"Kamu mau sembuh nggak?" tanya Willy kepada Radjini yang sedang merajut. Sebuah peningkatan untuk wanita muda itu karena ia tidak dibiarkan untuk berkeliaran di dapur selain untuk makan, maka Sukanti memberikan Radjini kesibukan untuk merajut yang ternyata sepertinya memang sebuah hobby wanita itu sejak dulu.
"Memangnya Ini sakit?"
"Menurut kamu?"
"Nggak sakit. Ini sehat, kok."
"Tapi Mbak Ini, kok lupa sama yang kemarin datang?" timpal Windy adik Willy.
"Siapa?"
"Itu yang di kafe?" tanyanya lagi dengan hati-hati setelah mendapatkan pelototan dari Sukanti yang baru saja bergabung dengan mereka di serambi belakang.
"Nggak ingat," jawabnya singkat sebelum kembali berkutat dengan benang dan hakpen.
"Lupa itu 'kan wajar. Namanya juga orang nggak ingat," ujar Sukanti menghibur.
"Tapi mau 'kan bertemu dengan temanku yang Dokter?" tanya Willy kembali membujuk.
"Ngapain?" tanya Radjini yang memang merasa sudah mulai membaik.
Hampir enam bulan sudah berlalu sejak ia bertemu dengan Radmila, meski sering sakit kepala dan sesak napas mengingat kedua nama yang disebutkan wanita cantik itu tetapi Radjini tahu tak mau memaksa untuk mengingat. Kewarasannya sudah mulai membaik, walau sakit hati memahami bahwa yang ia timang selama ini adalah boneka bukan anak dalam arti sebenarnya.
"Dugem Ini," jawab Willy asal.
"Ini sudah ke Dokter sama Bapak," tukas Radjini melihat Willy mulai tak sabar menghadapinya.
"Oh ya? Kenapa nggak bilang sama aku?"
"Kenapa harus bilang?" tanya Radjini yang kini malah kebingungan dengan pertanyaan Willy, bukankah selama ini pria itu yang menginginkan ia diperiksa?
"Ya 'kan aku pingin ikut."
"Memangnya kita mau piknik, priksa harus rombongan gitu banyak orang," ujar Radjini seraya terkikik geli. Kebiasaan baru Radjini kini sudah mulai bisa menunjukkan ekspresinya. Tidak hanya melamun dan histeris. Tubuhnya pun sudah mulai terisi.
"Kapan jadwal control berikutnya?"
"Hari ini kata Bapak," timpal Windy seraya sibuk memilih benang membalas pertanyaan Willy. "Oh ya Mbak. Temanku ada yang beli bentuk buket gitu. Bisa nggak, Mbak? Buat pacarnya."
"Aku ngga tahu kalau nggak ada contohnya."
"Gampang itu banyak di you tube. Nanti aku kasih lihat contohnya."
Sore hari setelah mandi dan merias diri sederhana. Radjini dengan celana skiny jeans berwarna biru dongker dengan kaos lengan pendek berwarna sama bergegas ke depan. Marwan dan Windy sudah menunggu. Rencana mereka setelah terapi akan mencari benang dan beberapa panduan merajut kekinian di toko benang yang tak jauh dari rumah sakit. Ia pun sudah mulai bisa menghasilkan pundi-pundi uang dari hasilnya merajut walau masih dalam bentuk dompet atau gantungan kunci dan sekarang ia mulai membuat jaket atau sweeter yang dibuat dengan system made by order dengan diawasi langsung oleh Windy.
Langkahnya melambat begitu hampir sampai di depan lobby rumah sakit. Rumah sakit tempatnya terapi saat ini adalah rumah sakit yang sama tempatnya melahirkan dulu. Radjini memerlukan banyak kekuatan hanya untuk melangkahkan kaki ke rumah sakit ini. Dirinya yang kini sudah banyak mengingat berbeda dengan saat lima bulan yang lalu dibawa Marwan ke sini. Mentalnya benar-benar diuji untuk tidak mengingat semua kilasan masa lalu.
"Mbak sesak lagi?" tanya Windy yang khawatir karena Radjini sedari tadi mengelus dadanya yang tertutup jaket wool biru laut hasil handmade, perlu hampir satu bulan ia membuatnya.
Radjini cepat-cepat menurunkan tangannya dan menggeleng. Ia saja bingung rasa sesak itu muncul dari mana, Sementara asmanya seingatnya sudah lama tidak pernah kambuh sejak ....
Tiba-tiba kepalanya terasa berat. Radjini segera memegangi kepalanya saat pandangan matanya mengabur.
Marwan dan Windy dengan sigap menangkap tubuhnya yang roboh sebelum menghantam halaman beraspal itu. Petugas yang melihat dengan sigap segera membantu dan yang lain mengambil brankar.
Sementara itu Agha yang juga belum lama sampai di depan Rumah Sakit Kasih Ibu itu, segera menutup pintu mobil begitu sang putri meminta ia yang menggendong alih-alih Surya yang juga ikut bersama dengan Asparini.
"Tataknya datuh!" ujar Niha seraya menunjuk ke arah tiga orang yang salah satunya tampak sakit dan mungkin saja pingsan.
Biasanya Agha tidak peduli karena fokusnya saat ini adalah kesembuhan sang putri yang sedang kambuh radang paru-parunya. Namun ada desir halus saat melihat adegan di depannya itu.
"Lagian ya namanya juga rumah sakit itu orang sakit kok disuruh jalan, masa nggak bisa pinjam kursi roda dulu kek, jadi pingsan 'kan," komentar Asparini menimpali ucapan cucunya.
"Kadang kala orang 'kan merasa sehat, Ma," ujar Surya.
Agha hanya diam menyaksikan bagaimana tubuh yang lunglai itu dinaikkan ke atas brankar jarak mereka semain dekat dan Langkah rombongannya seketika berhenti saat topi safari berwarna biru yang dipakai Radjini terlepas dan mereka mengenalinya.
"Itu 'kan?!" Asparini terhenyak tak lagi bisa meneruskan ucapannya. "Mas?!" ujarnya lagi seraya mencengkram lengan Agha yang bebas.
"Siapa mereka?" tambah Surya keheranan merasa tidak mengenali mereka yang tampak khawatir dengan keadaan Radjini, bahkan wanita muda yang mendekap topi Radjini sudah mulai menangis dan dirangkul oleh pria yang ia perkirakan sedikit lebih muda darinya.
Agha masih terdiam di tempatnya, kembali teringat dengan perkataan Radmila pada percakapan telepon dengan sang ibu. Melihat pakaian yang dipakai orang-orang itu terlihat bahwa mereka juga berasal dari kelas menengah ke atas. Jakun Agha naik turun, sementara sorot matanya tajam menelisik, tangannya yang terbebas tak menggendong Niha mengepal sampai uratnya semakin liat terlihat.
'Sekarang saja dia tinggal di rumah laki-laki ganteng, mapan dan yang pasti masih muda.'
Jangan-jangan mereka adalah keluarga dari pria muda yang dimaksud, lalu ada hubungan apa mereka dengan Radjini yang bahkan ia sudah kenal semua anggota keluarganya bahkan sebelum Radjini lahir.
*
Radjini mengerjapkan mata kemudian kedua tangannya menutupi muka karena silau dengan suasana ruangan yang terang dan hiruk pikuk yang terjadi. Ia mengedarkan pandangan ke sekitar tapi tidak menemukan satupun sosok yang dikenal. Windy maupun Marwan tak terlihat batang hidungnya.
'Ke mana mereka?'
Para tenaga medis tampak berlalu lalang rupanya suasana IGD penuh dengan pasien kecelakaan.
Radjini bangkit dan terlihat selang infus tertancap di tangannya. Ia pun menghela napas panjang. Bukan ini yang ia inginkan. Pekerjaannya sangat banyak. Ia tidak bisa berpangku tangan, tinggal di rumah keluarga Marwan Suparhito selama ini dengan cuma-cuma. Mereka sudah cukup baik, apalagi sampai membawanya berobat yang tentu saja biayanya tidak murah. Radjini tidak boleh sakit – tidak mau – lebih tepatnya. Jangan sampai opname, Radjini benci rumah sakit. Terlebih di rumah sakit ini, ia kehilangan segalanya. Dunianya hilang dimulai di sini. Ah tidak... tidak di sini. Di sini adalah permulaan penderitaan barunya.
"Kamu sudah bangun?" sapa Marwan.
"Sudah Pak. Ini nggak mau opname, jangan."
"Dokter bilang kamu harus opname. Sampai kita tahu sumber sakit kepalamu."
"Ini nggak apa-apa kok, cuma terlalu capek berpikir saja."
Marwan menghela napas panjang. "Mikir apa sih, Nak?"
"Masa laluku."
"Katanya kamu nggak mau ingat?"
"Aku mau anakku, Pak."
"Kita akan cari nanti setelah kamu sehat."
"Tapi kapan?"
"Sabar," ujar Marwan seraya menepuk kaki Radjini dari atas selimut.
"Tapi tetap ya, Ini nggak mau opname. Ayo, kita ketemu Dokter Cantik."
Setelah pemeriksaan yang berjalan hampir satu jam. Mereka bertiga kemudian menuju Toko Benang yang terletak tidak jauh dari Pasar Induk.
"Banyak macam benangnya aku jadi bingung, warnanya juga cantik-cantik, " kata Windy melihat banyaknya macam benang rajut yang berderet. Dari benang polyester sampai benang jerami.
"Ya sudah kalian di sini dulu ya. Kalau ada apa-apa telpon bapak. Bapak ke warung soto sana saja menunggu kalian."
"Baik Pak," jawab keduanya hampir dalam waktu yang bersamaan.
Saat asyiknya memilih benang. Seorang wanita cantik berusia tiga puluhan menepuk bahu Radjini. Reflek ia menoleh dan tersenyum.
"Masih ingat kakak, kau?" sapa wanita di depannya.
"Ingat dong, Kak Tiur."
"Kakak tadi sebetulnya sempat pangkling benar tidak itu Ini ya? Cantik kali sekarang. Sampai silau kami lihat ha ha ha. Sehat kau?"
"Sehat Kak."
"Kenapa tidak pernah singgah ke kedai? Sudah tidak pernah ke pasar, kau?"
Radjini menggeleng. "Ini mulai pengobatan Kak. Kata Bapak sementara jangan pergi jauh-jauh dulu. Fokus penyembuhan dan sekarang kegiatan baru Ini, merajut."
"Dapat duit tidak, kau merajut itu?"
"Adalah Kak, walau belum seberapa. Lumayan Ini bisa beli baju baru."
Wanita bernama Tiur yang datang bersama dengan suami dan anaknya. Ia merupakan pemilik kedai buah tempat Radjini sering tidur saat masa setelah kabur dari RSJ. Tiur juga yang sering membujuknya untuk membersihkan diri dan membelikan perlengkapan kebersihan dulu, bahkan pakaian dalam kini.enatap Radjini dari ujung kepala sampai ujung kaki.
"Memang beda cantik kali kau sekarang. Luka di lehermu juga hampir hilang. Tapi lebih cantik lagi kalau perawatan. Mau kau pergi perawatan dengan kakak?"
"Mau, tapi uangnya? Ini nggak punya uang. Padahal pingin potong rambut," ujarnya seraya menyentuh ujung rambutnya.
"Gampang itu, kalau mau kau bisa bantu Kakak di kedai. Sudah tidak pernah pungut kardus 'kan?"
Radjini kembali menggeleng. "Yang baik kasih Ini kardus bekas 'kan cuma Kakak dan orang-orang di Los 5."
"Kakak pernah bilang 'kan. Kau pasti akan sehat. Lihat cantiknya kau sekarang. Sudah sini kasih alamat kau, nanti kakak ke sana kita jalan-jalan."
Radjini pun memberikan alamat rumah Marwan di mana ia tinggal.
"Kau ngekos di sana?"
"Anggap saja begitu."
Tanpa mereka sadari ada seseorang yang memperhatikan interaksi keduanya dari dalam mobil. Orang tersebut memotret interaksi Radjini dan Tiur dan segera mengirimkan dalam sebuah room chat.
"Cari tahu orang di dokumen yang sudah saya kirim. Saya mau tahu siapa mereka secepatnya."
TBC