Agha membuka lembar demi lembar berkas yang baru saja diantarkan oleh sekretarisnya saat pintu ruang kerjanya di buka dan sang ibu masuk.
Asparini segera mengambil duduk di seberang sang putra alih-alih di sofa santai seperti kebiasaannya.
Agha menaikkan satu alisnya tak menutupi keheranannya yang kemudian melepaskan kacamata baca dan meletakkan berkas. "Ada apa, Ma. Tumben?"
Asparini menghela napas Panjang yang seolah dari tadi tertahan di kerongkongan. "Mama tadi dapat info dari Ratih." Ratih adalah penanggung jawab salon milik Asparini.
"Info apa?" tanya Agha masih keheranan. Informasi seperti apa yang sampai bisa mempengaruhi kebiasaan sang ibu.
"Info wow."
"Wow bagaimana?" tanya sambil lalu yang mulai tidak tertarik.
Agha lalu menuduk dan hendak meraih berkasnya kembali lalu ia urungkan saat satu nama terucap dari sang ibu. Siapa lagi kalau bukan Radjini.
"Radjini?!"
"Iya. Mama nggak bohong. Jelas tadi Ratih bilang begitu."
"Dan Ratih tahu dari mana."
"Nah ini dia sumbernya. Mama sebetulnya percaya tidak percaya. Sekaligus juga takut dengan reaksimu," katanya yang kini berhati-hati.
Agha rasanya mulai paham kenapa kebiasaan mamanya berubah. Menghilangnya Radjini merubah tidak hanya dirinya tetapi seluruh anggota keluarga Danayaksa.
"Dia ...."
"Bilang saja, Ma. Tapi aku juga tidak janji untuk tidak emosi," ujarnya dingin dan acuh tak acuh walau seribu persen penasaran. Namun ia banyak belajar untuk tidak mengumbar emosi dan keinginan seperti dulu lagi. Apa yang akan ia lakukan sudah lebih perhitungan dan semakin sedikit orang yang tahu semakin baik.
"Radmila."
Agha berdecak jengah mendengar nama itu kembali disebut. Hubungannya dengan istri keduanya itu sedang tidak baik-baik saja. Bahkan mereka sedang masa pisah ranjang dan tampaknya wanita itu mulai membual sekarang.
"Kamu tidak marah? Kamu tidak percaya?"
"Tidak," jawabnya dingin.
"Bukannya kamu mau menceraikan Jini begitu dia kembali?"
"Selama dia belum muncul di depanku, aku tidak percaya."
"Coba saja kamu tanya Radmila."
Agha mendengkus jengah. Berurusan kembali dengan anggota keluarja Prawiro tidak ada dalam daftarnya selain urusan bisnis, tentu saja.
"Kamu harus segera menyelesaikan urusan dengan anak-anak keluarga Prawiro."
"Kalau Jini memang muncul aku akan selesaikan urusan diantara kami. Dia harus bertanggung jawab dengan kepergiannya tanpa pesan." Tentu saja kalimat terakhir hanya ia simpan dalam hati, rencana Agha terhadap Radjini sama sekali tidak diketahui siapapun bahkan anggota keluarganya.
Semua rasa bercampur jika mengingat wanita itu. Wanita yang merupakan anak bungsu dari keluarga Bayu Prawiro dan sempat mengarungi biduk rumah tangga dengannya selama satu tahun sebelum menghilang.
Asparini melirik sang anak sekilas sebelum mengangkat ponselnya yang berdering.
"Angkat saja," ujar Agha melihat keraguan dari rauh wajah sang mama dan seketika bisa menebak siapa yang sedang menghubungi.
"Yakin Mas?"
"Sudah, angkat saja."
Bukannya apa-apa. Asparini tahu sekali bagaimana bencinya anak laki-laki bungsunya itu dengan kedua anak dari keluarga Prawiro bahkan mendengar suara Radmila saja putranya bisa menghindar. Seperti yang dilakukan saat ini. Agha langsung bangkit dari duduknya dan menuju bar yang masih satu ruangan. Mereka saat ini sedang di ruang kerja rumah Agha. Agha memang sedang bekerja dari rumah hari ini.
"Ada apa Mila?" sapa Asparini seraya menghidupkan pengeras suara.
"Mama sudah tahu kabar dari Ratih?"
"Sudah. Kenapa kamu nggak kasih tahu mama langsung. Mama tersinggung dengan perbuatanmu. Kamu itu seperti nggak punya nomor mama saja. Lain soal kalau kamu nggak tahu."
"Maaf Ma. Kemarin spontan saja."
"Halah, kamu itu selalu saja punya jawaban. Kapan kamu pulang? Tenggok Niha, dia sakit dan mencarimu."
"Mama kandungnya 'kan sudah datang jemput saja."
"Kamu ini memang ngga punya perasaan ya."
"Ibu tiri memang seharusnya begitu 'kan, Ma. Aku harus jahat di mata anak tiri dan semua orang."
"Kamu ini, mama sampai bingung mau komentari apa lagi."
"Selama ini 'kan Mama sudah banyak complain tentang aku. Tuh, menantu mama sudah muncul lagi cepat gih jemput. Jangan sampai ada yang jemput lebih dulu."
"Maksud kamu apa?"
"Mama nggak lupa 'kan. Nggak cuma Mas Agha yang mencari Jini. Dia juga sampai saat ini belum berhenti mencari."
"Kamu mengancam, mama?" tanya Asparini dengan kecemasan yang kental seraya melirik sang putra yang meletakkan gelas kristal berisi cairan berwarna keemasan dengan keras di atas meja.
Terdengar suara kekehan penuh ejekan dari seberang sana. "Siapa yang mau mengancam. Aku nggak perlu repot-repot lakukan itu. Walaupun Jini amnesia masih banyak laki-laki yang mencarinya. Sekarang saja dia tinggal di rumah laki-laki ganteng, mapan dan yang pasti masih muda."
Radmila sengaja mengatakan hal itu merujuk pada Willy anak dari Marwan yang merupakan manager operasional Echo Tenan. Ia pun sadar melakukan itu karena tahu ibu mertuanya sedang bersama dengan suaminya yang akan segera menjadi mantan.
"Oh ya Ma. Bilang sama Mas Agha. Besok adalah sidang terakhir. Kalau bisa datang ya karena aku nggak bisa. Kasihan pacarku aku anggurin."
"Kurang ajar!" umpat Asparini yang langsung mematikan panggilan itu.
Bersamaan dengan guci kristal setinggi satu meter yang berada di sudut ruangan pecah berkeping-keping terkena ayunan stick golf, berkat ayunan lengan kekar milik pria dengan raut wajah penuh amarah.
"Ada apa ribut-ribut?!" tegur Surya Danayaksa ayah dari Agha yang berdiri di ambang pintu menggendong balita perempuan.
Tak ada satu pun orang dalam ruangan itu menyahuti baik Agha maupun sang ibu.
"Sini sama papa yuk."
Agha mengulurkan tangan pada Niha yang menyandar manja pada bahu Surya sementara di dahinya masih menempel kompres instant dan sebuah syal rajut melingkar di lehernya. Syal milik Agha hadiah ulang tahun dari Radjini. Agha menghela napas Panjang berharap apa yang ia lakukan bisa mngurai sesak di d**a karena kembali teringat dengan hal itu.
"Ndak au... mama atung aja," tolaknya seraya menampel tangan sang ayah yang ingin meraih tubuhnya.
"Kok, gitu? Papa juga kangen Niha, Pingin peluk-peluk juga," protes Agha seraya menunjukkan wajah merajuk seperti anak kecil yang lalu mendapatkan perhatian si gadis kecil yang rasanya cepat dewasa melebihi usianya.
Sang balita mengulurkan tangannya dan dengan segera Agha meraih tubuh mungilnya. Tubuh yang mungil, kurus tetapi lebih tinggi dari anak seusianya baru dua tahun.
Agha mencium ceruk leher gadis kecil dengan wajah dominan foto kopinya saat seusia itu. "Papa beneran kangen sama Niha. Cepat sembuh ya. Niha mau apa?"
"Beyenang." Berenang memang merupakan hobby Niha Danayaksa, gadis kecil itu sudah menekuni kegiatan itu bahkan sejak usia masih enam bulan. Hal itu dilakukan juga sebagai upaya terapi agar paru-paru si Buah Hati berkembang sempurna, tentu saja tetap dalam pengawasan paraprofessional dibidangnya.
"Nanti ya kalau sudah sembuh."
Niha pun lantas terbatuk hebat karena mulai merenggek. "Au cekayang."
"Kamu masih batuk, Nak," bujuk Agha.
Ia pun segera mengambil nebulizer yang selalu ada tak jauh dari tempat biasa Niha berada dan memasangkan pada wajah gadis kecil yang kini dibaringkan setengah duduk di sofa.
"Nanti ke rumah sakit ya," bujuk Agha lagi. Sang anak pun mengangguk dengan mata yang kini menutup.