BAB 14

1532 Words
Sebuah mobil hitam sudah siap di pelataran rumah mewah. Dua orang pria dan satu orang perempuan masuk kedalam mobil.  Gadis dengan senyuman manis kini terlihat cemberut, duduk di bangku depan menghadap kaca. Pikirannya entah kemana.  Ia membayangkan bibirnya yang tadi di basahi saliva seorang pria. Terasa hangat dan memabukkan. Untung ada orang lain datang dan menyadarkan ia saat tenggelam ke dasar kenikmatan yang baru ia rasakan. Kejadian itu sangat memalukan membuat pipinya merah merona. Chyntia mencoba melupakan dengan tidak ingin membahas apa-apa di dalam mobil. Brian yang menyadari seorang gadis tengah tidak ingin diganggu, sepanjang perjalanan ikut diam. Memberikan ruang agar Chytia tidak merasa malu atas kejadian tadi yang ia pergoki. Brian melirik ke arah Joehan. Memberikan isyarat bahwa seorang gadis tengah tidak ingin diganggu dan sepertinya membenci Joehan. Chyntia tidak lagi duduk di bangku belakang bersama Joehan. Kali ini mereka ingin pergi memeriksa mall baru yang menjadi awal pertemuan sekaligus perkenalan dengan Chyntia. Sebagai tanda maaf Joehan membawa Chytia ke sebuah butik ternama untuk memilih baju. Gadis itu tidak berpakaian layaknya seorang karyawan lagi. Terlihat seperti gadis tomboy yang akan pergi berjalan-jalan. Chyntia membuntuti langkah Joehan dan Brian. Ia kembali melamun hingga tidak menyadari orang yang berada di depannya sudah berhenti berjalan. Kepala Chyntia menabrak punggung Joehan. "Hey … kau melamun terus hingga menabrakku, Chyn." Menaikkan dagu Chyntia. Chyntia mengusap kepalanya yang telah terbentur ke punggung Joehan. "Maaf!" Sebuah kata singkat yang terlontar dari mulut indah Chyntia. Ia malas untuk berdebat dengan pria yang ada di hadapannya. "Lihat sekelilingmu. Pilih baju kerja yang layak dan nyaman. Masa kamu setiap hari mengikutiku dengan pakaian gadis tomboy seperti itu. Padahal aku sediakan baju-baju yang lebih anggun di rumah!" Joehan memerintahkan Chyntia memilih baju baru. Chyntia menggelengkan kepala. "tidak mau!" "Ayo, Chyn. Aku potong gajimu jika tidak menurut dan tidak berpakaian rapi!" Joehan mengancam agar Chyntia mau menurut. "Ayo, Chytia. Baju disini bagus-bagus. Karya designer ternama. Kamu pasti akan lebih cantik jika memakainya!" ujar Brian. Ia membujuk Chytia agar mau memilih baju. Chyntia akhirnya melirik dan memilih-milih baju. Merasa interior butik ini sangat mirip dan sering ia lihat. Seorang designer pemilik butik itu keluar dan menghampiri pelanggan yang tengah sibuk memilih baju hasil karyanya. Joehan dan Brian duduk menunggu Chyntia. "Anda ingin baju seperti apa, Nona?" tanya designer itu pada Chyntia. Chyntia menoleh. "Saya ingin memilih beberapa baju kerja!" "Nona Chyntia!" Memeluk Chyntia dengan erat. Joehan dan Brian menoleh memperhatikan mereka berdua. "Apa kabar, Nona Chytia? Dengan siapa anda kesini?" tanya sang designer. Chyntia panik, ternyata ini adalah butik langganan kepunyaan designer ternama yang biasa ia gunakan. Pantas saja interiornya sangat familiar. "Baik, Nyonya! Saya kesini dengan bos saya!" Mengedipkan sebelah mata. Berharap designer itu mengerti dengan yang ia isyaratkan. "Oh … dengan bos mu?" Mengerutkan dahi. "Iya!" jawabnya lalu Chyntia kembali mengedipkan mata memberikan isyarat. Akhirnya sang designer mengerti dengan isyarat yang diberikan Chyntia. "Ayo aku pilihkan yang terbaik untukmu, Nona!" Mengajak Chytia ke ruangan VIP di bagian dalam. Chyntia ikut dan menutup pintu. "Ibu hampir saja buat aku dalam bahaya!" "Maaf, Nona Chytia. Saya tidak tahu dan tidak peka dengan isyarat yang Nona berikan. Sudah lama kita tidak bertemu. Nona kemana saja tiga bulan ini. Saya menjadi kehilangan satu pelanggan VIP!" Mengajak Chyntia duduk. "Aku sedang dalam masalah." jawab Chytia. "Itu benar bos Anda?" Designer itu ingin memastikan. "Tidaklah. Aku yang bos! Tolong rahasiakan ini!" pinta Chytia. "Baik, Nona. Saya akan tutup mulut!" "Aku pegang janji Anda!" Designer itu memilihkan beberapa baju yang pas dengan lekuk tubuh Chyntia. Chyntia juga langsung berganti dengan pakaian kerja berwarna merah muda. Rok diatas lutut dan blazer yang membentuk tubuh. Kini terlihat jelas bagaimana lekuk tubuh indah dan betapa mulus kulit kakinya. Chyntia keluar dan menghampiri dua pria yang tengah duduk menunggu dirinya selesai memilih baju. Joehan dan Brian terpana melihat kecantikan yang terpancar saat Chytia berpenampilan berbeda. Lebih menarik dan anggun. "Dia memang cantik, seperti saat mengenakan gaun di acara fashion show, Joe!" Brian bertepuk tangan mengagumi penampilan Chytia. Mata Joehan seakan susah untuk berkedip. "Ayo pergi! Apa-apaan tepuk tangan segala, Bri!" ajak Chyntia. Joehan diam saja. "Hey … ayo bayar Pak bos!" Chyntia menepuk pundak Joehan agar pria itu sadar. "Kamu mengagumi kecantikanku kan?" Menaikkan kedua alisnya. "Uh … anda percaya diri sekali, Nona" ejek Joehan. Ia mengeluarkan sebuah kartu dari dalam dompet dan membayar semua baju yang Chyntia pilih. Joehan dan Brian membawakan tas belanjaan Chyntia. Semantara Chyntia seakan merasakan menjadi bos yang dikawal oleh dua orang bodyguard. "Aku yang seperti seorang asisten bukan kamu, Chytia!" "Sekali-kali kamu yang bawakan belanjaan aku, Joe! Yang menyuruh aku beli semua baju ini kan kamu!" sanggah Chyntia. "Ada saja alasanmu!" Joehan melirik ke arah lain lalu tersenyum. Orang yang di seberang juga memperhatikan dan memberi senyuman pada Joehan. Joehan melambaikan tangan agar mereka berdekatan dan saling sapa. Pria tampan dengan rambut coklat dan mata sewarna dengan rambutnya menjabat tangan Joehan. Chyntia terpana melihat pria tampan itu. "Apa mabar Joe?" tanyanya. "Baik, Def. Kalau kabar kamu bagaimana?" Menepuk pundak teman lamanya. "Baik juga." Menoleh ke arah Brian. "Hai, Bri!" Menjabat tangan Brian. Mereka satu sekolah dulu. Pria bernama Defry itu melirik ke arah Chyntia. "Kau ditemani oleh wanita cantik, siapa ini, Pacarmu, Joe?" Menjabat tangan Chytia. Mata Chyntia tidak bisa berkedip dan tangannya kaku tidak bisa melepaskan jabatan mereka. "Ehem …" Joehan mengagetkan Chytia dengan berdehem.  "Dia asisten baruku. Bukan kekasihku, Def!" jelas Joehan. "Namamu siapa gadis cantik?" Tersenyum pada Chyntia. "Chyntia, Kak!" Ia membalas senyuman pria tampan di hadapannya. "Ayo kita makan bersama!" Ajak Joehan. Mereka duduk di restoran Korea untuk makan bersama. Chyntia terus saja memperhatikan pria bernama Defry. Membuat Joehan sedikit kesal. "Kalau diperhatikan wajahmu sangat cocok untuk menjadi artis, Chytia!" Defry membuka pembicaraan. "Aku memang sangat ingin menjadi artis, Kak!" "Wah kebetulan sekali. Aku memang agensi model dan artis ternama di Paris. Ini kartu namaku, Chyntia. Jika kamu berminat aku akan mempekerjakanmu tanpa ikut audisi. Aku suka bentuk wajah dan kecantikan yang kamu miliki!" Memuji Chytia dan menjelaskan usahanya memang di bidang agensi model dan artis yang sudah terkenal di kota Paris. Chyntia menyangga wajah dengan kedua tangan. Meraih kartu yang diberikan pria yang duduk disebelahnya. Membaca kartu nama itu. "Wah … suatu kehormatan bisa mendapatkan tawaran langsung dari kepala agensi model ternama!" "Ayo …Akan kujadikan kau artis paling populer, Chyn. Are you ready?" "Sayangnya dia terikat kontrak denganku, Def. Dua tahun!" Joehan menatap Defry. "Tidak apa. Tidak akan mengganggu pekerjaan dia sebagai asisten mu, ko, Joe!" jawab Defry dengan santai. "Tidak bisa. Nanti kalau aku perlu di luar jam kerja dia tidak ada, bagaimana?" Melempar tatapan tajam. "Kau mau memperkerjakan dia seperti seorang penjajah, Joe? Waktu kerja ya sesuai jam kerja seperti pada umumnya!" Sanggah Defry dengan santai. Ia melihat mata Joehan yang seakan cemburu kepadanya. "Dia kan punya banyak hutang kepadaku!" "Berapa? Biar aku bayar!" Defry menyilangkan tangan di depan d**a. "Banyak!" jawab Joehan dengan ketus. Brian yang melihat perdebatan dua temannya menahan tawa. Ia sangat ingin sekali menertawakan tingkah kekanak-kanakan kedua pria dewasa itu. "Aku bayar! Nanti dia jadi artisku. Dia pasti akan menghasilkan banyak pundi-pundi uang!" Menaikkan sebelah alisnya. Chyntia yang merasa perdebatan kedua pria itu semakin memanas mencoba untuk masuk. "Ehem … maaf kita disini untuk makan bersama, bukan untuk berdebat!" "Biar saja, Joehan kebiasaan, Chytia. Dia kadang sombong!" ucap Defry. "Defry!" teriak Joehan. "Cukup-cukup …. Aku ingin fokus dulu menjadi asisten Joehan, Kak! Nanti setelah kontrak habis aku bisa bekerja denganmu, toh aku masih sangat muda! Masih banyak waktu!" jelas Chyntia. "Yah … padahal aku ingin segera membuatmu terkenal, Chytia!" "Sudah dia bilang kan ingin fokus menjadi asistenku dulu." Menaikkan sebelah sudut bibirnya. "Gadis pintar!" Bangun dan mengacak puncak kepala Chyntia yang ada di seberangnya hingga rambut Chyntia berantakan. "Ih … rambutku!" Menepis lengan Joehan. "Maaf. Aku terharu!" Setelah menghabiskan makanannya. Dengan penuh kekecewaan Defry pergi meninggalkan mereka bertiga. Joehan melanjutkan acara yaitu untuk memeriksa kemajuan mall yang baru saja ia dirikan. Mengajak Chytia dan Brian berkeliling dan berakhir di ruangan khusus dia yang nyaman. Chyntia memperhatikan setiap sudut mall dan sedikit memeriksa apakah ada yang aneh dan bisa dicatat pada note handphonenya. Benda pipih dari saku celana joehan berbunyi sangat kencang. Joehan mengisyaratkan Brian untuk ikut dengannya. Meninggalkan Chytia sendiri di ruangan Joehan. 'Yes. Aku bisa menggeledah tempat ini!' Ia mulai menyusuri setiap sudut dan tempat layaknya seorang detektif. Mencari barang penting dan aneh yang bisa dijadikan sebuah bukti. Setiap lemari Chyntia buka tanpa membuatnya menjadi berantakan. Semua dikembalikan pada tempat masing-masing dengan rapi setelah dia periksa. Sayangnya ia belum menemukan yang ia cari lagi. 'Kenapa sulit sekali mencari bukti. Aku sudah merasa bosan dan ingin mengakhiri ini. Dia sangat pintar sekali!' Chyntia berjongkok mencari keberadaan tempat tersembunyi di bawah meja. Pintu tiba-tiba terbuka. Chyntia bergegas untuk bangun. Kepalanya membentur meja. "Au …." Mengusap kepala yang terbentur lumayan keras. "Sedang apa kau, Chyn?" tanya Brian yang masuk ke dalam lebih dulu. "Em …." Sejenak ia mencari alasan. Chyntia takut ketahuan. "Handphone aku jatuh ke bawah meja. Aku sedang mengambilnya lalu kalian datang mengagetkanku. Kepalaku jadi terbentur meja!" "Malang sekali nasibmu. Sini lihat!" Joehan mendekat memeriksa kepala Chytia. Ia takut kepala gadis itu terluka. Joehan memeriksa kepala Chytia yang sedikit membengkak. "Benjol sedikit. Makanya hati-hati! Sana pergi ke ruangan perawat. Disini ada petugas kesehatan juga yang berjaga, ditakutkan ada pengunjung yang terluka dan membutuhkan pertolongan medis. Di lantai satu ya, Chyn!" Memerintahkan Chytia untuk mengobati luka di kepalanya. "Baik, Joe!" Tanpa basa basi lagi ia segera pergi. Jantungnya berdegup dengan kencang. Chyntia hampir saja ketahuan. Ia mengobati luka di ruangan perawat. Mall itu memiliki fasilitas sangat lengkap. Chyntia kembali ke ruangan Joehan. Ia ragu untuk mengetuk pintu karena pintu tertutup dengan rapat. Sejenak Chytia mengintip dari balik jendela. Ada dua petugas yang memakai seragam kepolisian sedang berbincang dengan Joehan dan Brian. Chyntia penasaran kenapa ada petugas kepolisian yang datang kesana. Ia menempelkan telinganya di pintu m berusaha untuk bisa mendengar obrolan mereka di dalam. Brukkk … tubuh Chyntia terdorong pintu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD