BAB 12

1497 Words
Gadis cantik dengan baju berwarna coklat tengah duduk sendiri di ruang tamu. Tiga orang pria dewasa lain yang ada di rumah itu memisahkan diri dan berbincang di ruangan khusus. Chyntia berusaha menguping tetapi ruangan kerja sang pemilik rumah itu kedap suara. Ia merasa sangat bosan. Chyntia memperhatikan setiap sudut rumah dan berusaha menyelidik. Siapa tau ada hal penting yang ia temukan di rumah itu. Sejenak ia berpikir saat insiden tadi. Chyntia juga seperti pernah bertemu dengan bapak tua pemilik rumah ini, mungkin dulu pernah saling bertemu. Jika saling mengenal hampir saja mungkin identitas ia akan terbongkar. “Kenapa wajahmu seperti sering aku lihat, Nona. Apa kita saling mengenal?” ujar pria paruh baya berumur kepala lima. Mengerutkan dahi, berusaha mengingat wajah Chyntia. Wajah gadis yang mirip dengan orang yang ia kenal. Chyntia berusaha untuk tidak panik ia membalas jabatan tangan pria paruh baya yang ada di hadapannya. “Mungkin hanya perasaan anda saja, Tuan!” Chyntia tersenyum. “Tidak. Ingatanku biasanya kuat. Kamu mirip ….” “Wajah saya pasaran! Mungkin Tuan melihat yang mirip dengan saya!” “Ah … iya. Mungkin ada yang mirip denganmu dan pernah bertemu sebelumnya dengan saya!” Chyntia melihat semua foto yang terpajang di dinding dan di atas lemari. Ia melihat foto pria pemilik rumah sedang bersama dengan seorang pria dan seorang wanita yang sangat ia cintai. Meraih ponsel di dalam tas dan mengambil gambar. Mencatat nama orang pemilik rumah dan segala informasi penting agar ia tidak melupakannya. Joehan, Brian dan pria bernama Fredry keluar dari ruangan khusus. Mereka selesai membicarakan bisnis dan sedikit memperbincangkan soal kasus penembakan keluarga Dayo. Fredry sedikit mengingatkan Joehan untuk menemui keluarga Dayo. Meminta agar dirinya tidak diberatkan dalam kasus itu, sekaligus meminta maaf jika memppunyai kesalahan. Joehan enggan menuruti keinginan Fredry karena ia tidak menyukai Carel, anak pertama keluarga Dayo. Begitupula dengan Carel, Carel tidak menyukai Joehan. Mereka dahulu berkuliah di satu tempat yang sama. Tidak berteman dan tidak saling sapa. Bersaing mendapatkan gelar cumlaude. Saat berkuliah keduanya selalu mendapatkan nilai tinggi. Setelah belajar dengan giat, Joehan pria yang populer di kampus, mendapatkan nilai cumlaude mengalahkan Carel yang mendapat posisi kedua. Joehan sedikit mendapatkan pencerahan, mengatur strategi untuk memancing pelaku sebenarnya keluar dari persembunyian. Suara cacing di perut Chytia memberi tahu bahwa perutnya ingin segera diisi. Sebelum pulang mereka makan bersama di ruang makan. Pria paruh baya bernama Fredry itu kembali mengajak Chytia berbicara. Rasa keingintahuannya tinggi. "Kamu tinggal dimana Chyn? Umur berapa dan apakah sudah berkuliah?" bertanya sembari memotong steak miliknya. Chyntia yang sibuk mengunyah menjawab, "di pinggiran kota Paris, saya baru berumur dua puluh tahun dan tidak sedang berkuliah, Pak. Saya kan saat ini menjadi asisten Tuan Joehan." "Kenapa bisa menjadi asistenmu, Joehan? Bukankah kamu selalu mempekerjakan lulusan minimal S1?" "Dia punya hutang padaku. Lantas aku meminta dia menjadi asistenku untuk membayar semua hutang-hutangnya." "Kenapa bisa gadis muda punya hutang padamu, Joe? Apa dia salah satu gadismu?" "Dia terlibat suatu insiden lantas membutuhkan banyak uang. Aku menolongnya pada kejadian itu. Jadi aku mempekerjakan dia untuk menyicil hutangnya padaku!" Joehan berbohong. Dia tidak enak jika membicarakan soal Chytia yang akan dijual oleh suatu agensi model dan Joehan menolongnya. "Baik sekali kamu, Joe. Sudah tampan, dermawan, dewasa, baik pula," pujinya. "Terima kasih anda sudah menerima kedatangan kami dan menjamu kami. Sudah malam. Kami permisi pulang!" "Terima kasih kembali!" Memeluk tubuh Joehan. Malam itu notifikasi ponsel Joehan kembali berbunyi. Postingan terbaru wanita yang selalu ia tunggu menampilkan foto dia sedang berciuman dengan seorang pria yang merupakan pacar barunya. Menggenggam erat buket bunga dan berpelukan sangat erat. Joehan mengepalkan tangan dan meminta Brian melakukan perjalanan ke klub malam dulu sebelum pulang. Joehan sudah menjadi member dan hampir setiap malam pergi ke klub untuk melepas penat dan bersenang-senang. Chyntia mengikuti jejak Joe dan Brian. Kedua Pria itu minum minuman beralkohol dan merokok. Chyntia batuk-batuk menghirup bau rokok dan bau minuman alkohol yang sangat menyengat pada hidungnya. "Bri. Bisa antarkan aku pulang? Aku tidak tahan dengan bau yang aneh-aneh ini. Please!" "Kamu tidak mau mencoba segelas atau dua gelas minuman ini, Chyn?" tanya Brian. Joehan sibuk meminum gelas demi gelas minuman favoritnya. Memberikan satu gelas pada Chytia. "Maaf aku tidak biasa minum minuman yang beralkohol," tolak Chytia. "Ya sudah. Antar dia pulang, Bri. Aku akan aman disini sendiri!" pinta Joe pada Brian. "Oke. Aku antar Chyntia pulang dulu!"   Joehan duduk sendirian. Ia sudah biasa di dekati wanita-wanita cantik para penghibur klub malam itu. Joehan memilih yang paling cantik dan belum pernah menemaninya. Joehan mabuk berat saat minum bersama gadis yang menemaninya. Seorang gadis yang berpenampilan modis datang. Mengerutkan dahi saat melihat Joehan. 'Pria yang aku tunggu-tunggu. Dia datang lagi!' Menghampiri dan menyingkirkan dengan paksa wanita yang bersama Joehan. Memberikan uang ganti rugi agar wanita itu diam dan tidak protes karena ia merebut Joehan. "Hey apa kau ingat aku?" tanyanya pada Joehan. Joehan sibuk menikmati gelas demi gelas, menghiraukan pertanyaan dari wanita yang ada di sebelahnya. Gadis itu merebut gels Joehan dan meminum isinya hingga tandas. "Siapa namamu?" tanyanya lagi sambil menoleh pada Joehan. Joehan menoleh saat gelasnya di rebut. "Siapa kamu? Aku Joehan. Joehan Moeres!" "Kamu ingat namamu tapi tidak mengingat namaku. Aku Lusi, Joe!" "Ah … entahlah. Aku lupa!" "Kamu sudah mabuk berat. Ayo aku antarkan pulang!" Lusi membopong tubuh Joehan dan membawanya masuk ke dalam mobil coklat miliknya yang terparkir di luar klub. Joehan yang mabuk hanya bisa memberitahukan alamatnya saja lalu tertidur. Brian menyusul kembali ke klub setelah mengantarkan Chytia pulang. Rumah dalam keadaan sepi. Chyntia bebas melakukan hal apapun termasuk menggeledah rumah Joehan. Mencari barang penting di kamar Joehan. Ia menggeledah sangat berhati-hati tanpa membuat posisi berbah. Segala sudut ruang kerja pribadi Joe, kamar Joe serta ruang walk in closet tidak luput dari pemeriksaannya. Chyntia tidak menemukan apapun yang penting dan berharga.   Chyntia yang masih ada di ruangan walk in closet, memeriksa setiap lemari Joehan kaget mendengar suara pintu kamar yang terbuka. ‘Sial … aku masih disini dan ada orang yang masuk, siapa itu? jangan-jangan Joehan sudah pulang.’ Chyntia mengintip dari balik pintu walk in closet. Terlihat Joehan tengah dibawa oleh seorang wanita dan di baringkan di atas kasur.  ‘Bagaimana caranya aku keluar kalau ada mereka di dalam kamar.’ Chyntia bertahan di ruangan yang agak gelap itu. Menunggu gadis yang bersama Joehan pergi sehingga ia bisa keluar dengan mudah. Sayangnya Joehan malah terlihat menarik tangan sang gadis, memeluknya dengan erat. “Aku ingin membuat keringat bersamamu,” bisik Joehan. Gadis yang bersama Joehan sama sekali tidak menolak. Ia membuka semua kancing baju kemeja yang Joehan kenakan. Sementara Joehan membuka paksa pakaian gadis yang ada di hadapannya hingga robek. Mereka bermain bagian atas terlebih dahulu. Saling mengecap dan memberikan tanda kepemilikan di bagian leher. Bertukar saliva dan saling mengabsen gigi masing-masing.  Chyntia mengintip kegiatan yang tengah dilakukan oleh Joehan dan gadis yang menemaninya. ‘Kenapa mereka malah membuat malam yang panas. Sayang sekali nasibku terjebak disini.’ Suara Brian terdengar memanggil namanya dan nama Joehan. ‘Gawat ini kalau Brian mencari dan tidak menemukanku.’ Brian terus memanggil nama Chyntia dan Joehan, sedikit mengintip ke arah kamar Joehan. Dia melihat sang bos tengah berciuman bersama seorang wanita. ‘Syukurlah jika Joehan telah pulang.’ Perlahan Brian menutup kamar Joehan agar pemandangan itu tidak dilihat oleh orang lain. Brian mengetuk pintu kamar Chyntia dan mengira gadis itu sudah tidur. Ia segera pulang dan tidak mau mengganggu kegiatan bosnya. Chyntia yang masih mengintip merasa frustasi melihat Brian malah menutup pintu kamar. ‘Bagaimana cara aku bisa keluar jika Brian sudah menutup rapat pintu kamarnya. Masa aku harus disini sampai pagi melihat dan mendengar dua orang dewasa yang tengah bertukar keringat.’ Chyntia mengusap rambutnya secara kasar. Mengeringkan keringat di dahi dengan baju yang ia kenakan. ‘Ini sungguh hari yang sangat melelahkan. Pertama aku disuruh membersihkan kolam dan aquarium, kedua bertemu pria paruh baya yang hampir mengenalku, ketiga tidak bisa keluar dari sini dan melihat adegan dewasa secara langsung bukan di televisi.’   Ia berpikir keras bagaimana caranya agar bisa keluar dari ruangan itu. Joehan terlihat membuka celana yang ia kenakan. Sang gadis juga ikut membuka rok mini yang ia kenakan. Meninggalkan pakaian dalam yang dibuka paksa oleh Joehan. Tubuh sang gadis di tindih oleh Joehan. Pria itu mengecup bertubi-tubi seluruh permukaan tubuh gadis sexy yang berkulit mulus dan putih. Memberikan tanda kepemilikan dimana-mana. Mereka berdua saling mengeluarkan suara desahan kenikmatan. Chyntia merasa muak melihat adegan langsung di hadapan kedua matanya. Bau pergumulan itu sangat mengganggu indra penciumannya. ‘Aaaaaa … aku ingin segera keluar dari sini!’ teriaknya dalam hati. Kedua insan itu melanjutkan kegiatan pada area bawah. Joehan memasukkan juniornya yang sudah menegang pada rongga inti milik Lusi. Membuat Lusi menjerit merasakan miliknya tengah dijelajahi junior milik joehan yang berukuran besar dan sangat menegang. Lusi menutup tubuh mereka berdua dengan selimut tebal. melanjutkan pertempuran di dalam selimut. Chyntia yang melihat kedua pasangan itu ada di balik selimut segera merangkak mendekati pintu kamar. Mencoba membuka gagang pintu dengan perlahan tanpa mengganggu kedua orang yang tengah sibuk dibalik selimut. ‘Yes, pintu berhasil aku buka.’ Ia berhasil keluar dari kamar. Pintu tidak sengaja menutup dengan kasar. Mengeluarkan suara yang bisa saja mengagetkan orang yang ada di dalam. “Siapa itu?” teriak Lusi. Membuka selimut dan menoleh ke arah pintu. Chyntia segera berlari memasuki kamarnya dan mengunci pintu. Ia takut ketahuan oleh Joehan. Lusi menyudahi kegitan itu dan mendekat ke arah pintu. Joehan menariknya secara paksa dan kembali menghantam milik Lusi. Mereka kembali melakukan kegiatan panas dan saling mengeluarkan suara desahan. Chyntia mengatur nafas dan mencoba untuk tenang. ‘Syukurlah aku tidak ketahuan!’ Ia segera masuk ke dalam toilet membersihkan diri dan membasuh wajahnya. ‘Mata ini harus dibersihkan karena telah ternodai!’
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD