Aku melangkah masuk ke dalam kamar rawat Viola bersama dengan Bryan dan juga tiga orang perawat, bau obat - obatan menusuk hidungku,
Aku memperhatikan kamar rawat Viola dengan seksama, mulai dari plafon, lantai, juga setiap perabotan dan interior yang ada, memang benar - benar kamar rawat yang sangat mewah. Bahkan ranjang pasien milik Viola pun lebih terlihat seperti tempat tidur yang ada di hotel.
Perlahan, aku mendekat ke arah Viola yang masih belum siuman dan tertidur pulas di atas ranjang pasien, aku menyentuh tangan kanan Viola serta menggenggamnya dengan kedua tanganku,
Siapapun yang sudah membuat Viola seperti ini, akan aku pastikan orang itu mendapatkan hukuman yang sangat berat !
Aku menatap ke arah sebuah meja kecil yang ada di samping kiri ranjang pasien, terdapat sebuah keranjang berisi bunga anyelir berwarna merah muda di atas meja kecil tersebut, awalnya ku pikir itu hanyalah sebuah hiasan atau pajangan, tapi mata elangku menangkap sebuah kartu yang di selipkan di antara bunga anyelir tersebut,
"Apakah ada orang lain yang mengunjungi Viola sebelum kami ?" tanyaku pada seorang perawat wanita yang sedang membuka gorden putih yang menutupi jendela rumah sakit.
"Iya, nona.." jawab perawat tersebut, "Sebelum anda berdua, ada seorang pria yang datang untuk menjenguk Nona Viola.."
"Siapa ?" tanyaku lagi.
"Entahlah.. Saya tidak tahu karena beliau tidak menyebutkan namanya," jawab perawat tersebut.
Aku mengerutkan dahiku, "Apa mungkin ayah Viola ? Tapi bukankah ayah Viola sedang pergi untuk mengunjungi orangtuanya di Canada ?" pikirku dalam hati.
"Beliau juga yang mendaftarkan Nona Viola sebagai pasien platinum VIP dan membayar biaya operasi serta rawat inap Nona Viola selama seminggu ke depan," tiba - tiba perawat tersebut menambahkan ucapannya.
Aku langsung tercengang mendengar perkataan perawat itu, seorang pria misterius membayar seluruh tagihan rumah sakit milik Viola, siapa dia ??
Sebenarnya untuk masalah biaya operasi dan rumah sakit, aku, Ivory, dan juga Leila berencana untuk membayarnya setelah selesai menjenguk Viola, tapi sepertinya rencana kami itu sudah dilakukan oleh orang lain yang tidak kami ketahui identitasnya.
Maksudku, aku bukannya tidak suka jika ada yang membantu Viola, hanya saja aku jadi merasa seseorang sedang mengawasi Viola, ini sangatlah aneh !
Aku beranjak berdiri mendekati keranjang bunga tersebut dan mengambil kartu yang terselip di antara bunga - bunga itu,
Semua salahku ...
Maafkan aku, Vi ...
Aku tertegun membaca apa yang tertulis di atas kartu tersebut, pria itu merasa apa yang terjadi pada Viola adalah salahnya dan dia terus meminta maaf,
Sebenarnya apa yang sudah terjadi ?
Siapa dia ?
Aku menyelipkan kembali kartu tersebut di antara bunga - bunga yang ada di dalam keranjang, dan tepat saat itu Viola menggerakkan tangannya serta membuka matanya,
Dengan cepat aku langsung menghampiri Viola dan menggenggam tangan Viola,
"Vi, kau bisa mengenaliku ?" tanyaku.
Viola menganggukkan kepalanya dengan perlahan, kemudian dia menggenggam tanganku dengan erat, air mata mengalir dari sudut matanya, "Untunglah.." gumamnya dengan suara yang masih terdengar lemas, "Untunglah kau tak apa,"
Aku sedikit bingung dengan ucapan Viola, apa maksudnya ?
Jelas - jelas saat ini dia yang sedang terluka, kenapa dia malah mencemaskanku ?
Aku mengusap air mata yang mengalir dari sudut mata Viola, "Tidak apa - apa.. Semuanya baik - baik saja,"
Viola memejamkan matanya sejenak sambil menarik nafas dalam - dalam dan menghembuskannya perlahan,
"Kau pasti sangat ketakutan.." ucapku.
Viola membuka matanya dan menatapku, "Bohong jika aku tidak takut sama sekali.. Tapi hal yang lebih menakutkan adalah jika sesuatu yang buruk terjadi padamu.."
"Jangan khawatir.. Aku baik - baik saja," ujarku sambil menepuk - nepuk tangan Viola dengan lembut.
