Fitnah dari Anin

1589 Words
GAIRAH ASMARA DOKTER CINTA Sub Bab 11 : Fitnah dari Anin ? Apa bedanya kamu sama transfusi darah? ?Kalau transfusi darah bisa menangani anemia. Kalau kamu bisa menangani kerinduan. *** "Kenapa Nis?" Ayah berlari ke arahku dengan tergopoh-gopoh bersama beberapa karyawan warung apung. "Tolong saya Pak, perut saya sakit," Anin merintih sambil memegangi perut. "Kenapa bisa menjadi seperti ini, Nis? Kenapa dengan Anin?" Ayah memandangiku dengan tatapan menuntut jawaban. Aku menggelengkan kepala. "Ganis juga tidak tahu. Sekarang yang terpenting adalah membawa Anin ke rumah sakit. Bantu Ganis membawanya." "Apa tidak telepon ambulance saja?" usul salah seorang karyawan. "Terlalu lama. Takut perdarahannya bertambah banyak." 'Lagipula ponsel Ganis nyemplung kolam, Yah.' "Ya sudah, ayo bantu." Ayah memberikan isyarat pada beberapa karyawannya. Beberapa karyawan menggotong tubuh Anin ke dalam honda jazz ayah. "Sudah Yah. Ayo berangkat." Aku memberikan instruksi pada ayah saat sudah memastikan posisi Anin nyaman dan aman. Darah mulai membasahi dressnya. 'Dengan pengalaman selama kerja, jelas ini bukan abortus spontan. Ini pasti abortus provokatus atau abortus iminens yang tidak segera ditangani.' Aku menghela nafas. Dan terus mencerna kejadian abortus yang dialami oleh Anin. 'Tidak mungkin kalau cuma bebergian 3 jam bisa mengakibatkan darah mengucur menderas secara mendadak seperti ini. Tidak mungkin juga kalau hanya dengan alasan cemburu, bisa mengakibatkan keguguran. Kehamilan tidak serapuh itu. Kalaupun keguguran, pada awalnya akan timbul flek saja bukan darah menderas," batinku dalam hati. 'Jangan-jangan sudah terjadi sesuatu pada kehamilan Anin, dan dia kemari -entah dengan alasan apa- hanya untuk menjadikanku kambing hitam. Sial*n. Harusnya aku menurut kata-kata ibu untuk tidak berurusan dengan keluarga Erick lagi. Sementara Anin tampak mengerang-erang. Kepalanya kutopang dengan bantal yang selalu ada di mobil dan kakinya ada di pangkuanku. Astaga. Bisa-bisanya aku menolong perempuan yang telah membuang ponselku ke kolam ikan. Tapi sejahat apapun Anin, dia tetap membutuhkan pertolongan. Hatiku terasa ringan saat melihat pagar rumah sakit Mitra Sehat tempatku bekerja. Begitu mobil ayah sampai di depan UGD, aku melompat dari pintu samping mobil dan langsung mendorong pintu kaca UGD. 'Ah, kenapa yang jaga harus Reyhan dan Susan. Mana wajah Susan terlihat aneh sekarang.' "Dokter, tolong pasien dengan amenorhea suspect abortus!*" seruku langsung. Susan dan salah satu perawat UGD lainnya langsung berdiri dan menuju ke arah mobil ayah. "Kita ada urusan yang perlu dibicarakan nanti, Nis!" bisik Susan saat mulai mendorong brangkard yang ditiduri Anin masuk ke dalam UGD. Aku menghela nafas. Ini pasti tentang dokter Reyhan! "Kamu kok tega sih mengadukan ucapanku tentang dokter Reyhan? Aku tadi sampai kena omel, tahu?!" Anin menggerutu panjang pendek sambil menyiapkan peralatan infus. "San, kita bicarakan nanti. Sekarang urus pasien ini, aku harus mengisi lembar anamnesa." Aku bergegas menuju dokter Reyhan yang ada di balik meja kayu. "Jadi dia siapa dan apa yang terjadi sebenarnya?" tanya dokter Reyhan dengan wajah serius. Ah, dia memang begitu. Mungkin sama sepertiku. Terkadang kami perlu slengek'an dan bercanda penuh tawa untuk melepaskan rasa stres akibat bekerja dengan berbagai macam kondisi pasien yang mengancam jiwa. Dan sekarang, kita dituntut untuk serius. Karena ada saatnya paramedis berkejaran dengan waktu dalam menyelamatkan nyawa manusia. Aku menjelaskan kronologi kejadian di warung apung sampai perjalanan ke sini. "Jadi kamu tidak bisa menghubungi mantan kamu, maaf, maksudnya Erick karena ponselmu dilempar pasien?" Aku mengangguk. "Lalu bagaimana kita bisa menghubungi keluarga pasien? Apa kamu masih hafal nomor telepon mantan kamu, eh, suami pasien?" Kata-kata dokter Reyhan membuatku mendelik. Tapi justru dokter berkulit bersih itu tidak memindahkan pandangan mata dari lembar status yang sedang dikerjakannya. Dasar! "Tentu saja saya tidak hafal nomor ponselnya. Saya akan meminta pasien untuk menghubungi keluarganya sendiri." "Baiklah, saya juga akan menghubungi dokter kandungannya. Kebetulan sekarang karena hari minggu, biasanya visite siang kan?" Aku mengangguk dan langsung menuju ke arah Anin berbaring. *** "Janinnya tidak bisa diselamatkan. Pasien mengalami abortus incompletus. Jadi ada sisa jaringan di rahim yang harus dikeluarkan melalui kuret." Suara dokter Widodo menggema memenuhi ruang bersalin. Aku tercekat saat menemani Anin USG karena Erick dan mamanya belum datang ke rumah sakit. "Apa tidak bisa dipertahankan lagi kehamilan saya, Dok?" tanya Anin dengan air mata berlelehan. "Sudah tidak bisa, Bu. Maaf. Dalam pemeriksaan USG, bayi ibu hanya tersisa setengah jaringan saja." "Ini pasti gara-gara Rengganis, Dok. Dia nyaris menikah dengan suami saya. Lalu mempermalukan keluarga saya di hadapan para tamu. Setelah itu dengan semena-mena dia memaksa saya datang dengan jarak tempuh hampir tiga jam untuk menemuinya sebagai syarat dia tidak akan menganggu suami saya lagi. Padahal dia tahu saya sedang mengalami masalah dalam kehamilan yaitu saya sudah mengalami gejala keguguran sejak dua hari yang lalu dan saya harus bedrest total." Aku tercekat tidak menyangka Anin akan berusaha sebusuk ini untuk menghancurkanku. Ponsel yang berisi bukti kecurangan mas Erick pun sudah dibuangnya. Aku tidak bisa membela diri. 'Wah, sial*n perempuan ulat ini. Nggak bisa dibaikin. Memutar balikkan fakta.' "Benarkah apa yang dikatakan oleh ibu Anin ini Rengganis?" tanya dokter Widodo seraya menatapku dengan wajah datar. "Tidak. Tentu saja tidak. Ceritanya tidak seperti itu, Dok!" "Saya ingin bertemu dengan direktur rumah sakit ini. Meminta beliau untuk menindak tegas kalau perlu memecatnya atas kesalahan Rengganis yang menyebabkan saya kehilangan bayi saya!" Dokter Widodo menghela nafas panjang. Direktur rumah sakit tempatku bekerja itu memandangiku dengan serius. "Sepertinya ini masalah pribadi. Saya tidak akan langsung menurunkan SK padamu. Tapi saya akan memberikan waktu sampai saya selesai visite pasien lainnya. Silakan membicarakan masalah ini berdua. Kalau bisa, selesaikan dengan cara kekeluargaan. Setelah itu baru saya bisa mengambil keputusan." Suara dokter Widodo membuat jantungku berdebar. 'Jangan-jangan beliau sudah tidak percaya lagi denganku.' Aku mengangguk. "Baik Dok." Hanya itu yang dapat kukatakan. Aku tidak punya bukti. Hanya saksi. Orang tuaku yang tahu bahwa yang meminta bertemu adalah Anin bukan aku. Tapi apa dokter Widodo bisa mempercayainya? Ponsel berisi rekaman kejahatan Erick dan chat w******p antara aku dan Anin juga sudah tenggelam. Kalaupun dicari, mungkin sudah rusak. Kamera cctv di warung juga tidak mungkin bisa jadi bukti. Karena Anin sudah memfitnah bahwa yang aku yang mengundangnya ke warungku. Aku pun tidak punya bukti kalau aku tidak tahu bahwa Anin telah mengalami abortus incompletus sebelum berangkat ke warung apung. "Ya sudah, saya keluar dulu. Jangan lupa mesin USGnya dikembalikan ke poli," ucap dokter Widodo sambil berlalu meninggalkan VK. Susan yang bertugas mengembalikan mesin USG ke poli melirikku tajam, tapi aku sedang malas berdebat dengannya. "Tinggalkan kami berdua, San. Ada yang ingin kami bicarakan empat mata," pintaku pada Susan. "Tapi tentang dokter Reyhan ...," "San, ayolah. Nanti aku pasti menceritakan kenapa aku mengingkari janjiku padamu. Sekarang yang penting, aku ingin bicara dengan pasien ini, karena menentukan aku masih kerja di sini atau tidak." Susan terdiam, tapi tak lama kemudian dia berlalu mendorong mesin USG keluar dari ruang bersalin. "Mbak Lina, tadi dengar sendiri kan apa yang dikatakan dokter Wid. Bisa minta tolong tinggalkan kami berdua? Saya ingin menyelesaikan dengan cara kekeluargaan," pintaku. Kepala ruangan VK itupun mengusap bahuku. "Kalau butuh saran, jangan ragu untuk menemuiku." Aku mengangguk dan mbak Lina melenggang pergi meninggalkanku dan Anin. "Aku tidak tahu kenapa kamu melakukan hal ini padaku. Memfitnahku sebagai pelakor, membuang ponselku lalu memfitnahku dihadapan direktur rumah sakit sampai meminta beliau memecatku. Sebenarnya, apa tujuanmu?" "Satu lagi, sebenarnya kalau kehamilan sehat, perjalanan jauh tidak menjadi masalah bagi kandungan. Kecuali kehamilan dengan komplikasi atau masalah serius. Seharusnya kalau kehamilanmu aman, kamu tidak keguguran. Pasti kamu sudah tahu kalau keguguran dan mencari kambing hitam, yaitu aku. Iyakan. Ngaku saja. Apa alasanmu memfitnahku!" Anin tersenyum miring. "Hahaha, kamu pinter. Baiklah, aku akan jujur. Soalnya sudah tidak ada ponselmu untuk merekamku. Saat mas Erick membesukmu karena overdosis diazepam, aku jatuh dari tangga dan mengalami perdarahan, makanya aku telepon mas Erick dan meminta bertemu." Aku mendengarkannya dengan seksama. "Aku sudah minum obat penguat kandungan dari dokter, tapi darah tetap keluar. Dan parahnya, saat aku sudah tidak berhubungan ranj*ng dengan mas Erick untuk mempertahankan kehamilanku, dia justru mengigau namamu dan tersenyum-senyum melihat fotomu di ponselnya, jadi ...," "Langsung intinya. Aku malas bertele-tele!" "Oke. Denger ya bu bidan yang hampir jadi pelakor. Aku tidak akan berhenti mengganggumu sampai kamu bisa move on dan membawa pacar baru ke hadapan mas Erick. Pokoknya sampai mas Erick berhenti mengharapkanmu ...," "Kalau aku tidak juga menemukan pacar? Kamu harus tahu kalau aku belum berniat mencari pengganti, apalagi untuk balikan lagi sama suamimu, aku tidak mungkin melakukannya! Lebih nyaman sendiri untuk saat ini." "Aku memang memanfaatkan keguguranku untuk menghancurkan kariermu. Aku tidak mau mas Erick membagi hati! Kalau kamu tidak mau mencari pengganti segera, aku akan meminta direkturmu untuk memecatmu. Eh, tapi kamu anak orang kaya kan? Pasti gak masalah kan kalau gak kerja?" "Heh, denger ya. Kamu dari semalam kukasih hati minta jantung. Kerja itu urusan kepuasan dan pengabdian ilmu, bukan melulu soal duit. Terus urusan pengganti ...," "Saya penggantinya." Aku dan Anin menoleh ke arah pintu masuk ruang bersalin. Dokter Reyhan masuk dengan gagah mendekat ke arah kami lengkap dengan jas putih yang berkibar di badannya. "Ganis, tadi saat aku bertanya pada Susan yang lewat membawa mesin USG, dia bilang kamu meminta Susan untuk segera keluar ruangan karena kamu ingin bicara berdua saja dengan bu Anin. Jadi aku langsung kesini dan melihat bu Anin mengintimidasi kamu. Perkenalkan bu Anin, saya calon suami Ganis. Saya pastikan calon istri saya tidak akan mendekat pada laki-laki lain terutama suami Anda. Jadi pastikan juga janji Anda untuk tidak menganggu kekasih saya lagi." Reyhan mengatakan semuanya dengan mantap lalu menoleh padaku. "Rengganis Yasmin. Beri aku waktu 3 bulan untuk membuktikan bahwa aku benar-benar serius padamu dan tidak akan menyia-nyiakanmu. Jadi, kamu mau kan menerima cintaku?" Reyhan menatap kedua mataku dengan serius. Aku dan Anin melongo. Menerima pernyataan cinta di ruangan bersalin? Iyuuhhhh. Gak romantis banget. Mimpi apa aku semalam!!!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD