Part 7

4521 Words
Pak CEO menahan daging steak tenderloin yang ada di atas piringnya dengan garpu di tangan kirinya dan memotong daging steak tersebut dengan pisau kecil yang ada di tangan kanannya, Saat ini kami sedang berada di sebuah restoran mewah yang jaraknya menempuh waktu sekitar 20 menit dari kantorku, "Wensy,.." panggil Pak CEO. Aku yang semula menundukkan kepalaku karena sibuk memotong daging steak yang ada di atas piringku, langsung mendongakkan kepalaku dan menatap Pak CEO, "Ya, Pak ?" Pak CEO mengambil piringku dan menukarnya dengan piring miliknya, "Saya lihat anda sepertinya kesulitan memotong daging steak tersebut.." Aku ternganga mendengar ucapan Pak CEO, padahal aku tidak mengalami kesulitan sama sekali untuk memotong daging steak yang sangat lembut ini, Pak CEO tersenyum padaku, "Saya sudah memotongkan daging steak untuk anda, jadi anda tidak perlu merasa kesulitan lagi," Jujur !! Aku bingung sekali dengan tingkah manusia yang satu ini.. Ah maksudku, Pak CEO. "Ah.. Terimakasih Pak CEO," ujarku. Pak CEO lagi - lagi tersenyum padaku, "Nah karena saya sudah memotongkan daging steak untuk anda, bisakah anda mengabulkan keinginan saya ?" Hahhhhh ! Sudah ku duga, pasti ada sesuatu yang beliau inginkan dariku, Aku membalas senyuman Pak CEO, meskipun dalam hati sebenarnya api kekesalan muncul dan aku ingin sekali memukulnya dengan piring di hadapanku, akan tetapi demi keselamatan karirku serta ketenangan jiwaku, aku harus bersabar serta tetap tersenyum, "Apa yang bisa saya lakukan untuk anda, Pak CEO ?" tanyaku. "Panggil saya dengan sebutan Kak Jordan atau Kak Melvision," ujar Pak CEO sambil tetap tersenyum padaku, "Itu keinginan saya.." "Y-ya ??" Aku memastikan kalau pendengaranku tidak salah. "Ah, satu lagi.." ujar Pak CEO lagi, "Jika sedang berada di luar kantor, tidak perlu berbicara formal pada saya, Wensy.." Lagi - lagi aku tercengang mendengar perkataan Pak CEO, apa - apaan ini ? Apakah Pak CEO sedang sakit ? "Anu, tapi Pak,-" "Kak Jordan atau Kak Melvision," Pak CEO memotong ucapanku. Aku bingung sekali, ada apa sih dengan manusia ini ?? Benar - benar deh ! "Apakah sulit untuk mengabulkan permintaanku, Wensy ??" tanya Pak CEO yang mulai menggunakan bahasa informal padaku. "Ah tidak, bukan begitu, Pak.. Hanya saja,-" "Wensy,.. Panggil namaku," ujar Pak CEO sambil tersenyum. Aku menatap Pak CEO yang duduk di hadapanku, wajahnya terlihat benar - benar menungguku untuk memanggil namanya, tapi tetap saja, aku tidak bisa melakukannya !! "Wensy,.." panggil Pak CEO. "Maaf, tapi kenapa anda ingin saya melakukan hal itu ?" tanyaku pelan. Pak CEO tersenyum padaku, "Karena aku ingin lebih dekat denganmu, dan lagi pula umurku hanya 5 tahun lebih tua darimu," Aku menyisir rambutku dengan tangan kananku, aku tak tahu harus bersikap bagaimana pada Pak CEO, aku sangat canggung jika harus memanggil namanya dan bersikap informal padanya. "Aku tidak akan makan sebelum mendengarmu memanggil namaku dan bersikap informal padaku," ujar Pak CEO. Duh ! Benar - benar memusingkan CEO yang satu ini ! Aku melirik ke arah Bryan yang duduk di meja lain bersama dengan sekretaris Pak CEO dan juga para bodyguard Pak CEO, Bryan rupanya sedari tadi terus melihat ke arahku dengan ekspresi wajah yang sulit aku artikan, Aku balik menatap Pak CEO yang masih dengan setia menungguku untuk berbicara informal dan memanggil namanya, Aku menghela nafas, kalau bukan karena perutku yang sudah berteriak - teriak kelaparan, mungkin aku akan terus bersikap keras kepala pada Pak CEO, "Ayo kita makan, Kak Melvis," ujarku pelan. "Tolong katakan lebih keras," ujar Pak CEO. Kalau dia bukan CEO, sudah ku hajar dia sedari tadi !! "Mari kita makan, Kak Melvis.." ujarku dengan suara yang lebih keras dari sebelumnya. Pak CEO tersenyum lebar mendengar perkataanku, "Kau sangat penurut ya, Wensy.." Aku hanya tersenyum tipis pada Pak CEO dan mengalihkan pandanganku pada steak yang ada di atas piringku, "Terserah apa katanya ! Aku sudah lapar !" ucapku kesal dalam hati. Aku memasukkan sepotong steak ke dalam mulutku, ah ! benar - benar lezat ! Berkat steak ini, kekesalanku karena sikap aneh Pak CEO sedikit mereda, "Nah, Wensy.. Bagaimana jika kau menjadi model di perusahaan ?" ujar Pak CEO, "Saat ini berita tentangmu sedang naik daun, bukankah bagus jika aku menggunakanmu sebagai model perusahaan ?" Wah ! CEO yang satu ini benar - benar ingin mempergunakan aku sebaik mungkin rupanya ! "Tentu saja aku akan membayarmu," Pak CEO melanjutkan ucapannya, "Anggap saja kau memiliki pekerjaan utama sebagai manager keuangan dan juga pekerjaan sampingan sebagai model perusahaan," Aku meletakkan garpu serta pisau di atas piringku, selera makanku mendadak hilang. Bisa - bisanya Pak CEO berpikir seperti itu ! Memangnya aku ini apa ? Seenaknya saja dia memperkerjakan aku ! "Maaf Pak CEO, tapi saya tidak bisa melakukannya," ucapku dingin. "Wensy.. Berhenti bicara formal padaku," ujar Pak CEO. Aku menatap Pak CEO dengan wajah tanpa ekspresi, "Apakah anda meminta saya untuk bersikap santai pada anda karena anda berharap saya mau bekerja sebagai model di perusahaan ? Anda benar - benar memanfaatkan situasi dengan baik, Pak CEO.." "Tidak.. Bukan begitu, Wensy," ujar Pak CEO. "Apakah anda tidak pernah berpikir bagaimana reaksi publik jika mereka tahu seorang manager keuangan yang berani bernegosiasi dengan penyusup secara tiba - tiba menjadi seorang model di perusahaannya ?" ujarku sambil menatap Pak CEO, "Pertama.. Mereka akan berpikir bahwa kejadian penyusup tersebut hanyalah rekayasa belaka dan saya yang akan mereka tuduh sebagai dalang utamanya," "Itu,-" "Kedua.. Mereka mungkin saja berpikir bahwa perusahaan lah yang membuat drama tentang penyusup itu agar dapat mempromosikan produk perusahaan," aku melanjutkan ucapanku tanpa peduli bahwa aku sedang memotong ucapan Pak CEO, "Ketiga.. Orang - orang akan dengan mudah membenci saya karena perusahaan menjadikan saya sebagai model secara instant.." Pak CEO tampak diam mendengar kata - kataku, "Saya tidak mau orang - orang berpikiran yang buruk mengenai saya," ujarku lagi, "Dan tentunya anda juga tidak ingin orang - orang berpikiran hal yang buruk tentang perusahaan anda, bukan ?" Aku menghela nafas panjang, "Saya bernegosiasi dengan para penyusup hanya untuk menolong para sandera, bukan untuk mendapatkan perhatian dari anda ataupun dari masyarakat,.. Jadi jika anda berharap bahwa saya akan mengabulkan permintaan anda," aku menatap Pak CEO dengan tegas, "Maafkan saya karena hal itu tidak akan pernah terjadi, Pak CEO.." Pak CEO meneguk red wine yang ada di gelasnya, kemudian dia meletakkan kembali gelasnya di atas meja, dia tersenyum padaku, "Rupanya memang benar.." Aku bingung mendengar ucapan Pak CEO, "Ya ?" "Memang benar apa yang di katakan oleh orang - orang di perusahaan," ujar Pak CEO lagi sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya, dan tetap tersenyum padaku, "Kau adalah orang yang keras kepala dan selalu memikirkan sebab serta akibat tentang sesuatu,.. Tidak salah jika semua anggota team divisi keuangan adalah orang - orang yang keras kepala, mereka benar - benar mencontoh dirimu dengan baik, Wensy.." "Jadi maksud anda,-" Pak CEO terkekeh, "Aku hanya mengujimu," Aku tercengang mendengar perkataan Pak CEO, mengujiku ? Untuk apa ? "Kau cukup berhati - hati dalam mengambil keputusan," ujar Pak CEO lagi, "Padahal menjadi model perusahaan adalah tawaran yang cukup menarik, apalagi kau juga akan tetap bekerja sebagai manager.. Secara tidak langsung kau akan mendapatkan penghasilan 2 kali lipat lebih banyak dari orang - orang yang ada di perusahaan," "Kenapa anda menguji saya ?" tanyaku. "Hei.. Berhentilah bersikap formal padaku," ujar Pak CEO sambil menatapku. "Tapi,-" "Aku senang karena aku memiliki karyawan sepertimu," ujar Pak CEO lagi, "Selain keras kepala, kalau ku lihat kau memiliki pendirian yang cukup kuat,.. Jarang sekali ada orang yang sepertimu, bahkan karena pendirianmu yang kuat itu, kau sampai berani menolak permintaanku," Aku diam menatap Pak CEO, "Alasan aku ingin dekat padamu adalah karena aku menyukai sifat keras kepala dan pendirianmu yang kuat itu," ujar Pak CEO sambil tertawa kecil, "Aneh bukan ?" Aku tak tahu harus berkomentar apa saat ini, Pak CEO yang terkenal dengan kemampuannya membangun relasi dengan banyak orang dan bisa di bilang memiliki banyak teman, entah mengapa saat ini terlihat seperti orang yang kesepian, Pak CEO menatap keluar jendela restoran, "Selama ini, aku selalu hidup tanpa mempercayai siapapun, mungkin orang melihat bahwa aku memiliki banyak teman dan juga relasi, tapi itu semua hanya untuk kepentingan perusahaan..." Pak CEO kembali melihat ke arahku sambil tersenyum, "Saat aku melihatmu, aku jadi ingin mempercayaimu.." Aku menatap Pak CEO dengan wajah tak percaya, bagaimana bisa dia mempercayaiku hanya karena dia melihat seorang yang keras kepala sepertiku ? "Dulu.. Aku pernah mempercayai seseorang," ujar Pak CEO, "Dan karena orang itu jugalah aku jadi tidak bisa mempercayai orang lain," "Anda trauma ?" tanyaku pelan. Pak CEO mengangguk, "Bisa di bilang begitu," Aku menatap Pak CEO, entah mengapa aku jadi seperti bercermin dan melihat diriku sendiri.. Aku yang memiliki trauma dengan masa laluku dan merasa diriku sangat menyedihkan, rupanya bukan hanya aku seorang yang menderita seperti ini.. Mungkin permasalahanku dan Pak CEO berbeda, tapi kami sama - sama memiliki trauma dan penyesalan dalam hidup, Bukan hanya aku dan Pak CEO, mungkin juga orang - orang lain, Kami semua sama - sama pernah merasakan sakit itu, meskipun ada perbedaan, Masalah yang berbeda... Ketakutan yang berbeda... Penyesalan yang berbeda... Pak CEO memasukkan daging steak ke dalam mulutnya dan mengunyahnya perlahan, "Ini pertama kalinya aku memberitahu orang lain tentang ketakutanku.. Dan ternyata sedikit melegakan karena aku merasa bercerita dengan orang yang tepat," Aku diam sambil memasukkan daging steak ke dalam mulutku, entah kenapa kata - kata Pak CEO terasa menggelitik hatiku, Rasanya hatiku tertohok, karena seharusnya aku menceritakan tentang traumaku dan kejadian yang sebenarnya tentang 3 tahun yang lalu pada keluargaku, malah Kak Sion mengetahuinya karena dia diam - diam mencari tahu, Kalau aku di posisi Kak Sion, mungkin aku akan kecewa karena merasa tidak bisa di percaya.. Seharusnya aku lebih percaya pada keluargaku, "Wensy.." Pak CEO melambaikan tangannya di hadapanku, Aku tersadar dari lamunanku, "Ah, maafkan saya, Pak CEO.." ujarku cepat - cepat. "Panggil aku dengan sebutan "Kak Melvis", Wensy.." ujar Pak CEO, "Lalu sejak beberapa detik yang lalu, handphonemu terus bergetar," ujar Pak CEO. "Eh ??" aku buru - buru merogoh ke dalam tasku dan mengambil handphoneku, aku menatap layar handphoneku dan terlihat Leila menelponku, aku hendak mengabaikan telepon dari Leila karena aku sedang bersama Pak CEO, "Tidak apa - apa.. Kau bisa mengangkat telepon tersebut," ujar Pak CEO. "Ah, baik, Pak,-" "Kak Melvis.. Panggil aku dengan sebutan itu," ujar Pak CEO sambil memasukkan daging lagi ke dalam mulutnya. Aku menghela nafas, "Baiklah, Kak Melvis.." "Bagus.." ujar Pak CEO sambil tersenyum puas, Aku langsung mengangkat telepon dari Leila, "Ada apa, Leila ?" tanyaku. "Wensy.. Bagaimana ini ?" Leila berbicara dengan suara bergetar. "Apa terjadi sesuatu ??! Ada apa ?!" tanyaku panik. Seorang Leila yang terkenal paling berani di antara aku, Ivory dan Viola saat ini sedang berbicara dengan suara bergetar, sudah jelas sesuatu yang buruk terjadi ! "V-Viola.." Leila mulai menangis. "Kenapa ? Ada apa dengan Viola ??!" aku benar - benar takut saat ini. "D-dia terluka," ujar Leila sambil terisak. DEG !!! Viola terluka ? Bagaimana bisa ? Apa yang terjadi ? Tanganku mulai gemetar, "D-dimana kau sekarang ??" "Rumah sakit Vivantes,.. Di depan ruang operasi," jawab Leila lagi. "Baiklah.. Kau tunggu di sana dan tolong hubungi Ivory," ujarku sambi berusaha tenang, "Aku akan kesana sekarang !" "Iya.." ujar Leila. Aku mematikan teleponku dengan Leila, aku cepat - cepat memasukkan handphoneku ke dalam tasku dan beranjak berdiri, "Maaf, Pak,- Ah maksudku Kak Melvis," ujarku pada Pak CEO, "Temanku terluka, jadi aku harus pergi ke rumah sakit sekarang." "Wensy,-" Aku membungkukkan badanku pada Pak CEO, "Aku tahu ini tidak sopan tapi aku harap Kak Melvis mengerti.." ucapku sembari berlari keluar dari restoran tanpa mempedulikan Pak CEO yang terlihat kebingungan dan memanggil - manggilku, bagiku yang terpenting sekarang ini adalah pergi ke rumah sakit ! Seseorang menahan lengan kiriku dan membuatku menoleh ke belakang, "Manager, anda mau kemana ?" rupanya Bryan yang menahan tanganku. "Saya harus pergi ke rumah sakit," ujarku sambil berusaha menarik lenganku dari genggaman tangan Bryan. "Saya akan ikut bersama dengan anda," ujar Bryan. "Apa ? Tidak usah,-" "Saya tidak bisa membiarkan anda pergi sendirian !" ujar Bryan tegas, "Saya akan mengantar dan menemani anda ke rumah sakit, saat ini anda terlihat panik dan kebingungan, jadi paling tidak saya harus memastikan keamanan anda," Aku ingin sekali membantah ucapan Bryan, tapi di satu sisi aku sangat terburu - buru karena khawatir dengan keadaan Viola, "Aku akan mengantarmu, Wensy" tiba - tiba Pak CEO ikut keluar dari restoran sambil merapikan kemeja putihnya dan memakai kembali jasnya yang berwarna coklat. Aku benar - benar tidak mengerti mengapa Pak CEO dan juga Bryan sama - sama bersikeras untuk mengantarku ke rumah sakit, "Akan lebih cepat jika kita pergi ke rumah sakit dengan menggunakan mobilku ketimbang harus menggunakan bus atau taksi," ujar Pak CEO. "Tapi,-" Pak CEO tak mau mendengar bantahanku, beliau mendorong pundakku untuk segera masuk ke dalam mobil, Aku jujur merasa tak nyaman jika Pak CEO sampai ingin menemaniku di rumah sakit, saat ini situasinya sedang tidak bagus, "Ah, asisten Bryan.. Anda bisa kembali ke kantor," ucap Pak CEO pada Bryan, "Biar saya yang menemani Wensy ke rumah sakit," Bryan terlihat mengepalkan kedua tangannya, "Maaf Pak CEO, tapi saya sudah berjanji untuk selalu menemani Manager Wensy kemanapun beliau pergi," "Tidak perlu khawatir, Wensy aman bersama saya," ujar Pak CEO, "Saya bisa melindungi Wensy dan para bodyguard saya sudah pasti bisa di andalkan.." "Saya bukannya meragukan anda, Pak CEO.." ujar Bryan, "Tapi saya adalah asisten Manager Wensy, dan saya merasa tenang jika saya bisa memastikan dengan mata kepala saya sendiri bahwa Manager Wensy baik - baik saja," Aku menghela nafas panjang, bisa - bisa dua pria ini berdebat untuk sesuatu hal yang tidak penting ! Tidak bisakah mereka melihat bahwa saat ini aku sedang terburu - buru ?! "Pak CEO, Asisten Bryan, teman saya sedang berada di rumah sakit, jika anda berdua masih ingin berdebat, saya akan memutuskan untuk naik taksi saja !!" ucapku kesal. Ucapanku berhasil membuat Pak CEO dan Bryan terdiam, dan pada akhirnya Pak CEO dan Bryan pun masuk ke dalam mobil untuk mengantar dan menemaniku ke rumah sakit. ~ Setelah menempuh perjalanan selama 10 menit, akhirnya sopir Pak CEO menghentikan mobil di depan pintu masuk rumah sakit, buru - buru aku turun dari mobil tanpa mempedulikan Pak CEO dan juga Bryan yang bahkan belum juga turun dari mobil, Aku berlari masuk ke dalam lobby rumah sakit dan langsung bergegas menuju ruang operasi seperti yang Leila katakan tadi saat dia menelponku, "Leila !" teriakku saat melihat Leila dari kejauhan yang sedang duduk di sebuah bangku panjang yang terletak di dekat ruang operasi. Leila menatapku dengan mata sembap, "Wensy.." ujarnya lirih. Ini ketiga kalinya aku melihat Leila terlihat kacau dan ketakutan seperti ini,.. Pertama kali aku melihat Leila menangis adalah saat ibunya meninggal dunia. Kedua kalinya aku melihat Leila menangis adalah saat dia melihatku terluka 3 tahun yang lalu. Dan ketiga kalinya adalah saat ini, karena Viola terluka. "Kenapa Viola bisa terluka ?" tanyaku sambil memeluk Leila. Leila langsung menangis sambil menggelengkan kepalanya, "Aku tidak tahu, Wensy.." Aku menepuk - nepuk bahu Leila untuk menenangkannya, aku mengajak Leila untuk duduk, sepertinya Leila masih dalam keadaan shock, Tak lama Bryan, Pak CEO, dan Ivory pun datang bersamaan, Ivory tampak heran melihat Pak CEO yang ada di rumah sakit bersamaku dan Bryan, aku sudah tahu kalau dia pasti ingin mempertanyakan hal itu padaku, tapi dia menahan pertanyaannya dan lebih memilih untuk duduk di sebelah kanan Leila untuk ikut menenangkan Leila, Ivory terlihat pucat sekali, aku tahu dia pasti juga sangat shock mendengar kabar tentang Viola, "Ini salahku," ujar Leila di sela - sela tangisannya, "Seharusnya aku tetap bersama Viola tadi," "Leila.. Tenanglah dulu," ujar Ivory, "Coba ceritakan pada kami apa yang terjadi.." "Aku sedang makan siang bersama dengan Viola," ujar Leila, "Kalian tahu kan kalau kantorku dan kantor Viola bersebrangan," Aku dan Ivory menganggukkan kepalaku mendengar ucapan Leila, "Awalnya semuanya baik - baik saja,.. Setelah membayar biaya tagihan makanan kami, Viola bilang dia ingin pergi ke toilet sebentar, aku pun menunggunya di luar restoran, tapi setelah 15 menit berlalu, Viola tak kunjung kembali.." Leila melanjutkan ucapannya, "Aku akhirnya memutuskan untuk menyusul Viola," "Lalu ?" tanyaku pelan. Leila menutupi wajahnya dengan kedua tangannya, "Saat aku masuk ke dalam toilet restoran, aku melihat Viola terduduk lemas di dekat wastafel sambil memegangi perutnya dan tangannya penuh dengan darah,.." Aku mengusap - ngusap punggung Leila, sedangkan Ivory merangkul bahu Leila dan menepuk - nepuk bahunya dengan lembut, "Aku panik dan juga terkejut melihat keadaan Viola, untunglah pihak restoran langsung menelpon polisi serta ambulans," lanjut Leila, "Bisa - bisanya hal seperti ini terjadi pada Viola.. Aku bahkan tidak tahu kenapa Viola bisa terluka seperti itu,.. Aku benar - benar gagal menjadi teman yang baik," "Sudah.. Sudah.." Ivory menenangkan Leila, "Ini bukan salahmu, Leila.." Aku mengeluarkan tissue basah dari dalam tasku, perlahan aku menarik kedua tangan Leila dan membersihkan kedua telapak tangan serta jari - jari Leila tersebut dengan tissue basah, "Kau bahkan tidak menyadari kalau kedua tanganmu terkena darah," ucapku pelan, "Lihatlah, kemejamu juga terlihat kotor karena noda - noda darah yang sudah mengering," Leila hanya terdiam sambil memperhatikanku yang masih sibuk membersihkan noda darah di telapak tangan kirinya, Ivory mengeluarkan sebotol air mineral dari dalam tote bag nya, dia membuka tutup botol air mineral tersebut dan memberikannya pada Leila, "Terimakasih," ucap Leila sambil menerima botol tersebut dari tangan Ivory dan langsung meneguk air tersebut sampai habis. Sembari masih membersihkan kemeja Leila yang terkena noda darah, aku terus menerus bertanya - tanya dalam hati, sebenarnya apa yang terjadi dengan Viola ? Kenapa Viola bisa terluka ? Siapa orang yang melukai Viola ? Dan bagaimana mungkin hal tersebut terjadi di saat restoran sedang ramai ? Bukankah seharusnya pelakunya bisa tertangkap dengan mudah ? Apakah pelakunya adalah seorang yang sangat profesional ? Tapi apa alasannya ? Apakah perampokan ? Tapi, sepertinya itu tidak mungkin.. Atau jangan - jangan ... ?!! Aku langsung menghentikan aktivitasku dan beranjak berdiri, "Wensy.. Ada apa ?" tanya Leila dan Ivory bersamaan. Aku baru saja ingin memberitahu Leila dan Ivory kalau aku harus pergi, tapi tiba - tiba dokter keluar dari ruang operasi, otomatis pikiranku pun langsung teralihkan, "Dokter ! Bagaimana keadaan Viola ?" tanyaku cemas. "Dia baik - baik saja bukan ?" sambung Leila sambil berdiri. Dokter tersebut membuka masker yang menutupi hidung dan mulutnya, "Nona Viola baik - baik saja dan operasi berjalan dengan lancar.. Syukurlah Nona Viola bisa bertahan dengan baik meskipun luka di perutnya cukup dalam," Aku, Ivory, dan juga Leila langsung menghembuskan nafas lega, "Kami akan memindahkan Nona Viola ke kamar rawat pasien dan mungkin sebentar lagi Nona Viola akan siuman," ujar dokter tersebut. "Terimakasih, dokter.." ujarku, Leila, dan juga Ivory bersamaan. Dokter tersebut tersenyum, "Kalau begitu saya permisi," ucapnya sambil berlalu meninggalkanku, Leila dan Ivory. "Syukurlah.." ujar Leila, "Syukurlah Viola baik - baik sa,-" BRUKK ! Tiba - tiba tubuh Leila ambruk dan dia pingsan seketika ! "Leila !" pekikku yang berdiri agak di belakang Leila, untung saja dengan sigap aku berhasil menahan tubuh Leila agar tidak membentur lantai. Ivory juga terlihat kaget dan panik melihat Leila yang tiba - tiba pingsan itu, "Dia demam !" ujar Ivory saat menyentuh dahi Leila. "Asisten Bryan, tolong panggilkan dokter !" seruku pada Bryan. Bryan langsung berlari kecil untuk mencari dokter, sedangkan Pak CEO membantuku dan Ivory untuk menggendong tubuh Leila di punggungnya, "Anu Pak CEO,-" Ivory dan aku tampak segan melihat Pak CEO yang mau menggendong Leila di punggungnya. "Kali ini anggap saya teman kalian dan bukan CEO.." ujar Pak CEO. Aku serta Ivory pun hanya mengangguk dan menuruti ucapan Pak CEO, Pak CEO dan Ivory berlari kecil mengikuti Bryan dari belakang, Aku mengambil tas kerja Leila yang ada di atas kursi dan juga mantel coklatnya, aku berlari di paling belakang, kemudian aku merogoh tasku dan mengeluarkan handphoneku untuk menelpon Jhion, "Halo ? Ada apa, Wensy ?" sapa Jhion. "Kau ada dimana ?" tanyaku. "Aku sedang berada di TKP," "Maksudmu restoran tempat Viola di serang ?" tanyaku lagi. "Iya.." "Apa yang kau lakukan di sana ?" aku mengerutkan dahiku. "George meminta bantuanku untuk penyelidikan hari ini.. Kau ada di rumah sakit kan ? Bagaimana keadaan Viola ?" "Operasinya berjalan lancar dan dokter bilang kalau sebentar lagi Viola akan siuman," jelasku sambil tetap berlari kecil di belakang Ivory dan Pak CEO. "Syukurlah.." ujar Jhion. "Tapi Leila saat ini pingsan," ujarku. "Apa ? Leila pingsan katamu ?" "Iya.. Sepertinya dia masih shock karena dia kan yang pertama kali melihat keadaan Viola saat di restoran tadi," ujarku. "Loh ?" Jhion tampak bingung sekarang, "Sebelum Leila tahu tentang keadaan Viola, ada orang lain yang lebih dahulu melihat keadaan Viola dan tampaknya dia memberikan pertolongan pertama pada Viola dan juga menghubungi polisi," "Apa ?? Yang benar saja ! Jelas - jelas saat Leila menyusul Viola ke toilet, tidak ada siapapun di sana kecuali Viola.." ujarku tak percaya. "Aku dan George melihat bukti rekaman CCTV restoran," ujar Jhion, "Ada seorang pria yang masuk ke dalam toilet dan sepertinya dia menyobek bajunya untuk menahan pendarahan pada luka Viola," "Hah ??" aku benar - benar bingung sekarang. "Lalu, selain itu.." Jhion menambahkan, "Pihak kepolisian menerima laporan penyerangan tersebut dari pria yang menolong Viola, bukan dari pihak restoran.." Aku memegang dahiku, bagaimana mungkin hal seperti ini terjadi ? "Pihak restoran hanya menelpon ambulans karena pihak kepolisian sudah tiba di lokasi saat Leila menyusul Viola ke dalam toilet," ujar Jhion. "Jadi maksudmu, Viola sudah terluka di menit - menit awal saat Leila masih menunggunya di luar restoran ? Dan pria tersebutlah yang menghubungi polisi serta menolong Viola, lalu karena itulah Leila tidak tahu jika ada orang lain yang sudah melakukan pertolongan pertama pada Viola ?" "Tepat sekali ucapanmu itu," ujar Jhion, "Untuk lebih detailnya, aku akan menceritakannya nanti saat aku ke rumah sakit bersama George untuk melihat keadaan Viola," "Baiklah.. Lalu aku ingin minta tolong padamu," ujarku. "Ada apa,- ah tunggu, George memanggilku.. Bisakah kau mengirimkannya melalui pesan singkat saja ? Aku harus kembali," ujar Jhion. "Ya, baiklah.." ucapku dan kemudian mematikan sambungan teleponku dengan Jhion, lalu dengan cepat aku langsung mengirimkan pesan singkat pada Jhion tentang hal yang sangat ingin ku ketahui. Setelah itu aku pun memasukkan handphoneku kembali ke dalam tasku. Aku melihat dua orang perawat datang sambil mendorong sebuah ranjang pasien, perlahan Pak CEO membaringkan tubuh Leila di atas ranjang pasien, kemudian para perawat pun membawa Leila menuju bangsal rumah sakit. Aku, Ivory, Bryan dan juga Pak CEO mengikuti para perawat itu dari belakang, Begitu sampai di bangsal rumah sakit, para perawat langsung memasang infus di tangan kanan Leila dan juga memasang selang oksigen di hidung Leila, Seorang dokter datang dan langsung memeriksa detak jantung Leila dengan stetoskop dan memeriksa denyut nadi di pergelangan tangan Leila, Ivory meremas - remas tangannya karena khawatir dengan keadaan Leila, Dokter melepas stetoskop dari kedua telinganya dan beralih menatap Ivory, "Pasien baik - baik saja.. Hanya sedikit shock dan kelelahan," Ivory membuang nafas lega, "Syukurlah.." "Setelah meminum obat dan selesai di infus, pasien boleh pulang.. Lalu, sebaiknya pasien perbanyak istirahat," sambung dokter tersebut. "Baik, dokter.. Saya akan mengingatkan teman saya," ujar Ivory, "Terimakasih, dokter.." Dokter tersebut mengangguk sambil tersenyum dan pergi meninggalkan kami, Ivory menghela nafas panjang, "Bisa - bisanya hal seperti ini terjadi.. Viola terluka dan Leila pingsan, siapa sih yang membuat kekacauan ini ?" gumam Ivory kesal. "Sudahlah yang penting mereka berdua baik - baik saja.." ucapku. "UGH ! Kalau pelaku yang menusuk Viola sudah di temukan, akan aku jambak dia habis - habisan !" ucap Ivory sambil mengepalkan tangan kanannya ke udara. "Bagaimana jika dia tidak memiliki rambut ?" tanyaku, "Bagaimana jika pelakunya botak ? Apa yang akan kau jambak ?" Ivory menyikutku, "Kau jangan mulai menyebalkan seperti George ya !" "Loh, aku kan hanya bertanya.." ujarku. "Aduh ! Kau ini ! Menyebalkan sekali," ucap Ivory kesal. "Akhirnya.. Kau merasakan apa yang kurasakan," ucapku sambil terkekeh, "Kau kan selama ini selalu membuatku kesal, jadi kita impas.." "Ya.. Ya.. Ya.. Kau menang," ucap Ivory jengah sambil duduk di sebuah bangku yang terletak di samping ranjang pasien Leila. Aku meletakkan tas beserta mantel Leila di atas pangkuan Ivory, "Hei.. Tidak apa - apa kan jika aku pergi sebentar untuk mengetahui dimana kamar rawat Viola ?" "Pergilah,.. Aku akan menunggu sampai Leila sadar," ujar Ivory, "Tapi jangan pergi sendirian, kita tidak tahu siapa yang menyerang Viola dan apa alasannya pun kita tidak tahu.. Aku takut kalau pelaku penyerangan itu diam - diam mengikuti Viola, bisa - bisa nanti kau yang jadi target berikutnya ! Itu tidak boleh terjadi !" "Saya akan pergi bersama Manager Wensy.." ujar Bryan cepat - cepat. "Aku akan menemanimu, Wensy.." Pak CEO juga tiba - tiba berkomentar. "Aduh ! Mereka mulai lagi !" batinku. Ivory melongo, dia menatap Bryan dan Pak CEO bergantian, kemudian dia beralih menatapku, meminta penjelasan tentu saja. Aku menghela nafas, kemudian aku menatap Pak CEO, "Maaf Pak.. Tapi, lebih baik saya pergi bersama dengan Asisten Bryan," ujarku, "Anda juga pasti lelah karena menolong kami untuk menggendong teman kami tadi," Pak CEO menatapku dengan sorot mata kecewa, tapi kemudian perlahan dia menganggukkan kepalanya, "Baiklah.. Jika memang itu yang kau inginkan.." ujar Pak CEO, "Aku akan menunggu disini sampai kau kembali, Wensy.." Ivory terlihat ternganga mendengar Pak CEO yang berbicara informal padaku, dia pasti heran kenapa Pak CEO seperti akrab sekali denganku, Aku tak mempedulikan ekspresi wajah Ivory yang terlihat kebingungan, andai Pak CEO tidak ada di sini, aku pasti sudah menoyor kepala Ivory agar dia tersadar bahwa ekspresi wajahnya sekarang ini mirip sekali dengan ikan koi yang ada di rumahku. Tanpa banyak bicara lagi, aku dan Bryan pergi meninggalkan Ivory dan Pak CEO yang ada di bangsal rumah sakit untuk menjaga Leila. Aku dan Bryan pergi ke bagian receptionist dan administrasi rumah sakit, "Permisi.." sapaku pada seorang wanita yang duduk di hadapan komputer. Wanita tersebut tersenyum ramah padaku, "Ada yang bisa saya bantu, Nona ?" "Apakah saya bisa mengetahui dimana kamar rawat Beyline Viola ?" tanyaku. "Mohon tunggu sebentar..." ucap wanita tersebut sambil menatap layar komputernya, kemudian dia mendongakkan kepalanya menatapku, "Maaf, kalau saya boleh tahu, apa hubungan anda dan Nona Viola ?" Aku mengerutkan dahiku, kenapa wanita ini menanyakan hal seperti ini ? Aneh sekali. "Apakah seorang anggota keluarga harus memiliki alasan untuk mengunjungi keluarganya yang sedang sakit ?" aku balik bertanya pada wanita tersebut. "Ah, maafkan saya, Nona.." ujar wanita tersebut, "Hanya saja, karena Nona Viola adalah pasien platinum VIP di rumah sakit ini, kami memiliki aturan untuk tidak membiarkan sembarangan orang masuk menemui pasien.. Dan, saat mengunjungi pasien, akan ada tiga orang perawat yang akan menemani anda," Aku semakin mengerutkan dahiku, "Viola termasuk sebagai pasien platinum VIP ?" batinku. "Kamar Nona Viola ada di lantai 12, ruangan dandelion nomor 7," ujar wanita tersebut, "Apakah Nona ingin menjenguk Nona Viola sekarang ?" "Iya.." jawabku dengan cepat. "Baiklah, Nona... Mohon tunggu sebentar," ujar wanita tersebut, "Saya akan menghubungi tiga orang perawat yang akan mendampingi anda," Aku menganggukkan kepalaku, sembari menunggu aku terus memikirkan siapakah yang mendaftarkan Viola sebagai pasien platinum VIP ? Apa mungkin Leila ? Leila memang memiliki kartu member di rumah sakit ini karena dulu ibunya pernah di rawat di rumah sakit ini dan ayahnya adalah wakil direktur di rumah sakit ini, tapi seingatku dulu ibu Leila adalah pasien gold VIP,.. Atau jangan - jangan ingatanku salah ? Apa aku sudah mulai pikun ? Kenapa aku merasa ada yang aneh disini ? Atau ini hanya perasaanku saja ? Sebenarnya, apa yang sedang terjadi di sini ?? ~ To Be Continued ...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD