BAB 13

1521 Words
Gadis cantik yang mengenakan kaos putih dan celana pendek mengintip dua orang yang tengah bertengkar dari balik pintu. Seorang pria dan seorang wanita tengah bertengkar, suaranya terdengar sangat kencang hingga membuat gadis itu terbangun. “Joe, aku tidak mau pulang!” teriak gadis bernama Lusi pada Joehan. Joehan menarik lengan Lusi dan membawanya keluar kamar. “Pulang, Lusi. Ini uang untukmu!” Joehan memberikan amplop berisi sejumlah uang untuk Lusi. “Aku ingin menjadi kekasihmu dan menginap lagi disini. Ini ambil uangmu, aku tidak mau lagi.” Lusi melempar amplop yang diberikan Joehan ke sembarang arah. “Aku bukan wanita bayaran Joe. Aku tidak butuh uangmu. Aku hanya butuh cintamu!” Lusi memeluk tubuh Joehan. “Aku tidak ada niatan untuk menjadikan gadis-gadis yang menemaniku menjadi seorang kekasih, Lus. Itu hanya cinta satu malam.” Joehan melepaskan pelukan Lusi secara perlahan. “Pulanglah dan jangan kembali lagi. Aku harus segera pergi untuk bekerja.” Lusi malah menangis dan bersikeras untuk tidak mau pergi.   “Apa minuman yang tadi kau berikan itu obat yang bisa menggagalkan kehamilan, Joe? Karena kita tidak mengenakan pengaman semalam.” “Iya, Lus. Itu obat yang sama saat aku memberikanmu pada saat di hotel waktu itu.” jelas Joehan. “Ternyata kau orang yang seperti itu, Joe.” “Pulanglah, Lus. Setiap harinya aku selalu bergonta ganti pasangan. Tidak ada niatan untuk menjadikanmu kekasih meski kita sudah mengalami malam panas tiga kali.” Joehan berusaha mengusir Lusi secara halus. Lusi malah duduk di kursi sofa depan kamar Joehan dan tidak mau untuk pergi. Joehan mengusap rambutnya dengan kasar. Pertama kalinya ia susah untuk berpisah dengan seorang gadis yang menghangatkan kasurnya. “Aku dalam keadaan mabuk sehingga melakukan itu bersamamu!” Lusi tidak menjawab perkataan JOehan. Joehan berpikir sejenak mencari sebuah alasan. Chyntia tengah berjalan pelan keluar dari kamar menuju tangga untuk turun dan mengambil minum. Tenggorokannya sangat haus dan ingin di lewati air mineral. Tidak sengaja ia menyenggol sebuah vas bunga hingga hampir terjatuh. Joehan yang melihat Chyntia, langsung menarik kedalam dekapannya. “Aku sudah memiliki kekasih. Ini kekasihku!” Menatap Lusi yang tengah melihatnya mendekap tubuh seorang gadis yang tidak Lusi kenal.   Jantung Chyntia berdegup dengan kencang. Ia takut Joehan merasakan debaran jantungnya yang bergetar. Chyntia mengurai dekapan Joe dan ingin melanjutkan perjalanannya kembali untuk berjalan menyusuri anak tangga. “Kekasihmu?” tanya Lusi. “Iya. Kekasihku!” jawab Joe sambil membalikkan tubuh Chyntia agar menghadap Lusi. “Masa iya seorang kekasih membiarkan kekasihnya tidur bersama wanita lain. Tidak hanya satu, tapi berganti-ganti.” Lusi menyilangkan tangan di depan d**a. “Sayang … kamu mengijinkan aku hanya untuk sekedar bermain-main saja, kan? Hatiku tetap milikmu!” Menatap Chyntia yang ada dalam rangkulan tangannya. Chyntia menatap mata Joehan dengan penuh rasa bingung. Ia menangkap sinyal dari tatapan Joe untuk melakukan suatu kebohongan. “Siapa kamu?” tanya Chyntia kepada Lusi. “Lusi.” jawab lusi dengan ketus. “Hanya wanita yang singgah di kasur kekasihku satu malam saja!” Menyilangkan tangan di depan d**a. Lusi membulatkan matanya. menatap Chyntia dengan tajam. “Aku terlalu baik hingga mengizinkan kekasihku untuk menghangatkan ranjang bersama wanita lain. Tidak lebih. Tidak cemburu. Toh tidak ada cinta di antara kalian. Dia sepenuhnya milikku!” Menatap Joehan dan tersenyum.  “Hubungan macam apa itu. Aneh sekali. Jika aku menjadi kekasih Joehan. Tidak akan kubiarkan dia tidur bersama wanita lain,” ejek Lusi pada Chyntia. “Terserah aku lah. Hidup-hidup aku. Ya terserah aku mau hubungan seperti apa dan menjalaninya seperti apa! Apa urusanmu? Cepat sana pergi sebelum aku suruh bodyguard yang mengusirmu!” “Baiklah. Aku akan pergi untuk saat ini. Tapi aku akan merebut Joe suatu saat nanti!” ancam Lusi. “Rebut saja kalau bisa!” “Kamu tidak akan meninggalkan aku, kan, Sayang?” tanya Chyntia pada Joehan. “Tidak akan, Sayang!” Lusi muak melihat Interaksi antara Joehan dan Chyntia yang bermesraan di hadapannya. Ia segera pergi dari rumah Joehan. Lusi jatuh cinta saat pertama kali bertemu dengan Joehan. Setiap malam ia mengunjungi klub itu hanya untuk bertemu Joehan. Pria yang telah memikat hatinya dan mengira ia sebagai wanita bayaran. Gadis ini sebenarnya dari kalangan orang berada dan singgah di klub untuk menghibur diri. Lusi pada hari itu sedang patah hati. Ia lalu bertemu Joehan dan merebut gelas minuman Joehan. Mabuk bersama dan melakukan malam panas berdua. ‘Awas saja. Aku akan membuat Joehan jatuh cinta padaku.’ Batin Lusi. Ia lalau menginjak pedal gas dan pulang ke kediamannya. Joehan menepuk kedua tangannya. Memberikan pujian pada Chyntia. “Kamu memang pantas menjadi seorang artis Chyn. Aktingmu sangat bagus! Aku suka. Berkatmu dia pergi juga. terima kasih.” “Sama-sama! Itu bukan apa-apa. Masih ada aktingku yang lebih bagus lagi. Kamu belum melihatnya!” “ Wah … keren!” “Cita-citaku adalah menjadi seorang model dan aktris.” “Kamu memang berbakat. Nanti aku bantu carikan agensi yang bagus!” “Ayahku kurang menyetujuinya, Joe. Aku sebenarnya ragu!” “Jangan ragu selagi itu membuatmu bahagia!” Chyntia meneruskan kegiatannya untuk pergi ke dapur mengambil segelas air mineral. Ia sudah sangat haus. Joehan menyusul langkah Chytia dan meminta gadis itu untuk memasak sarapannya. “Chyn, masak yang enak untuk bos, ya!” Chyntia hampir tersedak saat meminum segelas air. “Bos apaan yang kerjanya gonta ganti wanita. Seperti tidak ada pekerjaan yang penting lain saja!” mengejek Joehan. “Tidak apa-apa. Itu pelepas penat saja!” “Uh … bisa saja kamu memberikan alasan!” Joehan menunggu masakan Chyntia di meja makan. Gadis itu memasak sambil Joehan interogasi semua alasan Chyntia ingin menjadi seorang selebritis dan seberapa besar keinginan untuk meraihnya. Menurut Joe, Dunia keartisan sangat kejam seperti dunia bisnis. Saingan setiap tahunnya semakin banyak pesaing. Bisa saja jika tidak berhasil, mengalami penipuan seperti kemarin. Diiming-imingi gaji tinggi dan popularitas. Nyatanya merenggut sesuatu yang lebih berharga.  “Aku heran kenapa pria itu mau mengeluarkan uang untuk membelimu, Chyn. Padahal kamu tidak ada cantik-cantiknya sama sekali.” Mencangkup wajahnya dengan kedua tangan.  “Terus aku tampan?” tanya Chyntia yang tengah sibuk memotong bahan masakannya. “Kenapa tampan?” tanya Joe. “Katamu tadi aku tidak cantik. Lalu, masa iya aku tampan? kan aku bukan laki-laki Joe!” sanggah Cyntia yang merasa tidak terima diejek tidak cantik oleh Joehan. “Tidak cantik, tidak juga tampan.” Menaikkan kedua alisnya. “Lalu aku waria? Kan katamu tidak cantik dan tidak juga tampan.” Chyntia memajukan bibirnya. Terlihat sangat menggemaskan di mata Joehan. “Kamu wanita jadi-jadian, Chyn. Mana ada artis atau model sepertimu! Sikapmu sangat jelek. Mana bisa punya fans nanti.” “Kamu menghinaku Joe?” Chyntia yang tengah mengaduk masakannya merasa emosi. “Tidak hanya saja aku mengejekmu!” Menggoda Chyntia yang tengah akan marah. “Itu sama saja, Joe!”  “Kamu juga tidak pantas menjadi CEO, mana ada CEO macam kamu!” “Hey …  jangan berusaha membalas, yah!” "Kamu juga tidak tampan menurutku, Joe!" balas mengejek Joehan. "Hey … kalau tidak tampan mana mungkin aku digilai banyak wanita! Mereka antri dan berebut untuk mendapatkan cinta dariku." Dengan percaya diri Joehan membela diri. "Mereka mengejar karena uangmu, Joe. Bisa saja dari itu. Bukan dari tampang saja. Wanita jaman sekarang matre!"  "Ejek saja aku, terus …." "Tampang saja tidak menjamin, Joe. Sekarang wanita menilai dari materi dan apalagi ya! Ya pokoknya itu!" "Kamu wanita langka, yah! Limited edition. Sombong, angkuh, bawel, keras kepala, terkadang lucu dan terkadang menyedihkan." "Apa kamu bilang? Menyedihkan?" "Iya. Waktu itu memelas meminta tolong saat di lift. Aku kira kamu anak anjing yang sedang mencari induknya." "Anak anjing? Ish … Joe. Kau menyebalkan!" Menaikkan sebelah sudut hidungnya. "Justru yang seperti aku ini tidak membosankan. Langka, tidak ada duanya!" "Memuji diri sendiri?" "Au …." jerit Chyntia saat tangannya terkena teflon yang panas. Kulit Chyntia memerah dan hampir melepuh. Mendengar dan melihat Chyntia meniup tangannya yang terluka. Joehan mengambil kotak obat dan mengoleskan salep luka bakar pada daerah kulit Chytia yang memerah. "Hati-hati, Chyn." Joehan meniup-niup luka Chyntia. "Perih …!" rengeknya. Joehan yang melihat api masih menyala, segera mematikan kompor sebelum masakan itu gosong. "Untung aku melihatnya. Hampir saja gosong atau kebakaran." "Sakit, Chyn?" tanya Joehan. Ia terus saja meniupkan udara dari nafasnya untuk membuat rasa perih pada luka di tangan Chyntia berkurang. "Sakit, Joe!" rengeknya lagi. "Kami duduk biar aku yang lanjutkan memasak!" Joehan melanjutkan masakan yang tengah Chyntia masak, hingga sayuran itu berubah warna. Joehan menata makanan di piring dan menyimpannya di meja.  "Maaf, Joe. Karena aku, kamu jadi turun tangan untuk memasak!" "Tak apa, Chyn." Mendadak Chyntia ingin tahu tentang gadis yang menemani Joehan tadi malam. "Kamu semalam berbuat apa saja dengan wanita itu, Joe?" tanya Chytia. "Kamu penasaran?" Joehan menaikkan kedua alisnya. "Saling bertukar keringat. Berbagi saliva dan memadu kasih." "Wle …." Chyntia melakukan adegan seperti ingin muntah. "Iuuh … kamu itu. Bukannya jadi CEO yang baik. Ini malah seperti CEO gadis-gadis bayaran atau penghibur, Joe." Memasukkan makanan kedalam mulutnya. "Awas ya kau!" Joehan menggelitiki pinggang Chyntia hingga gadis itu merasa geli. "Hentikan, Joe." Chyntia membalas menggelitiki tubuh Joehan. Joehan melakukannya terus menerus hingga Chyntia berteriak menahan rasa geli. "Cukup, Joe. Ampun, ini geli!" "Kamu juga harus berhenti!" Chyntia beranjak dari kursinya dan bersiap untuk kabur. Joehan tidak mau berhenti. Dia mengejar Chyntia yang hendak kabur. Menarik tengkuk gadis itu. Lantai yang licin membuat Joehan terpeleset dan Chyntia juga ikut terjatuh menimpa tubuhnya. Posisi mereka saat ini saling bertatapan dengan tubuh Chyntia yang berada di atas tubuh Joehan. Joehan menatap binar mata yang indah. Larut dalam suasana dan mengaitkan tangannya ke leher Chyntia. Menekan agar gadis itu lebih mendekat. Menempelkan bibir hangat miliknya dengan bibir merah muda Chytia yang sangat menggoda. Suara orang yang datang dan masuk tidak di hiraukan Joehan. Dia malah asyik melumat bibir Chytia. Sementara gadis itu malah kaget dan tidak merespon apapun. Brian mendekat dan melihat kedua orang di hadapannya tengah berciuman.  "Astaga, Joe. Siang malam kau bermain dengan dia, ya?" Chyntia menjauhkan tubuhnya dari tubuh Joehan. Melirik Brian dan merasa malu. Ia mengeringkan saliva Joehan yang membasahi bibirnya. Berlari masuk ke dalam kamar. Menyembunyikan wajah yang merah padam. "Kau mengganggu saja, Bri!" Jehan beranjak bangun dan duduk di kursi bersama Brian. "Semalam aku ke klub kau sudah tidak ada. Aku susul ke rumah kau sedang sibuk di kamar. Itu bersama Chyntia bukan?" Brian memastikan. "Bukan dengan Chyntia lah! Masa iya aku tidur dengan Chyntia," sanggah Joehan. "Oh … aku kira kau bermain siang dan malam dengan Chyntia!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD