Kia mendengarkan cerita yang keluar dari mulut Randu dengan seksama. Mereka semua tengah berkumpul di ruang tengah rumah dan membahas kejadian yang menimpa Jinan. Setelah mandi dan berganti pakaian, Randu langsung kembali menemui mereka dan menceritakan semuanya. Ia tahu, Jinan tak mungkin bisa bercerita karena gadis itu masih terlihat trauma dan juga teguncang. Jinan lebih banyak melamun sekarang, tatapannya pun menjadi kosong tak seperti sebelum kejadian naas menimpanya.
Kia langsung membawa kepala Jinan menyender di bahunya. Ia geram mendengar kejadian yang dialami oleh Jinan. Gadis itu ... banyak yang mengincar. Dan ia tak aman. Tangan Kia mengelus lembut rambut hitam Jinan. “Jangan takut lagi, di sini kamu aman, ada kami, Jinan,” ucap Kia dengan lembut.
Tak ada jawaban apapun dari Jinan. Gadis itu masih diam. Matanya pun menatap lurus ke arah depan.
Tangan kanan Kia menggenggam tangan kiri Jinan dengan kuat. “Jinan ... hei ... jangan melamun gitu ah ... nggak baik,” ucapnya lagi.
Mata Jinan mengerjap pelan. Lalu ia mengangkat kepalanya dari bahu Kia. Ia melihat Kia yang tersenyum lembut kepadanya. Air mata Jinan langsung luruh seketika. Sekarang bayang-bayang pria itu terus menghantuinya. Tiba-tiba saja selalu berputar di otaknya kejadian mengerikan yang ia alami tadi.
“Jangan nangis ... kamu di sini aman, Jinan ... ada Cantika, ada Kak Kia, ada Bang Danu, dan juga ... ada Randu ... kami semua akan melindungimu, kamu jangan takut lagi,” ucap Kia berusaha membuat Jinan sedikit lebih tenang. Tangan Kia terulur untuk menghapus jejak air mata di pipi gadis itu.
Jinan mengangguk pelan. Ia membalas senyuman Kia dengan senyuman kecil. “Terima kasih ... karena kalian sudah baik sama aku ... kalian seperti menganggap aku adalah bagian dari keluarga kalian ... aku gak tau gimana harus membalasnya nanti,” ujar Jinan dengan keharuan yang begitu dalam.
Ia bersyukur karena ditemukan oleh keluarga Kia yang baik. Ia tak bisa membayangkan jika bukan keluarga Kia yang menolongnya ... pasti tidak akan sebaik dan seperhatian ini kepadanya. Tuhan sudah terlalu baik kepadanya, mengirimkan keluarga Kia sebagai penyelamatnya.
“Jangan berbicara seperti itu, sebagai sesama manusia ... memang sudah kewajiban kita untuk saling tolong-menolong, harus membantu orang yang kesusahan, kamu sudah kami anggap sebagai keluarga kami sendiri, Jinan ... jangan membalas budi ... semua yang kami lakukan ikhlas lahir dan bathin,” jawab Bang Danu. Tangan besarnya mengelus rambut anaknya yang duduk di pangkuannya.
Jinan tersenyum seraya mengangguk menatap Bang Danu. Ia tak sadar bahwa dirinya tengah diamati oleh seseorang. Seseorang yang sudah menolongnya. Tatapan mata orang itu tak lepas dari wajah Jinan. Lalu, ketika orang itu dipergoki oleh Jinan tengah menatapanya terang-terangan, dengan cepat ia pun mengalihkan pandangannya ke arah lain.
“Terima kasih untuk Randu ... karena kamu udah nyelamatin aku,” ucap Jinan.
Randu menghela napasnya pelan. Ia menatap meja di hadapannya supaya matanya tak lagi menatap ke arah gadis itu. Lebih baik menatap meja daripada menatap Jinan terus-terusan yang membuat dirinya semakin bingung akan perasaannya. “Sudah terlalu banyak kamu mengucapkan hal itu, Jinan,” jawabnya.
“Aku akan terus berterima kasih kepadamu, Randu ... sampai kapan pun aku akan mengingat semua kebaikanmu,” ujar Jinan seraya menatap Randu dengan senyumannya. “Kalau tak ada Randu, kalau dia tak datang tepat waktu, saat itu ... mungkin orang jahat itu akan memperko-saku,” lanjut Jinan sambil mengalihkan pandangannya ke arah Kia. Tangan gadis itu semakin menggenggam tangan Kia dengan erat.
“Sudah ... jangan diceritakan lagi, Kak Kia tau ini semua berat untukmu, tapi Jinan ... lupakanlah kejadian itu ... Kak Kia nggak mau kamu menjadi pemurung seperti ini, ingat ... kata Randu orang jahat itu sudah dihukum, dia juga sudah ditangkap.”
“Cantika ... ajak Kak Jinan ke kamar ... dia butuh istirahat,” ucap Bang Danu.
Cantika langsung menoleh menatap ayahnya. Mata gadis kecil itu mengerjap-ngerjap lucu. “Aku juga ikut istirahat, Yah?” tanyanya.
Semua orang langsung tertawa mendengar pertanyaan dari Cantika. Tangan Bang Danu mengelus pelan surai hitam milik putrinya dengan lembut, lalu pria itu mencium pipinya dengan gemas. “Ya, boleh, kan udah malam, kamu juga harus tidur,” jawabnya.
“Oke,” ucap Cantika seraya menunjukkan ibu jarinya ke hadapan ayahnya. Gadis kecil itu langsung bangun dari pangkuan ayahnya dan berjalan menuju Jinan. “Kak Jin bibirnya kenapa? Sakit ya?” ujar Cantika dengan kening yang mengerut. Tangannya menyentuh ujung bibir Jinan yang lukanya kini sudah mulai mengering.
Jinan tersenyum kecil. “Ini tadi nggak sengaja kejedot tembok,” jawab Jinan lembut. Ia menyentuh tangan Cantika yang sedang menyentuh ujung bibirnya. “Udah nggak sakit, kan udah diobatin tadi,” lanjutnya.
“Oh, semoga Kak Jin cepet sembuh, temboknya jahat udah bikin bibir Kak Jin sakit.”
Jinan melepaskan genggaman tangannya dari tangan Kia. Ia tersenyum lembut menatap wanita itu. Setelah itu, Jinan berdiri dan langsung menggenggam tangan Cantika. “Ayo, kita ke kamar ... tapi sebelum istirahat ... aku mau mandi dulu, aku belum mandi tau,” ucap Jinan.
Cantika menatapnya dengan kaget. “Ih jorok! Udah malem juga kok belum mandi, pantes Kak Jin bau!”
“Enak aja ... aku wangi tau!” ucap Jinan seraya mengendus bajunya sendiri. Dan benar saja apa kata Cantika ... bau tak sedap keluar dari tubuhnya. Jinan terkekeh pelan menatap Cantika.
“Bau kan?”
“Ih, sstt ... jangan bilang gitu, aku malu, Cantika!” ujar Jinan dengan pelan.
Cantika langsung mengangguk dan menutup mulutnya dengan kedua tangan.
“Ayo, aku mau cepat-cepat mandi, setelah itu aku bacain kamu dongeng, terus kita tidur deh.”
Cantika meloncat kegirangan. Ia sudah tak sabar untuk diceritakan dongen oleh Jinan. “Buku baru ya, Kak Jin? Kan pas ke pasar kemarin beli buku cerita baru banyakk ...”
Jinan mengangguk sambil tersenyum. Salah satu tangannya yang tidak menggenggam tangan gadis kecil itu ia ulur untuk mengelus rambut panjangnya yang tebal. “Iya ... iya ... nanti aku bacain yang kamu suka.”
Semua percakapan antara Jinan dan juga Cantika tak lepas dari tiga pasang mata yang memperhatikan mereka. Kedekatan yang terjalin antara Jinan dan juga Cantika sudah seperti kakak dan adik. Saat Jinan dan Cantika pergi, Kia langsung menatap Randu dengan lekat.
“Ada kabar dari Pak Kades?” tanyanya denhan serius.
Randu menghela napasnya berat. Lalu pria itu pun menggeleng. “Belum.”
Kia memejamkan matanya. “Aku nggak bisa bayangin kalau nanti keluarga Jinan menemukannya dan membawanya pergi ... pasti Cantika akan sangat kesepian.”
“Dan jika Jinan terus berada di sini ... itu terlalu berisiko untuknya ... banyak orang jahat yang mengincarnya, Kia ...” ucap Bang Danu kepada istrinya. “Lebih baik ia segera ditemukan oleh keluarganya.”
“Bisakah aku berharap Jinan terus tinggal di sini bersama kita?”
“Itu terlalu egois, Kak ... dia juga punya kehidupan sebelum dia lupa ingatan ... keluargnya pasti ingin dia cepat ditemukan dan kembali pada mereka. Kita tak bisa menahannya jika saat itu sudah tiba, Jinan hanyalah orang yang tak sengaja kita tolong,” jawab Randu.
Kia mengangguk pelan. Ia mengerti semua penjelasan yang keluar dari mulut adik dan juga suaminya. Ya, benar apa kata Randu ... dirinya terlalu egois jika memaksakan Jinan terus tinggal bersamanya. Kia hanya berharap ... semoga semuanya baik-baik saja ... dan gadis itu tak lagi mendapatkan kejadian seperti tadi.
•••••
Sudah hampir satu minggu lebih Jinan tinggal bersama keluarga Kia. Kegiatan sehari-harinya tak jauh dari bermain bersama Cantika dan juga membantu pekerjaan rumah bersama Kia. Jujur, Jinan mulai memikirkan kehidupan lamanya. Sampai saat ini, ia belum bisa mengingat apapun tentang dirinya.
Jinan duduk di pinggir pantai seraya menatap ombak laut yang cukup besar. Sinar matahari siang tak membuatnya beranjak sedikit pun dari tempat ia duduk kini. Melamun memikirkan hidup seraya menatap keindahan ciptaan Tuhan memang tak pernah membosankan. Yang membuatnya betah tinggal di sini ya karena hal itu ... ia merasa dekat sekali dengan alam dan berbaur menyatu bersamanya.
“Panas di sini, kenapa tidak masuk ke dalam?”
Jinan menoleh ke belakang dengan mata yang disipitkan karena pancaran sinar matahari matahari membuatnya silau. Gadis itu tersenyum seraya menatap Randu sebentar, setelah itu ia alihkan lagi pandangannya ke arah laut. “Enak di sini, bisa lihat ombak,” jawabnya sambil meluruskan kedua kakinya di atas pasir.
Tanpa persetujuan dari Jinan, Randu mengambil tempat duduk di sebelah gadis itu. Ia menekuk kedua kakinya seraya meletakkan kedua tangannya di atas lutut. “Nanti kulitmu hitam karena kepanasan, tidak takut?”
Jinan menoleh lagi, kemudian gadis itu menggeleng pelan. Ia menatap kulitnya sendiri yang kini sudah sedikit memerah. “Tidak ...” jawabnya lagi.
Helaan napas terdengar dari mulut pria itu. “Dulu ... di sini ramai seperti perkampungan ... setiap jam segini anak-anak selalu bermain layang-layang sampai sore ...” Randu mulai bercerita.
Jinan menjadi sangat tertarik mendengarnya. Ia pun memasang telinganya dengan benar. Lalu, menatap pria itu yang kini menatap sedang hamparan laut yang luar di hadapan mereka. “Lalu?” ucap Jinan penasaran.
“Karena tsunami ... semuanya jadi hancur ... tak ada yang tersisa sedikit pun ... banyak orang yang meninggal ... akhirnya para warga pindah lebih dalam agar tak terlalu dekat dengan pantai dan juga ... menghindari tsunami lagi tentu saja,” jawab Randu.
Gadis itu mengangguk mengerti. Namun, kedua alisnya saling bertaut, “Kenapa kalian tidak ikut pindah ke dalam? Bukankah akan lebih aman? Jika nanti ada tsunami lagi bagaimana?”
Randu menoleh menatap Jinan. Senyuman kecil terbit di wajah pria itu. “Tak semudah itu, Jinan. Rumah ini adalah peniggalan dari bapak saya, hanya ini satu-satunya yang tersisa dari beliau, ketika tsunami itu menghancurkan semuanya ... kami berusaha membangun rumah ini lagi, banyak sekali kenangan yang tersimpan di sini,” ujarnya.
“Nanti kalau ada tsunami lagi bagaimana?”
“Kamu mendoakan seperti itu?” tanya Randu. Jinan jadi kelabakan dibuatnya, bukan ... bukan itu maksud dirinya bertanya seperti itu.
“Nggak ... nggak seperti itu, Randu ... hanya saja kalau misalnya tsunami itu datang lagi, bagaimana? Kita tidak tahu bukan kapan bencana akan terjadi ...” ucap Jinan. Lalu ia melihat ke arah sekeliling mereka. “Hanya ada rumahmu saja di sini, tak ada warga yang lain.”
“Ya, kami akan pergi menyelamatkan diri ... apalagi?”
Jinan menghela napasnya pelan. “Ya, aku tahu itu. Sudahlah ...”
Randu menggeleng pelan melihat tingkah Jinan. “Keluarga itu sangat penting menurut saya ... kehangatan, kasih sayang, memori manis ... semuanya ada pada keluarga ... jadi sebisa mungkin saya tak akan pernah meninggalkannya,” jawab Randu.
Jinan terdiam. Ia jadi memikirkan tentang keluarganya. Seperti apa keluarganya? Apa sama seperti yang Randu katakan?
“Kamu ... tidak rindu keluargamu?” tanya Randu hati-hati.
Jinan langsung menoleh menatap pria itu. “Aku tak tahu. Bahkan, mengingat mereka saja aku tak bisa,” jawab Jinan cepat.
“Seharusnya ... kamu kami bawa ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan dari dokter ... tapi maaf Jinan ... keadaan ekonomi kami yang tak memungkinkan untuk itu.” Randu menatap Jinan dengan sedih. Ya, seharusnya gadis itu mendapatkan perawatan dari tim medis, bukan dari orang awam seperti dirinya dan juga Kia. Kia hanya membantu sebisa dan setahu wanita itu saja.
Jinan menggeleng cepat. “Aku baik-baik saja ... kalian sudah merawatku dengan sangat baik, aku bahkan tak merasakan sakit lagi ... mungkin saja ... nanti ingatanku akan kembali lagi, tinggal menunggu waktu yang tepat,” ucapnya dengan senyuman yang mengembang.
Randu terpana. Sudah beberapa kali ia selalu terpana akan kelembutan dan pesona dari Jinan. Wajah cantik itu ... membuatnya terlena. Randu bahkan mengira Jinan bukanlah seorang manusia karena parasnya yang begitu memukau. Randu jadi berpikir ... sebelum kecelakaan menimpa gadis itu ... apakah gadis itu mempunyai kekasih atau seorang suami? Memikirkannya saja membuat sedikit kesal.
“Kenapa kamu menatapku seperti itu?” ucap Jinan dengan kening yang mengerut bingung.
“Saat itu, kamu pernah berkata bahwa dirimu cantik. Dan sekarang ... saya harus mengakui bahwa memang benar dirimu itu cantik.”