Jinan tengah merenung di depan rumah seraya menatap hamparan laut pada malam hari. Ia menyilangkan kedua tangannya di da-da. Memikirkan tentang siapa sebenarnya dirinya ini? Siapa keluarganya? Kenapa sampai sekarang ia tak juga bisa mengingat apapun? Jinan menghela napasnya pelan. Jujur, ia ingin segera mendapatkan kembali ingatannya.
Lalu, tiba-tiba saja bayangan tadi ketika Anita menyenderkan kepalanya di pundak Randu muncul di benaknya. Ia tak tahu lagi harus melakukan apa sekarang untuk mendapatkan hati Randu jika ia melihat kedekatan antara mereka saja tak sedekat antara pria itu dan juga Anita. Ia jadi sangsi dan tak sepercaya diri sebelumnya saat ini.
“Jinan, kenapa di luar? Sudah malam, nggak baik udara malam untuk kesehatan,” ucap seseorang.
Jinan menoleh dan mendapati Bang Danu yang sedang menatapnya bingung. Gadis itu pun tersenyum kecil menanggapi ucapan Bang Danu. “Nggak apa-apa, Bang. Cuma lagi memikirkan sesuatu.”
“Baiklah ... tidak apa. Memang sangat pas sekali jam-jam segini melamun memikirkan masalah yang sedang kita hadapi,” ucap Bang Danu.
Jinan mengangguk. “Iya, ditambah dengan angin yang berhembus membuat semuanya menjadi lebih nyaman.”
Bang Danu terkekeh pelan. “Jika nanti kamu sudah kembali kepada keluargamu, kamu pasti akan merindukan tempat ini,” ujarnya.
Jinan mengalihkan pandangannya ke arah hamparan laut lagi. Ia menghela napasnya pelan seraya menganggukan kepalanya. “Ya, itu pasti, Bang,” jawabnya. Jinan menoleh menatap pria itu, ia menatap seluruh tubuh Bang Danu yang sudah memakai pakaian tebal. “Bang Danu mau kemana?”
“Biasa, menangkap ikan.”
“Oh,” Jinan ber-oh ria.
“Randu! Cepatlah kau sedang apa sebenarnya?! Seperti perempuan saja, lama sekali!” teriak Bang Danu seraya menatap ke dalam rumah.
Jinan tersenyum kecil. “Mungkin dia sedang bersiap-siap.”
“Ya, bersiap-siap seperti seorang perempuan saja yang lama sekali. Apa dia sedang memakai bedak atau parfum sekarang?!”
Jinan tertawa kecil. “Bang Danu nih, ada-ada saja,” ujarnya.
“Teruslah ceria, Jinan. Jangan terlalu memikirkan hal apapun, yakinlah ... semuanya pasti akan segera berlalu,” ucap Bang Randu. Jinan mengangguk seraya tersenyum kecil. “Ya sudah, Abang pergi dulu ya, nanti kalau ada Randu datang, bilang kepadanya Abang sudah menunggu di perahu.”
“Baik, Bang Danu. Hati-hati ya ...”
Setelah itu, Jinan menatap kepergian Bang Danu dalam diam. Beberapa menit kemudian, Randu keluar dari dalam rumah dengan pakaian yang hampir mirip dengan Bang Danu.
“Jinan? Kenapa di luar? Saya kira kamu tidur,” ucap Randu bingung. “Cepat masuk, tak baik berlama-lama di luar, apalagi ini malam hari, nanti masuk angin,” lanjutnya.
Jinan tersenyum kecil. Ia menatap Randu dengan seksama. Pria ini ... sudah berkali-kali menolongnya. Pria ini juga yang sduah membuat jantungnya berdetak dengan cepat. Pria ini yang sudah membuatnya merasakan perasaan suka kepada lawan jenis. Apakah ia harus mengutarakan perasaannya kepada pria itu? Saat ini? Detik ini juga? Agar semua yang ada dalam hatinya merasa lega karena sudah tersampaikan.
“Jinan? Kenapa malah menatapku seperti itu?” Randu terkekeh pelan seraya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ia benar-benar merasa salah tingkah diperhatikan seperti itu oleh Jinan. Tak tahu ... rasanya jantungnya bekerja lima kali lebih cepat.
“Ah ... tidak ada,” ucap Jinan seraya mengerjapkan matanya. “Tadi Bang Danu bilang katanya dia menunggu di perahu.”
Randu tersenyum kecil. Lalu, pria itu mengangguk. “Ya sudah, kalau begitu saya pergi dulu ya,” ucap Randu. Baru saja pria itu ingin pergi, namun ia merasakan tangannya dicekal oleh seseorang. Ia menoleh dan mendapati Jinan sedang menatapnya dalam. Randu mengerutkan keningnya seraya menatap tangannya yang masij digenggam oleh gadis itu. “Jinan? Ada apa?” tanyanya.
“Sebenarnya ... ada yang ingin aku sampaikan kepadamu, ini benar-benar meresahkan diriku selama beberapa hari ini, Randu.”
Kening Randu semakin mengernyit dalam. “Kenapa? Sebenarnya ada apa?”
“Randu ... aku tahu kamu pasti akan sangat terkejut mendengarnya. Tapi, selama ini ... kamu sudah banyak membantuku ... menolongku ... kamu selalu ada saat aku membutuhkanmu, entah sejak kapan tapi ...”
Randu menunggu kelanjutan ucapan dari Jinan. “Tapi apa?” ucapnya dengan tak sabaran.
“Aku menyukaimu, Randu,” ucap Jinan dengan jantung yang berdetak tak beraturan. Gadis itu menelan salivanya dengan kasar. Ia benar-benar nekat mengakui perasaannya kepada pria itu sekarang. Jinan menunggu respon dari Randu. Pria itu terdiam kaku seraya menatapnya dalam.
“Jinan? Kamu serius?” tanya Randu.
Jinan mengelus kedua lengannya. Ia memejamkan matanya sejenak, lalu kembali menatap Randu. “Ya, aku menyukaimu. Itu saja yang ingin aku bilang, tak perlu dibalas, aku hanya ingin mengungkapkan perasaanku saja,” ujarnya seraya tersenyum kecil.
“Jinan ... saya ...”
“Randu ... cepatlah pergi, Bang Danu menunggumu,” ucap Jinan. “Aku akan masuk ke dalam, selamat malam, Randu, hati-hati saat di laut nanti,” dengan cepat, Jinan pun masuk ke dalam rumah. Ia menutup pintu dengan pelan, lalu menyenderkan tubuhnya di daun pintu seraya menyentuh da-danya yang terasa deg-degan. Ah ... rasanya ia malu sekali sekarang untuk menunjukkan wajahnya di hadapan Randu.
Berbagai pemikiran buruk muncul di otaknya. Bagaimana nanti jika Randu tak membalas perasaannya? Pasti mereka akan menjadi jauh lagi seperti sebelumnya, mereka tak akan dekat seperti saat ini. Ah ... ia merasa menyesal sekarang karena sudah mengungkapkan perasaannya kepada pria itu. Jinan mengacak-acak rambutnya sendiri.
Lalu, ia berjalan menuju jendela rumah. Ia membuka gorden rumah dan mengintip ke luar. Di sana, Randu sedang berjalan mendekati Bang Danu yang menunggu di dekat perahu. Jinan menghela napasnya pelan. Semoga saja ... besok semuanya baik-baik saja saat pria itu pulang. Semoga saja ... Randu tetap menganggapnya sebagai teman walaupun ia sudah mengungkapkan perasaannya kepada pria itu. Dan semoga saja ... walaupun Randu tak menyukainya balik, pria itu masih tetap dekat dengannya seperti biasa dan tanpa ada perasaan risih sama sekali. Ya ... Jinan hanya berharap semoga saja semua yang ia inginkan itu terwujud. Tuhan ... tolonglah ia.