Chapter 3 : Permulaan (Lunar POV)

2035 Words
Hari itu aku benar-benar merasa bosan di kantor. Aku memilih untuk pergi sebentar ke kafe yang biasa ku kunjungi saat mood ku sedang tidak bagus. Ini waktu makan siang, syukurlah kafe ini sedikit sepi saat aku tiba disana. Aku langsung menuju kasir untuk memesan satu frappuchino dan kue. Nafsu makan ku hilang entah kemana. Aku duduk di meja yang biasa aku tempati. Melihat ke keluar jendela. Depan kafe ini ada salah satu kampus ternama di Jakarta. Minuman dan kue yang ku pesanpun akhirnya datang. Suasana di luar mulai menjadi ramai. Banyak orang berlalu lalang sambil membawa buku dan peralatan lainnya di tangan mereka. Salah satu dari mereka menarik pandanganku, disana ada seorang gadis yang berdiri di pinggir jalan sambil, sepertinya sedang menunggu jemputannya, pikirku. Tak lama sepeda motor menghampiri gadis itu. Ah dia dijemput oleh ayahnya rupanya. Melihat itu membuatku tersenyum miris. Aku langsung teringat dengan ayahku. Seandainya hari itu tidak terjadi. Seandainya ibuku masih ada disini sampai sekarang. Seandainya, dan seandainya. Ah kafe mulai ramai, aku harus segera kembali ke kantor sebelum jam masuk. Tiba-tiba seseorang menabrak bahuku saat aku beranjak. Melihat tumpahan kopinya yang tumpah di kemejaku membuatku hampir saja mengumpat. Dia mencoba meminta maaf kepadaku. Aku hanya menatapnya dengan pandangan datarku, semua orang yang berada disana mulai memperhatikan aku dan pria itu. Aku langsung meninggalkan kafe dan pergi kembali ke kantor. Dan itu membuat mood ku semakin hancur. Sesampainya di kantor, Fiya, teman satu bagianku melihat dengan dahi yang mengerut. Bajuku sudah berubah warna, tidak tanggung-tanggung hampir setengahnya menjadi coklat. Fiya hampir menyemburkan tawanya. Aku memberitahu Fiya tentang pria tadi yang menumpahkan minumannya di bajuku. Aku langsung menuju lokerku untuk ganti baju. Belum sempat duduk, Pak Bagas sudah memanggilku ke ruangannya. Aku harap pak Bagas hari ini dalam keadaan normal. Semua orang dibagian ini tahu kalau pak Bagas itu tertarik denganku. Akupun tahu hal itu. Aku hanya pura-pura untuk tidak mengetahuinya. Ada hal yang membuatku harus bersikap seperti itu. Ya sesuai apa yang ku prediksi sebelumnya, terlihat sekali Bagas hanya mencari alasan untuk berdekatan denganku. Kali ini dengan dalih kesalahan pada laporanku. Aku sudah lelah menolak Bagas. Bagas mulai mendekatiku sejak aku 4 bulan bekerja disini. Dan ini adalah kesekian kalinya dia mendekatiku. Dulu pernah Bagas menyuruhku untuk menjadi asistennya selama 6 bulan. Dan itu benar-benar membuatku hampir berhenti dari pekerjaanku saat ini. Tapi beruntunglah akhirnya dia mau mencari asisten lain karena tidak ingin aku berhenti dari kantor ini. Dan akhirnya, beginilah yang dilakukan Bagas. Mencari-cari kesalahanku. Lucu memang, tapi sangat menyebalkan. Aku melanjutkan pekerjaanku lagi. "Pak Bagas ngomel-ngomel lagi ya Lun?" tanya Fiya yang duduk disampingku. Aku mengangguk sebagai jawaban dari pertanyaan Fiya. Aku sedang tidak ingin berbicara apapun saat ini. "Kenapa sih Lun, lu ga terima aja dia, kasihan juga dia udah ngejer lo selama 5 tahun." tambahnya lagi. Aku melirik Fiya yang bertanya dengan seenaknya itu. "Bukan gue ga mau terima Pak Bagas, Fi. Gimana ya gue jelasin ke lu nya." jawabku. Fiya masih memandangku dengan heran. "Intinya gue ga bisa nerima siapapun dulu saat ini." jelasku. Semoga saja Fiya tidak akan bertanya apapun lagi nanti. Fiya langsung berbalik ke mejanya kembali. Syukurlah Fiya tidak bertanya apapun lagi. Aku meneruskan pekerjaanku yang belum selesai. Bermaksud untuk menyelesaikannya hari ini, supaya aku tidak harus melembur hari ini. Tiba-tiba dari samping merjaku, aku merasa seseorang seperti sedang memperhatikanku. Saat aku membalikkan badan, ternyata pria itu ada disini, berdiri di samping mejaku. Aku tidak bisa mengontrol ekspresi kaget dan tidak suka di wajahku. Dia menjulurkan tangannya, dan mengucapkan perkataan yang sama seperti di kafe tadi. "Aku minta maaf ya soal tadi." tangannya masih terulur menungguku untuk menyambutnya, diwajahnya satu senyuman terlihat. Aku mendiamkannya mencoba memahami situasi saat ini. Apakah dia mengikuti sampai disini? Yang benar saja. Dia berbica lagi. "Hei, nona. Aku lagi ngomong sama kamu loh sekarang." Apa-apaan dia, kenapa tidak langsung pergi saja sih. "Mohon maaf siapapun anda bisakah anda tidak mengganggu saya saat jam kerja?" ucapku kemudian mengabaikan dia sambil melanjutkan apa yang sedang aku kerjakan. Setelah aku mengatakan itu, sepertinya dia langsung pergi. Dia meninggalkan ruangan ini sambil bersiul. Aku melihatnya sekilas. Menaruh telunjukku secara miring di dahi. Gila, ucapku tanpa suara. "Lun, lo tau siapa yang tadi lo usir itu?" Tanya Fiya sambil menghampiri mejaku lagi. Aku menggeleng menjawab pertanyaan Fiya itu. "Dia direktur utama perusahaan ini." ucapnya lagi. Mendengar ucapan Fiya membuatku langsung menenggelamkan kepalaku ke meja. Mati aku, cari gara-gara sama direktur utama. "Fiyaaaa." Rengekku saat aku memunculkan kepalaku lagi. Fiya hanya membalas dengan menggeleng dan menepuk bahuku. Aku menenggelamkan lagi kepalaku. Aku harus bagaimana.. *** Aku ingin menghilang sementara dari dunia ini, sungguh. Bagaimana bisa aku mengusir atasan ku sendiri. Bukan salahku juga tidak mengenal direktur utama perusahaan ini. Selama 5 tahun bekerja disini aku hanya tau direktur perusahaanku itu masih muda. Aku tidak begitu penasaran siapa dia. Dan aku tidak pernah melihat wajahnya. Tiap pesta atau acara kantorpun atasan dan bawahan selalu berbeda tempat. Tidak ada alasan aku untuk ikut serta ke meja para atasan. Saat sampai di kantor, Fiya melihatku dengan tatapan prihatin. Aku mencoba untuk memahami situasinya. Apa aku akan segera dipecat dari sini? Ah rasanya tidak mungkin, tapi itu bisa saja terjadi, ya kan? "Sabar ya Lun." Ucap Fiya saat aku baru masuk ke ruanganku. Aku meminta penjelasan kepada Fiya, kenapa aku harus sabar? Ah benar, bisa saja hari ini aku dipecat oleh bos besar. Aku baru duduk beberapa detik, tapi Bagas sudah menyuruhku untuk masuk ke ruangannya. Firasat burukku mulai menghantuiku. "Lunar, saya dengar kemarin kamu mengusir pak Elio." ucap Bagas saat aku sudah masuk keruangannya. "Maafkan saya pak, saya tidak sadar kalau itu adalah pak Elio." kataku sambil melihat sepatuku. Aku benar-benar tidak tau, lalu aku harus bagaimana. "Sekarang saya mau kamu ke ruangan pak Elio dan minta maaf kepada beliau." ucap Bagas lagi. Kali ini dia terlihat sangat serius. Dia memang menyebalkan. Tapi dia bisa jadi menyeramkan jika sudah menyinggung masalah sopan santun. Fiya contohnya. Dia pernah dipotong gaji oleh Bagas karena tidak sengaja memotong pembicaraan Bagas. "Baik pak, saya akan langsung minta maaf pada pak Elio." ucapku lagi. Aku langsung menuju ruangan Pak Elio. Bagaimana kalau aku akan benar-benar dipecat? Saat sampai di depan ruangan Pak Elio, aku mengambil nafas banyak-banyak untuk menenangkan diriku. Sebelum hendak mengetuk pintu ruangannya, ada sebuah suara yang terdengar di belakangku. "Loh, kamu ngapain ada depan ruangan saya?" Suara tiba-tiba itu membuatku kaget dan hampir jatuh. Dengan reflek tangan Pak Elio menahanku supaya tidak terjatuh. "Hati-hati, ini masih pagi jangan banyak melamun." ucapnya dengan tersenyum. Aku langsung berdiri dan membenarkan posisi ku berdiri. "Ekhem," aku mencoba untuk membasahi tenggorokan ku yang hampir kering. "Ada yang ingin saya sampaikan kepada bapak." lanjutku. Dia hanya memperhatikanku tanpa bersuara. Menungguku untuk memulai pembicaraan. Aku melihat ke arah pintu ruangannya. Memberinya isyarat untuk berbiacara di dalam ruangannya saja. Aku malu kalau harus berbicara di sini, meskipun aku yakin tidak akan ada orang yang mendengar, karena ruangan direktur utama terletak di lantai khusus, tapi tetap saja. Sepertinya dia mengerti dan langsung menyuruhku masuk keruangannya. "Ah, baiklah. Silahkan masuk dulu keruanganku." ucapnya. Seperti dugaanku, ruangannya sangat besar. Banyak miniatur bangunan-bangunan diruangan ini. Dokumen dan berkas-berkas pun terletak rapih di mejanya. Dia duduk di depanku. Aku masih berdiri sambil melihat ruangannya, ini sangat rapih. "Jadi apa yang ingin kamu bicarakan?" Dia membuka pembicaraan sambil melihat ke arahku. "Saya ingin minta maaf pak sebelumnya atas perbuatan saya yang kurang mengenakkan hati bapak kemarin, saya benar-benar tidak tahu kalau bapak adalah direktur utama disini." ucapku, aku harap-harap cemas menunggu responnya. Tidak ada jawaban apapun, aku meneladahkan kepalaku melihat kearahnya. Dia masih menatap ku dengan tatapan yang tidak aku mengerti. "Pak, saya dimaaafin kan?" Aku takut dia tidak mau memaafkanku dan akan memecatku sekarang juga. Dia tertawa sebentar. "Kamu mau minta maaf gara-gara kemarin?" tanyanya setelah berhenti dari tawanya. Aku membalasnya dengan menganggukkan kepalaku pelan. "Duh gimana ya, saya pengen maafin kamu sih, tapi saya masih sakit hati gara-gara perkataan kamu kemarin." tambahnya lagi. Rasa khawatir ku makin menjadi. Aku harus segera mencari pekerjaan yang lain. "Saya siap pak kalo saya harus di pecat saat ini juga." Kataku dengan tatapan putus asa. Aku tahu kesalahan ku sudah fatal, mengusir direktur utama. Hah, aku harus segera mengemas barang-barangku. "Loh, siapa yang mau pecat kamu." ucapnya lagi. Aku menatapnya dengan sedikit bingung. "Bukannya bapak mau pecat saya? Saya kan udah kurang ajar sama bapak." jawabku. "Iya kamu udah kurang ajar, tapi bukan berarti saya bakal pecat kamu juga." Jelasnya lagi. Aku masih menunggu hal selanjutnya yang akan dia katakan. "Kebetulan, asisten saya sedang hamil dan mengajukan cuti melahirkan selama 3 bulan. Jadi selama itu kamu bisa menggantikan posisi dia menjadi asisten saya." Aku sedikit terkejut dan mencoba menetralkan raut wajahku. Aku harus menjadi asisten direktur utama selama 3 bulan. Aku harus berdekatan dengan pria ini selama 3 bulan. Sepertinya ini lebih baik dari pada di pecat. Jujur aku belum tahu harus kemana jika aku benar-benar dipecat dari sini. "Gimana kamu pahamkan?" suara pak Elio memecahkan lamunanku. "Saya paham pak." jawabku kemudian. "Oke kalau gitu kamu bisa langsung mulai kerja. Bawa saja semua barang-barang kamu dari sana. Nanti biar saya yang bilang sama Bagas, kalau kamu jadi asisten sementara saya dulu." jelasnya lagi. Aku mengangguk dan kembali keruangan untuk mengambil perlengkapan kerjaku. "Lun, lu ga dipecat kan?" tanya Fiya saat aku masuk keruanganku. Aku menggeleng sebagai jawaban. "Gue disuruh jadi asisten dia selama 3 bulan." jawabku lagi menambahkan. Fiya menghela napas lega. "Tapi, kalau lu jadi asisten pak bos gue disini bakal sendirian dong Lun." ucap Fiya lagi. Aku menepuk bahunya. "Cuma 3 bulan. Gapapa, itu bentar doang kok." Jawabku mencoba menenangkan Fiya. Diruangan ini hanya ada 3 orang. Bagas, Fiya dan aku, sekarang aku harus pindah dulu ke ruangan direktur utama, jadi disini hanya akan ada 2 orang saja. "Semoga lu betah sama pak bos ya Lun." ucap Fiya lagi. Aku mengangguk, ya semoga aku betah. Karena aku harus menyesuaikan diriku lagi agar tidak kambuh sewaktu-waktu. Aku butuh waktu 3 bulan lebih untuk menyesuaikan diriku dengan Bagas. Sampai akhirnya aku bisa berbicara dan bersikap biasa saat Bagas ada di sekitarku. Semoga kali ini aku tidak harus membutuhkan waktu yang lama. Aku melihat Bagas keluar dari ruangannya, Bagas melirik tas yang aku bawa. "Sudah minta maaf sama pak Elio, Lun?" tanyanya sambil berjalan ke arahku. "Sudah pak, saya disuruh jadi asisten pak Elio selama 3 bulan." jawabku sesopan mungkin. "Tapi pak Elio belum bilang apapun ke saya." Kata Bagas lagi. "Saya tidak tahu itu pak, saya ijin pergi ke ruangan pak Elio ya pak, permisi." ucapku sebelum Bagas mencercaku dengan pertanyaan yang lain. Sejujurnya aku sedikit merasa senang ketika aku disuruh menggantikan posisi asisten pak Elio. setidaknya Bagas tidak mengganggu ku lagi selama beberapa bulan. Tok tok. Aku mengetuk pintu ruangan Pak Elio. suara yang menyuruhku untuk masuk pun terdengar. "Oke, kamu bisa mulai bekerja diruangan itu sekarang. Tugasmu sama seperti yang sebelumnya kamu lakukan di bagianmu. oh dan juga saya dengar kamu juga pernah jadi asisten Bagas kan? Jadi saya yakin kamu sudah mengerti bagaimana pekerjaan kamu disini." Pak Elio berkata panjang kali lebar. Mataku tidak bisa beralih ketika melihat nya berbicara. Matanya terlihat seperti memancarkan sesuatu, terlihat kelam, tapi indah. "Kamu ngerti kan, Lunar?" Petikan jari didepanku menyadarkanku dari lamunan. Bisa-bisanya aku melamun saat Pak Elio sedang bicara. "Maaf pak bisa tolong ulangi yang terakhir itu?" Ucapku ragu-ragu. Khawatir jika pak Elio akan merasa tersinggung nantinya. "Oke kamu harus siapin breakfast setiap pagi sebelum saya dateng harus udah tersedia di meja saya." jelasnya lagi. Oh sebentar, sarapan? Aku tidak pernah menyiapkan ini untuk Bagas waktu jadi asistennya dulu. Apa ini pekerjaan asisten juga? "Oh baik pak, breakfast apa yang harus saya siapkan untuk bapak?" Aku mencoba mengikuti semua permintaannya. iaterlihat seperti berfikir. "Ah cukup siapkan aku croissant dan teh chamomile." jelasnya lagi. Aku mencatat itu di buku catatanku. "Oh dan satu lagi, kamu harus mengikuti kemanapun saya pergi." tambahnya lagi. "Meskipun itu toilet?" tanyaku. "Ah kecuali itu, tidak usah." jawabnya sambil tertawa. "Baiklah pak, saya pamit untuk kembali ke ruangan saya." pamit ku setelah Pak Elio selesai memberi tahuku semua hal yang harus aku lakukan selama 3 bulan ini. "Lunar." panggilnya sebelum aku keluar. "Semoga kamu betah ya." ucapnya sambil tersenyum. Aku mengangguk. "Saya permisi pak." ucapku dan keluar dari ruangannya. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD