Gadis itu langsung masuk ke dalam kamar dengan perasaan yang membuncah senang. Ia pun dengan cepat merebahkan tubuhnya di atas kasur. Matanya menatap langit-langit kamar dengan senyuman yang tak pernah hilang dari wajahnya. Ah ... dia seperti tak bisa menghentikan semua perasaan ini.
Tangannya tanpa sadar mengambil sebuah guling dari samping dan memeluknya dengan erat. Ia membayangkan kejadian tadi, saat Randu mengatakan bahwa memang dirinya benar-benar cantik. Ia terdiam saat itu, tentu saja. Ia bingung untuk membalas apa pernyataan dari Randu. Tiba-tiba saja pria itu memuji dirinya cantik.
“Saya tidak berbohong ... kamu memang cantik, Jinan.”
Jinan langsung menutup wajahnya guling dan menahan dirinya untuk tak berteriak karena ia terlalu senang. Entah kenapa ... ia bisa menjadi seperti ini hanya karena Randu memujinya. Padahal ... Kak Kia dan juga Bang Danu sering memujinya namun tak sampai membuatnya menjadi seperti orang yang kedapatan untung memenangkan lotre sepertj ini.
Ia dan Randu cukup banyak berbicara tadi. Mereka membahas apapun untuk menjadi percakapan yang tak pernah putus. Lalu, gerimis datang yang membuatnya mau tak mau menghentikan percakapan mereka dan langsung pergi ke dalam kamar. Dan sampai saat ini ... Jinan tak bisa melupakan itu semua. Semua itu bagaikan kenangan manis yang akan selalu ia simpan. Padahal Randu cuma memujinya ... tetapi kenapa efeknya bisa sampai seperti ini?
Tanpa sadar, pikiran Jinan membawanya masuk ke dalam lamunan saat membayangkan pria itu. Randu ... seorang pria yang tinggi dengan badannya yang cukup besar. Pria itu sedikit memiliki lemak di perut, namun tak terlalu banyak yang membuatnya gemas. Dan juga tangan pria itu yang sedikit berotot mungkin karena selalu mengangkat box ikan yang sangat berat di pasar. Wajahnya ... Randu memiliki wajah yang terbilang tak tampan namun tak jelek juga. Pria itu manis. Kulitnya yang berwarna kecoklatan membuatnya menambah kesan manly pada pria itu.
“Jinan ...”
Sontak, Jinan langsung tersadar dari lamunannya. Ia memukul kepalanya sendiri yang bisa-bisanya mendeskripsikan Randu saat tak sengaja ia melihat tubuh setengah telanjang pria itu. Ah ... Jinan jadi malu sekarang. Tak sepatutnya ia seperti itu.
“Jinan ...”
Gadis itu langsung bangun dan berjalan membuka pintu kamar. Ada Kak Kia di sana tengah menatapnya dengan senyuman lembutnya. “Iya, Kak ... kenapa?”
“Makan siang dulu, yuk ... kita belum makan siang kan,” ujar Kak Kia.
Jinan tersenyum menanggapinya. Gadis itu pun mengangguk. “Iya ... aku mau ganti baju dulu tadi kegerimisan, nanti aku nyusul, Kak.”
Kak Kia mengangguk. “Ya sudah, Kakak tunggu ya ... jangan lama-lama nanti keburu dingin nggak enak makanannya.” Tangan Kak Kia mengelus pelan lengan Jinan.
Jinan pun mengangguk lagi. Lalu, ia melihat Kak Kia yang sudah berjalan menjauh. Ia pun langsung menutup pintunya dengan cepat. Menyandarkan tubuhnya di daun pintu, Jinan memegang dadanya yang berdetak begitu cepat.
Satu hal yang bisa ia rasakan sekarang ... dirinya menyukai pria itu. Ya, ia menyukai Randu. Pria yang sudah menolongnya. Ya Tuhan ... bagaimana ini?
•••••
Jinan mengambil tempat duduk seperti biasa di samping gadis kecil sahabatnya. Mereka duduk lesehan di bawah memang karena tak ada meja makan. Ia menatap sajian makanan di hadapannya dengan penuh minat. Ada ikan bakar, sambal, lalapan, dan juga sayur. Walaupun hanya begitu ... Jinan selalu menyukainya. Masakan Kak Kia sangat lezat dan pas di lidahnya.
“Kamu harus ngerasain sambal ini ... ini sambal khas Manado, enak banget ...” ucap Kak Kia seraya menyendokkan satu sendok sambal ke piringnya.
Jinan tersenyum kecil. “Memang semua masakan bikinan Kak Kia tak ada yang pernah gagal. Semuanya sangat enak,” ucap Jinan senang.
Mata Jinan melirik-lirik ke arah sekitar. Ia tak menemukan objek yang ia harapkan. Keningnya mengerut dalam. Kemana pria itu? Kemana Randu? Bukankah tadi pria itu masuk ke rumah bersamanya? Sekarang ... ia sama sekali tak melihat pria itu di sini. Jinan ingin menanyakannya kepada Kak Kia, namun ia urungkan niatnya itu karena ia tak mempunyai keberanian yang cukup.
“Kak Jin nyari apa? Kok matanya nggak mau diem gitu,” celetuk Cantika yang sedari tadi menatapnya. Gadis kecil itu menatap Jinan dengan tatapan bingung.
“Oh nggak ... tadi aku lihat kucing ... iya kucing lucu banget ... tapi kok sekarang udah nggak ada ya?” jawab Jinan berbohong. Ia memang tak mungkin jujur mengatakan bahwa dirinya mencari keberadaan Randu. Dan ya ... ini pertama kalinya ia berbohong kepada Cantika. Jinan memejamkan matanya ... sekali berbohong pasti akan ada kebohongan yang selanjutnya.
“Kucing? Mana? Aku mau lihat,” ucpa Cantika seraya berdiri dan mencari keberadaan kucing itu.
“Di luar Cantika, nggak mungkin kucingnya di dalam, Nak ...” jawab ibunya. “Nanti lihatnya habisa makan, sekarang kamu makan dulu.”
“Randu kemana?” tanya Bang Danu.
Jinan yang mendengarnya langsung memasang telinga baik-baik. Itulah yang sedari tadi ingin ia tanyakan. Namun, untungnya ada Bang Danu yang menanyakannya tanpa harus ia minta. Alhasil, dirinya menunggu jawaban dari Kak Kia.
“Ke rumah Pak Soleh,” jawab Kak Kia.
Kening Jinan berkerut. Siapa Pak Soleh? Untuk apa Randu ke sana?
Suara kekehan keluar dari mulut Bang Danu. “Pasti dia temuin anaknya itu si Anita ya?” ucap Bang Danu lagi.
Tiba-tiba saja perasaan Jinan menjadi tak karuan setelah mendengar nama seorang gadis disebut. Siapa tadi namanya? Oh, Anita.
“Nggak tahu, tapi dia bilang mau ada yang diomongin sama Pak Soleh.”
“Apa kita harus menikahkan mereka secepatnya? Aku melihat mereka sudah sangat dekat, mungkin juga Randu memiliki perasaan kepada Anita,” usul Bang Danu.
Jinan sontak langsung tersedak makanan yang baru saja ia telan. Dengan cepat, ia mengambil segelas air minum dan meneguknya dengan cepat.
“Jinan? Kamu nggak apa-apa? Makanya kalau makan hati-hati,” ucap Kak Kia khawatir.
Jinan tersenyum seraya mengangguk. “Nggak apa-apa kok, Kak.”
“Kak Jin dari tadi melamun terus sih, jadi ada setan yang gangguin kan, kata guru agama aku ... jangan melamun, nanti digangguin sama setan,” ucap Cantika yang membuat Jinan gemas melihatnya. Tangannya terangkat untuk mengacak rambut gadis kecil itu.
“Iya, nggak akan melamun lagi ... janji!” ucap Jinan.
“Umur Randu juga sudah matang untuk menikah ... jadi apa salahnya jika kita menikahkan Anita dan juga Randu ... bagaimana?” ucap Bang Danu yang lagi-lagi membahas tentang gadis bernama Anita itu.
Jinan menghela napasnya pelan. Baru saja ia menyadari perasaannya kepada Randu ... dan kini semuanya harus terhempas begitu saja saat mendengar bahwa Randu memiliki seorang gadis yang pria itu cintai.
“Janganlah, Bang ... kita tunggu dari Randunya sendiri saja ... kita tak bisa memaksakannya untuk menikah,” ucap Kak Kia.
“Hm ... kamu betul juga ... nanti akan Abang tanyakan kepada Randu,” jawabnya.
“Eh ... kenapa kamu malah melamun lagi, Jinan? Ayo ... cepat dihabiskan makanannya, itu punya Cantika saja sudah ludes habis, masa punya kamu masih banyak,” ucap Kak Kia.
Jinan kembali tersenyum lalu mengangguk. Ia menyuapkan makanan ke dalam mulutnya dengan lemah dan tak berselera lagi. Pikirannya sekarang dipenuhi oleh Randu dan wanita bernama Anita itu. Ia penasaran seperti apa Anita? Apa wanita itu sangat cantik sampai bisa mendapatkan hati Randu? Ah ... rasanya hatinya semakin sakit jika memikirkan hal itu. Mengapa ia tak rela seperti ini jika Randu dekat dengan wanita lain? Kenapa juga ia harus menyukai pria itu Tuhan?!
Tanpa sadar ... Jinan memukul piring dengan sendok begitu kencang hingga membuat dirinya sendiri pun terkejut.
“Kak Jin aku kaget!” ucap Cantika seraya memukul lengan Jinan.
Jinan tersenyum kikuk. “Maaf ... nggak sengaja,” ia berkata seperti itu bukan hanya kepada Cantika, namun juga kepada Kak Kia dan Bang Danu yang tengah melihatnya dengan bingung.
“Sepertinya kamu sedang memikirkan sesuatu? Apa itu karena kejadian yang lalu? Kamu masih sering memikirkan hal itu?” tanya Kak Kia dengan raut wajah yang serius.
Jinan dengan cepat mengangguk. “Nggak, Kak. Bukan itu.” Aku sedang memikirkan adikmu. Lanjutnya dalam hati.
“Mudah-mudahan saja seperti itu.”
“Kamu tuh lucu, Jinan,” ucap Bang Danu. “Sejak kehadiran kamu ... kami semua merasa terhibur,” lanjutnya.
Jinan pun tersenyum menanggapinya. Walaupun dalam hatinya ia merasa panas karena sedari tadi Bang Danu selalu membicarakan wanita bernama Anita. Hah ... Jinan jadi tak sabar ingin melihat Anita. Bagaimana rupa wanita itu sampai bisa meluluhkan hati Randu?
“Assalamualaikum ...” ucap seorang pria dengan suara beratnya.
Jinan langsung menoleh ke arah pintu, akhirnya seseorang yang dari tadi ia cari keberadaannya muncul juga. Jinan menatap Randu dan pria itu juga menatapnya ... hanya sebentar sebelum akhirnya mengalihkan pandangannya ke arah lain. Lalu, pria itu berjalan dan mengambil tempat duduk di sebelah Kia. Lalu sebelahnya lagi Cantika dan dirinya hanya terhalang oleh Cantika di tengah-tengah mereka.
“Nah ... akhirnya kamu pulang juga,” ujar Bang Danu.
“Bagaimana? Ngapain kamu ke rumah Pak Soleh tadi?” tanya Kak Kia penasaran.
“Ya, apalagi sayang? Dia pasti menemui Anita di sana ... iya kan?” ucap Bang Danu seraya menggoda adik iparnya itu.
Jinan hanya bisa memperhatikan dan mendengarkan baik-baik pembicaraan mereka. Ia tak akan ikut campur untuk masalah itu. Karena ia bukan siapa-siapa ... lebih baik ia menyimpan semuanya sendiri.
“Bukan, Bang ... kamu hanya membicarakan tentang masalah ikan-ikan saja ... dia ketika ke laut selalu sulit mendapatkan ikan ... dan dia bertanya padaku kenapa bisa sampai banyak mendapatkan ikan ... apakah menggunakan pukat harimau, kata dia begitu ...” jawab Randu.
“Enak saja dia bilang seperti itu, jelas-jelas kita hanya menggunakan jaring biasa, mwmang dia saja yang tak pandai mencari tempat,” jawab Bang Danu dengan nada yang kesal.
“Ya, Randu pun sudah menjelaskan kepadanya ... dan dia mengerti, makanya nanti saat kita pergi ke laut ... dia ingin ikut bersama kita dan mencari ikan bersama.”
“Lalu kamu jawab apa?” tanya Kak Kia penasaran.
“Randu iyakan saja, selama ini dia sudah banyak membantu kita selama masa kesulitan ... jadi apa salahnya kalau kita yang gantian membatu dirinya?” ucap Randu dengan bijak.
Tiba-tiba saja Bang Danu menatap adik iparnya itu dengan satu kedipan mata. “Bilang saja ... kau ingin mendapatkan hati bapaknya ... lalu setelah itu kau mendapatkan hati putrinya ... iyakan?”
Lagi dan lagi Bang Danu membicarakan wanita itu. Padahal Jinan sudah merasa enak dan nyaman ketika Randu membicarakan masalah ikan ... dan sekarang Bang Danu malah mengalihkan topik ke arah lain yang membuatnya kesal. Tak tahu kah ia kalau selama ia duduk di sini ia berusaha menyembunyikan rasa cemburunya?
“Ngomong apa sih, Bang? Tentu saja tidak ... kami hanya berteman,” jawab Randu dengan cepat.
Sontak, Jinan yang mendengar hal itu tersneyum puas. Ia menatap Randu dengan tatapan kagumnya. Ia senang karena Randu mengakui bahwa dirinya dan juga wanita itu tak memiliki hubungan apapun. Itu artinya ... ia masih punya kesempatan bukan? Dirinya masih bisa membuat Randu membalas perasaan sukanya ini.
“Ah, masa? Abang selalu lihat kalian dekat ... masa kamu nggak punya perasaan sama Anita,” pancing Bang Danu.
Randu menghela napasnya pelan. “Iya, kami hanya berteman ... lagian juga mana mungkin Anita menyukaiku? Itu mustahil ...” ujar Randu.
“Kamu betul juga, dia kan primadona di sini, banyak pria yang ingin mendekatinya,” ucap Bang Danu seraya tertawa kencang. “Tapi tak apa ... sebelum janur kuning melambai ... kamu masih punya kesempatan ... makanya harus lebih berusaha untuk mendapatkan hatinya!” lanjut Bang Danu.
Wajah Jinan langsung menekuk dibuatnya. Apa katanya tadi? Primadona? Ah ... rasanya ia kesal mendengar hal itu. Dan juga ... jawaban dari Randu tadi membuatnya sebal karena itu sedikit menyutujui ucapan Bang Danu yang mengatakan bahwa pria itu menyukai Anita, namun pria itu merasa tak pantas saja. Tanpa sadar ... tangannya mencengkeram roknya. Tuhan ... begini rasanya menyukai seorang pria? Kenapa ia harus menyukai Randu?!