Tahu nggak seberapa pentingnya kamu untukku? Sama seperti jantung yang membutuhkan detaknya.
***
"Bukannya Dokter itu menderita impot*n ya?"
"Hah? Kata siapa kamu?"
"Eh, nganu ... itu ...!"
Aku menutup mulut dengan telapak tangan. Sadar kalau aku telah salah bicara.
"Nganu ... nganu apa? Beh, fitnah itu Nis! Ngomong yang jelas, aku tidak mau difitnah. Punyaku sehat wal'afiat dan kokoh tak tertandingi. Satu lagi, yang pasti punya aku panjang kali lebar kali tinggi. Jadi siapa yang bilang padamu tentang hal itu?"
"Anu ... itu ... saya ...,"
"Aku sudah ada rasa sama kamu saat kamu pertama kali pindah ke UGD dulu. Saat pasien urgent memadati ruangan. Tapi karena kamu bilang sudah ada calon suami, ya aku mundur. Dan sekarang boleh dong saya maju lagi karena kamu batal kawin? Tapi saya kaget sekali saat mendengar fitnah itu sekarang!"
Aku terkejut mendengar pernyataan cinta yang kurang mesra itu.
"Sa-saya nggak bisa bilang Dok. Saya sudah janji."
"Rengganis Yasmin! Bilang yang jelas! Siapa yang mengatakan aku mengalami impot*n. Fitnah itu lebih kejam daripada pembunuhan!"
'Haduh Ganis, mulutmu kenapa lemes amat sih. Akhirnya melanggar janji pada Susan kan?!'
Aku merutuki diri sendiri.
Klik!
Kutekan tombol merah di ponsel dan menonkatifkan data agar Reyhan tidak bisa melakukan panggilan atau pesan melalui w******p.
Tapi tak lama kemudian terdengar dering lagu bahaya dari Arsy widianto dan Tiara Andini.
Astaga, Reyhan tidak putus asa dan melakukan panggilan telepon biasa!
"Aaaargh! Nggak tahu ah!"
Segera kumatikan saja ponsel sekaligus mengisi dayanya daripada harus bingung dengan pertanyaan Reyhan yang menuntut jawaban.
*
"UGD sekarang ada fasilitas PONEK, jadi beberapa bidan harus pindah ke UGD untuk bertugas di sana."
Ucapan mbak Lina, kepala ruangan VK membuatku menoleh ke arah jendela di sebelahku untuk menjelaskan secara tidak langsung bahwa aku tidak tertarik dengan hal itu dan berharap bukan aku yang dimutasi ke garis depan.
"Dan yang terpilih untuk pergi ke UGD dengan pengalamannya yang memadai ada 4 orang, yaitu Susan, Tiara, Arin dan Rengganis."
'Astoge, kenapa aku keseret sih!'
Aku cuma bisa manyun dan protes dalam hati.
"Mbak, kok saya sih?"
Akhirnya aku nekat juga memberanikan diri untuk bertanya.
"Sudah, nurut saja. Dines di UGD maupun VK kan sama saja. Tetap di rumah sakit ini. Oke Cantik. Setelah ini langsung ke UGD dan minta jadwal pada kepala ruangannya ya. Besok langsung dines sesuai jadwal."
Mau tidak mau aku harus menganggukkan kepala dengan setengah hati.
*
"Pagi Mbak, bidan kiriman dari VK ya?"
Suara merdu dokter Reyhan mengagetkanku yang sedang menata handscoon dan spuit ke etalase kaca.
"Iya, kenapa Dok?" tanyaku pendek.
Belum sempat dia menjawab, pintu kaca UGD terbuka.
"Dok, dokter! Tolong istri saya!"
Terdengar suara panik seorang laki-laki membuat aku dan dokter Reyhan tersentak.
Kami segera menuju ke pintu depan dan aku meraih brangkard untuk menuju ke mobil pasien.
Aku terbelalak saat melihat seorang pasien inpartu dengan kaki bayi sudah mengintip dari jalan lahir!
Astaga! Persalinan sungsang tidak sempurna ini!
Jantungku memompa darah lebih cepat dari biasanya.
"Dokter, anamnesa dan status pasien tolong diselesaikan di UGD tanpa pasien ya. Saya harus kirim pasien ke VK sekarang juga. Darurat sekali ini!"
Aku bergegas mendorong brangkard ke ruang bersalin dengan cepat tanpa menunggu jawaban dokter Reyhan karena melihat telapak kaki bayinya mulai membiru.
*
Baru saja aku meletakkan brangkard ke tempatnya semula dan masuk melalui pintu samping kaca UGD saat dokter Reyhan meneriakiku.
"Mbak, buruan siapkan injeksi MGsO4 karena ada pasien eklamsi yang kejang rujukan bidan praktek!"
"Ya Allah, Astaghfirullah!"
Aku berlari secepatnya dan menyiapkan apa yang diminta oleh dokter Reyhan lalu menyuntikkannya ke pant*t kanan dan kiri pasien sesuai prosedur.
*
Dua kali mengirimkan pasien urgent ke ruang bersalin dan dengan peluh berceceran aku masuk ke dalam ruang UGD lagi.
"Mbak, tolong langsung resusitasi BBL sama saya. Ini ada bayi gemeli rujukan bidan pelosok yang nafasnya sudah merintih!"
'Astaga! Aku belum sempat bernafas dan pertama kali pindah ke UGD sudah ada pasien yang gawat melulu. Semoga aku bisa menolong mereka dengan tepat waktu.'
*
"Haus Mbak?" sapa dokter Reyhan saat aku membuka botol air dan dengan rakus meminum isinya.
"Iyelah Dok. Dari tadi kan gak sempat duduk karena pasien gawat melulu."
"Ya Mbak, saya juga heran. Padahal selama tiga bulan kerja di sini sebelum mbak pindah ke UGD, pasien aman saja."
Aku mendelik mendengarnya.
"Jadi Dokter menuduh saya ...,"
"Bikin apes!"
Dokter Reyhan berkata dengan tenangnya sambil memotong ucapanku.
"Ish, fitnah. Enggak ada hubungannya antara pasien gawat darurat dengan kepindahan saya ke UGD!" sahutku ketus.
Belum sempat dokter Reyhan menyahut, terdengar ponselku berdering. Dan dengan cepat aku menekan tombol hijau lalu mendekatkannya ke telinga.
"Surprise! Aku ada di kota kamu! Ayo jalan-jalan dulu. Pasti sudah pulang dines kan?"
"Wah, siap Mas Erick. Tunggu ya, habis ini aku keluar dari rumah sakit."
Aku mematikan telepon dan kulihat wajah dokter Reyhan penuh rasa ingin tahu.
"Dari ... pacar?"
"Bukan."
"Terus? Kok mesra amat!"
"Eh, suka-suka saya dong Dok. Kepo amat. Mas Erick bukan cuma pacar, tapi calon suami saya. Sudah dulu Dok, saya mau nunggu jemputan di tempat parkir."
Aku segera bergegas menuju pintu keluar UGD setelah dokter Reyhan tersenyum dan menganggukkan kepalanya padaku.
*
"Kamu sepertinya akrab dengan dokter Reyhan ya?" tanya Susan lirih dan celingukan saat kami tukeran dinas di ruang UGD.
Aku juga ikut memandangi seisi ruang UGD dan tidak tampak dokter Reyhan di sana.
"Gak juga, cuma kalau ada aku sih, katanya pasien yang datang gawat darurat semua. Alias aku bikin apes," sahutku manyun.
"Kamu harus tahu Nis, kalau aku pernah deket sama dokter Reyhan," bisik Susan.
Aku menaikkan alis.
"So what gitu loh?! Nggak ada kaitannya denganku kan?"
Susan tertawa. "Iya sih, kamu kan sudah punya calon suami. Kirain bakal selingkuh dan meninggalkan mas Erick demi dokter Reyhan."
"Hei, aku nggak gila, San. Mana berani aku seperti itu."
"Baguslah, karena dokter Reyhan itu gak sebaik yang kamu kira."
"Itu bukan urusanku. Sudah ah, aku mau pulang dulu," pamitku pada Susan.
"Tunggu! Dokter Reyhan itu impot*n. Gak bisa nganu itunya. Kamu jangan pernah berpikir untuk mendekati dokter itu. Aku sudah pernah membuktikannya," kata Susan menarik lenganku.
"Astaga Susan! Jangan pernah melakukan s*x before merried dong. Karena kebanyakan korbannya perempuan!" seruku kaget.
"Heleh, kamu sok suci. Lagipula aku belum bener-bener melakukannya karena kondisi dokter Reyhan yang seperti itu. Dan tolong jaga rahasia ini ya. Karena aku sudah putus sama dia," kata Susan.
"Iya. Lagipula aku tidak tertarik dengan aib orang lain. Tidak pula pernah terpikirkan olehku untuk menggantikan mas Erick dengan dokter Reyhan. Sudah ah aku pulang," pamitku yang kedua kali sambil menepuk pipi Susan.
***
Aku terbangun subuh saat mendengar alarm ponsel berbunyi nyaring.
Sejenak menggeliatkan tubuh kekiri dan kekanan agar otot tidak kaku.
"Haduh, gara-gara dokter Reyhan telepon aneh-aneh, semalam jadi terbawa mimpi tentang saat bertemu dengan dokter Reyhan pertama kali," gumamku lalu bergegas turun dari ranjang dan ke kamar mandi untuk berwudhu.
"Ganis, kamu gak apa-apa?" tanya Bunda saat aku mendekat ke dapur dan mulai menyiangi sayur untuk sop.
"Ganis baik-baik saja Bunda. Jangan khawatir ya."
"Hm, bagaimana Bunda nggak cemas kalau anak Bunda pernah menelan diazepam 10 butir kemarin? Sudah lupa?" Bunda bertanya sambil menudingkan pisau padaku.
'Astaga, Bunda benar-benar bar-bar sekarang.'
"Ya gimana Bun. Awalnya aku sulit banget menerima hal itu. Merasa ditipu. Padahal mas Erick sudah menyatakan cinta sejak berseragam putih abu-abu. Ya siapa yang tidak galau di kalbu," sahutku mencoba berpuitis.
"Tapi sekarang aku sudah berusaha legowo apalagi mas Erick dan keluarganya sudah malu kemarin, Ganis sudah puas."
"Hm, ya sudah kalau gitu. Mumpung masih jam 6, biar mama saja yang memasak. Kamu nyapu teras dan tolong siramin tanaman Bunda ya. Kasihan nanti kalau tanaman Bunda layu. Bunda mahal tuh beli aneka daun talas, bonsai, dan mawar aneka warna."
"Oke Bunda."
Aku beranjak ke depan dan mulai meraih sapu saat aku melihat sebuah mobil alphard merapat di luar pagar.
Dan tak lama keluarlah dokter Reyhan dari mobil itu dan melambaikan tangan padaku.
'Yasalam! Kenapa dia kesini pagi-pagi? Jangan-jangan hendak membahas masalah semalam?!' batinku kacau seolah aku baru saja meletuskan balon hijau.
Next?
Catatan Kaki :
*VK = Ruang Bersalin
*Handscoon = Sarung Tangan
*Spuit = Alat untuk menyuntik
*MgSo4 = Magnesium sulfat, terapi pasien kejang saat hamil, bersalin
*Eklamsi = komplikasi keracunan kehamilan yang diawali dengan gejala tensi tinggi, pandangan mata kabur dan berkunang-kunang. Wajah dan tangan bengkak.
*Gemeli = kembar
*BBL= Bayi Baru Lahir
*Resusitasi = Usaha membantu pernapasan pasien
*Sungsang tidak sempurna = Posisi bayi dalam rahim dengan bagian bawah kaki saja, b****g saja, atau kaki dan b****g.