Pertemuan dengan Anin

1570 Words
Saat hendak mengetik status w******p lagi, tiba-tiba muncul sebuah nomor asing melakukan panggilan w******p padaku. Aku segera menekan tombol hijau, "Halo." "Halo, ini Rengganis? Aku Anin, istrinya Erick, mau bertanya soal Erick padamu." Aku terdiam. Bingung. 'Ah elah. Ini suaminya siapa tapi tanya ke siapa? Aneh!' "Mbak, situ gak salah ya? Kan situ yang istrinya. Kenapa malah tanya ke saya?" Aku menjadi bingung. "Aku curiga kamu pernah tidur dengan mas Erick sebelum kalian merencanakan menikah!" Duaarrr! Uasem! 'Ini fitnah yang keji dan nyata. Pantas saja Reyhan langsung mencak-mencak saat dia mengetahui telah difitnah soal masalah impot*ennya. Ternyata difitnah memang seasem ini.' "Eh Mbak, siapa yang bilang seperti itu? Sembarangan. Aku ini masih ting-ting. Dijamin masih ting-ting sama sekali belum berpengalaman. Situ kalau mau main fitnah yang berkelas dikit gitu loh. Fitnah saja kalau aku seksi dan semok dengan tubuh semampai, kan bisa? Yang difitnah pun bahagia. Bukannya memfitnah telah tidur dengan suami situ. Ih amit-amit jabang bayi!" "Jangan bohong kamu, Mbak! Karena setelah akad nikah denganmu batal, mas Erick semalam mengigau dan mengatakan namamu begitu mesra. Bahkan dia mengatakan ingin sekali lagi dan lagi. Bukankah itu sebagai bukti kalau kamu sudah tidur dengan suami saya?" suara seberang terdengar nyolot. "Astaga Juleha! Kalau kamu curiga dengan mimpi Erick, kenapa nggak nanya langsung? Kenapa malah bertanya padaku yang tidak ada hubungannya dengan dia?" tanyaku berang. 'Astaghfirullah, aku lupa kalau dia sekarang menjadi ibu hamil. Kasar banget aku sama bumil.' "Kok diem?" akhirnya suaraku melembut. Jiwa kebidananku meronta-ronta. Kasihan juga ibu hamil dibentak-bentak. "Saya hanya ingin konfirmasi saja. Karena saat mas Erick aku tanyai, dia hanya diam saja. Aku curiga. Apalagi sejak gagal menikah dengan Mbak, mas Erick sepertinya berubah." Aku menghela nafas. Satu sisi hati berbisik agar tidak mempedulikannya karena rasa sakit hati yang telah ditorehkan. Tapi sudut hati yang lain meronta-ronta ingin memenuhi permintaan ibu hamil yang sepertinya sedang kebingungan itu. "Mbak, bisa ketemu?" tanya Anin lirih. 'Tumben suaranya melas. Dulu saja dia paling menolak kalau mas Erick menikah denganku. Kenapa sekarang justru dia yang ingin bertemu?' Aku berpikir cepat. "Boleh. Tapi saya menentukan tempat dan waktunya," jawabku. Terdengar jeda di suara seberang. "Kamu keberatan? Kalau keberatan, mending tidak usah bertemu," putusku tegas. "Bisa, bisa Mbak. Mau bertemu dimana?" jawab Anin cepat. "Di warung apung, restoran di atas kolam ikan milik ayahku. Nanti tempatnya saya share loct. Jam 8 pagi, bisa?" tanyaku membayangkan jarak hampir 3 jam yang harus dia tempuh pagi-pagi demi bertemu aku. Sekalian untuk menguji keseriusannya tentang keinginannya bertemu denganku. Jeda sejenak. Pasti dia bingung. "Baik, saya akan datang." Aku tersenyum dan mengangguk lalu aku tersadar bahwa aku tidak sedang melakukan panggilan video. Hadeuh. "Ya sudah, saya tunggu besok Mbak." Aku menutup telepon setelah mengucap salam, lalu mengetikkan alamat warung apung ayah. Menghela nafas sejenak seraya menerka-nerka kenapa Anin ingin bertemu. Dan daripada aku bertemu dengannya di luar daerahku, mending aku bertemu Anin di 'kandang' sendiri. *** "Mau kemana Sayang, kok rapi amat?" tegur Bunda saat jam 07.30 aku keluar kamar dengan memakai blous warna biru muda dan rok span putih sebetis. Sebelum menjawab, kupandangi wajah bunda. "Ganis mau ketemu sama Anin." Sekarang ganti bunda yang menautkan alis sambil memandangku. "Anin? Bukannya dia ...?" "Ya, dia istrinya Erick." Bunda melongo. "Nggak usah cari masalah lagi, Nis dengan keluarga Erick." Aku menghela nafas. "Tapi firasat Ganis mengatakan ini merupakan hal yang penting. Jadi Ganis ingin menemuinya untuk pertama dan terakhir kali." "Nis, tapi ...," "Bunda, tidak usah khawatir. Ganis sudah memberitahunya untuk bertemu di warung apung ayah. Agar segala kemungkinan buruk bisa dicegah." "Hati-hati. Bunda takut dia memasukkan sianida atau arsenik ke dalam minumanmu." "Astaga Bunda terlalu banyak nonton tivi dan sinetron." "Lah, emang khawatirnya gitu." "Nggak usah khawatir Bunda. Soalnya Ganis kan minta ketemuan di kandang sendiri. Insyallah tidak terjadi apa-apa. Lagipula nanti Ganis yang pesan menunya." Aku mencium punggung tangan bunda. "Bun, minta kunci jazz dong." "Tadi dipake Ayah." "Loh, tumben Ayah berangkatnya ke warung apung nggak nebeng avanzanya mas Aris." "Mas Aris sedang ke rumah sepupunya Reyhan." "Astaga mas Aris gercep sekali kalau masalah jodoh!" "Iyalah. Kan memang umurnya sudah cukup untuk menikah. Doain saja. Kamu nanti kan bisa berjodoh dengan Reyhan." Aku menghela nafas. "Ganis masih belum bisa menerima kehadiran pria lain. Jadi tolong jangan maksa Ganis cepat-cepat menikah ya Bun. Lagipula usia Ganis masih 26 tahun tapi penampilan seperti 17 tahun," selorohku tertawa. "Hm, iya sih. Semoga kamu cepet move on." "Aamiin, oh ya Bun. Sampaikan pada ayah, agar beli mobil baru buat Ganis dong. Masak Ganis naik vario ke warung apung." Aku manyun dan merajuk berharap bunda menyetujui usulku. "Enak saja. Kan sesuai kesepakatan. Kalau mau beli mobil, harus cash. Kamu 40% dan ayah yang menambahkan 60%." "Hadeh, Ganis belum bisa menabung sampai sebanyak itu. Lagipula kemarin kan baru beli vario." "Makanya, sekarang nabung lagi. Jangan buat beli coklat mulu!" Waduh, minta mobil malah kena omel. Nasib. Sudah gagal nikah kemarin. Hiks! "Iya deh. Ganis berangkat pakai vario saja." Aku melenggang keluar dari rumah saat bunda berseru. "Ganis! Sekalian mampir kost-kostan. Sekarang tanggal 10 waktunya narik uang kost ke penghuninya. Tugas kamu tuh! Ojo lali!" "Oke, siap Ndan!" seruku mengarahkan tangan ke jidat seperti seorang prajurit yang mematuhi perintah jenderalnya. *** Hampir jam 8 saat aku sudah tiba di area warung apung milik ayah. Warung ini sudah berdiri saat aku masih berusia 2 tahun. Dahulunya warung ini masih sangat mungil. Dan dengan berbagai renovasi dan peningkatan pelayanan, warung apung ayah maju pesat. Di atas lahan seluas 50 meter x100 meter dengan sekitar 15 gazebo, mushola mungil, taman bermain dan kolam ikan tertata dengan indah. Aku memarkirkan vario hasil jerih payah bekerja selama 4 tahunan itu dan meraih ponsel dari rok span lalu membagikan lokasi warung apung ke nomor Anin dan melangkah masuk ke dalam ruang karyawan. "Kamu kok kesini?" tanya ayah. "Janjian sama Anin, Yah." Mata ayah membulat. "Anin? Istrinya borokokok?" Aku tertawa mendengar panggilan ayah untuk Erick. "Iya." "Mau ngapain lagi?" Aku mengangkat bahu. "Ganis juga tidak tahu. Yang jelas semalam dia telepon minta ketemuan." "Baiklah, awas saja kalau dia berani macam-macam sama putri Ayah! Tak hiiih beneran!" Ayah meninju tangan kanannya ke telapak tangan kiri. Aku tertawa. Sebelum aku menjawab, terdengar dering ponsel. "Halo." Aku berjalan menjauh dari ayah. "Halo Mbak, aku sudah sampai di depan warung apung." "Ya sudah masuk saja." Aku mengedarkan pandangan ke seluruh gazebo yang semua masih kosong tapi beberapa diantaranya sudah ada tanda papan reservasi. "Masuk saja ke gazebo nomor 10. Aku tunggu." Aku melangkahkan kaki ke gazebo dengan nomor yang kusebutkan tadi. Lalu masuk ke dalamnya. Sejenak berdiri dan berpegangan pada dinding bambu gazebo untuk mengawasi tingkah ikan gurami dan nila yang seolah saling mengejar. "Mbak Rengganis?" Entah berapa lama aku mengawasi ikan-ikan itu saat sebuah suara mengagetkanku. Aku menoleh ke arah suara. Tampak seorang perempuan bertubuh seksi, tinggi dan putih berdiri di hadapanku. Rambutnya panjang ikal dan tampak serasi dengan dress selutut yang dikenakannya sekarang. Harus aku akui dia cantik. Tapi lebih banyak aku. "Mbak Anin?" Dia mengangguk. Kami sama-sama saling menatap. Seolah memindai siapa yang lebih cantik. "Silakan duduk." Aku mempersilakannya masuk. Tak ada yang mengulurkan tangan diantara kami untuk bersalaman. Ah, masa bodo. "Baiklah, sekarang kita sudah ketemu. Apa yang hendak Mbak Anin katakan?" Aku memandangnya. Kulitnya benar-benar putih dan mulus. Khas orang yang melakukan injeksi whitening. Badannya berisi dan seksi. Aku sama sekali bukan tandingannya. Karena aku lebih manis. Menghibur diri sendiri. Nyut. Sejenak seperti ada yang menusuk hati. Nyeri. Mengingat kenangan yang telah aku dan mas Erick lakukan dan ternyata semua itu hanya tipuan. Asem. Kenapa masih belum move on! Rengganis, ayolah lupain borokokok! "Jauhin Erick!" "Heh, apa?!" Dua kata dari mulut Anin kubalas dengan dua kata juga. "Maksudnya? Sejak batal akad, nomor borokokok dan mamanya sudah kublokir!" "Tapi kenapa dua malam ini mas Erick mengigaukan nama kamu?!" seru Anin tampak cemburu. "Lah, meneketehe! Tanya sendiri sama suami kamu. Kenapa jadi tanya aku?!" Aku mendelik. "Tapi kenapa setiap saat dia tersenyum-senyum sambil melihat hpnya?" Aku mendengus. 'Jadi dia menempuh 3 jam kesini cuma untuk menanyakan hal itu? Ish ... ish ... ish!' "Ini buktinya kalau tidak kamu percaya," tukasku sambil mengambil ponsel dari rok span dan membuka w******p lalu mengulurkannya pada Anin. "Tuh, lihat! sudah bener-bener aku blokir kan? Dan menurutmu apa aku segitu bodohnya tetap bucin sama dia yang merencanakan hal buruk padaku? Coba tanya sendiri ke borokokok, apa yang membuatnya sering senyum-senyum di depan layar ponsel?!" aku menyedekapkan tangan di depan d**a. Anin memandang ponselku tanpa berkedip. Lalu tanpa kusangka dia berdiri seraya menggenggam ponselku lalu melemparkannya ke dalam kolam ikan. 'Plung!' 'Astaga!' Hpku tersayang! Aku terkejut. Darah seakan mendidih naik ke ubun-ubun dan membakar amarahku. 'Seandainya dia tidak hamil, pasti aku akan melemparnya ke dalam kolam agar menjadi mermaid! Eh, ralat. Mermaid terlalu cantik. Jadi dugong saja! Keseeeeeel!' "Kamu?!" Aku merengsek memegang kedua bahu Anin. Gigiku gemelutuk menahan marah. Anin tersenyum meledek. "Biar mas Erick tidak bisa menghubungimu lagi dengan nomor baru. Kenapa? Kamu mau marah? Mau gampar? Ayo lakukan!" dia menyodorkan pipi kanannya padaku. Aku mendelik. Ingin menjambak tapi dia hamil. "Ya Tuhan! Semoga kehamilan kamu berjalan dengan sehat dan selamat ya walaupun mendzalimiku!" Aku melepaskan cengkeramanku dari bahunya lalu melangkahkan kaki keluar gazebo. Baru tiga langkah berjalan menjauh, tiba-tiba terdengar suara Anin. "Aaww! Aduh!" Aku membalikkan badan dan berniat melabraknya jika dia pura-pura. Tapi alangkah terkejutnya aku saat melihat darah mengalir di kakinya yang putih. 'Jangan-jangan dia mengalami abortus?!' Anin mendadak ambruk dan untung saja segera kutangkap. Aku memandang berkeliling ke seluruh gazebo. "Siapapun! Tolooong!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD