah.
"Wensy.." Pak CEO lagi - lagi memanggilku.
"Ya, Pak ?" sahutku.
"Tidak perlu membungkuk terus seperti itu," ujar Pak CEO, "Aku tidak ingin satu - satunya karyawan teladan yang aku miliki menderita sakit punggung hanya karena terlalu lama membungkuk di hadapanku,"
"Baik, Pak.." ujarku sambil perlahan berdiri tegak kembali namun kepalaku masih tetap menunduk.
Pak CEO menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya sembari memiringkan kepalanya dan menatapku, "Wensy.. Angkat kepalamu dan lihat aku,"
Aku langsung mengangkat kepalaku dan menatap Pak CEO,
Pak CEO tersenyum padaku, "Ingat.. Selalu gunakan bahasa informal saat sedang mengobrol denganku,"
"Y-ya ?" aku menatap Pak CEO dengan bingung.
Pak CEO memasukkan kedua tangannya di saku celananya, "Aku suka saat kau memanggilku dengan sebutan 'Kak Melvis' seperti tadi siang,.."
Aku melongo tak percaya,
Bukankah seharusnya saat ini Pak CEO marah padaku karena aku pergi secara tiba - tiba tadi ?
Tapi, kenapa Pak CEO malah membahas tentang bahasa informal sih ?
"Mulai besok, aku tidak ingin kau memanggilku dengan sebutan 'Pak CEO' lagi.. Kau harus memanggilku dengan sebutan 'Kak Melvis.. Okay, Wensy ?" ucap Pak CEO sambil mengedipkan mata kanannya padaku.
Aku masih melongo dan tak tahu harus berkomentar apa,
Pak CEO mengusap rambutku dengan lembut, "Untuk kejadian hari ini, aku tidak akan mempermasalahkannya.. Aku tahu kau pasti memiliki alasan tersendiri," kemudian Pak CEO melirik jam tangannya, "Ah, aku harus pergi sekarang.."
"Baik, Pak,-" ucapanku terpotong karena Pak CEO meletakkan jari telunjuknya di depan bibirku.
"Panggil aku dengan benar, Wensy.." ujar Pak CEO sambil tersenyum.
Wah ! Bisa - bisanya Pak CEO bersikap seperti ini !
Apa dia sedang menggodaku ?
Aku menarik nafas dalam - dalam, sabar... Kau harus sabar, Wensy..
"Baik Kak Melvis.. Hati - hati di jalan," ucapku sambil memaksakan diri untuk tersenyum.
Pak CEO terlihat senang begitu mendengar ucapanku, "Sampai jumpa besok, Wensy dan juga asisten Bryan.."
Bryan membungkukkan badannya, "Hati - hati di jalan, Pak CEO.. Sampai jumpa besok,"
Aku juga hampir membungkukkan badanku sebelum Pak CEO berdeham sambil menatapku, aku langsung mengurungkan niatku, "Sampai jumpa besok, Kak Melvis.." ucapku sambil melambaikan tanganku.
Pak CEO melambaikan tangannya padaku seraya menyunggingkan senyumnya, kemudian Pak CEO beserta dengan para bodyguardnya berjalan keluar meninggalkan rumah sakit.
Begitu Pak CEO sudah tidak terlihat lagi, aku dan Bryan pun langsung bergegas untuk menemui Jhion, George, Ivory, Leila dan Viola yang sudah menunggu kami berdua, lebih tepatnya menungguku, di kamar rawat Viola.
Sempat terpikirkan olehku, apakah seharusnya aku mengajak Hillard bersama kami berdua untuk menemui Viola, ya ?
Ah ! Tapi mungkin saja itu bukan ide yang bagus..
Aku dan Bryan sudah berada di lantai 12, kami berdua berjalan menyusuri lorong lantai 12 menuju kamar rawat Viola,
Baru juga aku dan Bryan tiba di depan kamar Viola, Drrtt ! Drrtt ! Tiba - tiba saja handphoneku yang ada di dalam tasku bergetar, aku merogoh tasku dan melihat ada sebuah pesan singkat dari nomor tak di kenal,
Aku membuka pesan singkat tersebut,
+49 1926 13xxxx : I will find you :)
Sontak sekujur tubuhku terasa membeku begitu membaca pesan singkat tersebut,
+49 1926 13xxxx : See you, My Wensy... :)
Aku menggenggam handphoneku di tangan kiriku dengan erat, tak di ragukan lagi siapa yang mengirimiku pesan saat ini, sudah pasti orang yang sangat aku benci ! Orang yang seharusnya bertanggung jawab atas semua rasa sakit yang aku terima 3 tahun yang lalu !
Lagi - lagi traumaku kambuh ! Nafasku sesak, dadaku terasa sakit sekali, tangan kananku menekan d**a kiriku untuk mengurangi rasa sakitku.
Tubuhku terhuyung, nyaris saja aku terjatuh, lututku yang terasa lemas membuatku tak kuasa lagi untuk berdiri dan memaksaku untuk bersandar pada dinding rumah sakit sambil berjongkok,
Keringat dingin membasahi sekujur tubuhku, telingaku berdengung dan membuatku tak bisa lagi fokus pada suara - suara di sekitarku, hanya deru nafasku saja yang masih samar - samar terdengar di telingaku,
"I will find you.."
"Wensy.. I will find you.."
"T-tidak..." gumamku sambil memejamkan mataku.
"See you, My Wensy"
"Wensy-ku yang manis,"
"I will find you,"
"J-jangan !" gumamku lagi seraya menutup kedua telingaku dengan kedua tanganku.
"I will find you,"
"My Wensy, i will find you.."
Suara Athan yang sangat aku benci itu, terngiang - ngiang di telingaku !
Aku tak mau mendengar suaranya ! Aku tak mau dengar lagi !!!
Tanpa ku sadari air mataku mengalir deras,"Ku mohon, berhentilah !" jeritku dalam hati.
Aku benci mendengar suara Athan ! Aku benci !!!
Menyesakkan !! Menjijikkan !!
"Wensy.."
"I will find you,"
"See you, my Wensy,"
"My Wensy..."
Aku semakin memejamkan mataku dan semakin menekan kedua tanganku yang sedang menutupi kedua telingaku, "Aku tidak mau dengar lagi.. Aku tidak mau !" teriakku dalam hati.
"Manager Wensy," samar - samar aku mendengar suara Bryan dan merasakan sebuah sentuhan hangat di kedua tanganku.
"Manager Wensy,"
"Wensy.."
"Hei, Wensy.."
"Wensy, tenanglah.. Buka matamu,"
"Tidak apa - apa, Wensy"
"Semuanya baik - baik saja, Wensy.."
"Kau tidak sendirian,.. Ayo buka matamu, Wensy"
Telingaku yang semula berdengung, perlahan mulai bisa mendengar suara - suara di sekitarku dengan jelas,
Aku membuka mataku yang sudah sembab karena menangis dan di hadapanku saat ini Bryan sedang berjongkok sambil menatapku dengan cemas, kedua tangannya masih dengan setia memegang kedua tanganku,
Bahkan Jhion, Ivory, George, dan Leila, mereka semua juga berjongkok di hadapanku, mereka semua menatapku dengan ekspresi wajah khawatir,
Lagi - lagi aku membuat orang lain susah karena traumaku ini...
"Tidak apa - apa, semuanya baik - baik saja," ujar Bryan padaku sambil perlahan membantuku untuk menurunkan kedua tanganku yang sejak tadi masih menutupi kedua telingaku.
"Kau bisa berdiri ?" tanya Jhion padaku.
Aku hanya menggeleng pelan sambil masih berusaha mengatur nafasku, tubuhku sudah terasa lemas sekali, bahkan untuk bicara saja rasanya melelahkan,
Jhion dan Bryan pun membantuku untuk berdiri,
"Ayo, kita masuk dulu dan bicara di dalam," ujar Ivory padaku dan yang lainnya untuk masuk ke dalam kamar rawat Viola.
Kami semua hanya mengangguk dalam diam, kemudian Jhion dan Bryan pun memapahku untuk berjalan masuk ke dalam kamar rawat Viola,
Aku duduk di sebuah sofa yang ada di kamar rawat Viola, Leila juga ikut duduk di sebelah kananku dan Ivory duduk di sebelah kiriku, sedangkan Bryan, Jhion dan George duduk di sofa lainnya.
"Kau kenapa, Wensy ?" tanya Viola yang sedang berbaring di atas ranjang pasien dengan raut wajah cemas, "Apa serangan panikmu kambuh lagi ?"
Aku menganggukkan kepalaku pelan,
Ivory merogoh tas selempangku yang masih mengantung di bahu kananku, dia mengeluarkan obatku dari dalam tasku, kemudian Ivory menarik tanganku perlahan, dia meletakkan sebuah pil di atas tangan kananku,
Leila mengambil sebuah botol mineral yang masih tersegel di atas meja bundar, di samping kanan sofa, Leila membukakan segel botol mineral beserta tutupnya dan menyerahkannya padaku,
Dengan tangan yang masih gemetar, aku memasukkan pil tersebut ke dalam mulutku dan menelan pil tersebut bersamaan dengan air yang ada di dalam botol mineral,
Aku bersandar pada sofa sambil memejamkan mataku, perlahan aku menarik nafas dalam - dalam dan menghembuskannya perlahan,
"Kau sudah lebih baik ?" tanya Viola padaku.
"Sudah lebih tenang ?" tanya George.
Aku mengangguk, "Iya.. Maaf ya membuat kalian cemas,"
Begitu mendengar jawabanku semua langsung terlihat menghela nafas lega.
George menyilangkan tangannya di depan dadanya dan menatapku dengan serius, "Jadi sebenarnya kemana kau pergi tadi ?"
Selama beberapa detik aku tampak diam tak menjawab, haruskah aku menjawab pertanyaan George dengan jujur ? Atau haruskah aku tak menceritakan yang sebenarnya ?
Melihatku yang tampak sedang berpikir untuk mencari jawaban yang tepat, Bryan meletakkan box persegi panjang yang berisi 12 berliner strawberry, box persegi berisi 12 potong apfelstrudel, dan juga satu buah toples vanillekipferl di atas sebuah meja kaca berbentuk persegi panjang yang terletak di depan sofanya,
"Manager Wensy membeli ini di perjalanan saat menuju ke rumah sakit," ujar Bryan memecahkan keheningan.
"Oh iya benar.. Aku membelinya untuk kalian," timpalku.
George berdeham, "Jangan mengalihkan pembicaraan, Wensy.."
"Aku tidak mengalihkan pembicaraan," ujarku.
"Kalau begitu jawab pertanyaanku," ucap George lagi.
Aku menghela nafasku, memang aku tidak bisa melawan seorang detektif seperti George, dia akan selalu penasaran dengan hal - hal yang terlihat aneh dan janggal,
"George, sabarlah dahulu," ujar Leila, "Kau sendiri tahu kalau Wensy baru saja tenang setelah serangan paniknya kambuh, setidaknya biarkan Wensy bernafas sedikit,"
George mengusap wajahnya kasar, "Maaf..."
Aku menoleh pada Leila, "Kau sudah lebih baik ? Demammu sudah turun ?"
Leila menganggukkan kepalanya, "Begitulah.."
"Sepertinya hari ini kacau sekali ya ?" ujar Viola sambil berusaha untuk duduk di atas ranjangnya, Ivory dan seorang perawat langsung membantu Viola.
Jhion mengangguk setuju, "Hari yang sangat melelahkan,"
Aku membuka box yang berisi berliner strawberry dan juga box berisi apfelstrudel di hadapan teman - temanku, "Mungkin ini bisa membantu untuk mengurangi rasa lelah kalian,"
Jhion mengulurkan tangannya dan mengambil satu potong apfelsturdel, "Aku cukup terkejut saat Wensy menelponku dan mengatakan bahwa Leila pingsan,"
"Aku juga," timpal Viola, "Padahal, setahuku, Leila bukanlah gadis yang akan dengan mudahnya pingsan dan tumbang begitu saja hanya karena shock,"
Ivory serta George mengangguk setuju dengan ucapan Viola dan Jhion,
"Aduh kalian ini !" Leila pun berkomentar, "Bayangkan saja jika kalian ada di posisiku,.. Kalian pasti juga akan shock begitu melihat keadaan Viola yang sangat gawat itu, beruntung aku hanya pingsan, bagaimana jika aku sampai terkena serangan jantung ??"
Ivory yang memilih untuk duduk di sebuah bangku yang terletak di samping ranjang pasien Viola langsung terkekeh begitu mendengar ucapan Leila, "Itu tidak mungkin.. Kau kan tidak memiliki riwayat sakit jantung,"
"Benar juga," ucap Leila sambil ikut terkekeh.
George mengambil sebuah berliner strawberry dan langsung menggigitnya setengah, sambil mengunyah George menatap Viola, "Vi, coba ceritakan pada kami detik - detik sebelum kau di serang.."
"George, kau serius ingin membahas hal itu ? Kau tahu sendiri siang tadi Viola baru saja menjalani operasi," protes Leila.
"Loh ? Memangnya salah ?" George bertanya pada Leila.
"Aku tidak bilang kau salah," ucap Leila sambil menghela nafas, "Tapi, apa tidak bisa kau bersabar sedikit ?"
George menggelengkan kepalanya, "Aku tidak bisa.."
"Kau ini benar - benar detektif yang berambisi kuat dan keras kepala, ya.." ujar Ivory.
George menghabiskan sisa berliner strawberry yang ada di tangannya, dia mengambil sebuah botol mineral dari atas meja sambil bersandar pada sofa, George membuka segel botol mineral tersebut, "Alasan kenapa aku tak bisa bersabar adalah pertama... Karena aku adalah detektif yang menangani kasus penusukan Viola," ujar George sambil meneguk air yang ada di botol mineral tersebut, "Kedua.. Aku bukannya tidak ingin mengerti posisi Viola, tapi semakin banyak aku mendapatkan petunjuk, semakin cepat pula aku bisa mencari tahu siapa pelakunya.."
"Dan juga George bisa dengan cepat menangkap pelakunya," sambung Jhion.
"Bingo !" ucap George, "Lalu yang ketiga.. Justru karena aku adalah sahabat Viola dan ingin membantu Viola, aku harus bekerja dengan baik.." George melanjutkan ucapannya, "Lagi pula, aku tak mungkin diam saja begitu tahu kalau salah satu sahabatku terluka.. Aku akan pastikan menangkap penjahat itu dan membuatnya mendapatkan hukuman yang setimpal dengan perbuatannya !"
Viola tampak terkekeh pelan mendengar ucapan George, "Suatu kehormatan bisa bersahabat dengan detektif yang memiliki performa kerja yang bagus sepertimu, George.."
George menyunggingkan senyumnya dengan bangga, "Berbahagialah kawan - kawanku, karena kalian memiliki sahabat yang keren dan juga luar biasa seperti diriku,"
Ivory dan Leila langsung bergidik, "Ewh !"
"Hei kau, Ivory !" tunjuk George pada Ivory, "Ayo, tunjukkan sikap banggamu pada sepupu kesayanganmu ini,"
"Sepupu kesayangan apanya ??" ejek Ivory sambil memperagakan gaya ingin muntah.
"Wah ! Kau kejam sekali," komentar George.
"Sudah diam saja kau !" ucap Ivory pada George dengan jengah, "Lebih baik kita dengarkan saja cerita Viola daripada harus mendengar kesombongan - kesombonganmu yang sangat tidak berdasarkan dengan fakta itu,"
Tawaku, Leila, Jhion, dan George langsung meledak begitu mendengar ocehan Ivory yang terlihat kesal dengan George itu. Bahkan Bryan yang sejak tadi diam, wajahnya terlihat memerah karena menahan tawa.
Viola juga terlihat ikut tertawa, tapi sesekali dia meringis menahan sakit serta memegangi bagian perutnya yang di jahit karena terluka,
"Nah, jadi bagaimana ceritanya ?" tanya George pada Viola saat dia sudah berhenti tertawa seraya beranjak berdiri menghampiri Viola, George mengeluarkan sebuah alat perekam untuk merekam pernyataan dari Viola.
Viola menatap langit - langit kamar rawatnya, dia tampak sedang mengingat - mengingat kejadian yang dia alami siang tadi, "Hmm.. Waktu itu aku dan Leila selesai membayar makanan kami di kasir, kemudian aku bilang pada Leila kalau aku ingin pergi ke toilet.. Saat aku masuk ke dalam toilet, tidak ada siapapun di sana,"
"Jadi hanya kau seorang diri ?" tanya George, "Apa kau yakin ?"
Viola mengangguk, "Aku yakin 100% karena aku melihat semua pintu bilik yang ada di dalam toilet terbuka lebar.."
"Ada berapa bilik di dalam toilet ?" tanya George.
"Ada 4 bilik.." jawab Viola, "Dan aku masuk ke dalam bilik kedua yang letaknya tak jauh dari pintu masuk toilet.. Sekitar 10 menit kemudian aku keluar dari dalam bilik toilet dan keadaan toilet masih tetap sama, hanya ada aku seorang diri,"
"Lalu ?" George bertanya lagi.
Aku akui ! George memang benar - benar seorang detektif yang mengagumkan !
George yang bisa bercanda seperti tadi dalam sekejap langsung berubah serius dan terlihat profesional sekali dalam bekerja.
"Begitu aku keluar dari dalam bilik toilet, aku pergi ke salah satu wastafel yang ada di dalam toilet untuk mencuci tangan," Viola melanjutkan ucapannya, "Dan posisiku saat itu, aku mencuci tangan tanpa melihat ke arah cermin,"
"Jadi kau mencuci tangan sambil menunduk dan hanya melihat ke arah tanganmu saja ?" tanya George lagi.
"Iya.. Seperti itu," Viola menganggukkan kepalanya, kemudian sambil menarik nafas dalam - dalam dan menghembuskannya perlahan, Viola lanjut bercerita, "Saat sudah selesai mencuci tangan dan mematikan keran air, aku otomatis menatap ke arah cermin, dan di situlah tiba - tiba ada seorang pria yang berpakaian serba hitam dengan topi dan masker berwarna hitam juga yang sedang berdiri di belakangku,.."
"Apa kau bisa melihat wajahnya ?" tanya George.
Viola menggelengkan kepalanya, "Sayangnya tidak bisa,.."
"Baiklah.. Lalu apa yang terjadi selanjutnya ?" George kembali bertanya.
"Sungguh ! Awalnya ku pikir itu adalah malaikat maut ! Tapi seingatku, malaikat maut yang ada di komik pasti membawa semacam sabit di tangannya," ujar Viola dengan polosnya dan sukses membuat kami semua menahan tawa kami.
Bisa - bisanya Viola berpikir bahwa itu adalah malaikat maut , dan bisa - bisanya dia teringat dengan gambar di komik yang menggambarkan kalau malaikat maut pasti selalu membawa - bawa sabit di tangannya.
Kalau saja George tidak sedang merekam pernyataan Viola, sudah pasti kami semua akan terbahak - bahak sampai menangis.
"Mungkin karena terkejut, sekitar beberapa detik aku terdiam melihat ke cermin dan menatap pria tersebut tanpa mengucapkan sepatah kata pun sampai pria tersebut secara tiba - tiba menarikku dan mendorongku ke dinding toilet," ujar Viola lagi.
"Lalu ? Apakah dia langsung menusukmu ?" tanya George lagi.
"Tidak.." ujar Viola pelan, "Pria itu sempat berkata begini 'beritahu aku keberadaan Wensy dan aku tidak akan melukaimu', aku langsung menolak, aku menendang kakinya dan berusaha untuk keluar dari dalam toilet, namun pria tersebut berhasil menjambak rambutku, dia membekap mulutku dan langsung menusuk perutku,"
Sontak ruangan langsung hening begitu mendengar cerita Viola,
"Aku sempat berteriak kesakitan namun suara teriakanku tertahan karena pria itu membekap mulutku dengan kuat,.. Setelah itu dia melepaskan aku dan membiarkan aku terjatuh di atas lantai," lanjut Viola, "Aku sempat mendengarnya berkata seperti ini, 'aku akan menemukan Wensy.. Tapi sebelum itu, aku akan menyingkirkan semua orang terdekatnya, khususnya orang - orang yang dia sayangi' ,waktu itu aku berusaha untuk menahannya agar tidak pergi, namun usahaku gagal,"
Ivory mengusap - ngusap bahu Viola dengan lembut,
"Kau boleh berhenti bercerita jika kau mau," ujar George pada Viola.
Viola tersenyum tipis, "Aku baik - baik saja, George.."
George menghela nafas, sepertinya dia merasa tak enak karena memaksa Viola bercerita, tapi di satu sisi dia harus melakukannya karena itu adalah tugasnya dan juga agar dia bisa mendapatkan bukti yang lebih kuat, "Baiklah.. Kalau begitu, boleh aku mengajukan beberapa pertanyaan lagi padamu ?"
"Tentu saja," ujar Viola.
"Tadi kau bilang, kau sempat berusaha menahannya agar tidak pergi, boleh aku tahu apa yang kau lakukan saat itu ?" tanya George.
"Aku berusaha menahan kakinya dengan tanganku," ujar Viola, "Tapi yang berhasil ku pegang hanyalah ujung kain celana panjangnya,"
"Apa kau ingat bahan kain celana panjangnya ?" tanya George.
Viola tampak berpikir sejenak, kemudian dia menjawab, "Lebih mirip seperti celana joger, dan seingatku saat aku memegang ujung kain celana panjangnya, tanganku sedang berlumuran darah,"
George terlihat seperti mendapatkan petunjuk baru, "Lalu apa lagi yang kau ingat ?"
"Emm.." Viola mengetuk - ngetuk jari telunjuknya di dagunya.
"Apa kau tidak ingat, kalau mungkin saja ada seseorang yang menolongmu ? Seorang pria yang melakukan pertolongan pertama padamu ?" tanya George.
"Seorang pria yang melakukan pertolongan pertama padaku ?" Viola tampak mengerutkan dahinya karena sedang berusaha untuk mengingat - ngingat, "AH ! Maksudmu seorang pemuda yang menyobek bagian bawah kausnya dan menekan lukaku dengan sobekan kausnya itu ?"
George menganggukkan kepalanya,
"Aku ingat samar - samar, tapi aku tak ingat wajahnya," jawab Viola.
"Ada lagi yang kau ingat ?" tanya George.
Viola menggelengkan kepalanya, "Maaf George.. Hanya itu yang aku ingat,"
George mengangguk mengerti, dia mematikan alat perekam suaranya dan memasukkannya ke dalam saku kemejanya, "Terimakasih ya karena sudah mau bercerita," ujar George sambil menepuk - nepuk bahu Viola.
Viola tersenyum, "Tentu.. Semoga pernyataanku ini membantu penyelidikanmu,"
"Pasti sangat membantu," ujar George, kemudian George menoleh dan menatapku sambil tersenyum, "Nah, Nona Wensy yang terhormat, bagaimana kalau sekarang giliran anda untuk bercerita kemana anda pergi tadi ?"
"Duh ! Kenapa dia ingat sih ?" batinku.
"Setelah membuat kami cemas setengah mati, kau harus menjelaskan alasanmu pergi secara tiba - tiba dan bahkan kau sampai mematikan handphonemu," ujar George sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya, "Aku tahu kau pasti memiliki alasan berbuat hal nekat seperti itu,"
Aku menghela nafas panjang, "Aku benar - benar tidak bisa menghindar lagi kali ini,"
"Ceritakan saja semuanya pada kami," ujar Leila padaku, "Kami akan mendengarkan ceritamu sampai selesai,"
Aku menatap Jhion, George, Ivory, Leila, Viola dan Bryan satu per satu, mereka semua terlihat sangat penasaran sekali,
Aku mengigit bibir bawahku, kalau aku menceritakan pada mereka bahwa aku menemui Hillard, sudah bisa di tebak bagaimana reaksi mereka. Membayangkannya saja sudah membuatku bergidik ngeri, mereka pasti akan memarahiku habis - habisan, kecuali Bryan.. Mungkin..
"Wensy.. Kami menunggu," ujar Ivory dan George bersamaan.
Huh ! Dasar dua saudara ini, kalau sudah seperti ini, benar - benar mirip sekali !
Aku menyilangkan kedua tanganku di depan dadaku, jari - jari tangan kananku secara bergantian mengetuk - ngetuk lengan kiriku, "Hmm.." aku menggigit bibir bawahku, "Aku pergi untuk menemui seseorang,"
"Siapa ?" tanya Ivory sambil menatapku penuh selidik.
"Seseorang yang tinggal di perumahan Blaue Orchidee," ucapku pelan.
"WENSY !! KAU,-" sontak Jhion langsung berdiri sambil berteriak dan menatapku dengan wajah tak percaya, dia sampai kehabisan kata - katanya.
Aku melirik Viola dan yang dia lakukan hanya terdiam dan tercengang begitu mendengar perkataanku.
"Siapa yang tinggal di sana ?" tanya Ivory.
"Jhion, kau tahu sesuatu ?" timpal George.
Aku menghela nafas, aku sudah tahu reaksi Jhion pasti akan seperti ini, dan jika yang lainnya tahu siapa yang aku temui, pasti akan bereaksi sama dengan Jhion atau Viola.
"Aku pergi menemui Hillard," lanjutku.
"KAU SUDAH GILA ?! UNTUK APA KAU PERGI KE SANA, WENSY ?!" kali ini Ivory langsung melotot padaku dan berseru dengan nada tinggi.
"APA YANG KAU PIKIRKAN, SIH ?!" George ikut berteriak marah.
Aku bersandar pada sofa, hah ! aku sudah tahu akan begini jadinya !
"Semuanya, tenang dulu.." ujar Leila sambil merangkul bahuku, "Kita harus mendengarkan cerita Wensy sampai akhir, dia pasti punya alasan tersendiri,"
"Tapi, Leila,-" Ivory ingin protes.
"Dengarkan dulu, Ivory !" ucap Leila dengan tegas dan memotong ucapan Ivory, "Bahkan Wensy belum memulai ceritanya, dengarkan dulu sampai akhir, baru setelah itu kalian semua bebas berkomentar.."
Perkataan Leila berhasil membuat Ivory, George, dan juga Jhion terdiam.
Leila menoleh padaku, "Teruskan ceritamu, Wensy.."
Aku menganggukkan kepalaku, "Sebenarnya sudah beberapa kali Hillard berusaha menemuiku dengan cara datang ke kantorku, namun aku selalu mengabaikan kedatangannya dan tak pernah mau menemuinya.. Lalu alasan kenapa aku menemui Hillard hari ini adalah karena aku menaruh curiga padanya,"
"Curiga tentang apa ?" tanya Viola yang sejak tadi belum berkomentar.
"Aku curiga kalau Hillard yang melukaimu," ujarku pada Viola dan tentu saja semuanya langsung tampak tertegun mendengar perkataanku. "Aku meminta tolong pada Jhion untuk mencari tahu alamat rumah Hillard dan Jhion pun mengirimkan alamat tersebut padaku,"
"Kenapa kau memberitahunya ?" tanya George pada Jhion.
Jhion mengusap leher belakangnya, "Aku pikir Wensy tidak akan berbuat hal nekat seperti itu.."
George menghela nafas, "Lanjutkan, Wensy.."
"Dan seperti yang kalian tahu, aku pun pergi menemui Hillard," ujarku.
"Lalu, apa kau sudah mendapatkan jawabannya ? Apakah dia pelakunya ?" tanya George lagi.
Aku menggelengkan kepalaku, "Bukan.. Hillard tidak melukai Viola," jawabku.
George menaikkan alis kanannya, "Bagaimana kau bisa yakin kalau bukan dia pelakunya ?"
"Asal kalian tahu saja, Hillard lah yang memesan kamar platinum VIP ini untuk Viola agar keamanan Viola terjaga," ujarku.
"APA ??!" Viola ternganga mendengar perkataanku, bahkan Ivory, Jhion, George, Leila dan Bryan pun ikut tercengang juga,
"Aku kira kau yang memesan kamar ini untuk Viola," ujar Ivory pada Leila.
"Aku juga berpikir hal yang sama karena ayah Leila adalah wakil direktur di rumah sakit ini," timpal Jhion.
"Kalian lupa ? Aku kan hanya memiliki kartu member gold VIP,.. Ku pikir Ivory atau Wensy yang sengaja memesan kamar ini untuk Viola," ujar Leila.
"Hahh ! Yang benar saja !" George tampak tak percaya.
Aku beranjak berdiri dan berjalan menuju sebuah meja kecil yang ada di samping kiri ranjang pasien, aku menunjuk keranjang berisi bunga anyelir berwarna merah muda di atas meja kecil tersebut, "Bunga ini.. Hillard yang memberikannya untuk Viola,"
"Ku kira kau yang memberikan bunga itu padaku," ucap Viola padaku, "Tapi setelah k*****a kartu yang terselip di bunga - bunga tersebut, aku merasa itu bukanlah tulisan tanganmu, dan bagiku tulisan tangan tersebut tampaklah tidak asing.."
"Lalu hal terakhir yang harus kalian tahu adalah, Hillard lah yang memberikan pertolongan pertama pada Viola.." ucapku lagi, "Aku melihat kaus Hillard yang di robek bagian bawahnya dan juga ada sedikit noda darah pada kaus tersebut.."
Lagi - lagi semua tercengang mendengarkan penjelasanku,
"Apa dia memiliki tujuan tertentu ?" gumam Ivory, "Aku khawatir dia akan kembali menjebak Wensy atau Viola seperti 3 tahun yang lalu,"
Aku bersandar pada dinding rumah sakit, "3 tahun yang lalu, Hillard seperti itu karena Athan mengancamnya.."
"Omong kosong macam apa ini ?" komentar George, "Setelah menjebakmu 3 tahun yang lalu, kau masih mau percaya pada ucapannya ?"
Aku menatap George, "Aku mengerti kecemasanmu, George.." ucapku, "Tapi, bagaimana pun juga Hillard tak sepenuhnya salah.."
"Tak sepenuhnya salah ? Kenapa kau berpikir begitu ?" tanya George.
"Dia hanya ingin melindungi Viola.." ujarku.
George berdecak, "Wensy.. Kau tidak bisa percaya begitu saja padanya !"
~
To Be Continued ...