"Dimana Leila dan Ivory ?" tanya Viola.
"Leila pingsan dan,-"
"Apa ? Kenapa Leila pingsan,-" Viola tampak kaget saat mendengar perkataanku sampai - sampai dia berusaha untuk duduk di atas ranjang pasien, tapi kemudian dia memekik kesakitan sembari memegangi bagian kanan perutnya, "Ahk ! perutku !"
"Nona Viola, tolong jangan memaksakan diri !" ujar seorang perawat pada Viola dan langsung menyuruh Viola kembali berbaring.
"Kau kan masih dalam pemulihan setelah operasi, jangan terlalu banyak bergerak !" timpalku.
Seorang perawat yang lain langsung memeriksa jahitan pada bagian kanan perut Viola dan untunglah semuanya baik - baik saja.
"Leila pingsan karena dia masih dalam keadaan shock,.. Kau tenang saja, dokter bilang Leila akan baik - baik saja setelah beristirahat," jelasku.
Viola mengangguk pelan mendengar perkataanku, "Lalu Ivory ?"
"Dia menjaga Leila saat ini.." jawabku, "Kau tidak perlu mencemaskan kami, Fokuslah pada pemulihanmu,"
Viola tampak berpikir sejenak, "Bagaimana dengan pelakunya ?"
"Sejauh ini George masih mencari keberadaan pelaku.." jawabku, "Apakah kau melihat wajah pelaku ?"
"Tidak.." Viola tampak putus asa, "Aku tidak melihat wajahnya.."
"Ya sudah, jangan paksakan dirimu.." ujarku menenangkan Viola.
Viola menggigit bibir bawahnya, "Wensy, bagaimana kalau pelaku itu belum juga tertangkap ? Bagaimana kalau dia berhasil mengikutiku sampai di sini ?"
Sudah ku duga, sepertinya kata - kataku tidak berhasil menenangkan Viola.
"Aku masih ingat dengan ucapannya yang terdengar mengerikan.." gumam Viola.
"Viola.. Tenanglah.." ujarku dengan suara parau.
Aku pernah berada di posisi Viola, ketakutan yang timbul karena mengalami kejadian yang mengerikan juga takut jika hal yang sama terulang kembali.
"Dia berusaha mencari keberadaanmu, Wensy.." bisik Viola dengan suara cemas, "Dia bilang dia akan menemuimu, tapi sebelum itu dia bertekad untuk melenyapkan semua orang terdekatmu.."
DEG !!! Rasanya jantungku seperti di hantam oleh sesuatu yang keras !
Orang itu melukai Viola karena mencari diriku, siapa yang tega berbuat seperti itu ?
Ini sangat mengerikan !
Melihat Viola terluka seperti ini saja sudah membuatku takut, bagaimana jika orang tersebut bertekad melakukan hal yang lebih parah dari ini ?!
Tidak boleh ! Tidak ada yang boleh menyakiti orang - orang terdekatku !
Aku merasa keringat dingin mulai membasahi tubuhku dan nafasku mulai tidak beraturan, aku mengepalkan kedua tanganku dengan kencang, berusaha menahan diriku agar serangan panikku tidak kambuh di hadapan Viola yang sedang sakit,
Bryan menepuk bahuku dengan lembut dan berkat itu aku bisa mengatur nafasku dengan baik,
"Vi.. Kau tenang saja," ujarku pelan untuk menenangkan Viola meskipun aku juga saat ini sedang berusaha untuk menenangkan diriku sendiri, "Aku yakin George pasti bisa menangkap pelaku tersebut.. Jangan mencemaskan hal itu,"
"Tapi Wensy,-"
"Orang itu tidak akan menemukanmu di sini," ujarku, "Kau berada di ruangan platinum VIP dengan penjagaan ketat.. Aku jamin kau aman disini,"
"Bukan itu yang aku takutkan," ujar Viola, "Aku takut dia melukaimu,"
"Aku akan baik - baik saja, Vi.. Percayalah," ujarku.
Viola menatapku ragu, sorot matanya masih terlihat cemas sekaligus takut,
Aku merapikan selimut Viola, "Kau harus lekas pulih, itu yang terpenting sekarang.." ujarku sambil tersenyum tipis.
Aku tahu, apa yang aku katakan saat ini tidak akan membuat Viola tenang..
Ketakutan itu tidak pudar sedikit pun,
Tapi, aku sendiri juga tidak tahu harus apa untuk menghadapi situasi seperti ini..
Aku tidak tahu darimana timbulnya semua permasalahan ini,..
Rasanya hidupku seperti terancam, dan bahkan kali ini hidup orang - orang terdekatku pun terancam..
"Vi.. Aku harus pergi sekarang," ujarku kemudian pada Viola, "Masih banyak hal yang harus aku kerjakan, mungkin setelah ini Ivory akan datang bersama dengan Leila.. Juga Jhion dan George akan datang menjengukmu,"
Viola menahan tanganku, "Tidak bisakah kau di sini lebih lama ? Setidaknya sampai Ivory dan Leila datang ?"
"Maaf, Vi.. Sebagai gantinya, aku akan menjengukmu lagi malam ini," ujarku, "Bagaimana ?"
Viola tampaknya kecewa tapi kemudian dia menganggukkan kepalanya, "Baiklah.. Sampai jumpa nanti malam,"
Aku mengangguk sambil tersenyum, kemudian aku menoleh kepada tiga perawat yang ada di kamar rawat Viola, "Suster.. tolong jaga Viola dengan baik,"
Para perawat itu mengangguk sambil tersenyum, "Jangan khawatir, nona.."
Aku pun akhirnya berjalan keluar dari kamar rawat Viola bersama dengan Bryan, begitu Bryan menutup pintu kamar rawat Viola di belakangku,
Aku langsung terduduk lemas di atas lantai sembari menangis dan mengatup mulutku dengan kedua tanganku agar aku bisa meredam suara tangisanku,
Apa benar kehadiranku hanyalah sebuah kesalahan ?
Apa benar kehadiranku ini hanya akan membawa malapetaka bagi orang - orang terdekatku ?
Karena aku.. Viola terluka..
Semuanya salahku..
Kalau seandainya aku tidak ada, mungkin hal seperti ini tidak akan terjadi..
Air mata terus mengalir deras membasahi kedua pipiku, aku tak bisa berhenti menangis, rasa sesak di dadaku itu benar - benar menyakitkan..
Perlahan aku merasakan sebuah sentuhan hangat di bahuku, Bryan dengan lembut menarikku ke dalam pelukannya,
"Tidak apa - apa, Manager.." bisik Bryan di telingaku, "Keluarkan saja semua hal yang mengganjal hati anda.."
Aku membenamkan wajahku dalam pelukannya, air mataku tak kunjung berhenti dan malah semakin deras sampai membasahi kemeja Bryan,
Bryan dengan setia menepuk - nepuk pelan punggungku untuk menenangkan aku,
Aku mencengkram kedua lengan Bryan, tak bisa lagi menahan emosiku saat ini,
Memuakkan !
Aku muak dengan diriku sendiri !
Aku selalu menjadi beban bagi orang lain,..
Benar - benar memuakkan !
Sangat muak !
"Ini bukan salah anda.." bisik Bryan padaku, "Kejadian ini bukanlah salah anda,.. Nona Viola terluka, bukanlah salah anda.."
Tidak ! Ini semua salahku..
Akar dari permasalahan ini adalah.. Aku..
Aku selalu menimbulkan masalah untuk orang - orang terdekatku..
Kalau saja aku tak bersikeras untuk tetap hidup, mungkin tak akan ada yang terluka karena aku..
Perlahan aku mendorong tubuh Bryan agar menjauh dariku, air mataku masih terus mengalir namun aku pun memaksakan diri untuk berdiri dan berjalan menjauh dari Bryan,
"Manager ! Anda mau pergi kemana ?" Bryan yang melihatku berjalan menjauh pun sontak langsung berlari mengejarku.
Aku tak menjawab Bryan sambil buru - buru menuju lift serta menekan tombol turun,
Pintu lift terbuka lebar di hadapanku, aku langsung berjalan masuk ke dalam lift seraya menekan angka 1 pada tombol lift tanpa menghiraukan Bryan yang sedang berlari mengejarku serta memanggil - manggil diriku,
Pintu lift pun tertutup rapat, lift langsung bergerak turun, aku bersandar pada dinding lift sambil memeluk tasku erat - erat,
Drrttt.. Drrttt... Aku merasakan getaran handphoneku di dalam tasku, dengan enggan aku membuka tasku dan merogoh handphoneku,
Sebuah pesan singkat dari Jhion rupanya,
Jhion : Aku sudah menemukan hal yang kau cari
( Jhion send you an address )
Jhion : Aku tak tahu apakah dia masih tinggal di rumah itu atau tidak
Jhion : Boleh aku tahu kenapa kau ingin tahu tempat tinggalnya ?
Aku tak membalas pesan Jhion, tapi aku membuka alamat yang di kirimkan oleh Jhion dan tepat saat itu lift berhenti di lantai 1 serta pintu lift pun segera terbuka,
Aku melangkahkan kakiku keluar dari dalam lift, berjalan menuju pintu keluar rumah sakit untuk mencari taxi, tujuanku saat ini hanya satu, yaitu pergi ke alamat yang aku dapatkan dari Jhion !
Sebuah taxi berwarna kuning berhenti di hadapanku saat aku melambaikan tangan di pinggir jalan, aku masuk ke dalam taxi tersebut,
"Selamat sore, Nona.. Kemana saya harus mengantar anda ?" tanya sopir taxi tersebut kepadaku.
"Tolong antarkan saya ke perumahan Blaue Orchidee blok H 4 no. 5, pak.." jawabku.
"Baik, nona.." ujar sopir taxi itu sembari langsung melajukan taxi menuju Blaue Orchidee.
Handphoneku berdering keras, aku melihat Bryan menelponku, aku mengabaikan telepon dari Bryan, kemudian aku mematikan handphoneku,
Bagaimanapun juga, aku tidak ingin ada yang tahu kemana aku akan pergi saat ini.
~
Taxi yang aku tumpangi berhenti tepat di depan sebuah rumah berlantai dua dengan dinding berwarna beige,
"Kita sudah sampai, nona.." ujar sopir taxi tersebut padaku.
Aku menatap rumah tersebut dengan sedikit ragu, apakah kedatanganku ke tempat ini merupakan hal yang tepat ?
Aku menarik nafas dalam - dalam untuk mengenyahkan keraguan dalam hatiku, bagaimanapun juga aku sudah bertekad dan aku tidak bisa lagi mundur,
Setelah membayarkan sejumlah uang kepada sopir taxi, aku pun turun dari dalam taxi dan berjalan memasuki pekarangan rumah yang tidak memiliki pagar tersebut,
Sebuah mobil volkswagen scirocco berwarna biru terparkir di pekarangan rumah tersebut, juga terlihat beberapa pot berisi bunga anyelir merah muda yang menghiasi pekarangan rumah tersebut,
Aku berdiri tepat di depan sebuah pintu kayu berwarna putih, kemudian aku mengetuk pintu kayu tersebut dengan tangan kananku,
Ketika itu seorang gadis membukakan pintu rumah tersebut untukku,
"Ada yang bisa saya bantu ?" tanya gadis itu padaku tapi sedetik kemudian dia terkejut melihatku, "Loh ?! Kau kan,-"
Belum sempat gadis itu menyelesaikan ucapannya, seorang pemuda bertubuh tinggi tampak keluar dari dalam rumah tersebut, "Ada apa, Sekretaris,-" ucapan pemuda itu langsung terpotong begitu dia melihat wajahku, "W-Wensy ?!"
Tanpa banyak bicara aku langsung menerobos masuk ke dalam rumah tersebut dan mendorong tubuh pemuda itu ke dinding rumah sembari menarik sweater coklat yang sedang dia kenakan saat itu dan menatapnya tajam, "Kau kan pelakunya, Hillard ?! Kau kan yang melukai Viola ?!"
Ya ! Pemuda di hadapanku saat ini adalah Hillard Dexter.
Hillard tampak tercengang mendengar ucapanku, "T-tunggu.. Tunggu dulu, Wensy.."
"Nona.. Anda sepertinya salah paham," ujar gadis yang berdiri di dekatku dan Hillard sambil berusaha menarik cengkraman tanganku di sweater Hillard.
"Diam ! Dan jangan ikut campur !" bentakku pada gadis itu dan kembali menatap tajam Hillard sambil tetap mencengkram sweater coklatnya,"Kau menjebakku 3 tahun yang lalu dan sekarang kau bahkan melukai Viola ?! Apa salahnya ?! Kenapa kau melukainya ?!!"
Hillard menahan tanganku, kemudian Hillard menatap ke arah gadis yang berdiri tak jauh dari kami berdua, "Veli.. Tolong tinggalkan kami berdua,"
"B-baik, pak.." jawab gadis tersebut dan dia segera pergi meninggalkan kami berdua.
Setelah gadis itu pergi, Hillard menatapku, "Wensy, tenanglah dahulu.."
"Tenang katamu ?!" bentakku sambil tertawa tidak percaya, "Setelah apa yang terjadi pada Viola, apa kau pikir aku bisa tenang ?!"
"Ku mohon dengarkan aku dahulu.." ujar Hillard sambil melepaskan cengkraman tanganku dari sweaternya.
"Terakhir kali aku mendengarkanmu, aku masuk ke dalam jebakan dan hampir kehilangan nyawaku ! Kau pikir, aku akan dengan mudahnya percaya lagi padamu ?!" teriakku.
"Aku tahu kau masih marah padaku karena kejadian 3 tahun yang lalu,-"
"Marah ? Jangan bercanda !" ujarku sambil tertawa sinis, rasa kesal di hatiku begitu meledak - ledak sampai - sampai air mataku tak bisa terbendung lagi "Aku membencimu, Hillard !!"
"Aku minta maaf untuk kejadian 3 tahun yang lalu.. Sungguh aku tak tahu kalau Athan akan melakukan hal segila itu, tapi aku juga tak punya pilihan lain selain menuruti kemauan Athan.." ujar Hillard padaku dengan suara serak, seperti orang yang sedang menahan tangis.
"Kau selalu punya pilihan ! Apa kau tak punya alibi yang lebih bagus dari ini agar aku bisa mempercayai lagi semua bualanmu ?"
"Baiklah.. Benci aku sepuasmu dan salahkan aku atas semua kejadian yang kau alami.. Aku tidak akan membela diri," ujar Hillard padaku dan kali ini dia benar - benar menangis, kemudian tanpa di sangka - sangka Hillard berlutut di hadapanku, "Aku memang bersalah dan aku benar - benar minta maaf atas semua kesalahanku padamu, Wensy... Sungguh ! Aku benar - benar minta maaf.."
Aku mengusap sudut mataku dengan tanganku sembari masih menatap Hillard dengan tatapan benci,
"Selama ini aku berusaha menemuimu karena aku ingin meminta maaf padamu,.. Aku amat sangat menyesal karena kebodohanku kau hampir kehilangan nyawamu," lanjut Hillard dengan air mata yang membasahi kedua pipinya, "Aku akan melakukan apapun untuk menebus kesalahanku padamu.. Apapun itu,"
Aku menengadahkan kepalaku ke atas sembari menggigit bibir bawahku,
"Aku tahu ucapanku saat ini pasti terdengar memuakkan di telingamu, tapi aku bersungguh - sungguh akan menebus kesalahanku," ucap Hillard lagi, "Dan tentang 3 tahun yang lalu, aku tak punya pilihan karena Athan mengancam akan membuat Viola celaka.. Aku tahu, alasan ini tidak bisa membenarkan tindakanku, tapi sungguh itulah yang terjadi,"
Aku terdiam mendengar ucapan Hillard, jadi karena ingin melindungi Viola, Hillard terpaksa menuruti keinginan Athan.
Aku jadi merasa seperti orang yang egois.
Tak seharusnya aku membenci Hillard hanya karena kesalahan kecil.
"Lalu, mengenai Viola.. Bukan aku yang melukainya," ujar Hillard sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya, "Aku tak mungkin melukai orang yang aku cintai,"
Suara tangisan Hillard semakin terdengar, "Aku tak bisa melindunginya dengan baik.. Aku benar - benar merasa bersalah,"
"Berdirilah.." ucapku pada Hillard meskipun suaraku masih terdengar dingin.
"Apa yang aku lakukan saat ini tidaklah sepadan dengan kejahatan yang telah aku lakukan padamu, Wensy.." ujar Hillard.
"Kumohon !! Berdirilah !" aku sedikit berteriak dan membentak Hillard.
Mendengar perkataanku Hillard langsung berdiri dari posisi awalnya yang sedang berlutut,
"Wensy,-"
"Hapus air matamu !" ucapku pada Hillard dan spontan Hillard pun mengikuti perkataanku.
"Aku tak mau menjadi orang jahat," lanjutku pelan, "Kau mungkin melakukan kesalahan padaku, tapi bukan berarti semuanya adalah salahmu.. Aku tak ingin menyalahkanmu lagi,"
"Maaf... Karena keputusanku yang bodoh, aku jadi merugikanmu,"
Aku menarik nafas dalam - dalam,
"Jadi.." suaraku lebih melunak dari sebelumnya, "Kau yang mendaftarkan Viola sebagai pasien platinum VIP dan kau juga yang membayar semua biaya rumah sakit Viola termasuk biaya operasi Viola ?"
"Bagaimana kau bisa tahu ?" tanya Hillard.
"Aku melihat bunga anyelir merah muda yang ada di kamar rawat Viola sama dengan bunga anyelir yang ada di pekarangan rumahmu.." jawabku.
"Aku tak punya pilihan lain karena terlalu khawatir pelaku penusukan itu akan kembali mengincar Viola," ujar Hillard sambil mengusap lehernya.
"Aku mengerti, setidaknya Viola lebih aman karenamu," ucapku "Rupanya kau masih sangat mencintai Viola, ya.." aku melanjutkan ucapanku, " Kau masih bisa mengingat kalau Viola sangat menyukai bunya anyelir dan warna merah muda,"
"Asal kau tahu saja, bunga - bunga anyelir itu di tanam oleh Viola sendiri saat kami berdua masih bersama.." ujar Hillard, "Dan setelah kami berpisah, aku berusaha untuk tetap merawat bunga - bunga tersebut dengan baik,"
"Maaf ya.." gumamku pelan.
Hillard menoleh ke arahku, "Untuk apa ?"
Aku menghela nafas, "Kalian berpisah karena aku.." jawabku pelan.
"Ah.. Itu bukan salahmu," ujar Hillard, "Salahku karena mengambil keputusan sendiri dan membuatmu celaka,.. Aku sudah membuat Viola kecewa dan itulah yang membuat dia memutuskan untuk berpisah denganku,"
Aku berdeham pelan, rasanya canggung juga bisa mengobrol santai seperti ini dengan Hillard setelah semua yang terjadi,
"Aku akan membuatkan secangkir coklat hangat untukmu," ujar Hillard tiba - tiba sambil mengajakku untuk duduk di ruang tamu.
Aku mengikuti Hillard menuju ruang tamu, begitu sampai di ruang tamu, aku melihat begitu banyak figura berisi lukisan wajah Viola yang terpasang di dinding ruang tamu tersebut,
"Kau ini penggemar berat Viola ya ?" ucapku pada Hillard.
Hillard terkekeh, "Kau kan tahu hobiku itu adalah melukis.. Saat masih bersama Viola, aku sering melukis dirinya,"
"Viola tahu tentang hal ini ?" tanyaku.
Hillard mengangguk, "Tentu saja.. Dia yang menyuruhku untuk memajang hasil lukisanku di ruang tamu,"
"Aku hampir mengira kau adalah stalker Viola," ujarku.
Hillard tertawa kecil, "Siapapun yang tidak tahu tentangku serta Viola, lalu melihat hal ini pasti mengira aku adalah seorang penguntit.." ujarnya padaku, "Oh iya, tunggu sebentar ya.. Aku akan segera kembali,"
Hillard meninggalkanku seorang diri di ruang tamu, aku pun memutuskan untuk duduk di sebuah sofa panjang berwarna abu - abu muda sembari melihat satu per satu lukisan yang ada,
Kalau Viola tahu Hillard masih memajang lukisan dirinya, entah seperti apa dia akan bereaksi,
Mataku menangkap sebuah kaus oblong berwarna biru muda yang terletak di sudut sofa tempat aku duduk, perlahan tanganku meraih kaus tersebut,
Aku melihat bagian bawah kaus tersebut robek, seperti ada seseorang yang sengaja merobeknya, mataku meneliti kaus tersebut lagi dan terlihat ada sedikit noda darah pada kaus tersebut,
Tepat saat itu Hillard kembali sambil membawa dua buah mug di kedua tangannya,
Aku menatap Hillard sambil tetap memegang kaus tersebut, "Kau,-"
"Wensy, aku bisa jelaskan !" Hillard terlihat panik sembari meletakkan kedua mug itu di atas meja persegi yang ada di depan sofa, "Sungguh ! Bukan aku yang mencelakai Viola,-"
"Kau yang memberikan pertolongan pertama pada Viola kan ?" tanyaku.
Hillard tampak tercengang sejenak, "Kau sudah tahu ?"
"George adalah detektif yang menangani kasus penyerangan Viola dan Jhion juga ikut membantu George," ujarku, "Tadi aku sempat menelpon Jhion dan dia menjelaskan bahwa ada seseorang yang melakukan pertologan pertama pada Viola dengan cara merobek bajunya dan menekan luka Viola dengan robekan bajunya itu,.."
Hillard duduk di sofa yang ada di sebrangku sambil menghela nafas lega, "Aku hampir saja takut kau akan menyerangku lagi.. Aku takut kau berpikir bahwa aku berbohong dan benar - benar mencelakai Viola,"
"Untunglah aku sempat bertanya pada Jhion tadi," ujarku, "Jadi untuk kali ini aku tidak akan meragukan ucapanmu,"
"Sejujurnya, aku memang sering mengikuti Viola kemanapun dia pergi sejak kami berpisah 3 tahun yang lalu.. Tapi aku melakukannya bukan untuk hal yang buruk, aku melakukannya hanya untuk memastikan dia aman," ucap Hillard.
"Aku tidak menganggap hal itu buruk," ujarku, "Setelah apa yang terjadi padaku 3 tahun yang lalu, wajar saja kau merasa perlu mengawasi Viola karena kau takut sewaktu - waktu Athan akan muncul dan menyakiti Viola.."
Hillard mengusap wajahnya dengan kasar, "Kejadian hari ini, sama sekali tidak bisa ku cegah.. Aku gagal melindungi Viola,"
"Setidaknya berkat dirimu, Viola bisa tertolong," ujarku, "Tapi, apa kau tahu siapa yang menusuk Viola ?"
Hillard menggelengkan kepalanya, "Tidak.. Aku tidak tahu," jawabnya, "Aku hanya mendengar suara teriakan yang tertahan saat aku mengikuti Viola ke toilet, begitu aku masuk, Viola sudah terluka dan tidak ada orang lain di sana,"
"Viola juga tak bisa melihat wajah pelaku," gumamku pelan.
"Dan dia juga sepertinya tidak menyadari kehadiranku," ujar Hillard.
"Mungkin.." jawabku, "Tapi kenapa kau tidak menemani Viola paling tidak sampai polisi dan ambulans datang ? atau kenapa kau tidak menemui Viola secara terang - terangan ?"
"Kemunculanku hanya akan menambah rasa sakitnya," Hillard tersenyum tipis.
Aku mengerutkan dahiku, "Maksudmu ?"
"Karena dia juga membenciku..." jawab Hillard, "Dan aku belum siap untuk bertemu dengannya lagi jika kebencian itu masih ada di dalam dirinya,"
"Lalu, kapan kau akan menemuinya ?"
"Entahlah.." Hillard mengangkat bahunya, "Bagiku, memastikan Viola baik - baik saja itu sudah cukup.. Aku tidak ingin serakah,"
Aku terdiam mendengar ucapan Hillard,
"Anggap saja ini sebagai hukumanku.." lanjut Hillard.
Aku menyilangkan kedua tanganku di depan dadaku, "Kau sedang berusaha untuk terlihat tegar rupanya.."
Hillard tersenyum kecil, "Mungkin kau benar.. Apakah aku terlihat menyedihkan ?"
"Sangat.." jawabku.
"Kau terlalu jujur, Wensy.." ujar Hillard sambil tertawa.
Aku menatap Hillard, aku bisa melihat jelas sorot matanya yang terlihat sedih meskipun dia sedang tersenyum dan tertawa, pemuda di hadapanku ini benar - benar tidak bisa menyembunyikan kesedihannya dengan baik,
"Kau tidak bisa seperti ini terus pada Viola," ujarku, "Kau harus menemuinya,.."
"Tapi,-"
"Masalahmu denganku sudah kita selesaikan, meskipun aku sempat menyerangmu tadi dan membuat gaduh karena rasa amarahku," aku memotong ucapan Hillard, "Aku tidak ingin menjadi penghalang di antaramu dan juga Viola.. Aku ingin kau dan juga Viola bahagia, jadi temuilah Viola dan jelaskan semua yang terjadi,"
Hillard meremas kedua tangannya, "Bagaimana jika Viola tidak mau bertemu denganku ?"
Aku bersandar pada sofa, "Mungkin awalnya akan sulit, tapi aku tahu Viola adalah gadis yang baik dan pemaaf.. Setidaknya kau harus berusaha memperbaiki hubunganmu dengan Viola, sama seperti kau berusaha untuk meminta maaf padaku sampai - sampai kau mencariku ke tempat kerjaku meskipun aku tak pernah menemuimu,"
Hillard tampak merenungkan kata - kataku,
"Kalau kau tidak pernah berusaha, kau tidak akan menerima hasil apapun.." aku melanjutkan ucapanku, "Tak peduli hasilnya baik ataupun buruk, setidaknya kau sudah mengusahakan yang terbaik.."
Aku mengambil sebuah mug berisi coklat hangat yang ada di atas meja, "Mungkin saja Viola menunggumu,.. Jadi jangan menyia-nyiakan kesempatanmu," ucapku sambil meminum sedikit coklat hangat itu.
Hillard ikut mengambil mug yang ada di atas meja,
"Terimakasih ya.." ujarku pelan sambil mengangkat mug ku kepada Hillard, "Ini enak,"
Hillard tersenyum, "Sama - sama.. Dan terimakasih juga, berkatmu aku jadi sadar bahwa selama ini aku belum mengusahakan yang terbaik untuk memperbaiki hubunganku dengan Viola,"
Aku menganggukkan kepalaku, "Rasanya sudah lama sekali kita tidak berbincang seperti ini,"
"Kau benar.." ucap Hillard, "Padahal dulunya kita berdua cukup dekat dan bersahabat,"
Aku tersenyum tipis, "Miris sekali.. Kita bersahabat selama lebih dari 6 tahun, dan karena sebuah kesalahan aku membencimu selama 3 tahun,"
Hillard ikut tersenyum tipis, "Ya, Miris sekali.. Persahabatan kita berantakan karena sebuah kebodohan," ucap Hillard, "Bagaimana kabar George dan Jhion ? Juga Leila dan Ivory ?"
Aku meminum lagi coklat hangatku, "Seperti yang kau tahu.. Semuanya baik - baik saja,"
Hillard mengangguk mendengar ucapanku,
"Lalu.. Siapa gadis tadi ?" tanyaku pada Hillard.
"Dia sekretarisku," ujar Hillard, "Namanya Veli.."
Aku mengetuk - ngetuk jari telunjukku pada mug, "Rasanya aku pernah melihatnya tapi aku tidak ingat dimana,"
Hillard menatapku sejenak, kemudian dia meletakkan mugnya di atas meja seraya beranjak berdiri, "Sepertinya aku harus memberitahumu,"
"Tentang Veli ?" tanyaku.
Hillard mengangguk, dia berjalan ke dekatku dan menyuruhku untuk berdiri serta mendekatkan telingaku kepadanya, aku meletakkan mugku di atas meja dan menuruti perkataan Hillard, dengan suara pelan namun masih terdengar jelas Hillard membisikkan sesuatu padaku,
"HAH ?!" pekikku tak percaya begitu Hillard selesai berbisik, "Kau bercanda kan ?!"
"Aku serius !" ucap Hillard.
Belum sempat aku berkomentar lagi, tiba - tiba terdengar ketukan pintu di rumah Hillard atau lebih tepatnya ketukan pintu yang keras, ketukan pintu dari seseorang yang sangat panik,
Hillard berjalan menuju pintu rumahnya untuk melihat siapa yang datang, sedangkan aku terduduk di atas sofa dengan perasaan terkejut yang masih meliputi pikiran serta hatiku,
Yang benar saja ! Semua ini benar - benar membuatku tak habis pikir,
Otakku sesaat seperti berhenti bekerja,
Bagaimana bisa ? Hanya itu pertanyaan yang muncul di benakku saat ini.
"Nona Wensy !!"
"B-Bryan ?! Apa yang anda lakukan di sini ?" pekikku kaget saat melihat Bryan sudah berdiri di hadapanku bersama dengan Hillard.
"Kau sepertinya membuat orang lain khawatir, Wensy.." ujar Hillard padaku, "Kau tak memberitahu yang lain bahwa kau pergi menemuiku ? Hampir saja dia menghajarku karena mengira aku menculikmu,"
Bryan memegang kedua bahuku, "Anda baik - baik saja ?"
Aku masih terkejut dengan kehadiran Bryan, "I-ya.. Saya tidak apa - apa,"
"Lain kali tolong jangan tiba - tiba menghilang seperti tadi !" bentak Bryan padaku, "Anda tidak tahu betapa khawatirnya saya ?!"
Aku semakin terheran - heran, ini pertama kalinya aku melihat Bryan marah karena mencemaskanku,
"Karena mencemaskanmu, dia hampir saja merusak pintuku," ujar Hillard.
Bryan menoleh ke arah Hillard dan membungkukkan badannya, "Maaf karena saya lancang dan membuat keributan,"
"Tidak apa - apa.." jawab Hillard, "Tapi sepertinya Wensy terkejut karena kedatanganmu,"
Aku masih tak tahu harus bicara apa, bagaimana bisa Bryan tahu aku ada di sini ?
Aku kan tidak memberitahu siapapun kalau aku pergi menemui Hillard.
"Manager.. Mari kita pergi," ujar Bryan padaku.
Aku beranjak berdiri sembari menyadarkan pikiranku, aku menoleh kepada Hillard, "Maaf karena sudah mengganggu waktumu dan terimakasih untuk hari ini, Hillard.."
Bryan merangkul bahuku, "Kami pamit dulu," ujarnya pada Hillard.
Hillard menganggukkan kepalanya, "Hati - hati di jalan.. Sampai jumpa lagi, Wensy"
"Sampai jumpa lagi, Hillard.." ujarku sambil berjalan keluar dari dalam rumah Hillard bersama dengan Bryan.
Aku sempat menoleh ke arah lantai dua rumah Hillard, gadis bernama Veli itu berdiri di dekat jendela sambil menatapku tapi kemudian dia menutup gorden dan menghilang dari pandanganku,
"Sampai jumpa lagi, Veli.." kataku dalam hati.
Bryan membukakan pintu mobil untukku, aku masuk ke dalam mobil dan Bryan menutupkan pintu mobil untukku, lalu dia pun juga masuk ke dalam mobil,
Bryan menyalakan mesin mobilnya dan melajukan mobilnya meninggalkan rumah Hillard.
~
To Be Continued...