Kembali ke masa kini.
Agha Danayaksa ....
"Aku tidak pernah mencintaimu, Jini. Kamu hanya sebagai istri pengganti. Aku hanya ingin anak dari keturunan Adiningrat."
Radmila ....
"Kamu itu anak pengganti. Kamu sama sekali bukan adikku. Dasar anak sial! Kamu selamanya hanya sebagai pengganti adikku yang sudah meninggal jadi kamu tidak ada hak untuk mendapatkan kasih sayang yang seharusnya memang semuanya buat aku. Kamu anak sial makanya orang tuamu juga meninggalkanmu. Kamu memang tidak pernah diinginkan."
Kepala Radjini terasa berdenyut hebat saat mengingat kilasan peristiwa dan nama itu. Tidak hanya kepala, hatinya pun terasa sesak. Ia berkali-kali mengusap dadanya sebelum bangkit dan membuka pintu dapur angkringan yang berkonsep seperti kafe mini milik Marwan.
"Tunggu Ni," tegur Marwan.
Tanpa berbalik badan dan tangan mencengkram engsel pintu dengan kuat Radjini menjawab, "Ini mau pulang."
"Pulang ke mana?" tanya Sukanti was-was. Sukanti belum rela jika sampai Radjini pergi bersama dengan wanita muda yang mengaku sebagai kakak gadis malang di depannya ini. Meskipun nama mereka mirip. Dari raut wajah keduanya tidak ada kemiripan. Wanita yang masih berada di depan sangat Indonesia sementara Radjini secantik gadis Timur Tengah.
"Ke rumah," jawabnya dengan suara bergetar saat merasakan nada berbeda dari Sukanti yang biasanya lembut menenangkan.
"Bu tenangkan dirimu, Jini sampai takut," bujuk Marwan yang masih bisa didengar oleh Radjini.
"Namaku Ini bukan Jini, Pak."
"Ah iya, duh bapak lupa banget, Ni," ujar Marwan seraya menepuk dahi yang paling tidak disukai oleh Radjini.
Dan benar saja sejurus kemudian Radjini berbalik badan tetapi masih dengan tangan memegang knop pintu.
"Jangan ditepuk dahinya nanti pusing. Ini sering tepuk dahi dengan tangan dan tembok kata Bu Dokter nggak boleh itu sakit."
"Iya iya, sekarang jawab dulu pertanyaan ibu, Ini mau pulang ke mana?" sergah Sukanti yang tidak sabar dengan tersenyum tipis.
Radjini terlihat sepolos anak balita jika sedang beradu argument dengan suaminya.
"Ke rumah lah."
"Iya rumah siapa?"
"Rumah ... emm ... rumah Pak RT."
Marwan dan Sukanti saling berpandangan dan tersenyum simpul. Kelegaan terlihat dari sorot mata keduanya. Marwan senang meski Radjini masih kadang lupa dengan namanya tetapi masih sering mengingatnya sebagai 'Pak RT'.
"Ayo bapak antar."
"Ini mau pulang sendiri," ujarnya yang kemudian berbalik menghadap daun pintu.
"Iya ayo sama bapak," ajak Marwan lagi meyakinkan.
Bagaimanapun kali ini mereka tidak mau membiarkan Radjini pergi sendiri. Rasa takut kehilangan semakin kental mereka rasakan. Apalagi terlihat wanita yang ada di depan sana bukan dari kalangan biasa seperti mereka. Radjini pun terlihat ketakutan tadi bertemu dengan wanita itu dan Marwan tidak mau ambil resiko jika Radjini akan kabur. Apalagi kabur-kaburan bukan kali pertama terjadi. Pertama dulu saat bertemu dengan Willy dan kedua kalinya saat melihat mobil mewah di jalan seperti yang dikendarai wanita modis yang mengaku bernama Radmila itu.
"Kamu tunggu dulu di sini. Biar Bapa ambilkan keretamu ya?"
"Nggak mau, takut," jawabnya cepat seraya mengatukkan dahi di daun pintu.
Sukanti segera mendekati dan memeluknya dari belakang. "Hayo, tadi katanya Bapak nggak boleh tepuk dahi. Kok, Ini antuk-antuk kepala? Kalau luka gimana? Mau Ibu kasih obat merah?"
"Nggak mau perih," ujarnya menggeleng-geleng.
"Sini duduk dulu tunggu Bapak ya."
"Ini takut."
"Takut apa? Ada ibu di sini. Jangan takut ya. Siapa mau sakiti Ini nanti ibu pukul dengan sapu lidi, ya?!" ujarnya seraya menunjuk sapu lidi yang terletak tidak jauh dari tempatnya berada.
Radjini bergeming sama sekali tidak merespon arah jari telunjuk Sukanti seperti jika saat ia tenang. Tatapan matanya mulai kosong tapi berkaca-kaca. Sorotnya tidak fokus, seperti orang kebingungan.
"Engh ... takut. Mereka nanti mengambil anakku. Anakku mana anakku?!" racau Radjini yang mulai mengayunkan tubuhnya maju mundur seraya duduk di bangku Panjang itu.
Kedua tangannya mulai menjambaki rambutnya sendiri, Sukanti segera mengusap kedua kepalan tangan itu seraya berdendang lagu anak-anak pengantar tidur.
"Cepat Pak!" ujarnya disela-sela nyanyian.
Sukanti memberikan isyarat kepada Marwan untuk beranjak terlebih dahulu. Marwan pun kembali ke depan guna mengambil stroller milik Radjini.
Radmila berulang kali menatap pintu yang menuju ke arah dapur. Ia sangat yakin wanita tadi yang ditemukannya adalah Radjini. Dan dugaan itu semakin kuat saat Radjini langsung kabur tak lama setelah ia menyebutkan namanya. Akhirnya setelah dua tahun tak terdengar kabar beritanya ia bisa menemukan Radjini yang pergi dari Rumah Sakit Kasih Ibu dan meninggalkan bayinya di sana.
Karma buruk terulang, dulu bibinya Laras yang meninggalkan Radjini di rumah sakit hingga Keluarga harus berembuk untuk merawatnya lalu Radjini melakukan itu kepada anaknya yang berada di ruang NICU karena paru-parunya sedikit mengalami masalah.
Radmila kemudian bangkit begitu melihat Marwan muncul dari lorong itu dan berjalan tergesa-gesa. Radmila kemudian menghadang, "Bagaimana Pak?"
"Radjini tidak mengenalimu. Sebaiknya kamu pergi."
"Nggak Pak. Saya yakin dia adik saya, walaupun tubuhnya kurus kering seperti itu."
"Saya tidak bisa memaksakan kalau dianya nggak mau. Lebih baik kamu pergi saja. Saya takut dia kabur," ujar Marwan terus terang. Ia harus memastikan bahwa wanita di depannya ini pergi dulu. Marwan tak ingin jika sampai ia dibuntuti saat mengantarkan Radjini pulang.
Radmila akhirnya mengalah, ia berusaha mengontrol sifatnya yang kadang memang suka memaksakan. Dirinya sadar saat ini bukan di tempat usahanya, ia adalah tamu di sini. Ia pun merasa jika Radjini sangat berbeda entah apa yang terjadi pada adiknya itu, apakah amnesia atau sesuatu yang lain terjadi. Ia pun sangat penasaran bagaimana bisa Radjini bersama dengan pemilik Angkringan Echo Tenan ini.
"Nanti saya akan kembali ke sini lagi ya, Pak."
"Monggo, silahkan. Pintu usaha kami selalu terbuka untuk siapa saja yang ingin menikmati suasana masakan kampung ala Yogya yang selalu bikin kangen."
Radmila hanya mengangguk, kemudian membayar makanan yang hampir tidak ia sentuh karena nafsu makannya mendadak hilang saat melihat Radjini tadi. Jam istirahat makan siangnya juga sudah hampir berakhir.
Wanita memakai dres berwarna biru tua yang merupakan asistennya bertanya, "Apa mau dibungkus saja, Bu?"
"Ah iya, boleh," balasnya yang baru saja teringat dengan ide itu. "Saya tunggu di mobil ya."
Radmila menunggu sang asisten tetapi matanya tak lepas antara lorong menuju dapur itu dan juga keberadaan Marwan yang seolah berjaga-jaga sampai ia pergi. Padahal harapannya Radjini akan muncul dari balik sana dan mencarinya. Setidaknya wanita yang lebih muda itu datang dan menanyakan kabarnya seperti waktu dulu.
Radmila rindu saat-saat ia kembali ke rumah dan Radjini selalu menyapanya. Adiknya itu akan meninggalkan apapun yang sedang ia kerjakan dan menyambut sang kaka. Bahkan kadang Radjini yang repot-repot membuatkan kudapan untuk teman belajar atau lemburan Radmila.
Hampir lima belas menit lamanya sampai mobil mewah berwarna hitam milik Radmila berlalu sampai Marwan bisa membawa stroller milik Radjini lewat pintu samping.
"Ayo bapak antar," ujarnya begitu melihat Radjini sudah tenang.
Sorot Radjini tidak tertuju pada Marwan tetapi ada stroller tersebut dan segera berhambur meraih boneka teletabis merah di dalamnya dan mengayun lembut.
"Anak bunda jangan pergi-pergi ya. Nanti bunda rindu," ujarnya yang membuat tidak hanya Marwan dan Sukanti tetapi juga beberapa pegawai terenyuh.
"Kasihan bisa kumat lagi, tuh," ujar salah satunya.
Sukanti berbalik mencari sumber suara dan berkata, "Woko, kamu sudah tahu keadaan Radjini bukan? Pastikan wanita yang tadi itu kalau datang kamu langsung kasih info saya."
Pria bernama Woko yang hendak menaruh nampan segera membuat sikap hormat. Tak ubahnya Woko, para pegawai di Echo Tenan sangat menghormati pasangan bos mereka yang sangat baik hati dan sederhana itu. Walau memiliki usaha yang cukup bagus tetapi keduanya masih setia berboncengan sepeda motor tua saat datang dan pergi dari sini. Bahkan mereka tak segan untuk membantu mencuci piring dan menyapu lantai.
Radmila tiba di butiknya hampir satu jam kemudian dan mendapati sang bunda sudah berada di ruangannya.
"Kamu terlambat dan lupa."
"Lupa apa, Bun?"
"Lupa kalau ada janji makan siang dengan bunda. Dari mana kamu? Makan siang dengan siapa kali ini? Jangan bilang kamu sudah punya kekasih baru lagi sampai melupaan bunda?"
"Tidak, Bun. Mila belum punya kekasih baru. Dan ya memang lupa kalau ada janji dengan Bunda. Tapi aku ...." Sengaja Radmila menjeda kalimatnya seraya menimbang apa perlu mengatakan kepada sang bunda tentang pertemuannya dengan Radjini tadi atau nanti setelah ia memastikan alasan kemunculan adiknya setelah dua tahun menghilang.
"Tapi apa? Halah mau alasan apa kamu, kalau lupa ya lupa saja!"
tbc