Sea - 6

1601 Words
 "Ya Allah, alhamdulillah akhirnya kamu ketemu, Nan. Kak Kia khawatir kamu kenapa - napa tadi." Kia memeluk Jinan begitu erat ketika melihat Randu kembali pulang bersama gadis itu. "Kalau mau pergi kamu harus bilang, Nan, jangan seperti tadi ya?" "Kak Kia maaf, maafin aku." "Udah jangan bahas itu lagi, sekarang kita masuk, kamu istirahat dulu, baru besok kakak mau nanya sesuatu sama kamu." Jinan mengangguk mendengarnya. Ia melirik sejenak pria itu yang kini tengah menatapnya juga. Lalu dengan cepat pria itu mengalihkan tatapannya ke arah lain seperti seorang kucing yang ketahuan mengambil ikan di atas meja makan. Jinan menghela napasnya pelan. "Ayo Kak Jinan, kita tidur lagi." Jinan tersenyum lebar, ia pun menggandeng tangan Cantika menuju kamar mereka. "Kamu nyariin aku ya tadi?" Cantika mengangguk. "Iya, Kak Jinan tiba - tiba hilang. Aku takut kakak diculik sama monster laut, kata ibu monsternya gede banget, kak. Terus juga ... dia suka makan daging manusia, makanya kalau udah maghrib aku gak boleh keluar lagi sama ibu." Jinan tersenyum lalu mengacak rambut Cantika dengan gemas. ••••• Keesokan paginya, burung - burung mulai terbang bebas di langit, deburan ombak terdengar syahdu di telinga. Seorang gadis membuka jendela kamarnya, rambutnya yang hitam tergerai melambai indah terkena angin laut. Lalu gadis itu menutup matanya seraya mengirup udara pagi yang menyegarkan. Sementara itu, Randu yang baru saja menaikkan beberapa kotak yang berisikan ikan ke dalam mobil pick-up terdiam begitu melihat ke arah rumahnya. Randu sampai tidak bisa mengalihkan pandangannya dari objek indah yang sedang ia lihat. Gadis itu terlihat sangat cantik. Ya, Randu akui itu walaupun kelakuannya sungguh menyebalkan. "Ndu!" Randu tidak mendengar ada yang memanggilnya. "Randu! Astaghfirullah, abang panggil dari tadi." "Eh iya, bang." Randu mengerjapkan matanya dan menoleh untuk melihat Bang Danu." "Kamu lihatin dia terus ya? Kamu suka kah sama dia, Ndu?" ujar Danu dengan nada sedikit menggoda. "Tidak." "Tak usah berbohong seperti itu, Ndu. Abang lihat dari matamu juga sudah ketahuan." "Maksudnya?" "Kamu suka sama Jinan, Ndu." "Tidak, bang, astaghfirullah, siapa yang suka dengan gadis itu? Randu tidak mungkin suka sama dia." Sergah Randu. "Halah, lihat saja nanti, kali ini boleh kamu tidak mengakuinya, suatu saat nanti pasti kamu akan mengakuinya." "Tidak mungkin itu." Randu tersenyum miring. "Lagipula dia cuma gadis yang kita tolong, kita tidak tahu dimana keluarganya, secepatnya kita harus mempertemukan dia dengan keluarganya, bang." "Hm, kau benar juga." "Ya sudah, ayo kita berangkat ke kota, takut kesiangan." Randu dan Danu baru saja berjalan namun tiba - tiba Kia memanggil mereka. "Bang! Aku sama Jinan mau ikut ke kota!" Randu dan Danu saling bertatapan bingung. Kia, Jinan dan juga Cantika pun berjalan mendekati kedua pria itu. "Kok mendadak begini?" tanya Danu. "Itu loh, Jinan tidak ada pakaian dalam lagi, makanya aku sama dia mau ikut ke kota, sekalian belanja baju sama pakaian dalam." Wajah Jinan berubah menjadi merah, dia malu. Apalagi saat Randu menatapnya. Hah, tolong siapapun ia ingin membuat lubang besar dan menguburkan diri di sana. "Kak malu," ucap Jinan sambil menyentuh lengan Kia. Kia pun tersenyum kecil. "Sekalian juga ini Cantika ingin beli buku gambar," lanjut Kia. "Oh yaudah, tapi tidak cukup semuanya kalau mau duduk di depan, harus ada yang di bak belakang." Jinan dan Kia saling pandang. "Kamu duduk di depan sama Bang Danu, Nan." "Eh nggak, Kak Kia sama Cantika aja di depan, biar Jinan yang di belakang," balas Jinan. "Ya sudah kalau gitu. Ndu, temani Jinan di belakang." "Randu?" ucap pria itu sambil mengernyit. "Iya kamu, nggak cukup di depan, kalau nggak di belakang, kamu mau duduk di atap mobil?" ujar Kia. Randu menghela napasnya kesal sedangkan Jinan menahan senymannya. Kia, Cantika dan Danu sudah lebih dahulu masuk ke dalam mobil. Randu pun naik ke bak belakang, setelah itu Jinan. Baru saja gadis itu ingin naik ke bak namun rok selulut yang ia gunakan tersingkap dan membuatnya cepat - cepat menapak lagi ke tanah. "Bisa tidak?" ujar Randu yang sudah duduk di sebuah bangku kecil panjang dekat kotak yang berisikan ikan. Jinan diam sejenak kemudian mengangguk. Ia pun memilih untuk duduk dulu di atas bak kemudian menahan roknya dengan kedua tangan lalu akhirnya ia naikkan kedua kakinya ke atas bak mobil. Gadis itu menghela napas pelan. "Sudah?" tanya Kia seraya melongokkan kepalanya keluar dari jendela mobil dan menengok ke belakang. "Sudah, kak," jawab Jinan yang kini sudah duduk di sebelah Randu. Kemudian ia merasakan mobil itu bergerak dengan perlahan. Selama perjalanan Jinan dan Randu sama - sama diam. Tidak satupun dari mereka berdua yang berniat untuk memulai percakapan. Ketika mobil memasuki jalan raya, Jinan begitu terpukau melihat pemandangan pantai dari jalan. Banyak juga kendaraan yang berlalu lalang. Kain panjang berwarna hitam yang ia gunakan untuk menutup sebagian rambutnya terlepas menyebabkan rambut hitamnya yang tergerai melambai - lambai diterpa angin. Tanpa Jinan sadari, rambutnya yang tergerai itu sudah mengenai wajah Randu. Dan pria itu tampak menyingkirkan helaian rambut Jinan dari wajahnya dengan jengkel. "Tolong ikat rambutmu!" geramnya. Jinan menoleh dan terkikik pelan melihat wajah Randu yang jengkel. Ia pun mengikat rambutnya dengan gelang karet yang ada di pergelangan tangannya. "Sudah." "Kenapa tertawa tadi? Kau pikir lucu?" "Kenapa kamu marah terus? Kenapa setiap berbicara denganku kamu kesal? Seperti wanita yang sedang datang bulan saja," jawab Jinan tidak kalah kesalnya. Ia pun memilih untuk sedikit menjauh dari Randu. "Jangan terlalu ujung, nanti jatuh." Randu memperingati Jinan karena gadis itu duduk di ujung bangku kayu. "Sudah mulai peduli rupanya," ucap Jinan. Randu menggelengkan kepalanya pelan. Ia pun lebih memilih untuk melihat kendaraan yang melintas dari pada menanggapi ucapan Jinan yang tidak ada habisnya. ••••• Ketika sampai di pasar, Jinan tampak antusias melihat banyaknya pakaian yang dijual di sana. Ia menggandeng Cantika dengan tangan kanannya karena Kak Kia sedang mengobrol dengan seorang pedagang kue. "Kakak mau beli apa?" tanya Cantika. "Hm, apa ya? Menurut kamu apa yang bagus?" ucap Jinan. "Semuaaanyaaa bagusss, Cantika suka semuaa," ujar gadis kecil itu seraya tersenyum senang. Jinan mengacak rambut Cantika gemas. "Ada baju, celana, wah itu ada yang jual ikan jenong." "Hah apa ikan jenong?" tanya Jinan bingung. "Itu ikan lohan," jawab Randu dari arah belakang. Jinan dan Cantika menoleh. "Kalian mau belanja apa?" "Pa'ade nggak jualan ikan sama ayah?"  Randu menggeleng. "Nggak, pa'ade akan ikut sama Cantika, nemenin belanja." Cantika bersorak gembira, sedangkan Jinan terdiam. Itu artinya ia pun akan ikut berbelanja dengan Randu. Apalagi ia akan membeli beberapa pakaian dalam. Jinan menatap gumpalan uang di tangannya. Ia jadi ragu untuk berbelanja, karena tentu saja ia malu. "Kak Jinan, ayo jalan, kenapa melamun?" ucap Cantika yang kini sudah berjalan di depannya dengan tangan yang digandeng Randu.  Randu pun menatapnya sebentar, "cepat Jinan!" katanya. Dengan malas, ia pun berjalan bersama mereka berdua. "Ehm, aku belanja sendiri aja ya?"  "Apa?! Katakan sekali lagi, kamu mau hilang seperti kemarin?" jawab Randu. "Ini pasar, luas dan banyak orang, jadi jangan berani - beraninya berbelanja sendiri, jangan buat orang lain repot, Jinan." Gadis itu menekuk bibirnya ke bawah. Ia melirik sejenak ke arah Randu, pria itu tengah berbicara dengan Cantika yang kini sudah ada digendongannya. Jinan terus berjalan dengan pikiran yang kosong, tiba - tiba saja ia merasakan tangannya ditarik. Ia pun menoleh dan melihat Randu yang menatapnya tajam. "Kau tidak mendengar ucapanku ya?" ucap Randu. "Apa?" tanya gadis itu. "Kau menyuruhku untuk tidak belanja sendiri kan." Randu menghela napasnya. "Bukan, tadi aku menawarkanmu es kelapa, tapi kenapa malah terus berjalan?" Jinan menggeleng pelan. Ia menatap Cantika yang sudah duduk di bangku kayu sambil memakan kelapa dari dalam gelas kaca. Randu pun sudah duduk di samping gadis kecil itu. "Kakak cantik mau?" tawar Cantika. Jinan tersenyum kecil lalu mengangguk. Randu pun memesankan untuknya. "Kau ingin membeli pakaian dalam kan? Itu di belakangmu ada toko khusus pakaian dalam, belanjalah, biar kami menunggumu di sini." Jinan membalikkan tubuhnya untuk melihat toko itu, ia pun tersenyum kecil. "Baik, aku akan belanja sebentar." Ia menghela napasnya, untung saja ia bisa leluasa belanja pakaian dalam itu sendiri. Setelah beberapa lama Jinan memilih pakaian dalam, akhirnya ia mengambil 2 pasang celana dalam beserta branya. Baru saja ia ingin membayarnya, suara berat seseorang membuatnya berhenti melangkah. "Sudah selesai?" tanya Randu sambil menggendong Cantika yang tertidur dengan kepala menunpu di pundak pria itu. "Sudah." "Sudah selesai, kak?" ucap seorang pegawai toko. Jinan mengangguk sambil memberikan belanjaannya pada pegawai itu. "Hanya ini saja?" Jinan mengangguk lagi. Randu masih berdiri memperhatikan mereka. "Suami kakaknya ya, pak?" ucap pegawai itu. Belum sempat Randu bicara, pegawai itu sudah terlebih dahulu memotongnya. "Kita lagi ada diskon loh, pak, buat gaun tidur." Pegawai itu menunjukkan sebuah gaun tidur yang cukup sexy berwarna hitam. Jinan terkejut dengan wajah yang menahan malu. Ia melirik ke arah Randu, tampaknya pria itu hanya memasang wajah datar saja. "Cocok banget, pak, dipakai sama istrinya, apalagi badannya bagus gini, udah punya anak satu badannya masih seperti perawan saja." Goda pegawai itu. "Jadi gimana, pak? Mau sekalian dibungkus gaun tidurnya? Lumayan diskonnya, pak." "Nggak! Ehm, nggak usah, kak. Itu aja." Jantung Jinan berdetak dengan kencang, jemarinya saling bertautan. Pegawai itu pun mengangguk sambil tersenyum. Dengan cepat Jinan membayarnya. "Makasih," ucapnya seraya mengambil kantung belanjaannya. Setelah itu, ia berjalan duluan keluar dari toko, sungguh ia ingin menghindar dari pria itu. "Tunggu, Jinan!" Randu menarik tangan gadis itu. Jinan pun menoleh dengan kepala yang menunduk. "Ini es kelapamu." Jinan mengambilnya dengan cepat, setelah itu ia kembali berjalan. Randu berjalan di sampingnya dengan senyuman kecil. "Kenapa tanganmu dingin sekali?" Jinan menutup matanya sambil mengeratkan genggamannya pada kantung plastik yang ia bawa. ••••• Belum diedit, kalau ada typo atau apapun itu mohon koreksinya yaaa .... Update spesial tahun baruu❤️ maaf banget lama updatenyaaa Jangan lupa vote dan komennya dulur sadayanaaa
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD