Perang Status

1475 Words
Kamu tahu nggak, kenapa Allah menciptakan ruang-ruang kosong diantara jari-jari tangan kita? Itu karena suatu saat nanti ada orang yang datang pada kita untuk mengisi ruang-ruang kosong diantara jari-jari tangan kita itu dan menggenggamnya erat untuk selama-lamanya. *** Dan tak lama keluarlah dokter Reyhan dari mobil itu dan melambaikan tangan padaku. 'Yasalam! Kenapa dia kesini pagi-pagi? Jangan-jangan hendak membahas masalah semalam?!' batinku kacau seolah aku baru saja meletuskan balon hijau. Waduh, dia menuju ke sini. Aku segera bersembunyi di balik tiang rumah. "Assalamualaikum, pagi Nis! Kalau sembunyi mbok yang masuk akal. Saya boleh bertamu nggak?" "Waalaikumsalam, eh, ternyata ada dokter Reyhan. Masuk saja Dok, tapi di teras saja ya. Soalnya saya belum nyapu rumah," tukasku basa basi. 'Semoga dia merasa bahwa aku tidak ingin menerima tamu dan langsung pamit pulang," harapku. "Hm, di teras ide bagus. Kebetulan saya memang suka outdoor." Dokter Reyhan melangkah santai dan tanpa kupersilakan langsung duduk di kursi kayu di teras. "Loh, kok duduk Dok?" tanyaku heran. "Hm, bukannya tadi ada yang bilang kalau saya boleh bertamu tapi di teras?" tanyanya balik. Aku memukul dahi pelan. "Dih, lupa." Suasana hening sejenak. Aku hanya menunduk menekuri ubin lantai. "Kamu ternyata pendiem ya?" tanya dokter Reyhan akhirnya. Aku langsung mendongak menatap mata bening dokter itu. "Yakali Dok, saya harus nyanyi sambil salto padahal kemarin saya baru mengalami kejadian heboh!" sahutku ketus. Dokter Reyhan tertawa. Untung saja ganteng walaupun tingkahnya ngeselin. "Kamu lucu ya. Selalu tersenyum dan membuat bahagia orang yang deket sama kamu." "Dokter, jangan dikira orang yang humoris dan selalu tertawa adalah orang benar-benar bahagia. Siapa tahu orang itu menyembunyikan kesedihannya dan menangis paling panjang dalam sujud akhirnya pada Tuhan." Dokter muda itu tertawa sejenak. Kemudian memandangiku dengan serius. "Kamu bijak juga. Jadi siapa yang mengatakan kalau saya impot*n padamu?" Pertanyaan dokter Reyhan membuatku salah tingkah. Apalagi saat dia mulai mencondongkan badannya ke arahku yang belum mandi. "Yang memberitahu saya, Susan Dok. Tapi tolong jangan konfirmasi ke dia ya. Saya takut dimarahi." Akhirnya mau tidak mau aku mengatakannya dengan jujur. "Susan bidan pindahan dari VK juga?" tanya dokter Reyhan tenang. Aku mengangguk. "Hm, sudah kuduga. Dia memang genit ke saya. Tapi saya nggak suka cewek genit dan ganjen. Yang saya suka adalah cewek kurus, manis, humoris dan smart." Aku mendongak dan menatapnya galak. "Apaan sih Dok. Kalau mau menghibur orang yang sedang patah hati, bukan seperti itu caranya. Lagipula mana saya mau dengan laki-laki yang impot*n," tukasku menahan tawa. "Astaga. Kok gitu sih? Kamu mau bukti kalau saya sehat? Ayo kita buktikan berdua!" "Astaghfirullah. Nyebut Dok. Meskipun saya belum berjilbab, saya tahu mana yang boleh dilihat mana yang tidak." Aku berseru sambil menutup mata. Dokter Reyhan tertawa. "Apa maumu difotoin? Aku normal Nis. Sungguh. Jangan percaya sama Susan. Dia pernah mengatakan mencintai saya. Tapi tidak kugubris." Ucapan dokter Reyhan membuatku terkejut. Sebelum sempat membuka mulut, tiba-tiba terdengar suara Bunda. "Ganis, lama amat kalau nyapu te...." "Loh, ada tamu rupanya? Teman Ganis kan? Kok gak disuruh masuk ke dalam sih?" tanya Bunda menyalami dokter Reyhan. "Ganis tadi ...," Saat aku bingung hendak menjawab pertanyaan bunda terdengar ucapan dokter Reyhan. "Tidak apa-apa Bun, tadi saya yang meminta duduk di teras," sahutnya tersenyum. 'Astaga, tadi dia bilang apa? Bun? Enak saja! Emaknya siapa yang manggil Bun siapa!' "Oh, ya sudah kalau kamu minta duduk di sini. Jadi namamu siapa?" "Reyhan Bun. Saya teman kerja Ganis. Lebih tepatnya salah satu dokter umum di UGD dan status masih lajang." Aku mendelik dan bunda tertawa. 'Buat apa coba Reyhan mengatakan status segala.' "Kamu lucu ya dan ada manis-manisnya." "Wah, Bunda bisa saja. Emang saya le miner*le?" tanya Reyhan tertawa. 'Lah, Reyhan ini temannya siapa sih kok klopnya sama Bunda?' tanyaku dalam hati. "Apa Ayahnya Ganis juga ada di rumah?" tanya Reyhan. "Tadi pagi-pagi pergi ke warung apung sama mas Aris untuk memeriksa stok pakan ikan," sahut bunda. "Wah, kok Ganis nggak pernah cerita kalau punya warung apung?" tanya dokter Reyhan dengan wajah berbinar. Arrggh, dia pasti merencanakan sesuatu. "Bunda, kebetulan saya belum sarapan. Apa boleh saya berkunjung ke warung apung?" "Oh boleh, Nak Rey, sekalian kita bertiga sama-sama ya kesana. Jangan khawatir Bunda yang traktir. Nak Rey sarapan saja yang banyak dan puas, ya. Nggak usah sungkan." Mata Reyhan bersinar. "Tentu saja saya tidak akan sungkan, Bun." Aku mendelik dan bunda tertawa "Yuk ikut sarapan sekalian Nis, bunda malas masak di rumah." "Lah tadi bukannya lagi masak sup?" "Enak makan bareng-bareng. Yuk sana mandi, Nis. Terus ke warung," ajak bunda sambil menepuk bahuku. 'Aduh, kenapa jadi akrab gini sih sama Reyhan. Pasti dia ada udang di balik bakwan kalau seperti ini.' *** "Jadi, Ganis pernah salah sebut pasien yang harusnya Mbak jadi Mas, karena saking gantengnya pasien itu?" tanya ayah menahan senyum. "Iya, bukan hanya itu, ada pasien yang sempat menyatakan perasaan sama Ganis, sampai membawa kue tart besar. Dan teman-temannya lah yang kecipratan mencicipi kue tersebut." Duh, kenapa jadi membahas aib sih. Aku kan malu. "Makasih loh Nak Rey, sudah datang kesini dan menghibur kami sekeluarga dengan cerita lucunya setelah kemarin kami tegang karena ulah calon suami Ganis," kata bunda. "Sama-sama Bunda. Saya juga bahagia menemukan keluarga baru. Boleh kan saya sering berkunjung ke warung atau ke rumah Bunda?" tanya Reyhan tersenyum. "Boleh banget berkunjung ke warung sini. Apalagi kalau bayar!" sahutku sewot sebelum bunda sempat menjawab pertanyaan Reyhan. Ayah dan bunda mendelik sementara mas Aris tertawa. "Ganis ini suka ngelawak juga. Jadi jangan dimasukkan hati ya Nak. Kamu boleh kok berkunjung sesuka kamu," tukas bunda. 'Duh, Bunda ini paling gak bisa liat cowok sopan. Pasti langsung dijadikan kategori menantu idaman. Capek deh!' "Ehm, mohon maaf sebelumnya, Mas Aris, apa sudah punya cem-ceman ya? Saya punya sepupu usia 27 tahun dan sedang menunggu jodoh. Pekerjaannya pegawai bank. Kalau mau bisa saya kenalkan." Mata mas Aris mendadak bercahaya seperti sebuah lampion di tengah hutan. "Apa dia bisa menerima saya yang bukan seorang pegawai? Saya hanya pemilik kafe dan resto mungil cabang dari warung apung ini. Berkali-kali saya kenalan dengan perempuan yang selalu menginginkan calon suami yang ASN, ataupun CEO perusahaan. Jadi sekarang saya minder kalau cari perempuan lagi." 'Elah, mas Aris ikutan curhat. Bisa lama nih acara sarapannya.' "Wah, kebetulan. Sepupu saya suka sekali dengan laki-laki yang berjiwa pengusaha kuliner. Soalnya dia juga gemar masak. Apalagi warung Mas Aris kan rame. Wes tenang ae. Nanti saya beri nomor ponselnya. Berapa nomor Hpnya Mas?" tanya Reyhan sambil mengeluarkan ponsel dari saku celananya. 'Duh Gusti, kenapa Reyhan jadi bisa ngambil hati semua orang. Aaargh! Padahal dia kan laki-laki yang paling ngeselin kalau dines!' *** "Reyhan baik ya Nis. Kenapa gak pernah main kesini?" tanya ayah. "Ternyata main caturnya jago juga," sambung ayah lagi. "Iya kalau sudah cerita tentang rumah sakit atau perjalanan kariernya seru." "Apalagi sepupunya juga ternyata cakep, Nis." "Astaga, kenapa sih dari tadi ngomongin soal Reyhan mulu. Ganis kan sedang berusaha move on dan butuh waktu." Telingaku jadi gatal karena sedari tadi sampai makan malam hanya Ray Rey Ray Rey saja yang mereka bicarakan. "Cara cepat move on itu adalah mendapat penggantinya, Nis," sahut mas Aris. Aku memutar bola mata. "Nanti kalau dia jahat lagi seperti Erick gimana? Gak sanggup sakit hati kedua kali. Karena aku ini punya hati bukan laci sebagai tempat menitip perasaan." "Nggak semua laki-laki sama, Nis. Yang baik juga banyak." "Dahlah Mas, kalau Mas Aris sudah menemukan calon istri, Mas saja yang menikah lebih dulu. Kan wajar kalau kakak menikah lebih dulu daripada adiknya," sahutku tersenyum dan berlalu meninggalkan mereka yang masih menikmati makan malam. *** Aku meraih ponsel dan dengan hati gemas mengetik status w******p. [Saat ada seorang perempuan yang mengeluh mengalami kegagalan cinta, maka akan ada garangan yang siap menghiburnya] "Huh, mereka tidak tahu saja, kalau Reyhan itu boosy banget saat kerja. Ganis, ambilin ini, Ganis ambilin itu. Cuci ini, cuci itu. Kirim ke sana. Kirim ke sini. Nyebelin! Dan bagaimana nanti jika ada niatan jahat tersembunyi dari Reyhan saat mendekatiku?" Aku mengomel sendiri sambil menaikturunkan layar ponsel. Tak berapa lama, aku melihat status w******p milik Reyhan. [Sudah, terima saja cinta saya. Pasien yang tidak saya kenal saja, saya sayang-sayang, apalagi kamu] Aku menghela nafas membaca statusnya. Dan membuka statusku kembali. Benar saja, dokter Reyhan telah membaca status whatsappku. 'Oh, jadi ini balasan atas status whatsappku? Oke, kamu jual, aku beli!' Aku meraih ponsel lagi dan mengetik status w******p terbaru. [Perempuan itu seperti barbie yang bebas kamu mainkan seenak hati. Tapi ingat, laki-laki sejati tidak akan bermain barbie (Vinno G Bastian)] Tak lama kemudian status Reyhan pun diperbarui. [Kamu tahu apa bedanya kamu sama boneka? Boneka tidak punya perasaan tapi kamu punya hati yang akan terisi namaku untuk hari ini, esok, dan seterusnya. Begitupun hatiku yang akan terisi dengan namamu. Tugasmu hanya percaya padaku] 'Prett!' Aku tertawa membaca status w******p Reyhan. 'Dasar aneh!' Saat hendak mengetik status w******p lagi, tiba-tiba muncul sebuah nomor asing melakukan panggilan w******p padaku. Aku segera menekan tombol hijau, "Halo," "Halo, ini Rengganis? Aku Anin, istrinya Erick ...,"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD