Chapter 9 : Siapa orang itu (Lunar's POV)

1829 Words
Sudah hampir 3 hari aku berdiam diri disini di temani dengan Elio yang setiap hari datang untuk sekedar melihat atau membawakan aku makanan. Sejujurnya aku sudah tidak betah berada disini. Beberapa saat kemudian Bagas datang kesini bersama dengan seorang pria yang sempat bersamanya ketika bertemu dengan Elio waktu itu. "Aku minta maaf sama kamu Lun." ucapnya ketika matanya melihat ke arahku. Aku tidak melihat maupun merespon nya. Saat dia hendak mencoba mengambil tanganku untuk minta maaf, aku langsung menghempaskan tangannya dengan kasar. Aku ingin memaafkannya, tapi perlakuannya hari itu selalu teringat dan itu membuatku sering bermimpi hal itu berulang kali. Elio hanya memperhatikan kami berdua tanpa mendekat ke arah kami. Mungkin dia juga tau bahwa aku perlu menyelesaikan masalahku sendiri, sedangkan orang itu berdiri menunggu Bagas diluar ruanganku. "Pergi, saya gamau liat muka bapak sekarang." ucapku saat Bagas masih terdiam disana. Aku melihat Bagas menghela napas panjang dan meninggalkan ruanganku. Lelaki yang datang bersama Bagas tadi melihat ke arahku, aku melihatnya tersenyum miring. Setelah Bagas keluar Elio menyerahkan buah-buahan yang sudah dia kupas tadi. Aku hanya melihatnya tanpa minat. Aku masih tidak ingin berbicara dengannya, siapapun itu selama dia adalah laki-laki aku tidak mau berbicara dengan mereka. Elio melihat ku dengan tatapan kasihan. Aku benci dengan tatapan Elio kepadaku saat ini. Elio mendekat kepadaku dengan tangannya yang membawa satu buah apel yang sudah dikupas olehnya. "Kamu ga mau makan apel ini Lunar? Ini keliatan seger banget loh padahal." Saat ini Elio mencoba membujukku untuk makan buah yang ada ditangannya saat ini. Aku hanya melihatnya dan menutup tubuhku dengan selimut yang sedari tadi aku pegang. Aku mendengar suara helaan napas. Entah sudah berapa kali aku mendengar suara helaan napas seperti itu. Beberapa saat kemudian aku mendengar suara Fiya. Aku membalikkan tubuhku, Elio sudah tidak ada disana. Sepertinya dia pergi begitu aku menutup tubuhku dengan selimut itu. "Lunar, Lo udah makan?" tanyanya sambil menaruh rantang makanan yang dibawanya. Tercium bau makanan yang sangat menaikkan selera makanku. Aku menjawab pertanyaan Fiya dengan gelengan. "Belum, gue bosen banget sama makanan yang ada disini Fi. Gue pengen cepet pulang rasanya." Eluhku kepada Fiya, aku merasa saat ini aku seperti anak kecil yang merengek meminta mainan kepada ibunya. Fiya melihat kearah nakas, disana ada buah yang tadi di potong oleh Elio. "Ini kenapa buahnya ga lo makan coba?" Fiya mengomeliku saat melihat buah itu masih utuh belum aku sentuh sama sekali. Aku hanya melihatnya sekilas dan memandang Fiya kembali. "Pak El ya yang kupasin dan potongin ini semua?" Tanya Fiya kemudian. Aku mengangguk kecil. "Mau sampe kapan lo gitu sama Pak El, Lun? Beliau yang udah nolongin lo saat itu, kalo lo inget itu." ucap Fiya kemudian, sambil meminggirkan buah yang ada di atas nakas dan meletakkan semua bungkusan yang dia bawa dengan rapih. "Gausah lo ingetin lagi Fi, gue juga inget banget, sampe-sampe gue pengen hilang ingatan rasanya." ucapku sambil mengambil satu potong buah yang tadi di pinggirkan oleh Fiya. "Gue tau lo pasti kecewa banget saat ini sama Pak Bagas, gue juga ga bisa maksa lo buat maafin dia. Tapi setidaknya lo jangan begini kesemua orang. Lo gatau kan seberapa khawatirnya Pak Elio waktu dia bawa lo kesini kan?" ucap Fiya panjang lebar. Oiya bagaimana dia bisa berada di rumahku dan menyelamatkanku waktu itu ya. Akupun sedikit penasaran. Tidak mungkin itu kebetulan kan? "Gue pengen makan soto deh Fi." Ucapku saat Fiya mengeluarkan apa yang dia bawa. Fiya membawa nasi padang kemari. Dia membawa 2 bungkus nasi padang, untukku dan untuk dirinya sendiri. Saat mendengar ucapanku, Fiya memandangku dengan tatapan tajamnya. "Lo sakit aja banyak maunya ya Lun, gimana kalau udah sembuh nanti." ucapnya mencak-mencak ke arahku. Aku menatap Fiya dengan wajah tanpa dosaku, biasanya orang akan luluh saat melihat ku seperti ini. "Please ga usah pasang muka kaya gitu Lunar, itu ga ngaruh buat gue." ucap Fiya akhirnya. Aku membuat ekspresi wajahku datar kembali. Saat Fiya sedang mengamuk, Elio datang masuk dengan membawa satu bungkusan. Dari aromanya sepertinya itu adalah soto yang aku idam idamkan saat ini. Elio menyerahkan bungkusan itu ke arahku. "Saya tau kamu pengen soto kan, ini saya bawain soto buat kamu." ucap Elio ketika dia mengarahkan bungkusan itu kepadaku. Aku menatapnya bungkusan itu dengan lama. Apakah aku harus menerimanya atau tidak. Fiya yang saat itu terlihat tidak sabaran akhirnya mengambil bungkusan itu dari Elio. "Ya ampun, bapak sampai repot-repot bawain Lunar soto, padahal mah gausah harusnya pak." kata Fiya sambil menaruh bungkusan itu di atas pangkuanku. Elio hanya terkekeh melihat Fiya yang sudah seperti ibu yang memarahi anaknya, yaitu aku. "Dimakan ya Lun, jangan di jadiin pajangan kaya buah disamping kamu itu." Ucap Elio sambil melihat ke arahku. "Saya pamit ya Fiya, saya nitip Lunar dulu." lalu Elio berpamitan dengan Fiya. Akhirnya sekarang hanya ada aku dan Fiya disini. "Itu mau di liatin aja atau mau dimakan sekarang?" tanya Fiya sambil menunjuk bungkusan di pangkuanku. "Makan sekarang aja, gue laper." jawabku akhirnya. Dan setelah itu kami makan dengan damai, tanpa ada yang membuat suara satupun. *** Akhirnya hari ini aku bisa keluar dari rumah sakit setelah menerima perawatan selama 1 minggu. Selama di rawat aku sering sekali menerima surat dan buket bunga lili dari orang yang tidak ku kenal. Dia selalu menitipkan bunga itu kepada perawat yang hendak masuk ke ruanganku. Dan hari ini pun demikian. Aku menerima buket bunga yang cukup besar, dengan surat yang tidak lupa terselip di antara bunga itu. Selamat atas kesembuhan mu Lunar. Kalimat itu tertulis di kertas yang ada di buket bunga tersebut. Kali ini dia mengirimkan bunga krissan biru yang sangat indah. Aku pulang dengan naik taksi. Fiya masih bekerja dan aku tidak ingin merepotkan Elio lagi. Sandra, sepertinya dia sedang sibuk saat ini, jadi aku memilih untuk pulang sendirian. Saat hampir sampai di rumahku, aku melihat seseorang yang berpakaian serba hitam sedang memperhatikan rumahku dari luar. Perawakannya terlihat seperti laki-laki. Saat aku turun dari taksi dia langsung pergi dari sana. "Makasih ya pak." ucapku kepada supir taksi itu. Oh, aku bisa sedikit berbaur dan berbicara lagi dengan laki-laki sekarang. Meskipun mimpi itu masih tetap mengganggu ku setiap malam saat aku tidur. Dan sepertinya aku harus menaikkan dosis obat tidurku mulai sekarang. Aku turun dari taksi itu dan membuka pintu rumahku. Ah aku benar-benar merindukan rumahku. Tidak ada yang berubah, hanya saja sedikit berdebu saat ini, mengingat 1 minggu sudah aku tidak membersihkannya. Aku membawa barang-barang yang ku pakai selama aku di rawat kedalam kamar dan merapihkannya kembali ke lemari. Saat semua sudah selesai aku menuju ruang makan untuk mencari sesuatu yang bisa mengganjal perutku. Tidak ada apapun di lemari es ku. Apa aku harus belanja sekarang? Akhirnya aku memilih untuk membeli nasi goreng yang berjualan di depan komplek rumah. Aku memilih berjalan kaki untuk kesana. Suasana sore hari begitu nyaman untukku. Langit sedikit demi sedikit berubah warna menjadi jingga. Matahari pun seakan ingin cepat-cepat menenggelamkan dirinya ke ufuk, anak-anak kecil yang sedang menikmati waktu mereka dengan orang tua menambah perasaan sentimental ku. Akhirnya aku sampai di gerobak abang-abang yang berjualan nasi goreng itu. "Pak nasi goreng spesialnya satu ya." ucapku kemudian kepada abang penjual nasi goreng. "Siap neng." jawabnya kemudian. Sambil menunggu pesananku jadi aku memainkan handphoneku, untuk sekedar memeriksa inbox di socmed ataupun memeriksa pesan yang kuterima. Bunyi notif handphoneku menunjukkan satu pesan baru masuk. Apakah kamu tidak takut pergi sendiri lagi setelah kejadian itu Pesan dari nomer yang tidak ku kenali. Seakan dia tau apa yang sedang aku lakukan saat ini. Aku memeriksa ke sekeliling tempatku saat ini. Tidak ada siapa-siapa disini selain aku, abang nasi goreng dan istrinya yang sedang melayani pembeli lainnya. Tanpa membalas pesan itu aku menutup handphoneku. Tapi tidak lama kemudian satu pesan baru masuk lagi. Apa kau sedang mencariku? Aku akan muncul nanti saat kita hanya berdua. Aku tidak bisa berpura-pura santai lagi, saat abang nasi goreng itu memberikan pesananku aku segara pulang kerumah. Berjalan dengan cepat, sebelum hari menjadi semakin gelap aku bahkan berlari untuk segara bisa sampai dirumah. Saat aku sampai di depan rumah, aku melihat Elio berdiri di depan gerbang rumahku dengan wajah yang sedikit terlihat khawatir. Napas nya masih tersenggal-senggal seperti orang yang berlari 400 km. "Kamu dari mana aja sih, dari tadi saya telpon ga di angkat." ucap Elio kepadaku, dengan nada putus asa. Elio terlihat sangat khawatir. Aku memperhatikan wajahnya, kemudian aku menunjukkan bawaan yang aku bawa dari tukang nasi goreng depa komplek, dengan wajah yang sebisa mungkin kubuat santai. Aku yakin dia akan khawatir jika melihatku panik juga. Matanya melihat ke arah kantong kresek yang ku bawa. Dia mulai tenang dan bernapas dengan lega. "Kenapa kamu ga telpon saya aja buat beliin makanan doang?" katanya lagi sambil mengacak rambutku. Aku reflek menjauh saat dia menyentuh rambutku. "Saya cuma gamau merepotkan bapak." Jawabku sambil melihat ke arah nya. Sebelum Elio menjawab perkataanku, aku mengalihkan pandangan ke arah belakangnya. Aku melihat seorang lelaki yang tersenyum miring ke arah Elio. Sepertinya aku pernah melihat itu. Tapi aku tidak mengingatnya dimana. Elio yang menyadarinya pun akhirnya mengikuti arah pandanganku. "Kamu lagi liatin apa Lunar?" tanyanya kemudian. "Bukan apa-apa pak. Saya kira tadi ada temen saya ternyata bukan." elakku. Kami berdua akhirnya masuk ke dalam rumah. Kali ini aku tidak membiarkan siapapun masuk ke dalam rumahku, begitupun Elio. Kami hanya masuk ke gerbang dan berbicara di teras rumahku. "Jadi apa besok kamu akan langsung masuk kerja?" tanya Elio saat aku kembali dari dapur untuk mengambilkannya minum. "Saya boleh ijin beberapa hari lagi tidak pak?" Ucapku takut-takut. Jujur aku masih belum siap jika harus bertemu dengan Bagas lagi. "Kamu khawatir bakal ketemu Bagas?" tanya Elio tepat ke sasaran. Seakan dia bisa membaca pikiranku. Aku mengangguk kecil sebagai jawaban. "Kamu ga perlu takut, saya sudah pindahkan Bagas ke kantor cabang lain, jadi kamu ga akan ketemu dia lagi." Ucap Elio kemudian seakan menjawab pertanyaanku. Aku melihat Elio dengan tatapan kaget. Fiya tidak memberitahuku tentang hal ini. Jadi Bagas sudah dipindahkan rupanya. "Jadi kamu besok bisa kan masuk lagi?" tanya Elio lagi. "Tapi kalau kamu belum siap berangkat lagi tidak apa-apa. Saya akan kasih kamu waktu untuk mempersiapkan diri kamu lagi," ucap Elio kemudian. "Baik pak, terimakasih atas pengertian yang bapak berikan." Aku memilih untuk mengambil cuti lebih sampai minggu ini selesai. Aku masih membutuhkan waktu untuk memersiapkan mentalku untuk bertemu orang-orang yang ada dikantor. Berita tentang Bagas dan aku tidak mungkin tidak diketahui oleh orang kantor. Pasti mereka semua akan tau. Jadi aku lebih memilih untuk memersiakan diriku beberapa hari lagi. Waktu sudah menunjukkan pukul 7 malam, dan Elio baru saja berpamitan untuk pulang tadi. Saat aku ingin masuk ke dalam rumah, aku melihat bayangan orang lain berdiri di seberang jalan memperhatikanku dari sana. Dia hanya diam berdiri disana tanpa melakukan apapun. Saat pandangan kami bertemu lagi-lagi dia tersenyum miring. Aku langsung masuk kerumah dengan terburu-buru. Menutup semua korden dan mengunci semua pintu rumahku, berjaga-jaga agar tidak ada yang masuk saat aku tidur. Ah apa kah aku perlu memasang kamera cctv juga? sepertinya iya. Aku akan membelinya besok. Akhirnya setelah itu aku menuju tempat tidur, meminum obatku dan pergi ke alam mimpi. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD