Reyhan Punya Anak?

1409 Words
?Kamu adalah pikiran terakhirku sebelum tidur saat malam dan pikiran pertamaku saat aku bangun. *** Menerima pernyataan cinta di ruangan bersalin? Iuuhhhh. Gak romantis banget. Mimpi apa aku semalam. "Dokter, ini masalah serius. Jangan main-main." Aku mambalas menatap mata Reyhan yang dari tadi memandangiku. "Aku juga serius. Dan kamu tidak punya alasan untuk menolak. Mari nanti kita temui suami bu Anin dan menceritakan tentang hubungan kita." Tangan Reyhan terulur hendak memegang bahuku. Refleks, aku mundur selangkah. "Baiklah, ayo kita coba 3 bulan dulu." Reyhan tampak semringah. Lalu dia menoleh pada Anin. "Bu Anin, saya merasa bersalah dan ikut sedih dengan musibah yang terjadi atas diri Ibu. Percayalah, kalau Allah sudah mengambil sebuah titipan dari hambaNya maka Allah juga akan memberikan ganti yang lebih baik. Semoga setelah ini Ibu segera hamil dengan kondisi lebih baik dan lebih siap lagi." Reyhan mengatakan dengan memandangi mata Anin. Dan terlihat mata Anin mulai berkaca-kaca. "Katakan juga tentang hubungan kalian pada suami saya, dan minta dia agar membakar semua barang kenangan Ganis. Pun menghapus semua foto yang ada di galeri Hpnya." "Baik, sesuai permintaan Ibu. Kalau boleh memberi saran, tolong Ibu jangan memikirkan hal lain sekarang. Kesehatan Ibu lebih utama. Kalau perlu, saya berikan free kamar VIP untuk perawatan, bagaimana?" Anin tersenyum meledek. "Emang saya pengemis. Saya kan cuma minta Ganis bilang ke Erick kalau dia sudah punya calon suami pengganti dan meminta agar Erick membakar semua barang kenangan dan juga foto-foto kalian saat masih bersama. Bukan meminta pelayanan kesehatan gratis. Bisa?" "Bisa, jangan khawatir. Sekarang Ibu harus memikirkan kondisi ibu dulu ya. Biar lekas sehat." Reyhan tersenyum. Baru aku sadar senyumnya terlihat manis sekali. "Baik, saya dan Ganis pamit dulu ya. Untuk kuret menunggu advis dari dokter." Reyhan mengulurkan tangan pada Anin. Lalu Reyhan pun menarik tanganku untuk bersalaman dengan Anin pula. Dengan canggung, aku menurutinya. "Jadi clear ya masalahnya?" tanya Reyhan. Anin terdiam. "Akan clear kalau Erick sudah benar-benar melupakan Ganis. Aku tahu, walaupun dia disuruh mamanya untuk mempermainkan dan membuat Ganis menderita, tapi firasat seorang istri mengatakan bahwa dia mencintaimu walaupun tidak sebesat cintanya padaku." Aku dan Reyhan berpandangan. "Baiklah, Bu. Nanti kalau suaminya datang, saya akan menemuinya. Ayo Sayang, kita pergi. Saya tidak bisa lama-lama meninggalkan UGD, takut ada pasien." Rayhan menggenggam tangan dan menarikku keluar dari ruang bersalin. "Ganis." Ucapan Anin menghentikan langkah kami dan spontan aku serta Reyhan membalikkan badan. "Tentang ponselmu, aku minta maaf, akan aku ganti. Berapa nomor rekening kamu?" tanya Anin lirih. Aku menghela nafas. 'Ibu hamil emang suka cemburu dan tingkahnya absurd.' "Nggak usah Mbak. Biar saja. Aku bisa ngurus nomornya ke Grapari. Kalau untuk Hpnya ...," "Saya yang akan membelikan untuk calon istri saya. Ya kan Sayang?" Suara Reyhan terdengar lembut dan teduh. Dan seolah terhipnotis, aku mengangguk. "Makasih," ucapku saat kami berada di koridor rumah sakit menuju UGD. "Apa? Gak dengar!" Reyhan mencondongkan telinganya ke arahku. "Minta dijewer? Udah Dok. Nggak usah pura-pura cinta lagi. Sekarang kan sudah tidak ada Anin." "Heh, apa kamu bilang?! Aku serius sama kamu Sayang. Aku mencintaimu dan akan berusaha membuatmu move on." "Tapi semua laki-laki kan sama?" "Maksudnya?" "Laki-laki itu garangan semua!" Reyhan tertawa. "Tidak semua garangan Sayang. Ada juga yang baik. Pokoknya percaya sama aku." Reyhan menggenggam tanganku semakin erat. Dan entah kenapa ada rasa hangat yang menjalari hatiku. "Ganis," sebuah suara otomatis membuatku melepaskan tangan Reyhan Suara dokter Widodo. "Ayo ke kantor saya sebentar." Dokter Widodo menatapku serius lalu langsung berlalu menuju ke ruangan direktur. "Rey, aku takut!" "Gak usah takut. Ayo kutemani." Aku mengerutkan dahi. "Kok kamu? Kamu kan gak ada di warung apung tadi." "Tapi aku kan saksi juga. Lagipula aku akan meyakinkan dokter Wid kalau kamu sudah punya aku jadi tidak akan menggoda suami pasien." Aku terdiam. Mencoba berpikir sejenak. "Sudahlah, nggak usah kebanyakan mikir. Ayo kita hadapi bersama Sayang," tukas Reyhan menatapku syahdu. "Hm, baiklah." Aku lalu melangkahkan kaki dan masuk ke ruangan dokter Widodo. *** "Dok, terimakasih ya sudah membantuku bicara di depan dokter Wid," tukasku tulus saat kami baru saja keluar dari ruang direktur. "Sekarang hanya menunggu Erick saja kan seperti permintaan Anin." Aku mengangguk. "Astaga. Itu Erick!" Aku mengarahkan telunjuk ke arah mantan. "Panjang umur dia! Sekarang ayo kita samperin!" Reyhan menarik tanganku. "Tunggu! Kita perlu bicara!" seru Reyhan. Erick dan mamanya berbalik. "Kenapa kamu tega membuatku kehilangan anakku?" "Ayo duduk. Kita bicara!" Reyhan menarik tangan Erick ke koridor yang lengang. Mamanya mengikuti dengan tegang. "Langsung saja Rick. Sebenarnya kamu tahu kan istri kamu perdarahan? Jangan munafik deh. Dia sendiri yang cerita kalau saat Ganis over dosis, dia jatuh dari tangga dan keluar darah." Erick mendelik. "Tapi salah Ganis juga dong yang mengundangnya ke warung apung ayahnya. Sudah tahu Anin mengalami perdarahan!" "Ganis gak tahu kondisi Anin. Asal kamu tahu, kamulah yang menyebabkan Anin keguguran," tukas Reyhan tenang tapi dingin. "Kamu jangan fitnah!" Erick tampak berang "Hei, Anin sendiri yang cerita padaku dan Ganis kalau kamu sejak gagal akad ngelindur tentang Ganis dan masih menyimpan fotonya." Wajah Erick memucat. "Asal kamu tahu ibu hamil itu gak boleh stres. Bayangkan jika istrimu yang sedang mengandung dan mengalami perdarahan, justru melihatmu menciumi foto Ganis ...," "Tunggu Erick! Jangan bilang kamu beneran mencintai dia?!" tanya mamanya kaget. "Ma, Erick bisa jelasin!" "Mama nggak terima kalau mantu Mama yang berharga harus keguguran karena kebodohan kamu mencint*i anak penabrak almarhum papa!" Mama Erick menudingku. "Tunggu sebentar," tukas Reyhan sambil menurunkan telunjuk tangan mama Erick dari wajahku sebelum aku sempat tersentuh olehnya. "Kebetulan mumpung ada disini, saya ingin menyampaikan bahwa saya turut bersedih atas keguguran yang dialami bu Anin. Yang kedua bahwa Rengganis mulai detik ini resmi menjadi calon istri saya. Karena itu sesuai permintaan bu Anin, tolong hapus semua foto calon istri saya dan buang barang kenangan kalian. Bagaimana?" "Astaga Erick, jadi kamu masih menyimpan foto dan barang-barang kenangan sama dia? Keterlaluan sekali kamu! Apa yang akan Mama katakan pada keluarga Anin?" Mama Erick berlalu dengan wajah penuh kekecewaan meninggalkan aku dan Reyhan berdua di koridor. Aku melirik Reyhan yang ternyata sudah tersenyum menatapku. "Kenapa mandangin aku mulu? Baru sadar kalau aku ganteng?" Reyhan berkata penuh percaya diri. Wajahku terasa memanas. Entah seberapa merah pipiku kini. "Untuk kedua kalinya, saya harus berterimakasih pada Dokter atas bantuannya." Aku tersenyum. Benar-benar tulus dari hati. Tiba-tiba Reyhan mundur 3 langkah menjauhiku. "Tolong mundur, Sayang." Aku mengerutkan dahi. "Maksudnya gimana Dok? Saya bingung." "Tolong mundur sedikit karena cantiknya kelewatan." Reyhan tersenyum lebar. Terasa ada yang berdesir di dalam d**a. 'Astaga jantung! Kenapa detaknya menjadi lebih cepat?' "Cie, wajahnya merah. Eh, kamu mau pulang sekarang? Kelihatannya sudah siang," tanya Reyhan. Aku mengangguk tapi sejenak kemudian aku bingung. "Ayah bilang tadi supaya menelepon saat mau pulang. Tapi Ayah tidak tahu kalau ponselku sudah tenggelam." "Kalau kamu hafal nomor Hp Ayahmu, telepon saja pakai ponselku." Reyhan mengulurkan ponselnya padaku. Aku menerimanya dengan sungkan. Lalu menekan nomor telepon Ayah dan meminta dijemput sekarang. "Sudah. Trims." Aku hendak mengembalikan ponselnya pada Reyhan saat sebuah tanya melintas di kepala. "Tunggu dulu!" Aku menarik ponsel Reyhan kembali dan mengetik nomorku sendiri. Dan aku sangat terkejut saat melihat nama yang tertera di layar Hp Reyhan. Calon Istri. Aku mendongak pada Reyhan yang tersenyum penuh arti. "Sudah pinjam Hpnya?" Aku mengangguk dan mengembalikan ponsel milik Reyhan. "Mulai kapan kamu menamai kontak namaku dengan Calon Istri?" selidikku penasaran. "Dari awal kita bertemu." Aku mendelik. "Bukankah dulu Dokter sebenarnya sudah tahu tentang calon suami saya?" "Iya. Tapi selama janur kuning belum melengkung, saya rasa saya masih punya kesempatan walaupun hanya sekedar menikung lewat 1/3 malam," jawabnya. Aku melongo. Tidak menyangka bahwa dokter Reyhan akan mempunyai rasa sedalam itu padaku. "Dokter, sebelum menikah dengan saya, saya ingin mengatakan bahwa saya punya kelemahan dan kelebihan. Kelebihan saya bisa dokter lihat sendiri. Sedangkan kelemahan saya adalah kadang saya slengekan, suka insecure, ambisius, kadang kurang peka dan nggak terlalu suka memasak." Aku memandangi wajah Reyhan saat mengatakan kelemahanku. Mencoba memindai perubahan ekspresi pada wajah tampannya. Reyhan tersenyum. "Gak apa-apa. Aku terima semua kelemahan dan kelebihanmu. Akupun juga punya kelebihan dan kekurangan. Kelebihannya bisa kamu lihat sendiri," tukas Reyhan menirukan kalimatku. "Lantas kekuranganku adalah ...," Belum sempat Reyhan menyebutkan kekurangannya secara lengkap, ponsel di saku jasnya berbunyi nyaring. Reyhan meraih ponselnya dan membaca nama yang tertera. "Mami ...?" Dia bergumam lirih. Segera ditekannya tombol hijau dan didekatkannya ke telinga. "Assalamualaikum Mi?" Jeda sejenak dan mendadak wajah Reyhan berubah cemas. "Ya Allah. Baik. Reyhan tunggu disini, Mi." Reyhan menutup ponselnya lalu memandangiku. "Ganis, anakku tertabrak motor dan sekarang sedang diantar ke sini!" Apa? Aku tidak salah dengar kan? Baru saja Reyhan bilang anak?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD