BAB 16

1484 Words
Malam terasa sunyi, hanya ada suara-suara dari binatang yang ada di kegelapan yang terdengar. Chyntia dan Brian sudah menghabiskan makanan mereka. Joehan belum juga pulang. "Bri!" panggil Chytia pada Brian yang sedang menguap. "Apa, Chyn?" Brian menoleh. "Ini sudah larut malam. Joehan belum pulang. Aku yang jemput saja ya jika kau mengantuk!" "Memang kamu bisa mengemudikan mobil?" Brian ragu tapi ia mengantuk dan malas untuk menjemput Joehan. "Bisa, Bri. Aku pernah menjadi supir!" Chyntia mengambil kunci mobil di atas meja. "Aku pergi dulu ya!" Chyntia kembali ke klub malam untuk menjemput Joehan. Pria dengan tubuh proporsional tengah duduk di sofa dan dikerumuni banyak gadis. Gadis-gadis menyalakan rokok yang pria itu hisap dan memegang semua minuman kesukaan pria tersebut. Mengusap dengan lembut d**a bidang yang kini kancingnya sudah sedikit terbuka. d**a bidang itu terlihat mulus dan berkulit putih. Puncak d**a yang tegang berwarna coklat terlihat jelas dari samping. Seorang wanita yang duduk di sampingnya menelusupkan tangan dan mengusap d**a bidang Joehan. Menyandarkan kepala di pundak kokoh milik Joehan. Mengecup perlahan leher yang beraroma maskulin. Gadis lain mengusap pelan paha Joehan dan melonggarkan sabuk yang melingkari bagian pinggang. Joehan yang sedang menghisap rokoknya terkejut saat seorang wanita meremas juniornya yang mulai menegang dari balik celana. Sementara gadis lain melinting puncak d**a bidang Joehan dengan kedua jarinya. Joehan menarik gadis yang tadi meremas junior miliknya, menghisap bibir gadis itu dengan kuat dan menekan kepalanya dari belakang agar ciuman mereka semakin melekat. Membasahi semua permukaan bibir yang dihiasi lipstik berwarna merah dengan saliva yang terasa hangat. Perlahan gadis itu membuka resleting celana Joehan dan menyusupkan tangan untuk meremas junior Joehan tanpa sebuah penghalang. Joehan membalas aksi wanita itu dengan meremas kedua gunung kembar yang setengah terbuka karena memakai pakaian tanpa lengan dan sangat minim. Gadis lain terus menghisap leher Joehan dan membuat tanda kepemilikan. Kini dua wanita tengah bermain memuaskan Joehan di sofa sementara gadis lain antri menunggu giliran. Seorang gadis datang dengan pakaian tidur santai yang tidak layak untuk masuk ke dalam klub malam. Melirik ke segala arah mencari keberadaan seorang pria yang tengah ia cari. Pandangannya kini tertuju pada seorang pria yang memangku seorang wanita dengan pakaian minim dan melebarkan kaki. Saling memainkan bibir dan gadis lain juga tengah memeluk dan menghisap lehernya dengan tangan yang melingkari d**a pria tersebut. 'Astaga … Joehan.' Gadis itu mendekat dan menyingkirkan dua gadis yang tengah memuaskan pria yang ada di hadapan mereka. "Pulang, Joe. Ini sudah larut malam!" Menarik lengan joehan dengan paksa. "Siapa kamu? Enak saja mengatur hidupku!" Dua gadis itu menyilangkan tangan di depan d**a. Sedikit emosi dengan tingkah sang gadis yang mengganggu kesenangan mereka berdua. "Pulang, Joe!" ajak gadis itu lagi. "Tidak mau. Aku ingin menginap di hotel dengan mereka." Berbicara setengah sadar karena ia sangat mabuk. "Kau harus istirahat, Joe. Ini sudah larut malam. Ayo!" Menarik paksa lengan Joehan lagi. "Tidak mau!" Menghempaskan tangan gadis itu. "Sana pulang sendiri saja, Chyn!" "Aku tidak mau pulang jika tidak bersama denganmu. Ayo!" Menarik paksa hingga tubuh Joehan bangun dari posisi duduknya. "Istirahat di rumah, Joe!" Chyntia membopong tubuh Joehan. Joehan sempoyongan dan melepaskan tangan Chytia yang melingkari perutnya. "Lepaskan! Sana pergi gadis murahan. Aku memungutmu karena kasihan!" "Apa yang kamu katakan? Ayo kita pulang. Kau hampir jatuh, Joe!. "Jangan dekati aku gadis menyebalkan. Kau menggangguku saja!" Joehan kembali menepis tangan Chytia yang akan memegangi tubuhnya. "Aku hanya kasihan dan mau menolongmu. Malam itu aku tidak berniat sama sekali menolong gadis sombong sepertimu. Melihat kau yang duduk di lift tanpa alas kaki membuatku iba dan akhirnya mau menolongmu! Pergi sana w************n. Kau pantas untuk di jual!" "Sadar, Joe. Kau sangat mabuk!" Chyntia kembali mendekat ke arah Joehan. "Sana pergi atau aku akan menjualmu disini!" Joehan melambaikan tangan dan memanggil bodyguard di tempat itu. "Usir gadis desa dan murahan ini. Aku tidak mau disentuh olehnya!" Dua bodyguard menurut dan bersiap mengusir Chytia pergi. "Lihat saja pakaian yang ia pakai. Tidak cocok untuk pergi ke tempat ini!" "Joe. Ayo ikut pulang bersamaku!" ajak Chytia. "Hey kalian semua lihat …." Joehan berteriak. "Gadis ini gadis yang dijual seperti barang lelangan. Aku mendapatkannya dengan harga bagus dan akan menjual pada kalian disini!" "Apa-apaan kamu, Joe." Chyntia membulatkan matanya. "Ayo sini siapa yang minat. Dia masih perawan!" Plakkk …. Chyntia menampar pipi Joehan dengan keras. Joehan menggenggam tangan Chyntia dan menatap Chytia dengan mata yang tidak fokus. "Wanita jalang dan yatim piatu!" Plakkk … Chyntia menampar Joehan untuk kedua kalinya hingga tubuh Joehan yang sempoyongan tersungkur ke lantai. Ia meneteskan air mata. Dan berlari keluar meninggalkan Joehan. Joehan mengedipkan mata berkali-kali dan berusaha sadar. Ia sedikit berlari mengejar Chytia. Bulir-bulir air mata menetes dari mata indah Chytia, membasahi pipi hingga bagian dagu. Perkataan Joehan menusuk ke dalam jantung. Menggores dan mengikis, memberikan setitik luka. Perlahan ia usap bulir-bulir air mata yang tidak bisa di kontrol untuk berhenti. Tangan kekar melingkar ke bagian leher mengagetkan Chyntia yang tengah berjalan sambil melamun. "Maafkan aku, Chyn!" bisik Joehan di dekat telinga Chytia. Chyntia mencoba melepaskan lengan Joehan dengan paksa. Tetapi kekuatan kalah oleh Joehan. "Maaf aku sangat mabuk jadi tidak bisa mengontrol emosi!" "Perkataanmu pedas sekali, Joe!" "Maaf, Chyn!" Menyandarkan dagu di pundak Chytia. "Ayo, pulang!" bisik Joehan. "Aku tidak mau pulang denganmu! Aku benci kamu!" ujar Chytia yang sakit hati karena Perkataan Joehan. "Maafkan aku, Chyn. Kau boleh menghukumku!" "Benci … benci … benci … benci …." Berbalik dan memukul-mukul d**a bidang Joehan. "Silahkan pukul sepuasnya. Maafkan mulutku yang tidak bisa di kontrol saat mabuk ini!" Emosi Joehan sangat meluap sepulang dari kantor polisi. Ia sangat kesal dan butuh pelampiasan. Tidak sengaja Perkataannya yang sedang mabuk membuat Chytia merasa sakit hati. "Aku maafkan kali ini!" ujar Chytia. Ia tidak mau bermusuhan dengan pria yang serumah dengannya begitu lama. "Terima kasih, Chytia. Ayo kita pulang!" Mereka berdua masuk kedalam mobil dan Chytia yang mengendarainya. "Memang kau bisa mengemudi?" "Bisa. Lihat saja dan duduk manis!" Chyntia menginjak pedal gas. Memutar kemudi, mengarahkan ke kediaman Joehan. "Kenapa kau jadi seorang playboy?" tanya Chytia. "Tadi banyak gadis yang menunggu kamu di luar pintu rumah dan berdemo tidak mau diputuskan!" Chyntia menjelaskan bagaimana mereka datang dan untungnya tidak berbuat onar. "Masa iya?" Joehan tidak percaya. "Aku terlalu tampan dan memikat para gadis. Lalu aku menjadi seorang playboy!" "Aku tidak percaya dengan alasan itu, tidak logis!" "Katakan atau aku akan menurunkanmu di tengah jalan! Meninggalkanmu di halte bis. Atau melemparkanmu di sarang buaya. Sangat tepat untuk buaya sepertimu. Satu spesies kan!" "Sialan … kau bisa saja mengancam!" Jehan hendak menutupkan mata. "Katakan, Joe!" Chyntia sedikit menyentak Joehan. "Aku patah hati!" ujar Joehan. "Apa urusannya patah hati dengan menjadi seorang playboy?" tanya Chytia. "Jelas ada. Dia merubahku dari pria baik-baik menjadi pria yang bergonta-ganti pasangan!" "Kenapa seperti itu, Joehan?" Chyntia semakin penasaran. "Dia, si gadis cinta pertamaku. Gadis yang cantik dan manis yang menyukai coklat dan buket bunga. Pesonanya sangat cantik dan memikat banyak pria. Dia menduakanku lalu memutuskan cintaku sepihak setelah berpacaran selama dua tahun." "Dia kemana?"  "Sebentar aku belum ceritakan semuanya!" Joehan merendahkan sandaran tempat duduknya lalu lanjut bercerita. "Aku selalu sabar biarpun dia menduakan cintaku! Hingga akhirnya dia memutuskan hubungan kami dan memilih pria lain. Aku frustasi dan hendak bunuh diri saking cintanya pada dia." "Kau … b***k cinta, Joe!" "Harus bagaimana lagi. Dia menghipnotisku dengan wajah yang cantik dan lekuk tubuh yang indah. Aku selalu menurut jika ia menginginkan sesuatu!" "Kenapa tidak bertahan?" "Dia tidak mau terus berhubungan denganku. Tidak peduli meski aku mengancam bunuh diri. Maka dari itu,  semenjak sakit hat ulah wanita. Aku selalu bergonta ganti pasangan, berusaha semakin tampan dan sukses agar dia menyesal telah memutuskan ikatan cinta kita." Joehan menunduk. "Sabar, Joe! Tidak seharusnya kau menjadi seperti ini gara-gara patah hati. Harusnya menjadi pribadi yang lebih baik. Masih banyak cara untuk mengalihkan rasa patah hati!" Chyntia menepikan mobil, memeluk tubuh Joehan dengan erat. Joehan diam tidak mengeluarkan kata-kata. Perlahan ada bulir-bulir air mata jatuh dari mata Joehan. "Kau menangis?" Chyntia menghapus jejak air mata di pipi Joehan. "Ternyata kau cengeng juga!" Ejek Chytia. "Pria juga bisa menangis!" Joehan membela diri. "Sudah. Nyalakan dan kembali menyetir, Chytia!" Chyntia kembali mengemudi. "Apa sampai saat ini kamu tidak bisa move on darinya, Joe?" tanya Chytia sambil memperhatikan jalan. "Benar, Chyn! Jika sudah move on mungkin aku tidak akan seperti ini." "Mari mulai besok jangan lagi ke klub malam. Aku akan memberikan solusi terbaik!" "Oke. Akan aku coba!" Chyntia sepanjang perjalanan memancing Joehan untuk menceritakan apa kasus yang tengah ia hadapi, mengapa begitu santai, mengapa memakan waktu sangat lama dan kenapa sampai Joehan dan Brian tadi dibawa ke kantor polisi!" Joehan tidak mau banyak bercerita. Ia juga sudah sangat mabuk dan ingin beristirahat. Chyntia tidak henti mengintrogasi Joehan sampai pria itu buka mulut. Untungnya, mulut Joehan sangat rapat dan tidak mudah untuk menceritakan masalah pribadi kepada orang lain. Chyntia kembali merasa kesal karena misinya belum juga selesai. Chyntia meninggalkan Joehan sendiri di dalam mobil. Ia bergegas masuk dan pergi ke kamarnya. Joehan merasa gadis itu marah karena ia tidak bisa menceritakan apa musibah yang Joehan alami saat ini. Brian terlihat tidur di atas sofa menunggu kedatangan Chyntia dan Joehan. Hanya keheningan yang ada di ruangan kamar atas.  Joehan membiarkan Chytia marah daripada harus menceritakan kasusnya pada Chytia. Ia merebahkan tubuh di kasur dan terlelap tidur tanpa membersihkan badan terlebih dahulu. Selimut tebal di buka secara paksa. Kain handuk di lempar sembarangan ke bagian wajah. Sepasang tangan menarik kaki seorang pria untuk menepi ke pinggir kasur agar bangun dan membuka mata. Suara teriakan seorang gadis di pagi hari mengudara, membuat seisi ruangan terisi dengan suaranya yang lantang. Pria itu mengusap telinganya yang terasa sakit oleh teriakan-teriakan itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD