Aku tidak tau apakah ini benar atau tidak. Reflekku benar-benar tidak baik saat ada orang lain yang belum terlalu dekat denganku mencoba untuk mendekatiku. Akhirnya aku pulang menggunakan ojek online yang masih ada disana tanpa melihat ke arah tempat Elio berada.
Jalanan hari ini tidak begitu ramai, saat aku sampai dirumah jam menunjukkan pukul 18.00 tepat.
"Ahhh,." aku melempar badanku kearah sofa. Badanku terasa sangat lengket dan sangat lelah. 2 hari dihitung sejak kemarin aku menjadi asisten Elio. Sudah 2 hari pula Elio membuatku terkejut dengan perlakuan yang dia tunjukkan terhadapku. Apakah aku sanggup bertahan menjadi asistennya selama 3 bulan kedepan? Memikirkan bagaimana sikap Elio membuat ku menjadi lapar, dan cacing di perutku mulai meminta makan. Aku memaksakan diriku untuk mandi dan kemudian pergi ke dapur untuk membuat sesuatu yang bisa aku makan hari ini. Sayangnya di kulkas tidak ada stock apapun. Dan itu berarti aku harus pergi untuk membeli stock dapurku.
Syukurlah saat aku pulang tadi, pekerja service yang membetulkan motorku sudah datang dan motorku sudah menjadi lebih baik dari sebelumnya. Tapi karena aku akan berbelanja, jadi aku mengeluarkan mobilku dari garasi dan pergi menuju supermarket di arah Sudiman. Jalanan cukup padat saat aku menuju supermarket. Setelah 30 menit dijalanan akhirnya aku sampai di supermarket.
Saat akan mengambil troli belanjaan, ada tangan juga di atas troli yang ku ambil. Tanpa melihat wajahnya aku melepaskan troli itu, berniat untuk membiarkan orang itu untuk mengambilnya terlebih dahulu. Tapi dia menyerahkan kearahku.
"Lunar sering belanja disini juga?" katanya sambil mencoba mengambil keranjang yang lebih kecil di sampingku. Saat aku mendengar suara itu, aku langsung melihat kearah wajahnya. Itu Elio.
"Pak Elio." dengan suara yang sedikit pelan tapi masih bisa di dengar olehnya. Aku masih sedikit sungkan dengannya. Setelah tadi sore aku bersikap seperti itu kepadanya. Bagaimana bisa sekarang aku malah bertemu dengan Elio? Apa ini masuk akal?
"Mau belanja apa Lun?" Tanyanya dengan tangan yang sudah membawa keranjang di tangannya, masih menunggu jawaban dariku. Aku harus jawab bagaimana?
"Iya Pak, kebetulan stok makanan dirumah sudah habis." Jawabku setelah menetralkan raut wajahku. Rasa bersalah dan tidak enak hati membuatku merasa sedikit canggung. Apalagi dia adalah atasanku. Bagaimana kalau aku nanti di pecat? Semoga Elio tidak akan memecatku.
"Wah senengnya saya jadi punya temen belanja. Ayok Lun, kita belanja bareng aja ya. Saya juga pengen belanja bulanan nih." katanya dengan sumingrah. Beruntunglah aku, Elio sepertinya biasa saja setelah kejadian tadi sore. Dan sepertinya kebutuhannya lebih sedkit daripada kebutuhanku sampai- sampai dia hanya membawa keranjang dan bukan troli. Akhirnya kamipun masuk dan berjalan beriringan ke dalam supermarket. Berjalan dari rak ke rak, dari mulai rak bagian mie instan, sembako dan saat ini berada di bagian rak snack. Kami berbelanja bersama tanpa suara. Sampai akhirnya suara dari Elio memecahkan keheningan kami berdua.
"Apa kamu biasa belanja di tempat yang jauh dari rumahmu Lun?" tanyanya saat kita mulai berjalan ke rak cemilan.
"Eum, engga juga sih pak, cuma saya emang lagi pengen jalan-jalan aja." jawabku sambil memilih-milih snack kentang dan mengambil beberapa untuk stock, dan Elio pun melakukan demikian. Aku memang sedikit bosan dan ingin jalan-jalan malam ini.
"Ohh, kamu udah makan? Gimana kalau abis belanja kita makan dulu?" tawarnya kemudian. Aku memang sudah berniat untuk makan setelah berbelanja semua kebutuhanku itu.
"Boleh pak, kebetulan saya juga pengen sekalian pergi buat makan." putusku akhirnya. Dia mengangguk sambil melihat ke arahku. Sepertinya dia terlihat sangat senang.
Akhirnya kami berdua selesai berbelanja. Setelah selesai membayar dan memletakkan belanjaan kami masing-masing, akhirnya aku dan Elio pergi keluar dan memilih untuk makan di warung tenda yang ada di dekat Supermarket yang tadi kami kunjungi. Kami pergi dengan berjalan kaki. Sengaja agar tidak perlu mengeluarkan mobil kami dari parkiran.
"Kamu ga apa kan makan disini Lun?" Tanya Elio saat kami sampai di warung tenda tersebut. Aku memilih menu ayam bakar sedangkan dia lebih memilih menu nasi pecel.
"Ngga apa-apa kok pak, saya juga sering makan disini." Jawabku. Aku memang tidak begitu pemilih tentang makanan, dimanapun itu selagi nyaman dan enak aku akan makan disana.
"Eummm, Pak, saya mau minta maaf soal tadi sore. Saya udah ga sopan sama bapak, tapi itu benar-benar cuma reflek saya saja pak." Ucapku saat kami sedang menunggu makanan kami datang. Elio memandangku sebentar, dan tersenyum kecil.
"Harusnya saya yang minta maaf Lun, kamu pasti kaget saya langsung ngajakin kamu pulang bareng kan?" kata nya lagi. Aku melihat dia tersenyum dan wajahnya benar-benar seperti malaikat. Semakin ku perhatikan lagi wajahnya ternyata dia memang sangat tampan. Selama ini aku hanya mendengarnya dari teman-temanku tanpa mencari tau tentangnya sedikitpun. Matanya bulat besar, rahangnya yang tegas dan hidungnya yang mancung, ada tahi lalat yang menghiasi hidung dan bawah matanya.
"Lunar. kamu ngeliatin apa dari tadi?" tangannya melambai di depan wajahku. Wajahnya saat ini terlihat sedikit bingung.
"Lun, Lunar." dia menggoyang bahuku.
"Eh iya pak, kenapa ya ada apa?" jawabku sedikit linglung. Bahaya bagaimana bisa aku melihatnya seperti orang kemasukan seperti ini. Tapi aku akui dia memang sangat tampan.
"Saya minta maaf sama kamu tadi siang sudah maksa kamu buat pulang bareng saya." Katanya lagi. Aku menganggukkan kepalaku dengan semangat dan dia akhirnya tertawa. Lagi tawanya begitu indah. Tuhan bagaimana bisa ada makhukmu yang terlihat sangat sempurna seperti ini.
"Apa bapak biasa mengajak asisten bapak pulang bersama seperti itu pak." Tanyaku akhirnya sedikit penasaran dengannya. Perlakuannya kepadaku membuat aku menjadi sedikit harus berhati-hati kepadanya.
"Eummm, engga sih, tadi saya cuma pengen tau rumah kamu aja." jawabnya. Akhirnya makanan kami pun datang. Kami banyak berbincang selama makan. Dari mulai masalah pekerjaan sedikit sampai tentang berita yang sedang banyak diperbincangkan saat ini.
"Oh iya Lunar, kamu udah berapa lama kerja di perusahaan itu?" tanya nya setelah menyelesaikan suapan terakhir makanannya. Aku mengambil minumku dan meminumnya sedikit sebelum menjawab pertanyaannya.
"Eum, kurang lebih 5 tahun nan sih pak." Jawabku setelahnya.
"Dan kamu belum naik jabatan? Padahal pekerjaan kamu itu sudah cukup baik loh untuk naik jabatan." jawabnya lagi. Aku pun akhirnya berpikir, apakah pekerjaanku benar-benar bagus? Tapi kenapa selama ini Bagas selalu memarahiku?
"Mana mungkin pak kerjaan saya bagus, Pak Bagas aja sering marahin saya kok, katanya kurang ini kurang itu." jelasku saat aku sudah memikirkan ucapan Elio. Elio kembali tertawa mendengar penjelasanku. Sepertinya dia mengetahui sesuatu tentang Bagas.
"Bagas bertingkah seperti itu?" tanya nya lagi masih dengan tawanya yang sudah mereda. Aku mengangguk lagi. Memang Bagas seperti itu kepadaku.
Akhirnya kami berdua selesai makan, aku dan Elio kembali ke supermarket tersebut untuk mengambil kendaraan kami dan pulang menuju rumah kami masing-masing. Sebelum masuk ke kendaraan kami, Elio meminta izin untuk menghubungiku diluar pekerjaan, dan aku membolehkannya. Barang kali dia membutuhkan bantuan ku yang lain juga diluar pekerjaan kan? Aku mencoba berfikir positif saja.
***
Aku terbangun karena sinar matahari yang menyinari tepat ke arah mataku.
"Eunggh." aku mencoba menghalangi agar sinar matahari tidak menyilaukan mataku. Oh ya kemana selimutku pergi? Aku langsung duduk dan mencari letak selimut yang tadi malam aku gunakan saat tidur. Dia sudah berada di bawah sana. Malam ini aku tidur dengan sangat lelap setelah minum obat tidur yang aku dapatkan kemarin. Saat melihat jam di nakas ternyata sudah menunjukkan pukul 7 pagi. Aku mengambil handuk dan langsung membersihkan diri di kamar mandi.
Selesai mandi dan bersiap-siap aku akhirnya berangkat ke kantor. Kali ini aku membawa sepeda motor kesayanganku lagi. Setibanya di kantor aku pergi ke kafetaria yang ada di kantor dan tanpa sengaja bertemu dengan Fiya.
"Lunar, sini." Fiya memanggilku sambil melambaikan tangannya dengan semangat.Aku heran umur Fiya sudah kepala 3 dan Fiya pun sudah punya anak, tapi kelakuannya masih seperti itu. Aku berjalan ke arah FIya sambil membawa kopiku. Seperti biasa, sebelum menyiapkan croissant dan teh untuk Elio aku akan ke kafetaria untuk minum kopi.
"Kemarin gimana? Lo jadi balik sama siapa? Ojol apa pak bos?" tanyanya langsung saat aku baru menduduki kursi yang ada di depannya. Aku menyesap kopi ku sebentar.
"Gue pulang naik ojol kok." jawabku kemudian.
"Lo liat ga sih muka pak Elio kemarin, Lun?" tanya Fiya. Aku menjawabnya dengan menggeleng. Setelah naik ojol aku tidak melihat ke arah belakang lagi.
"Pak Elio senyum sinis, liatin lo tau." tambahnya kemudian. Masa iya pak Elio begitu. Kemarin bahkan dia yang meminta maaf kepadaku.
"Masa sih yang bener? Lo ga salah liat Fi? Orang kemarin malem gue ketemu beliau kok. Beliau malah minta maaf sama gue karena maksa gue pulang bareng dia." aku menjelaskan nya kepada Fiya kejadian kemarin malam saat kami makan bersama.
"Terus, terus lo ngapain aja kemarin malem sama pak bos, Lun?'' tanya Fiya semakin memajukan badannya kearahku. Sepertinya dia amat penasaran. Baik lah akan ku kerjai dia. Tanpa menjawab apapun aku pergi meninggalkannya, dan bermaksud untuk menyiapkan teh dan croissant untuk Elio.
Ketika baru selesai menata sarapan Elio di meja, pintu ruangan Elio pun terbuka. Disana Elio berdiri sambil menggantungkan jas di lengannya.
"Makasih Lunar." katanya sambil menyampirkan jas nya di kursinya. Aku menunduk saat Elio menyampirkan jasnya sembari sedikit mundur dari mejanya.
"Sama-sama pak, saya pamit keluar." pamitku kemudian bermaksud untuk melakukan pekerjaan ku yang lain. Elio membalasnya dengan mengangguk kecil dan tersenyum. Aku masih merasa sedikit canggung saat kami berada di kantor. Akupun memulai pekerjaan ku hari itu dengan sangat damai.
Telepon di sampingku berbunyi, dan saat aku mengangkatnya suara Bagas terdengar dari seberang sana.
"Halo, Lunar, apa pak Elio ada di ruangan saat ini." tanyanya dari seberang sana.
"Ada pak, apa ada yang perlu saya sampaikan kepada Pak Elio?" tanya ku memastikan apa yang perluku lakukan untuk membantunya.
"Tidak apa-apa saya akan segera kesana sekarang." Jawabnya dan telepon pun tertutup.
Sebelum mereka datang kemari aku harus menyampaikannya dulu ke Elio kalau Bagas tadi mencarinya. Aku kemudian menghubungkan telepon kepada Elio.
"Maaf mengganggu pak Elio, tadi Pak Bagas menelpon menanyakan keberadaan bapak katanya akan menuju kemari segera." ucapku setelah mendengar Elio menyebutkan namaku.
Tidak lama kemudian akhirnya Bagas pun kemari, tapi dia tidak sendirian. Ia datang dengan seorang laki-laki yang tidak ku kenal.
"Pak Elio masih ada diruangan kan, Lun?" tanyanya lagi memastikan keberadaan Elio. Aku mengangguk dan melihat ke arah laki-laki yang datang bersama Bagas. Dia memandangku terus-menerus.Bagas yang menyadari itu akhirnya langsung mengajak laki-laki itu masuk keruangan Elio.
Beberapa menit kemudian mereka keluar. Elio pun ikut keluar mengantar kepergian Bagas dan orang asing itu.
"Lun, udah jam makan siang. Kamu mau makan di kantin kantor apa ke kafe aja?" tanya Elio setelah mengantar Bagas dan orang itu. Tunggu apa Elio tau aku sering pergi ke kafe itu?
"Bapak tau saya sering istirahat di kafe?" tanya ku sedikit curiga. Wajahnya sedikit gugup tapi langsung kembali seperti semula lagi.
"Ya ga juga, kan waktu itu saya ngeliat kamu di situ." jelasnya. Ah mungkin maksudnya saat insiden kopi tumpah itu.
"Ah, iya. Saya makan siang di kantin saja pak." Jawabku akhirnya.
"Baiklah, saya ada urusan sebentar. Kalau ada yang mencari saya tinggal kamu yang handle dulu ya kerjaannya." Katanya dengan enteng. Loh tunggu ini apa lagi? kenapa aku yang harus menghandle nya?
"Loh memang tidak apa kalau saya yang menghandle pekerjaan bapak?" tanyaku lagi. Dia mengetuk dahiku kemudian berkata lagi.
"Ya engga dong, tentu saja ga bisa. maksud saya kamu bisa rekap itu dulu dan nanti laporkan ke saya, gitu Lunar." Jelasnya lagi kali ini dengan senyuman yang menghias wajahnya.
Setelah itu dia pun akhirnya pergi menyelesaikan urusannya dan akupun pergi untuk makan siang dengan Fiya dan teman-teman yang lainnya. Saat dikantin pun sama, Fiya memulai gosipnya tentang Elio.
"Lun tadi gue liat pak Elio di jemput sama cewek loh. Mana cantik banget ceweny Lunarrrrrr." Ucap Fiya dengan sangat hebohnya.
"Ih, Fiya. Lo bisa pelanin dikit ga sih suara lo. Nanti kena semprot kaya kemarin lagi, Malu gue." Aku sedikit memukul lengan Fiya dengan pelan. Aku tidak mau sampai omongan Fiya terdengat oleh Elio seperti Bagas mendengar kami membicarakannya kemarin.
"Tapi seriusan cewenya cantik banget Lun. kaya idol korea yang gue suka." tambahnya lagi, tapi kali ini dengan suara yang lebih pelan dari pada sebelumnya. Sebenarnya akupun sudah mulai sedikit penasaran dengan pak bos yang satu itu. Aku pernah mendengar beberapa gosip tentangnya, tentu saja sumber utamanya dari Fiya. Aku sering mendengar tentang bos yang katanya penyuka sejenis dan tidak pernah tertarik dengan wanita. Pasalnya pegawai bagian resepsi sering mencoba menggodanya tapi tidak ada respon yang dia berikan. Jadilah gosip itu berkembang di antara para karyawan dan staf yang ada.
***