Sea - 20

3064 Words
  "Mengapa kau termenung saja seperti itu dari tadi, Randu?" tanya Bang Danu seraya duduk di sebelah adik iparnya di atas perahu. Bang Danu mengernyitkan keningnya dalam. Tak biasanya adik iparnya seperti ini. Karena setiap kali mereka mencari ikan, Randu lah yang paling semangat bekerja dan menebar jalah. Tetapi, untuk kali ini ... adik iparnya itu malah lebih banyak diam dan melamun tak melakukan apapun. Terdengar suara helaan napas yang begitu begitu berat dari mulut Randu. "Hanya sedang memikirkan sesuatu," jawab Randu jujur. Ya, dia memang sedang memikirkan ucapan Jinan tadi yang masih tengiang-ngiang di benaknya. Demi Tuhan ... gadis itu menyatakan perasaannya kepada dirinya. Dia berkata bahwa ia mencintai dirinya. Randu sangat terkejut, tentu saja. Ia sampai bingung untuk membalas apa. "Memikirkan apa? Kau ada masalah?" tanya Bang Randu lagi. Randu menggeleng pelan. "Bukan ... bukan itu." "Lalu apa?" Randu menoleh menatap Bang Danu. Ia menatap wajah pria yang menjadi kakak iparnya itu. Walaupun ia sudah sangat dekat dengannya, tentu saja Randu tak akan memberitahu hal yang sedang ia pikirkan kepada pria itu. "Tidak ada ... hanya masalah kecil," jawabnya bohong. Tidak. Itu bukan masalah kecil, melainkan masalah yang besar. Sebenarnya ... Randu pun memiliki perasaan yang tak biasa kepada Jinan. Setiap kali menatap gadis itu ... rasanya ia tak ingin berpaling darinya, jantungnya pun selalu berdetak tak karuan jika berada di sampingnya. Ah ... seharusnya ia senang bukan kalau Jinan menyukai dirinya? Tetapi, kenapa sekarang ia malah merasakan hal yang aneh? Randu hanya memikirkan ... jika perasaannya terus berlanjut sedangkan Jinan pun tak tau siapa sebenarnya dirinya itu, ia takut nanti ketika gadis itu sudah mendapatkan ingatannya, lalu keluarganya datang untuk menjemputnya ... ia akan kehilangan gadis itu sementara dirinya sudah sangat memiliki perasaan yang dalam untuknya. "Heh! Kau tuh seperti ke siapa saja?! Aku ini abang iparmu, Ndu ... kalau ada masalah ya ceritakanlah kepadaku juga agar aku bisa membantu jalan keluarnya." Randu tersenyum kecil. "Bang ... bagaimana perasaan Abang waktu pertama kali bertemu Kak Kia?" tanyanya. Bang Danu tersenyum penuh misteri. "Hahaha ... ada apa kau tiba-tiba menanyakan hal itu kepadaku?" tanya Bang Danu, lalu ia menyipitkan matanya menatap Randu. "Hoho ... Abang tahu ... kau sednag jatuh cinta ya?!" tebaknya. Randu menghela napasnya pelan. "Ck! Tidak seperti itu, Bang. Randu hanya ingin tahu." "Hm ... tak biasanya kau bertanya hal tentang asmara seperti ini. Usiamu berapa tahun ini Randu? Masa kau harus menanyakan hal itu kepadaku?" Randu memutar bola matanya malas. "Ya sudah, kalau tak ingin menjawabnya, ya jangan dijawab tidak usah membawa-bawa usiaku seperti itu," jawab Randu dengan kesal. "Kau ini seperti perempuan saja yang gampang merajuk, aku hanya bercanda!" ujarnya. "Pertama kali aku bertemu kakakmu yang cantik itu di kota ... saat pertama kali melihatnya ... huh, rasanya jantung ini tak berhenti berdetak kencang. Tatapan mataku tak ingin dialihkan dari wajahnya yang cantik itu, aku benar-benar seperti pria yang jatuh cinta pada pandangan pertama kepadanya—" Randu menelan salivanya kasar. Tiba-tiba saja bayangan Jinan hadir di benaknya. Senyumannya yang manis, tawanya yang garing, rambutnya yang indah ketika terombang-ambing terkena angin, wajah gadis itu yang saat menangis pun masih tetap memesona. Semuanya tersimpan dalam benaknya. "Kenapa kau senyum-senyum seperti orang gila, Randu?" tanya Bang Danu dengan kerutan dahi yang dalam. Lalu, sebelah tangannya ia ulurkan untuk menyentuh kening Randu yang terasa hangat. "Abang pikir demam, aneh tapi suhunya biasa saja." "Saya sehat, Bang," jawab Randu kesal. "Lalu kenapa tadi tersenyum-senyum sendiri seperti itu? Apa kau kerasukan hantu laut, Ndu? Astaghfirullah ... seram, mana cuma berdua," lanjutnya. Randu menghela napasnya pelan. Ia menatap langit malam yang dihiasi bintang. Lalu, tiba-tiba saja rasi bintang itu membentuk sebuah wajah yang menyerupai wajah perempuan dengan rambut yang panjang. Mata Randu mengerjap-ngerjap pelan ... apa ia tak salah lihat? Itu adalah gambar wajah Jinan? Mengapa bisa ada di langit? "Hei!" Bang Danu menepukkan tangannya di depan wajah Randu. "Kau ini kenapa Randu? Abang jadi takut, tadi diam saja, terus senyum-senyum sendiri, sekarang malah kayak orang panik, kau kenapa?!" ucapnya heran. Randu menelan salivanya dengan kasar. Ia berusaha menetralakan jantungnya. Lalu, ia mengucek matanya sendiri, setelah itu ia kembali menatap langit yang sudah tak ia bayangkan lagi sebagai wajah Jinan di rasi bintang yang terbentuk. Pria itu langsung masuk ke dalam ruangan yang ada di dalam perahu, ia mencari barangnya. Ia pun langsung membuka botol minun itu dan meminumnya sampai tandas. Dirinya benar-benar gila sekarang. Akibat ucapan dari gadis itu ... ia jadi membayangkannya ada dimana-mana! Astaga ... Randu tak percaya efeknya akan menjadi seperti ini. “Randu ... kau baik-baik saja?” Bang Danu menyusulnya. “Kau tampak berbeda dari biasanya. Apa yang sedang kau pikirkan sebenarnya?” tanyanya lagi. Sial! Ungkapan perasaan Jinan benar-benar membuatnya mabuk kepayang seperti sekarang. Gadis itu sukses membuat dirinya berbeda dari sebelumnya, bahkan Bang Danu pun sampai memperhatikan dirinya. Sebegitu besarnya kah ungkapan perasaan Jinan untuk dirinya? “Ndu ... Abang takut kamu begini, baik-baik aja kan? Nggak kerasukan setan?” tanyanya lagi. “Nggak, Bang, Ya Allah ...” lirih Randu pelan. Ia mendudukkan tubuhnya di sebuah bangku panjang di sana. Tempat biasa mereka beristirahat. Lalu, kedua kakinya ia lonjorkan dan tubuhnya ia rebahkan di atasnya. Mungkin, jika ia tidur sejenak ... semuanya akan terlupakan. “Heh! Malah tidur kau!” ucap Bang Danu seraya menepuk paha Randu dengan cukup kencang. “Astaga ... sakit, Bang! Biarkan saya tidur dulu, mungkin saya memang butuh tidur, Abang mending jaga di luar sana.” “Enak sekali kau menyuruh-nyuruhku seperti itu!” ucap Bang Danu marah. “Sudahlah, karena aku adalah abang iparmu yang baik, aku akan membiarkanmu untuk tidur, tapi setelah itu kita gantian!” lanjutnya. Randu berdeham pelan seraya menunpukkan tangan kanannya di atas kening, lalu ia pun mulai memejamkan matanya. •••• “Jinan! Berhenti jangan lari! Astaga ... kau ini perempuan kenapa larinya kencang sekali?!” teriak seorang pria seraya mengejar gadis berambut hitam yang sedang berlari di pinggir pantai. “Kejar aku dong, Randu ...” jawab sang perempuan dengan tawanya yang ceria. “Awas kamu ya!” Dengan cepat, pria itu pun menambah kecepatan larinya hingga akhirnya ia bisa mendapatkan tubuh gadis itu ke dalam pelukannya. Pria itu tersenyum senang seraya menggelitiki pinggangnya hingga gadis itu tertawa sampai mengeluarkan air mata. “Rasakan!” “Lepas, Randu ... geli ... cukup ... ini geli ...” lirih Jinan seraya tertawa kencang dengan air mata yang keluar dari sudut matanya. “Karena kau yang memulainya.” Randu pun ikut tertawa. Lalu, setelah itu ia terdiam. Menatap wajah cantik seorang gadis yang berada di bawahnya kungkungannya. Tangannya terulur untuk membenarkan anak rambut gadis itu yang menghalangi pemandangan indah wajah Jinan. Pria itu tersenyum kecil seraya mengelus pelan pipi Jinan. “Kamu cantik sekali,” ucapnya. Dapat ia lihat pipi gadis itu bersemu merah bagaikan kepiting rebus. Lalu senyuman malu-malu terbit di wajahnya. Randu tersenyum miring. “Jinan ... saya juga menyukaimu jika kau ingin tahu.” Jinan menatapnya dengan dalam. Senyumannya semakin lebar. Kedua tangan gadis itu sudah terangkat untuk merangkum wajah tegas milik Randu. “Katakan Randu ... katakan sekali lagi ... aku ingin mendengarnya lagi ...” ucap Jinan dengan lembut. “Jinan ... saya menyukaimu ... saya menyukaimu, Jinan ...” ulang Randu berkali-kali. “Randu, aku senang mendengarnya, aku sangat senang bahkan rasanya ... aku seakan tak berada di bumi sekarang ... aku bagaikan berada di surga,” jawab Jinan senang. “Kamu membalas perasaanku, aku sangat senang.” “Jinan ...” “Randu! Ndu! Randu! Randu bangunlah!” Kepala pria itu menggeleng pelan. Keningnya mengerut dalam dengan mata yang tertutup. Ia mendengar sesuatu yang berbeda. Suara itu bukanlah milik gadisnya. Ia adalah suara ... Mata Randu terbuka dan langsung dihadapi oleh wajah kecut milik Bang Danu. Randu menghela napasnya pelan. Bahkan, tadi ia bermimpi tentang Jinan, padahal kan ia ingin melupakan bayang-bayang gadis itu, namun kenapa sampai ia terbawa mimpi segala? “Kenapa, Bang?” Randu menurunkan kedua kakinya dari atas bangku. Lalu ia mendudukan tubuhnya seraya menyenderkannya ke kayu perahu. Bang Danu langsung duduk di sebelahnya. Mata pria itu terus menatap Randu dengan lekat. Keningnya mengerut dalam. “Kau tahu apa yang kudengar tadi saat kau tidur?” Randu terkejut mendengar ucapan Bang Danu. Ia segera menoleh menatap kakak iparnya itu dengan serius. Apa jangan-jangan ... ah tidak-tidak. Ia tidak mungkin mengigau nama gadis itu. Tetapi, semua yang ia pikirkan tak benar. Mendengar ucapan selanjutnya dari Bang Danu membuat tubuhnya melemas seketika. “Kau tidur sambil memanggil nama Jinan, Ndu,” ucapnya dengan penuh keseriusan. Randu menghela napasnya pelan. Ia menelan salivanya dengan susah payah. “Abang salah dengar, Randu tak pernah mengigaukan nama itu.” “Hei! Kau pikir aku tuli?! Jelas-jelas aku mendengarnya, kamu terus menerus menyebutkan nama Jinan dalam tidurmu, sebenarnya apa yang sedang kau impikan Randu?!” ucapnya. Tiba-tiba saja matanya melotot seraya menatap Randu. “OH! Apa kau bermimpi basah dan gadis yang ada di dalam mimpimu itu adalah Jinan?!” tebaknya. Randu langsung terkejut mendengarnya. “Astaga ... jauh sekali pikiranmu itu, Bang! Rasanya ingin sekali menonjokmu saat ini jika tak ingat kau adalah abang ipar,” ucap Randu seraya menunjukkan kepalan tangannya yang siap untuk menonjok wajah Bang Danu di hadapan pria itu. “Memang biasanya seperti itu, bukan? Ayolah ... kita sudah sama-sama dewasa, hal seperti itu sudah biasa, Ndu. Lagian juga, tak heran jika Jinan masuk ke dalam mimpi basahmu, pasti kau sedang memikirkannya kan tadi?” ucapnya lagi. “Enak saja kau ini! Lihatlah celanku! Sama sekali tak basah! Jangan mengada-ngada, Bang ...” ucap Randu kesal. Tatapan Bang Danu menuju s**********n Randu yang tertutupi celana jeans. Pria itu cukup lama memperhatikannya sampai ia mendapatkan pukulan di bahunya dari adik iparnya itu. “Jangan terlalu lama memandanginya! Atau Randu akan melaporkannya ke Kak Kia,” ucap Randu kesal. “Ya ... ya ... kau memang benar, tapi Ndu ... Abang denger sendiri tadi kamu mengigau nama Jinan!” Randu memutar bola matanya malas. “Mungkin memang gadis itu ada dimimpiku, Bang ...” “Ceritakanlah, bagaimana memang mimpimu itu?”  Randu langsun menatap Bang Danu dengan heran. “Tidak! Untuk apa? Ingin tahu saja ...” “Ndu, ayolah ... abang hanya ingin tahu.” “Tidak!” “Oh ... jangan-jangan benar apa kata Abang dulu ... kau menyukai gadis itu ya?” tebaknya dengan suara yang menggoda adik iparnya itu. Ia sangat senang menggoda adik dari istrinya ini tentang masalah perempuan, karena Randu pasti akan marah dan tak suka. “Ayolah ... jujur saja!” “Tidak! Sudahlah, Bang ... kita lanjut kerja saja, jangan memikirkan hal itu.” Randu berdiri dan berjalan keluar dari ruangan perahu. Diikuti oleh Bang Danu di belakangnya. “Ya ... ya ... kamu memang sudah menyukai gadis itu,” ucap Bang Danu lagi. Randu menoleh dan menatapnya dengan tajam. “Tidak!” “Kau tak bisa berbohong pada Abang, Randu ... kita sama-sama pria, Abang tahu hal itu bahkan sudah pensiun mengenai hal itu, tapi ... bagaimana dengan Anita ya nanti?” ucapnya. Randu memejamkan matanya sejenak. Lalu, ia memilih untuk tak menghiraukan lagi ucapan kakak iparnya itu karena pasti tak akan ada habisnya. Makanya, ia yang harus mengalah. Seperti sebuah ungkapan yang sering ia dengan ... diam lebih baik daripada berbicara terus-menerus. Dan akhirnya ... Bang Danu pun kesal sendiri karena Randu lebih memililih mendiaminya. ••••• “Pa’ade sama Ayah udah pulang!” teriak Cantik seraya berlari mendekati Ayahnya yang kini tengah berjalan menuju rumah mereka bersama Randu. Cantika pun langsung digendong oleh Ayahnya. “Wah, udah gede juga masih aja digendong terus, Cantika kan berat sekarang,” celetuk Randu yang langsung membuat bibir Cantika mengerucut sebal. “Ih, Ayah! Pa’ade bilang aku gendut.” “Heh, siapa yang bilang begitu? Pa’ade kan cuma bilang kamu udah gede, berat sekarang.” “Itu sama aja Pa’ade bilang aku gendut! Pa’ade jahat,” ucap Cantika seraya menenggalamkan wajahnya di ceruk leher sang ayah. “Sudah, sudah, memang semua perempuan paling sensi jika disenggol masalah berat badan,” ucap Bang Danu kepada Randu. “Kau juga! Kenapa senang sekali menjahili anakku?” lanjutnya. Randu langsung menatap kakak iparnya itu dengan sinis. “Kau juga sering melakukan itu padaku, Bang!” “Ya, iya juga ... karena menyenangkan saja mengganggumu itu, apalagi kalau sudah disangkut-pautkna dengan wanita ... wah rasanya sangat senang melihat wajahmu yang selalu ditekuk itu menjadi masam.” “Sia-lan kau!” geram Randu. “Jangan berbicara kasar di depan anakku, Randu!” balas Bang Danu seraya menatap Randu dengan tajam. “Ayo, sayang ... kita masuk saja ketemu Ibu, dari pada di sini ada badak lagi kesal, nanti dia semakin kesal dan malah menyeruduk kita,” lanjutnya. “Mana badaknya, Yah?” tanya Cantika seraya menolehkan kepalanya mencari badak yang diucapkan oleh sang ayah. “Itu di samping kamu.” “Itu Pa’ade!” jawab Cantika kesal. “Hahaha ... iya, dia kan kalau lagi marah nanti berubah jadi badak!” ucap Bang Danu. Randu yang mendengarnya hanya bisa memutar bola matanya malas. “Ya sudah, ayo kita masuk ke rumah! Ayah nggak sabar mau ketemu Ibu,” lanjutnya. “Heh, b***k cinta!” celetuk Randu. “Nanti juga kau akan merasakannya sendiri, Randu. Lihat saja ...” ucap Bang Danu dengan nada yang penuh penekanan. “Temuilah bidadarimu itu, dia sedang menjemur pakaian ... Ya Tuhan ... lihatlah dia, di bawah terik matahari kecantikannya semakin terpancar—” Randu langsung menendang kaki Bang Danu sampai pria itu mengaduh kesakitan dan tubuhnya sedikit oleng. “Pergi kau! Berisik saja!” ucapnya kesal. “Pa’ade! Jangan galak-galak sama Ayah! Lihat! Ayah sakit jadinya,” ucap Cantika sedih. “Ayahmu itu sangat menyebalkan, Cantika. Semoga kamu jangan sepertinya ya, Sayang ...” ujar Randu. “Hahahaha ... dia anakku, Randu. Pasti lah ada sedikit sifatku yang menuruninya,” kata Bang Danu seraya tertawa pelan. Setelah itu, ia pun meninggalkan Randu sendirian yang masih berdiri tanpa bergerak sama sekali di tempatnya. Randu menatap tubuh Bang Danu yang kini sudah mulai menaiki anak tangga rumah panggungnya, lalu pria itu pun masuk ke dalam rumah. Dan tatapannya langsung teralihkan ke seorang perempuan yang sedang sibuk menjemur pakaian. Randu menghela napasnya pelan. Gadis itu tampak biasa-biasa saja seakan ucapannya kemarin hanyalah hal yang sepele. Tunggu ... apa dirinya saja yang bersikap terlalu berlebihan seperti ini? Ah ... si-al! Randu mengacak-acak rambutnya sendiri. Ia benar-benar tak bisa memikirkan apapun lagi selain ungkapan perasaan yang diucapkan oleh Jinan semalam.  Akhirnya, ia pun berjalan mendekati gadis itu. Ya, setidaknya ia akan menemuinya terlebih dahulu. “Jinan ...” panggilnya. Gadis itu menoleh dan tersenyum lembut menatapnya. “Iya, ada apa Randu?” tanyanya. Randu dapat mendengar suara gadis itu yang biasa saja. Tak ada kegugupan sama sekali seperti semalam saat ia menyatakan perasaannya kepada dirinya. “Jinan ... saya ingin berbicara,” ucapnya. Jinan menatapnya dengan bingung. Gadis itu menunggu Randu melanjutkan ucapannya, namun beberapa detik mereka hanya berdiam saja tak ada yang memulai pembicaraan, padahal Randu lah yang harus memulainya karena memang dia yang ingin berbicara kepadanya. Jinan tak tahan lagi dengan keheningan yang terjadi di antara mereka berdua, ia pun langsung berkata, “Randu ... kau ingin berbicara apa? Kenapa malah diam saja? Aku menunggumu untuk berbicara.” Randu menghela napasnya sejenak. “Ini tentang pernyataan perasaanmu kepada saya semalam, Jinan.” Deg! Jantung Jinan kembali berdetak dengan cepat, ia sudah menyiapkan dirinya sebisa mungkin agar terlihat biasa saja saat bertemu Randu. Namun, tetap saja perasaan tak bisa dibohongi. Ia merasa gugup saat ini karena Randu kembali mengungkit kejadian tadi malam. Ah ... rasanya ia malu sekali. Ia ingin menguburkan diri hidup-hidup di dalam pasir sekarang juga! “Ke—kenapa?” tanyanya dengan terbata-bata. Runtuh sudah semua pertahanan yang ia bangun. Akhirnya, ia pun kalah pada dirinya sendiri. Ia tak bisa membangun tembok yang kokoh untuk menutupi dirinya di hadapan Randu. Randu terkekeh pelan mendengarnya. Ya, gadis itu tengah gugup dan gelisah saat ini. Suaranya menjadi pelan dan lirih, lalu kedua tangannya yang tak bisa diam dan saling memililit. Randu ingin tertawa melihatnya, ternyata Jinan berusaha menyembunyikan semua itu darinya, gadis itu tak ingin terlihat aneh di hadapannya. Namun, semuanya sepertinya tak sesuai dengan harapan gadis itu. “Jinan ... atas pengakuanmu tadi malam yang mengatakan bahwa kamu menyukai saya, saya sangat menghargainya, Jinan,” ucap Randu. Jinan mengadahkan kepalanya menatap wajah pria itu yang menjulang tinggi di hadapannya. Tingginya hanya sebatas dagu pria itu saja sebenarnya, namun tetap saja Randu lebih tinggi darinya.  “Tapi, Jinan—” “Tidak usah dilanjutkan, Randu!” Jinan paham. Ada kata tapi diawal ucapan Randu yang berarti pria itu memiliki pernyataan yang berbeda terhadapnya. Jinan tak sanggup untuk mendengar penolakan yang akan ia dapat, oleh karena itu ia langsung memotong ucapan Randu dengan cepat. “Jangan ... aku tidak siap untuk mendengar jawabanmu. Anggap saja, semalam bukanlah hal yang serius, lupakan semuanya, Randu. Aku yang salah ... aku yang terlalu naif, maafkan aku, Randu,” lanjut Jinan seraya menundukkan kepalanya dalam. “Apa kamu bilang? Coba katakan sekali lagi, Jinan!” ucap Randu dengan tegas.  Jinan sampai kaget mendengarnya. Apa pria itu marah sekarang?  Kedua tangan Randu menyentuh lengan gadis itu dan mencengkeramnya pelan. “Lihat saya, Jinan. Dan tatap mata saya saat kamu mengulangi ucapanmu yang tadi!” ucap Randu lagi. Dengan takut, Jinan mengadahkan kepalanya lagi menatap wajah Randu yang mulai tegas kepada dirinya. “Randu ... kenapa kamu marah seperti ini?” ucapnya takut. Randu langsung terkekeh miris mendengar ucapan Jinan. “Karena kamu hanya menganggap ucapanmu itu tak berarti apapun, Jinan. Kamu hanya menganggap ucapanmu itu main-main. Dan saya tidak suka hal itu,” ucap Randu. Jinan mengernyitkan dahinya. “Kenapa? Harusnya memang kita lupakan saja kan kalau kamu tak memiliki perasaan apapun padaku?” “Darimana kau tahu hal itu,” tanya Randu sambil menatap Jinan dengan lekat. “A–aku ...” “Semalaman saya memikirkan ucapanmu, Jinan. Bahkan kamu tahu ... sampai terbawa mimpi, lalu kamu mengatakan bahwa saya tak memiliki perasaan untukmu ... itu salah besar.” Jinan langsung menatap Randu dengan tatapan tak percaya. Apa maksudnya dari perkataan pria itu tadi? Mengapa tiba-tiba otaknya tak bisa mencerna ucapan Randu? “Saya juga memiliki perasaan yang sama sepertimu, Jinan. Saya menyukaimu.” Tuhan, rasanya Jinan ingin pingsan saat ini juga. Katakan bahwa ini semua bukan mimpi!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD