Chapter 4 : Pak Bos (Lunar 's POV)

2059 Words
Ini adalah hari ke 2 ku menjadi asisten Elio. Kemarin tidak ada hal aneh yang terjadi. Seperti biasanya, aku mengerjakan tugas ku dan Elio pun begitu. Dia terlihat begitu sibuk diruangannya. Pagi ini aku datang 30 menit sebelum jam kantor dimulai seperti biasanya. Aku mempersiapkan sarapan seperti yang Elio katakan kemarin. 2 potong croissant dan teh chamomile sudah aku siapkan di atas mejanya yang tidak ada dokumen diatasnya. Pukul 7.50 menit Elio sudah datang. Sepertinya hari ini dia datang lebih awal. "Selamat pagi pak." ucapku menyapanya sambil sedikit membungkukkan badanku. Dia membalasnya tanpa senyuman, hanya sedikit berdeham. Elio sepertinya sedang berada di suasana hati yang buruk. Aku berjalan mundur dan meninggalkan ruangannya. "Siapa yang suruh kamu keluar?" takas Elio saat aku hampir membuka pintu ruangannya. Tatapannya kini mulai melembut. "Ada yang ingin saya bicarakan sama kamu, tunggu sebentar." Ucapnya dan langsung menghilang dibalik bilik yang ada didalam ruangannya. "Hari ini saya ada pertemuan dengan Mr. Gautama, dan kamu harus ikut. Siapkan semua berkas dan dokumen yang saya perlukan." Sambungnya lagi setelah selesai dengan urusannya dari balik bilik tersebut. Dia berganti pakaian rupanya. Ketika dia datang tadi dia hanya memakai setelan semi formal dengan jas yang menutupi bajunya. Tapi kali ini dia sudah terlihat lebih rapi dari sebelumnya. Aku menganggukkan kepalaku sebagai tanda mengerti dengan tugasku kali ini. Dan pamit untuk keluar untuk menyiapkan berkas-berkas yang akan digunakan oleh Elio nanti. "Saya pamit keluar pak." ucapku dan meninggalkan ruangan tersebut. Berkas yang dibutuhkan oleh Elio sudah siap, sambil menunggunya keluar aku memainkan handphone ku sebentar. "Ayo kita berangkat." suara dari belakang tubuhku membuatku kaget. Sura itu terdengar tepat berada dibelakang telingaku. Aku berbalik dan melihat wajah Elio tepat didepan wajahku, hanya berjarak 1 sentimeter saja. Aku reflek langsung menjauhkan wajahku darinya. "Baik pak, mari silahkan." jawabku datar. Itu benar-benar membuatku takut. Wajah Elio yang berada didepanku membuatku takut. Sekuat tenaga aku mencoba untuk menetralkan badanku yang sedikit bergetar. Aku tidak melihat ke arah Elio lagi. Dimobilpun sebisa mungkin aku tidak duduk berdekatan dengannya, dan berbicara saat dibutuhkan saja. Elio melihat kearahku, sepertinya dia mulai menyadari perubahanku. Akhirnya kami sampai di tempat pertemuan dengan Mr. Gautama. Pertemuan kali ini berjalan cukup lama karena Mr. Gautama yang sangat terkenal sulit percaya kepada orang lain, tapi akhirnya mereka bisa mendapatkan deal untuk pekerjaan ini. Jam menunjukkan waktu makan siang saat pertemuan itu selesai. "Ini sudah jam makan siang, kita makan dulu saja ya sebelum balik ke kantor." katanya saat melewati jalanan yang mulai penuh dengan kendaraan lain. "Baik pak." jawabku mengiyakan ajakannya. Akupun sudah mulai lapar. "Apa saya melakukan hal yang salah sama kamu?" tanyanya lagi. "Kamu terlihat sedang menahan kesal." tambahnya. "Tidak ada apa-apa, Pak. Saya hanya merasa sedikit lelah." bohongku. Jujur aku tidak suka saat dia tiba-tiba berdiri tanpa jarak di dekatku. Itu membuatku tidak nyaman. Aku tidak nyaman saat ada lelaki yang terlalu dekat atau mencoba untuk mendekat ke arahku. Itu akan membuatku kambuh lagi. Untungnya tadi aku tidak sampai kambuh. Hanya sedikit gemetar saja. Dia melihat ke arahku lagi dan memperhatikan raut wajahku. "Kamu ga pandai bohong ya?" ucapnya sambil terkekeh. "Saya minta maaf kalau tadi saya ada salah sama kamu." Terusnya lagi sambil melihat ke arahku. Aku menganggukkan kepalaku pelan. "Bapak tidak salah apapun." jawabku kemudian. Suasana pun akhirnya kembali hening. Mobil yang kami kendarai akhirnya masuk kesalah satu kafe dimana saat pertama kali kami bertemu. Aku tidak tau apa kenapa dia membawaku kemari. "Saya lagi pengen makan siang disini, ga apa kan?" tanyanya saat mobil sudah terhenti di tempat parkir. Aku menggangguk pelan dan menjawab "Tidak apa pak." Akhirnya kami masuk kedalam kafe, suasana disini tidak begitu ramai maupun sepi. Elio memilih kursi yang biasa aku duduki, kursi ujung samping jendela. "Saya pesen nasi goreng seafood 2 pake cumi aja ya seafoodnya gausah pake udang, sama blueberry jus nya 2 ya. " katanya saat pelayan menghampiri kami. Tanpa bertanya aku mau makan apa dia sudah memesannya. Bagaimana dia bisa memesan menu kesukaanku itu? "Kamu suka kan nasi goreng seafood kan?" tanyanya setelah pelayan pergi ke dapur untuk menyerahkan pesanan kami. "Iya pak, saya suka." Jawabku masih singkat. Minuman kami datang lebih dulu. Dia menyerahkan salah satu gelas ke arahku. "Silahkan dinikmati jangan canggung-canggung." Ucapnya sambil tersenyum. "Hari ini kamu berangkat naik apa Lunar?" tanyanya sambil menunggu nasi goreng kami. "Motor saya sedang mogok dan saya belum sempat membetulkannya, jadi saya pulang pergi dengan ojek online pak." jawabku. "Rumah kamu di daerah mana? biar saya antar kamu pulang nanti." Dia berbicara dengan entengnya. Apa tadi dia bilang ingin mengantarkan? Oh aku harus menghentikan niatnya ini. "Tidak perlu pak, rumah saya jauh dari kantor." dustaku, Tuhan maafkan aku. Hari ini aku sudah banyak berbohong. Hanya Fiya yang mengetahui rumahku. Bagas pun sudah mencoba mengantarkanku berkali-kali tapi selalu aku tolak. "Tidak apa, barang kali arah rumah kita sama, lumayan kamu bisa ngirit ongkos kan." Dia masih berusaha. Ketika ingin membalasnya pesanan kamipun datang, aku tidak sempat menjawabnya. Kami makan dalam diam. Hanya terdengar suara denting sendok dan garpu diantara kami. Aku melirik dari sudut mataku ke arah Elio. Dan tanpa kusadari Elio pun sedang melihat ke arahku. "Uhuk uhuk." makanan yang sedang ku makan tiba-tiba menutup pernapasanku. Aku tersedak, Elio memberikan gelas minumanku dan tisu. Menepuk punggung ku dengan perlahan. "Kamu ga apa-apa Lun?" tanyanya khawatir. Matanya benar-benar terlihat khawatir. Aku memandangnya sebentar. "Tidak apa-apa pak." jawabku sambil melepaskan tangannya yang ada di bahuku. "Bapak kenapa ngeliatin saya terus?" Ucapku saat dia sudah kembali ke tempat duduknya. "Siapa juga yang ngeliatin kamu. Saya sedang liatin orang yang dibelakang kamu tadi." Jawabnya dengan santai. AKu melihat kearah belakangku. Tidak ada apapun disitu. "Bapak bohong." ucapku sambil memicingkan mata. Dia terkekeh "Kamu makannya lucu, seneng aja liatin kamu gitu." lanjutnya lagi. Mataku memicing setelah mendengar jawabannya. Apa yang lucu dariku? "Kalau sudah selesai makannya mending kita balik ke kantor, jam masuk bentar lagi." Kata Elio sambil membereskan jas nya. Aku segera menghabiskan makananku dan menghampiri Elio yang sudah menunggu di luar kafe. Jangan salahkan aku kalau aku makan lama. Salahkan Elio kenapa harus ngeliatin aku pas lagi makan. "Udah semua? Ayok." ucapnya saat aku baru sampai di sampingnya. Kami berdua akhirnya meninggalkan kafe itu dan kembali ke kantor. "Lun, Lunar." Saat ingin kembali keruangan Elio ada yang memanggilku dari arah lift. Fiya sedang berdiri disana dengan Bagas sambil melambaikan tangannya. Bagas melihat ke arahku dengan tatapan yang sangat intens. Sebisa mungkin aku tidak mau melihat mata Bagas. Rasanya bisa saja keluar api dari matanya itu. "Abis nemenin pak bos dinas ya?" tanya Fiya saat aku sudah sampai di depan mereka. Aku mengangguk, mengiyakan ucapan Fiya. Bagas yang disamping Fiya hanya mendengarkan kami para wanita berbicara. Lift pun akhirnya terbuka, sebelum masuk kedalamnya Elio memangilku dan menyerahkan cermin ku yang tertinggal di mobilnya. Kukira dia hanya ingin memberikan itu saja. Rupanya dia juga ikut masuk kedalam lift bersama dengan kami. Bagas menekan tombol 3 dimana ruangan dulu ku berada. dan Elio menekan tombol 9. Suasana teras begitu canggung. Siapapun tolong bicara. "Oh iya Bagas, nanti datang keruangan saya ya. Bawa laporan keuangan bulan ini." Ucap Elio kemudian setelah lama dalam keheningan. "Baik pak." jawab Bagas. Elio hanya mengangguk dan suasana pun kembali hening. Saat Lift berhenti di lantai 3 Bagas dan Fiya keluar dari lift. Sebelum keluar Bagas kembali melihat ke arahku. Fiya melambaikan tangannya pelan. Elio melihat ku dan Bagas secara bergantian. "Apa kamu ada hubungan dengan Bagas, Lun?" tanyanya saat pintu lift tertutup kembali. "Tidak ada pak." jawabku ketika lift kembali naik ke lantai berikutnya. "Tapi daritadi Bagas ngeliatin kamu terus loh." ucapnya lagi. Akupun tidak tau kenapa Bagas melihatku seperti itu. Bagas terlihat sedikit aneh. Akhirnya kami sampai di ruangan Elio, Elio langsung masuk ke ruangannya dan aku pun demikian. Kembali mengerjakan tugasku yang harus ku selesaikan hari ini. Tidak lama kemudian Bagas datang untuk menepati pangilan Elio tadi. "Selamat siang pak Bagas." Ucapku saat dia hendak masuk keruangan Elio. Dia berhenti sebentar dan melihat ke arahku. "Baru sehari aku ga liat kamu, tapi aku udah kangen sama kamu Lun." ucap Bagas. Tuhan aku benar-benar ingin memutar bola mataku saat ini. Dia belum berhanti rupanya. Dia masih saja seperti itu. " Pulang nanti bareng aku ya Lun, aku punya sesuatu buat kamu dari ibuku." ucapnya lagi. Apa-apaan kali ini. Dari ibunya? "Saya ada janji pak setelah ini, jadi mohon lain kali saja." aku masih mencoba menjawab dengan sesopan mungkin. Aku harus segera mengalihkan pembicaraan ini bagaimanapun caranya. Untung saja telepon yang ada di meja ku berdering. "Ya Pak Elio?" jawabku ketika suara diseberang telepon itu memanggil namaku. "Baik pak, akan saya sampaikan segera." sambungku. "Pak Bagas sudah ditunggu pak Elio di dalam, silahkan masuk." Ucap ku kepada Bagas setelah aku menutup telepon itu. Berterimakasihlah aku kepada Elio. *** Aku tidak tau apa yang tadi mereka berdua bicarakan di dalam sana, tapi raut wajah Bagas sangat terlihat marah saat keluar dari ruangan Elio. Bagas memendangku sekilas dan langsung pergi begitu saja. "Lunar, saya mau keluar sebentar. kalau ada yang nyariin saya bilang aja saya lagi ada urusan ya." Elio mengikuti Bagas keluar dari ruangannya. "Baik pak," jawabku, aku penasaran apa yang tadi mereka bicarakan, tapi aku harus ingat aku tak boleh ikut campur. "Kalau nanti kamu mau pulang hubungi saja saya ya." Kata Elio lagi sambil mengambil handphone ku yang ku taruh diatas meja. Jarinya menari diatas layar handphoneku. Kemudian dia mengembalikannya kembali ke atas mejaku dengan layar yang masih menunjukkan nomer teleponnya. Elio pergi begitu saja setelahnya. Meninggalkan ku dengan wajah yang sedikit bingung. Apakah aku harus benar-benar menghubunginya saat pulang nanti? Tanpa memikirkannya lagi aku langsung duduk kembali dan melanjutkan pekerjaan yang sempat terlupakan beberapa menit yang lalu. Jam kantor pun akhirnya selesai. Aku hendak membereskan barang-barangku. Mengambil handphoneku dan berfikir sebentar. Haruskah aku menghubunginya. Tapi siapa aku sampai harus menghubunginya begitu. Tanpa berpikir panjang aku langsung membuka aplikasi ojek online dari handphoneku. Mana berani aku menghubungi bos ku sendiri kalau tidak ada hal yang penting. Setelah mendapatkan ojek nya aku keluar ruangan dan bermaksud untuk menunggunya di depan pos satpam saja. Di depan pos satpam aku bertemu dengan Fiya yang juga menunggu jemputan ojeknya. "Lunar." tangannya melambai ke arahku, menyuruhku untuk cepat menghampirinya. "Lo tau ga sih, tadi Pak Bagas ngamuk gitu diruangan." Kata Fiya setelah aku sampai ke arahnya. "Masa sih? Kenapa lagi itu orang?" jawabku sedikit tertarik dengan topik pembicaraan ini. Meskipun aku tidak menyukai dan sedikit risih dengan Bagas, tetap saja aku merasa tidak enak hati kalau sampai Bagas misuh-misuh atau lebih parah lagi dari itu gara-gara aku. "Abis ketemu pak Elio kayaknya dia langsung misuh-misuh ngga jelas gitu. Aku aja sampe kena semprot berapa kali." kata Fiya lagi menambahkan. "Kenapa ga di depan aku aja sih ngomonginnya Fiya?" Suara berat dari arah belakang kami membuat Fiya menghentikan ucapannya. Fiya reflek menutup mulutnya dengan kedua tangannya. "Ya, ini kan kami lagi ada di depan bapak, bukan dibelakang bapak." posisi kami berdiri saat ini memang di depan Bagas. Salahkan saja mulutku ini kenapa juga repot-repot nyinyirin Bagas. Wajah Bagas sedikit mengerut, mungkin dia heran melihatku membalas ucapannya. Ah sepertinya aku salah bicara. "Saya pamit duluan ya pak, ojol saya udah sampe di depan. Permisi pak, duluan ya." Ucapku supaya bisa kabur dari situasi canggung ini. Ojek online ku masih jauh sebenarnya. Aku hanya tidak ingin berlama-lama dengan Bagas, jadi aku memilih untuk berbohong. Sebelum ojek ku sampai, handphone ku berdering, menandakan ada panggilan yang masuk. Nomor baru tidak dikenal, apakah harus aku angkat atau biarkan saja? Bagaimana kalau ini telepon penting. Dengan ragu-ragu aku mengangkatnya. "Halo." kataku dengan suara yang kecil, mungkin orang lainpun tidak bisa mendengarnya. "Lunar kamu sudah selesai?" Suara Elio terdengar di seberang sana. Ah rupanya Elio memastikan apakah aku sudah selesai atau belum. "Saya sudah menyelesaikan semua pekerjaan saya pak, ini saya juga sudah mau pulang pak. " jawabku. Suara di seberang telepon sangat berisik. Sepertinya dia sedang ada diluar. "Kamu tunggu 5 menit saya akan segera sampai disitu." ucapnya dari seberang. Kenapa dia terburu-buru sekali. Aku tidak mungkin juga pulang dengan atasanku sendiri. Tidak lama kemudian ojek online ku sampai, bertepatan dengan Elio yang juga turun dari mobilnya. Elio menarik tanganku, mencegahku untuk naik ke ojek itu, dan segera mengeluarkan beberapa uang dari dompetnya memberikannya kepada ojol itu. Berani-beraninya dia menarik tanganku. Dia memang atasanku tapi kenapa dia bersikap seperti ini? Aku hanya menatap tangannya yang berada di atas tanganku tanpa banyak bicara aku melepaskannya dan pergi dari tempat itu. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD