Sea - 5

1045 Words
 "Ibu! Ibu!" Teriak Cantika seraya menggedor pintu kamar kedua orang tuanya. Tak lama Kia dan Danu keluar, mereka menatap anaknya dengan bingung. "Ada apa?" tanya Kia. "Mau s**u coklat?" Cantika menggeleng pelan. Lalu tiba - tiba gadis kecil itu menangis. Kia dan Danu sontak panik, Danu langsung menggendong Cantika dan berusaha meredakan tangisannya. "Sayang, kenapa?" Kia mengusap rambut Cantika.  "Kakak cantik hilang, kakak cantik ... tidak ada di kamar," jawabnya terbata - bata. Kia menatap Danu, lalu pria itu menggeleng pelan. "Mungkin di kamar mandi?" ucap Danu. "Cantika tadi ke kamar mandi, tapi tidak ada siapa - siapa di sana." Kia mendadak panik, ia berjalan masuk ke dalam kamar Cantika diikuti oleh Danu. Dan benar saja, kamar itu kosong. Kia lalu mengecek ke kamar mandi, namun hasilnya sama, tidak ada siapapun di sana. Rumah mereka sederhana, hanya ada tiga kamar tidur dan satu kamar mandi lalu di ruang tengah rumah ada meja makan dan juga televisi untuk menonton. Jadi, pergi kemana Jinan? Tidak mungkin jika gadis itu ada di kamar Randu bukan? Tak menunggu waktu lama, Kia mengetuk pintu kamar Randu lumayan kencang, hingga Randu pun keluar dengan wajah khas bangun tidur. "Kenapa Kak?" tanyanya bingung. "Jinan ... ada di kamarmu?" tanya Kia panik. "Hah? Mana mungkin! Dia kan tidur dengan Cantika." "Nah, itu masalahnya, Ndu. Jinan tidak ada dimana - mana, kemana gadis itu? Ini sudah malam, Kakak takut dia kenapa - napa, sangat berbahaya apalagi dia tidak tau tempat ini," ujar Kia sangat khawatir.  "Ck! Kemana dia?!" Randu berdecak kesal. "Kakak tunggu di sini dengan Bang Danu, biar Randu yang mencarinya." "Biar Bang Danu ikut denganmu," ujar Kia. "Tidak, Bang Danu harus tetap di sini dengan kalian." Randu dengan cepat menyambar jaketnya lalu mengambil senter dari dalam lemari. "Hati - hati, Ndu." Randu pun mengangguk. Ia berjalan cepat keluar rumah, tak lupa ia memakai jaketnya karena udara di luar sangat dingin. Pria itu lantas menyalakan lampu senter dan mulai memasuki kawasan hutan mangrove. Tanah yang ia pijak cukup basah hingga menelan sebagian sepatu boots yang ia pakai. Ia menyenter jalanan yang lumayan gelap berharap menemukan titik terang dimana gadis itu berada. "Jinan!" teriaknya cukup kencang.  Entah kenapa ia menjadi khawatir sekarang, gadis itu tidak tau jalan. Dan sekarang ia menghilang, Randu takut jika terjadi sesuatu yang buruk kepada Jinan.  Entah berapa lama ia menyusuri jalanan hingga akhirnya ia sampai di pedesaan warga, di sana terlihat lampu yang cukup terang. Ia berjalan terus untuk mencari Jinan, matanya tak lepas mengamati sekitarnya. "Ndu!" Randu menoleh dan mendapati Nando—temannya—yang sedang melihatnya dengan wajah bingung. "Kenapa di sini?" "Gadis itu menghilang," jawab Randu. "Gadis? Gadis siapa?" "Kau jangan pura - pura lupa, gadis yang tadi aku bawa ke sini." "Maksudmu nona itu? Nona cantik itu?" ucap Nando sambil mengerutkan keningnya. Randu pun mengangguk. "Hilang? Dia hilang? Hilang kemana?" tanya Nando panik. "Kalau aku tahu dia kemana, aku pasti sudah menemukannya sekarang," jawab Randu kesal. Randu pun kembali melanjutkan pencariannya diikuti oleh Nando di belakangnya. Hingga akhirnya mereka sampai di tempat pos keamanan desa, lalu mata Randu menyipit karena melihat seseorang yang ia kenal. Dengan langkah cepat Randu menghampiri orang itu yang sedang duduk di pos keamanan desa bersama tiga orang pria. "Ternyata di sini," ucap Randu seraya tersenyum kecut. Lalu matanya menatap wajah gadis yang sedari tadi ia cari dengan seksama. "Kemana saja?! Apa kau tidak tahu Kak Kia dan juga Cantika sangat mengkhawatirkanmu hah?!" emosi Randu sudah tak terbendung lagi. Ia sempat berpikir bahwa gadis itu dalam bahaya tadinya, karena ia sudah mencari - cari tidak juga menemukannya. Dan ternyata pikiran Randu salah, gadis itu malah bersenang - senang di pos keamanan desa dengan secangkir teh hangat dan juga biskuit ditemani televisi berbentuk kubus kecil yang tengah menampilkan acara lawak. "Ndu ..." Nando berusaha mengingatkan Randu agar tidak terlalu kasar pada gadis itu. "Ayo pulang ..." Randu menarik tangan Jinan dengan cukup kencang. "Tidak, aku nggak mau pulang," jawab Jinan takut-takut. Gadis itu shock karena Randu memarahinya dengan emosi yang menggebu. "Kau kenal dengannya, Ndu?" tanya seorang pria memakai baju berwarna hitam dengan sarung yang melingkar dipundaknya. Randu diam sejenak. "Ya, gadis ini yang aku dan bang Danu temukan di laut." "Kau harus segera melaporkannya ke kepala desa, Ndu," jawabnya. "Iya, bang, saya dan kak Kia pasti akan memberitahu Pak Kades." Mata Randu melirik ke arah Jinan yang tengah menatapnya juga. "Kau tau, dia tersesat sendirian tadi, tidak ada orang bersamanya saat kami sedang berjaga malam, lalu kami bawa saja dia kemari." "Syukur alhamdulillah abang - abang ini yang menemukannya, aku hanya takut dia dijahili orang jahat, bang, karena dia tidak tau daerah sini." Diam - diam Jinan tersenyum kecil. Dibalik amarah Randu, ternyata pria itu masih mengkhawatirkannya. "Ya sudah, kau pulang saja dengan Randu, ya?" ucap pria itu. Jinan mengangguk pelan. "Terima kasih," ucapnya seraya berdiri lalu membenarkan baju yang ia pakai dan melepas jaket yang dipinjamkan oleh abang yang sudah menolongnya itu. "Tidak usah dikembalikan, pakai saja, istriku punya banyak jaket di rumah, kau pasti kedinginan." Jinan awalnya ragu, namun ketika ia mendapat anggukan dari Randu akhirnya ia kembali memakai jaket itu. "Terima kasih sekali lagi, bang." "Ayo," kata Randu sambil menggenggam pergelangan tangan kanan Jinan. Lalu mereka berdua berjalan beriringan. Meninggalkan Nando yang kini sedang mengobrol dengan ketiga orang pria itu. Di perjalanan Jinan terus menatap tangannya yang digenggam oleh Randu. Di menoleh dan menatap Randu dari samping. Di bawah cahaya sinar bulan, Jinan melihat pria itu tampak sangat menawan. Hidungnya yang cukup mancung, alis tebal dan rahang yang kokoh membuatnya merasakan sedikit debaran di d**a.  "Maaf ..." ujar gadis itu. "Maaf karena membuatmu khawatir dan mencariku selarut ini." "Aku tidak mengkhawatirkanmu, kak Kia dan Cantika yang sangat cemas karena kau hilang," ucap Randu. "Masa? Tadi kamu bilang takut kalau aku dijahili orang jahat," pancing Jinan. Randu menghentikan langkahnya. Jinan pun ikut berhenti dan menatap pria itu bingung. "Kenapa kau selalu ingin membuatku marah, Jinan?" ujar Randu dengan alis yang bertaut. "Dan kau juga gadis yang sangat merepotkan, bisa tidak jangan terus menyulitkanku?" Randu pun kembali berjalan tak mempedulikan Jinan yang masih berdiri diam. Jinan termenung dengan perasaan yang sulit diartikan. Lalu ia pun berjalan mengikuti Randu. "Randu ... entah kenapa ucapanmu itu menyakitiku," ujarnya pelan. Bahkan hanya angin yang berhembus yang dapat mendengarnya. •••••
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD