Bab 22

1736 Words

“Maafkan aku, Mas! Bahkan ketika kita belum bicara pun kamu masih sibuk bertelpon ria dengan Aisha. Aku merasa semakin kecil, minder dan rendah diri, Mas! Mungkin aku butuh waktu memantaskan diri … karena setiap berdiri di dekatmu aku merasa begitu hina bahkan di mata ibumu!” jerit batin Tari ketika sang suami baru saja kembali dan menutup telepon setelah berbicara dengan Aisha. Masa itu memang sudah berlalu, tapi selalu saja setiap kali mengingat itu hatinya terasa pedih, malu dan merasa rendah diri. Ramadhan sebentar lagi berakhir. Tari benar-benar sudah memutuskan untuk menata hatinya. Dia tidak sanggup kalau tiba-tiba mendapati kenyataan sang suami akan menikah lagi dengan wanita yang pastinya lebih baik darinya---Aisha. Pikiran yang carut marut membuatnya melangkah tergesa tanpa

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD