Benda pipih dari saku celana Joehan berbunyi sangat kencang. Joehan mengisyaratkan Brian untuk ikut dengannya. Meninggalkan Chytia sendiri di ruangan Joehan.
Sebuah telepon masuk dari nomor kepolisian yang bertugas menyelidiki kasus Joehan dan Brian.
Akan ada dua polisi yang akan menghampiri Joehan saat ini. Menanyakan keberadaan dia lewat telepon.
Tidak lama posisi datang ke ruangan Joehan dan berbincang saat Chytia pergi ke ruangan perawat.
Polisi meminta berbincang lebih jelas lagi jika mereka bersedia ke kantor polisi.
Joehan mendorong pintu, membukanya dengan lebar.
Brukkk ….
Tidak sengaja mengenai seseorang di balik pintu.
"Auu …." Chyntia meringis kesakitan. Memegang keningnya.
Joehan mendekap dan mengusap kening Chytia.
"Maaf! Kamu sedang apa dibalik pintu?" tanya Joehan sambil memeriksa kening Chytia.
"Em … a … aku …. Aku hendak masuk. Tiba-tiba pintu terbuka." Alasan yang brilian agar dia tidak ketahuan.
"Baru saja di obati, sudah terluka lagi!" Memperhatikan kening Chytia yang sedikit memerah.
"Ini tidak apa-apa, ko!" Memegang keningnya.
Brian melihat mereka berdua terlihat serasi dan ingin menjodohkannya.
"So sweet sekali! Aku tidak diperlakukan seperti itu Joe?" Brian menggoda Joehan.
"Apa, Bri? Kamu seorang pria. Harus tangguh! Ayo kita ke kantor polisi!" ajak Joehan.
"Aku juga ingin diperlakukan seperti Chytia!" rengek Brian.
Joehan kembali melirik Chyntia. "Kamu tidak apa-apa, kan? Ayo ikut ke kantor polisi!"
Chyntia mengangguk dan mengikuti langkah kaki mereka. Wajahnya memerah karena ejekan Brian dan perlakuan Joehan yang manis. Ia berjalan di belakang dua orang polisi dan dua orang pria yang ia kenal.
Entah ada apa mereka berdua sampai dibawa ke kantor polisi. Chyntia merasa penasaran.
Bangunan dengan warna gelap, orang-orang berseragam berlalu-lalang, tubuh tegap dan terlihat berpenampilan seram. Kantor polisi itu terlihat ramai dengan orang yang melaporkan keluhan atau sekedar memberikan keterangan.
Joehan dan Brian duduk di bangku sebuah ruangan khusus. Dia hanya bisa mengintip dari balik kaca. Menebak apa yang mereka obrolkan.
Polisi memberikan sebuah peluru yang disimpan di dalam plastik. Lalu memperlihatkan sebuah buku.
"Tuan, Joehan. Ini peluru yang bisa memberatkan posisi anda dan Brian. Sedangkan bukti yang satu ini adalah bukti yang bisa meringankan posisi kalian."
"Apa itu?" tanya Joehan.
"Ini peluru, seperti yang anda tahu. Sangat mirip dengan peluru kepunyaan Brian bodyguard anda. Ini buku berisi foto dan daftar karyawan yang sedang bertugas di acara itu. Ternyata ada pegawai tambahan juga yang bertugas. Buku ini sulit kami dapatkan karena petugas yang memilikinya sedang cuti melahirkan dan pergi jauh. Kami harus mencarinya terlebih dahulu."
"Lantas kenapa bisa meringankan status saya dan Brian?" tanya Joehan.
"Ada orang yang menjadi pelayan tambahan pada acara itu. Kita bisa menelusuri dan menemukannya. Sayangnya data yang ia pakai adalah data palsu." Polisi itu duduk memperhatikan dua bukti.
"Peluru bisa memberatkan anda dan Brian karena mirip kepunyaan Brian. Pistol itu sangat jarang ada di negara kita. Hanya orang-orang tertentu yang mempunyainya, contohnya seperti Brian. Buku itu bisa kita gunakan untuk mencari keberadaan pria misterius yang bisa saja berstatus tersangka!"
"Kalau kita bisa mencari dia, namaku bisa bersih!"
"Iya anda akan terbebas dari semua ini sebentar lagi!"
"Syukur kalau begitu. Aku dan Brian bisa bersenang-senang lagi jika tidak terbukti bersalah."
"Bukti CCTV yang mati itu masih kami selidiki. Masih menjadi hal yang misterius karena CCTV itu mati mendadak. Seperti ada orang yang sengaja mematikannya. Sepertinya ini sudah direncanakan dengan sangat rapi.
"Tolong di percepat penyelidikannya, Pak! Saya lelah dengan semua ini!"
"Akan kami usahakan, Tuan!"
Mereka keluar dan menghampiri Chytia.
'Ah … sialnya aku hari ini. Sudah terbentur meja, pintu, sekarang tidak bisa mendengar obrolan mereka berempat.'
Terlihat raut wajah kekecewaan pada Joehan dan Brian. Saat keluar dari ruangan penyidik.
"Ada apa sebenarnya Joe? Boleh aku tahu?" Chyntia berusaha masuk kedalam masalah Joehan dan mencari tahu.
Joehan akhirnya mau bercerita sedikit. "Kita punya kasus yang belum terselesaikan dan masih sebuah misteri. Sangat rumit, berbulan-bulan belum terpecahkan."
"Kenapa bisa?" tanya Chyntia.
"Akan aku jelaskan semuanya nanti kepadamu. Sekarang aku stress dan ingin pulang." Joehan berjalan mendahului Brian dan Chytia.
Joehan duduk di bangku pengemudi dan sudah siap menginjak pedal gas. "Biar aku yang mengemudi, Bri! Aku ingin ke suatu tempat."
Brian membiarkan sahabatnya mengemudi. Dia sudah menebak pasti akan berakhir di tempat klub malam. Joehan akan mencari hiburan disitu.
Hingar bingar lampu disko, aroma-aroma alkohol dan asap rokok bisa membuat Joehan melupakan semua masalah yang dihadapi.
Seperti biasa Joehan selalu dikelilingi oleh para wanita jika sudah duduk di depan bartender. Ketampanan dan kegagahannya membuat wanita di klub merebutkan Joehan.
Minuman kesukaan Joehan sudah dengan cepat tersaji di atas meja. Member VIP ini sudah mengenal bartender dan sang bartender sudah sangat paham apa minuman yang sangat disukai oleh Joehan.
Joehan mengambil sebuah pemantik gas yang mengeluarkan api. Menempelkan sesuatu pada mulut dan ia dekatkan dengan api. Seketika asap keluar dari mulut dan hidungnya.
Chyntia menutup hidung saat masuk ke dalam klub. Dia kebalikan dari Joehan. Tidak suka sama sekali dengan asap rokok, aroma alkohol dan lampu disko.
Sejak kecil Chyntia bersih dari semua hal itu. Ayahnya selalu mengawasi dan membatasi Chyntia. Tidak heran Chytia kabur dan ingin hidup bebas karena ingin merasakan dunia luar.
"Kita pergi saja, Bri. Biarkan dia sendiri!" ajak Chytia pada Brian yang akan duduk bersama Joehan.
"Yah … padahal aku juga ingin disini, Chyn!" Menoleh pada Chytia.
"Ya sudah aku pulang sendiri!" Chyntia melangkahkan kaki meninggalkan dua pria itu di klub malam.
"Tidak … tunggu, biar aku antar!" Brian menyusul Chytia. Ia tidak tega seorang gadis pulang sendirian.
"Nanti kalau kamu kenapa-napa bagaimana?" Brian berjalan di sebelah Chytia.
"Thanks atas perhatianmu, Bri!" Chyntia tersenyum ke arah Brian.
Brian mengantarkan Chytia. "Kau tidak suka klub malam, Chyn?"
"Memang apa bagusnya tempat seperti itu?" jawab Chytia dengan ketus.
"Untuk menghibur kita!"
"Banyak tempat lain yang bisa dijadikan tempat untuk hiburan, Bri. Tidak hanya hingar bingar lampu disko, alkohol dan rokok saja. Kalian memang makhluk pecinta kehidupan seperti itu. Ikut aku suatu saat nanti untuk mendapatkan hiburan yang lebih nyaman dibandingkan dengan pergi ke klub malam!"
"Kenapa kau sangat tidak menyukai yang kami sukai, Chyn?" Brian penasaran bertapa Chyntia tidak menyukai klub, alkohol dan rokok.
"Itu bisa merusak kesehatan kita, Bri. Biarpun kau ahli beladiri, tubuhmu kokoh dan proporsional. Zat-zat berbahaya yang terkandung dalam alkohol dan rokok bisa membuat tubuh menjadi rusak. Mulailah hidup sehat, Bri!"
"Waw … kau pantas menjadi penasehat kesehatan, Chyn. Memang cita-citamu sebenarnya itu apa?"
"Artis, model, dokter, dan masih banyak lagi!"
"Kenapa tidak ada yang terwujud?" tanya Brian.
"Ayahku tidak mengizinkannya. Emmm … kendala biaya juga." Chyntia mengigit ujung jarinya. Mana mungkin dia harus bilang bahwa ayahnya ingin Chytia menjadi pengusaha dan meneruskan jejaknya untuk mengurus perusahaan.
"Bekerjalah dengan giat. Aku yakin Joehan akan membantumu untuk berkuliah!"
"Iya, Bri!"
Pandangan Chyntia tertuju pada orang-orang yang sedang ramai di depan gerbang pintu masuk rumah joehan.
Di depan rumah sudah ramai wanita-wanita yang sedang menunggu kedatangan sang pemilik rumah.
"Ada apa itu ramai Bri? Ayo kita keluar!"
Brian dan Chytia turun untuk menanyakan ada keperluan apa wanita-wanita itu datang ke kediaman Joehan.
"Ada apa Nona-nona datang kemari?" Ia melirik wanita yang ada di depannya satu persatu. Terlihat anak pejabat yang nakal dan suka minum di klub telah diputuskan cintanya beberapa waktu yang lalu. Ada juga CEO dari perusahaan lain juga mantan kekasih Joehan dan masih banyak lagi.
Joehan memang digilai banyak wanita. Semua mendambakan ingin menjadi pendamping pria tersebut.
Bosnya sempat bergonta-ganti pacar dan memacari lebih dari satu wanita.
"Apa maksud Joehan berselingkuh dariku dan memacari wanita itu." Menunjuk wanita di sebelahnya. "Lalu dia memutuskan kami."
"Aku tidak ingin berpisah dengannya. Kami sudah tidur bersama beberapa kali!" ujar wanita lain.
'Wah … joehan cari masalah saja, sudah kubilang jangan memacari wanita-wanita ini hanya untuk bersenang-senang.' Brian menghembuskan nafas kasar.
"Joehan tidak ada di dalam rumah. Percuma kalian berdemo disini!" ujar Chytia.
"Jika kalian mengaku sebagai kekasihnya. Pasti kalian sangat tahu kepribadian Joehan. Dimana dia sekarang dan sedang apa dia jam segini!"
Brian menatap Chytia. Gadis itu terlihat cerdas dan menawan.
Menyilangkan tangan di depan d**a. "Tidak tahu, kan? Berarti kalian hanya saling memuaskan. Tidak untuk hubungan yang lebih serius!"
"Mana ku tahu. Aku juga sibuk sebagai seorang CEO!" jawab wanita di depan Chytia.
"Berarti tujuanmu menjadi kekasih Joehan itu untuk keperluan bisnis juga, kan. Kalian bisa saling menguntungkan. Lantas kau tidak mau berpisah dengannya." Chyntia memalingkan wajah.
Wanita yang mengaku sebagai CEO itu bungkam. Perkataan Chytia memang ada benarnya.
"Kau kenapa?" Menunjuk wanita lain yang ada di hadapannya.
"Aku anak seorang pejabat. Joehan harus bertanggung jawab karena menduakan aku dengan wanita CEO ini."
"Oh … anak pejabat? Pasti ayahmu butuh Joehan. Kalian saling menguntungkan. Joehan butuh ayahmu perihal perizinan, ayahmu dan kau butuh Joehan karena pasti mendapatkan keuntungan dari uang Joehan!"
Wanita itu juga ikut terdiam.
"Kalian pasti datang punya tujuan dan alasan masing-masing. Jadi tidak mau jika diputuskan oleh Joehan!"
Memegang pundak Brian. "Jadi bisakah kalian pergi? Atau aku suruh bodyguard yang tangguh ini mengusir kalian?" Chyntia bergaya sombong.
"Kau siapa?" tanya para wanita itu pada Chytia
"Asisten pribadi Tuan Joehan!" jawabnya dengan sombong.
"Hanya asisten. Derajatmu tidak setinggi kami!"
"Hey …Aku akan hubungi polisi jika kalian masih mengganggu di lingkungan ini!" ancam Chyntia.
Wanita-wanita cantik itu naik kedalam mobil mereka masing-masing dan pergi dari kediaman rumah Joehan.
Brian bertepuk tangan. "Waw …Keren sekali gadis yang satu ini. Aku kagum padamu, Chytia. Kau cantik, pintar dan cerdas." Mengacungkan jempolnya.
"Sepertinya jika kamu sendiri tidak akan bisa mengatasi wanita-wanita itu, Bri!" Menaikkan sebelah alisnya.
"Iya, Chytia. Berkat bantuanmu mereka pergi juga. Ayo kita masuk, akan kubuatkan makan malam untuk kita berdua. Aku sangat lapar!"