Sea - 4

1337 Words
 "Pernah lihat sapi terbang?" Pertanyaan itu sontak membuat kepala lelaki yang tadinya menatap jalanan kini beralih menatap gadis di sampingnya dengan alis yang bertaut. "Tidak, memangnya kamu pernah?" "Nggak juga, aku kan cuma nanya, lagian mana ada sapi terbang." Gadis itu terkekeh pelan. Randu terdiam. Pertanyaan itu benar - benar aneh, dan yang lebih parahnya ia malah menanggapinya. Bertanya balik pula, astaga ... rasanya Randu benar - benar merasa bodoh sekarang. "Maaf ..." ucap gadis itu seraya menundukkan kepalanya. Mereka masih berjalan - jalan semakin masuk ke wilayah desa. "Kenapa?" "Maaf kalau pertanyaan tadi ... mengganggumu." Randu menghela napasnya pelan. "Tidak. Tidak sama sekali." Lalu hening. Sepanjang perjalanan mereka berdua hanya diam. Kemudian Randu memperhatikan gadis itu yang kini telah berlari menuju satu pohon yang biasa tumbuh di daerah pantai. Ia mengernyitkan dahinya, gadis itu mengambil sesuatu dari pohon, dan membalikkan tubuhnya hingga menghadap dirinya. "Apa ini bisa dimakan?" tanyanya sambil memegang sebuah buah yang mirip dengan rambutan. "Itu buah jarak kepyar, orang sini biasa memanggilnya balacai dan itu ... tidak bisa dimakan, Jinan. Karena sangat beracun." Cepat - cepat Jinan membuang buah yang sudah ia petik. Lalu ia menggosok - gosok telapak tangannya ke baju yang ia pakai. "Astaga ... aku kira bisa dimakan." "Tidak semua tumbuhan bisa dimakan." Jinan mengangguk. Dan kini ia berada di sebuah desa. Ia tersenyum ketika melihat beberapa anak berlari saling menangkap satu sama lain. Hampir semua warganya sedang menjemur ikan di depan rumah mereka, hanya ada beberapa warga yang sedang menjemur garam laut. "Rata - rata warga sini memang seorang nelayan," Randu menjelaskan secara singkat. Jinan setuju akan hal itu. "Ya, dan kau pun termasuk didalamnya." "Karena memang dekat dengan laut, jadi itulah mata percaharian kami." "Lalu kau akan menjualnya kemana? Aku tidak melihat ada pasar di sini." Gadis itu menengok ke daerah sekitarnya. Randu tertawa pelan. "Tentu tidak di sini. Kami akan pergi ke kota dan menjualnya di sana." "Oh, sekarang aku mengerti." "Randu!" Randu dan Jinan sama - sama menoleh. Datanglah seorang pria sebaya dengan Randu dengan senyuman terukir di wajahnya. Lalu pria itu menatap Jinan dengan bingung.  Pria itu berbisik pada Randu. Jinan menatapnya geram, apa yang dibicarakan kedua pria itu sampai - sampai ia tidak boleh mendengarnya. "Jinan, ini tamanku, namanya Nando." Jinan tersenyum kecil menanggapinya. "Tu nona pe fasung, Randu," ujar Nando terang - terangan yang membuat Jinan mengernyit bingung karena tidak tahu artinya. "Dia berkata apa?" bisik Jinan pada Randu. Randu berdeham sejenak. "Dia bilang ... kau sangat cantik." Sontak Jinan tersenyum malu - malu mendengarnya. "Apa yang aku katakan benar adanya," ujar Nando. "Mimpi apa Randu bisa bertemu gadis secantik kamu." "Berhenti menggodanya, Nando." "Kau berhutang cerita padaku, Ndu. Siapa gadis itu? Kenapa bisa ada denganmu tiba - tiba?" "Tak perlu diceritakan, karena dia ... hanya korban kecelakaan pesawat, dan sebentar lagi pun ia akan kami kembalikan ke tempat asalnya," jawab Randu sambil melihat Jinan yang kini tengah bermain  dengan anak - anak desa. Gadis itu cepat sekali akrab dengan mereka, bahkan mereka bisa tertawa bersama, seakan gadis itu tidak punya beban yang harus ia pikul dengan erat. Padahal, gadis itu kehilangan ingatannya, Randu berpikir seharusnya gadis itu merasa sedih bukan, karena jauh dari keluarganya, namun yang ia lihat, gadis itu masih menampilkan sifat cerianya, ditengah musibah yang sedang gadis itu hadapi. "Kau akan melepaskannya? Serius, Ndu? Di daerah sini tidak ada nona cantik seperti dia, seharusnya kau jadikan dia maitua."  Randu tertawa pelan. "Yang benar saja! Aku tidak tau dia siapa, Nan! Masa aku akan menjadikannya maitua." Pria itu bahkan tidak sampai berpikir sejauh itu, menjadikan Jinan istrinya sangatlah diluar rencananya. Memang, perkataan Nando ada benarnya, gadis cantik seperti Jinan sangat jarang ada di daerah tempat ia tinggal, namun ia tidak akan mengikuti saran dari temannya itu. "Randu, dimana rumah Kak Yani?" tanya Jinan yang sekarang pakaiannya sudah kotor karena terkena tanah. Gadis itu berjalan mendekati Randu dan juga Nando. "Oh, kau mencari rumah Kak Yani? Aku tahu, mau aku antar?" tanya Nando. Jinan terdiam. Ia menatap Randu yang masih menatapnya datar. "Ehm, tidak perlu," jawabnya. "Kapan - kapan kita akan mampir ke rumahnya, sekarang kita harus pulang, aku banyak pekerjaan di rumah." Randu menarik tangan Jinan, lalu mengajaknya pergi dari desa. "Kenapa kau tinggal di pesisir pantai? Kenapa tidak tinggal di desa saja bersama para warga?" tanya Jinan dengan langkah yang terseok mengikut langkah besar dari Randu. Randu berhenti. Ia menatap tangannya yang sedang menggenggam tangan Jinan. Warna kulitnya yang sawo matang dan juga warna kulit gadis itu yang putih terlihat sangat kontras. Pria itu lantas melepaskannya dengan cepat.  "Kehidupanku tidak ada hubungannya denganmu, jadi berhenti bertanya macam - macam, tidak semua pertanyaanmu itu akan aku jawab, karena itu sudah masuk ke dalam kehidupan pribadiku, kau hanyalah gadis yang kami tolong, jadi ... bersikaplah sewajarnya dan jangan menjadi gadis yang ingin tahu segala hal." Jawaban yang diberikan Randu membuat Jinan terhenyak. Ya, dia terlalu penasaran akan kehidupan pria itu dan juga keluarganya. Seharusnya ia tidak bertanya seperti itu. Ia hanyalah gadis beruntung yang diselamatkan oleh orang baik seperti mereka, seharusnya ia pun tidak boleh membebani mereka. Jinan sadar, bahwa dirinya salah. Ia menunduk dalam seraya memilin jari - jarinya. "Maafkan aku," ucapnya penuh penyesalan. "Sudahlah, lebih baik sekarang kita cepat pulang." ••••• Jinan membuka jendela kamar, menampilkan langit malam yang indah di pesisir pantai. Ia sudah memikirkan matang - matang sejak tadi. Dan ia memutuskan untuk pergi, ia tidak ingin merepotkan keluarga Kak Kia lagi, ia akan pergi mencari jati dirinya sendiri, lalu ia akan kembali kepada keluarganya. Sulit memang, tapi Jinan akan berusaha sendiri. Sudah cukup Kak Kia dan keluarganya membantunya, dan kini waktunya ia berusaha sendiri. Dengan cepat, ia menuliskan sebuah surat, lalu menaruhnya di atas meja kecil sebelah ranjang. Jinan melihat Cantika yang sedang tertidur pulas. Gadis kecil itu sungguh manis dan baik hati. Jinan pasti akan sangat merindukannya nanti. Ia mengambil pakaian miliknya sendiri yang sudah dicuci oleh Kak Kia. Ia melepaskan pakaian milik Kak Kia yang melekat ditubuhnya, lalu ia memakai pakaiannya sendiri. Sebuah dress berwarna peach selutut tidak berlengan dengan jacket kulit cokelat muda yang sangat indah. Gadis itu tersenyum kecil menatap dirinya di cermin usang yang tertempel di lemari. Lalu ia menatap jam yang menunjukkan pukul 11 malam. Ia pun berjalan mengendap ke luar kamar. Lalu menengok ke kanan dan kiri takut ada seseorang yang masih terjaga. Dan ternyata aman, rumah terlihat sangat sepi. Ia pun berjalan menuju pintu utama dengan langkah yang sangat pelan. Membuka pintu itu dengan perlahan, akhirnya ia berhasil keluar dari dalam. Dilihatnya langit yang sangat gelap. Ada sebagian dirinya yang merasa takut karena pergi ketika hari sudah larut malam, dan juga ... ia tidak tahu harus pergi kemana. Namun, dengan tekadnya yang kuat, ia berjalan menuruni rumah panggung itu. Kakinya yang beralaskan sendal langsung menapak di atas pasir. "Kamu pasti bisa, Jinan!" Gadis itu menyemangati dirinya sendiri. Ia membalikkan tubuhnya untuk melihat rumah panggung milik Kia dan keluarganya. "Aku akan sangat merindukan kalian, tapi nanti, jika aku sudah bertemu dengan keluargaku, aku akan kembali lagi ke sini untuk menemui kalian." Gadis itu lantas berlari, memasuki pepohonan rindang yang sebelumnya pernah ia lewati bersama Randu sewaktu mereka pergi berjalan - jalan. Jinan mengingat - ingat jalur mana yang ia lewati bersama Randu hingga bisa sampai di desa, namun ... sepertinya ia tersesat. Ia malah masuk ke dalam hutan mangrove dan ia merasa takut sekarang. Suara burung hantu membuat bulu kuduknya merinding. Rasanya ia ingin menangis sekarang juga. Langit semakin gelap, dan pencahayaan semakin meredup, Jinan menggigil merasakan angin malam yang menerpa. Tiba - tiba ada sebuah tangan yang membekap dirinya. Ia memberontak dengan hebat, ia takut ada seseorang yang ingin mencelakainya.  Dan sekarang ... ia berharap Randu ada bersamanya. ••••• Maitua : istri Tu nona pe fasung : gadis itu sangat cantik Itu bahasa Manado ya, dan maaf lama update karena aku lagi belajar dikit dikit bahasa mereka, takutnya ada yang salah lagi. Dan ingetin aku juga ya kalau misalnya ada kesalahan, nanti bakalan aku perbaiki. Aku belajar bahasa Manado dikit dikit dari sini : h***::/epositori.kemdikbud.go.id/2932/1/Kamus%20Manado-Indonesia%20%20-%20%20159h.pdf
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD