Suara seseorang yang sedang mengigau terdengar dari balik pintu. Joehan yang hendak membuka pintu menempelkan telinganya terlebih dahulu. Mendengarkan seorang gadis yang berbicara sambil tertidur.
Joehan membuka pintu perlahan. Menghampiri seorang gadis cantik yang sedang tertidur dengan suara-suara kecil yang keluar dari mulutnya.
Duduk di lantai dan menyandarkan dagunya di atas kasur. Memperhatikan Chyntia yang tengah memeluk guling sambil mengigau. Joehan menempelkan jari telunjuknya di kening Chyntia mengusap sampai ke ujung hidung.
Gadis di hadapannya terlihat cantik meskipun sedang tertidur. "Sadarkan dirimu Joe, dia gadis yang tidak tentu asal usulnya, jangan sampai tergoda." Joehan menggeleng-gelengkan kepala.
Chyntia tidak terbangun meski Joehan beberapa kali menyentuh wajahnya. Semakin lama raut wajah Chytia semakin berubah. Yang terlihat kecemasan, seolah sedang bermimpi buruk.
Joehan menepuk pelan pundak Chytia, berusaha membangunkan gadis yang semakin lama hanyut dalam mimpinya.
"Chyntia … Chyn …. Bangun, Chyntia!" Joehan terus menepuk pundak Chyntia.
Tepukkan di bagian pundak menyadarkan Chyntia. Ia terperanjat bangun dan memperhatikan ke segala arah.
"Aku dimana?" tanyanya.
"Apa kau lupa? Semalam kau menginap di rumahku." Joehan mengerutkan dahi.
Berusaha mengatur nafas. Syukurlah … aku kira di—" Perkataannya terputus.
"Kamu mimpi buruk?" tanya Joehan yang kini duduk di pinggir kasur.
"Sepertinya iya!" Mengusap pelan dadanya.
"Makanya sebelum tidur berdoa terlebih dulu!" Joehan menyilangkan tangan di depan d**a.
"Sudah sadar kan sekarang?"
"Kenapa?" tanya Chytia dengan nada ketus.
"Ini …." Menyerahkan sebuah kertas dan pulpen.
Chyntia mengerutkan dahi setelah membaca apa yang tertera di kertas putih dan ada sebuah tempat untuk dia menandatangani surat tersebut.
Poin-poin yang tertera di kertas membuat ia kesal pada Joehan.
"Ini kontrak? Hey … kenapa isinya seperti aku yang dirugikan dan dijadikan b***k?" Chyntia melempar kertas dan pulpen itu ke arah Joehan.
"Iya ini kontrak. Kontrak untuk kita berdua. Kamu kan banyak hutang kepadaku!" Menaikkan sebelah sudut hidungnya.
"Hutang?" Chyntia kebingungan dengan kata dia berhutang kepada Joehan.
"Kapan aku punya hutang. Baru kenal saja kemarin malam." Chyntia berusaha untuk bangun dari posisi tidurnya.
Joehan menahan Chyntia dengan kedua tangan yang bersandar di bantal dan wajah yang tepat di depan wajah Chyntia. "Pura-pura lupa ingatan, yah! Atau kamu belum sepenuhnya sadar dari alam mimpi?" Joehan menatap binar mata indah Chyntia.
Chyntia seakan sulit untuk bernafas. Hanya satu sentimeter saja jarak ia dengan wajah Joehan. Ia segera menutup wajahnya dengan selimut, mengambil nafas dalam-dalam setelah beberapa detik menahannya dan hampir kehabisan nafas tadi.
Pertama kalinya ia bertatapan dengan lawan jenis sangat amat dekat hanya dengan Joehan.
Melihat reaksi gadis polos dihadapannya Joehan ingin menjahili Chyntia. "Hey … kenapa di tutup dengan selimut. Ini selimut milikku, Chyn. Jangan bersembunyi dan segera tandatangani surat kontrak yang telah aku buat!" Ia menggelitik pinggang Chyntia hingga gadis itu merasa geli.
"Aaaaaa … geli Joe. Stop …!" teriak Chyntia di dalam selimut.
"Buka selimutnya baru aku hentikan!" perintah Joe.
"Tidak mau!"
"Baik kalau itu maumu aku akan menyiksamu tanpa henti!" Joehan menggelitik Chyntia tanpa ampun.
Chyntia tidak kuat dan membuka selimutnya. Balik menggelitik tubuh Joehan.
"Awas aku balas Joe!"
Joehan menahan kedua tangan Chyntia di atas kepala. Menindih tubuh Chyntia, menguncinya agar tidak bisa bergerak.
Jantung Chyntia berdegup dengan kencang. Deru nafasnya kembali menghilang. Joehan menempelkan bagian tubuh yang terasa kenyal, hangat dan berwarna merah jambu itu ke bibirnya. Terasa manis dan begitu memabukkan. Joehan melumat bibir Chytia perlahan dan membasahi setiap bagian dengan saliva. Berusaha menerobos masuk tapi sang pemilik tidak menginginkannya. Merasa gadis itu seperti belum pernah merasakan berciuman, Joehan berhenti dan menjauh.
"Aku tunggu di bawah. Cepat mandi dan jangan lama!" Joehan merapikan baju dan turun ke lantai satu.
Chyntia menutup tubuhnya kembali dengan selimut. Meraba bibirnya yang masih terasa basah. "Apa? Ini jejak pria menyebalkan itu ada di bagian tubuhku." Mengeringkan bibirnya dengan kain sarung bantal.
"Sial … sadar Chytia. Seharusnya tadi kau menolaknya. Kenapa diam saja. Bodoh … bodoh …!" Chyntia memarahi dirinya sendiri sambil memukul-mukul bantal.
"Chyntia wake up. Ayo ini sudah siang. Sadarkan dirimu! Joehan sudah menunggu di bawah." Chyntia beranjak dari tempat tidur dan meraih handuk untuk mandi.
Setelah selesai mandi, menatap dirinya di depan kaca, memegang bibir merah merona yang hangat. Baru pertama kali dicium oleh seorang pria. "Dia merebut ciuman pertamaku. Joehan kau menyebalkan!" teriak Cyntia dari dalam toilet.
Joehan yang menunggu Chyntia di lantai satu kedatangan tamu di pagi hari. Suara bell membuat dia segera membuka pintu karena asisten rumah tangga sedang keluar untuk berbelanja.
Asistennya di kantor membawakan pakaian wanita yang sangat banyak sekali. Tidak lupa sepatu dan tas sesuai permintaan Joehan. Semuanya diambil dari butik ternama langganannya.
"Ini sesuai perintah anda, Tuan. Bagaimana?"
Joehan memperhatikan semua pakaian yang asistennya bawakan. "Bagus! Terima kasih!"
"Kalau begitu saya permisi, Tuan!" Menundukkan tubuh dan pergi dari rumah Joehan.
Joehan membawa semua itu ke kamar Chyntia. Merapikan dan di tata rapi pada sebuah gantungan pakaian yang panjang.
Ia juga merapikan semua sepatu dan tas, menatanya di atas sofa. Joehan dikagetkan dengan suara teriakan dari dalam toilet.
Suara Chyntia begitu keras dan jelas. "Dia merebut ciuman pertamaku. Joehan kau menyebalkan!" teriak Cyntia dari dalam toilet.
Joehan tersenyum mendengar teriakan mainan barunya. Chyntia sangat menarik dan menghibur. Ingin rasanya ia menjahili Chytia setiap hari.
Pintu toilet terbuka. Chyntia kaget melihat Joehan yang ada di dalam kamarnya. Ia memegang handuk dengan kuat agar tidak merosot. Menutup d**a dengan sebelah tangan.
"Kamu sedang apa disini?" tanyanya.
"Aku disini membawakanmu pakaian!"
"Terima kasih. Silahkan pergi!"
"Hah … kau mengusirku. Ini rumahku Chyn, bebas aku mau dimana dan kemana saja!" Joehan malah duduk di atas kasur.
"Aku akan mengenakan pakaian, Joe. Keluarlah dulu!" protes Chyntia.
"Ini aku belikan juga kamu pakaian dalam, Chyn. Mmmm … aku tebak saja ukuranmu. Semoga pas, yah!" Membuka kotak berisi pakaian dalam wanita.
"Hah … dasar m***m! Kenapa kau bisa tahu dan menebak ukuran pakaian dalam wanita?"
Joehan berdiri dan mendekat ke arah Chyntia yang sedang berdiri mematung.
Menyentuh pundak Chytia yang tidak tertutup handuk. "Sudah banyak gadis yang tidur denganku. Jadi, mana mungkin aku tidak memperhatikan ukuran yang mereka kenakan!" bisik Joehan.
Jantung Chytia lagi-lagi berdegup dengan kencang. Kali ini wajah Joehan bersandar di bahunya.
"Jo … Joehan. Iya aku percaya. Terima kasih atas pakaiannya. Sekarang bisakah kau pergi!" Bulu kuduk Chyntia berdiri semua. Ia hanya mengenakan handuk saja saat ini. Akankah Joehan berbuat yang tidak-tidak kepada Chyntia.
Joehan menghirup aroma sabun di ceruk leher Chyntia. Ia suka gadis itu menegang dan terlihat kaku. Sungguh hiburan yang sangat menarik. Chyntia terlihat sangat menggemaskan.
Joehan mendaratkan bibirnya di leher Chyntia. "Aku pergi!" bisik Joehan.
Pria itu kemudian kembali ke lantai bawah.
Chyntia kaget dengan perlakuan Joehan. Kakinya terasa lemas. Ia segera duduk di atas kasur. Mengatur nafas yang tadi hendak berhenti.
"Awas saja. Pria m***m itu harus diberi pelajaran!"
Chyntia segera memilih pakaian dan mengenakannya. "Pintar sekali tebakan Joehan. Kenapa pakaian dalam ini pas sekali dan sesuai ukuranku. Dasar pria m***m!"
Memilih pakaian tertutup dan terkesan tomboy. Ia takut Joehan macam-macam lagi.
Chyntia hanya memulas sedikit bedak di wajah dan mengoleskan sedikit lipstik di bibir, kemarin ia bawa sedikit makeup di dalam tas.
Joehan telah menunggu di meja makan. Masih kosong dan tidak ada yang memasak. Tangan Joe melambai dan menepuk kursi di sebelahnya.
Chyntia malah memilih kursi lain yang ada di seberang tempat Joehan duduk.
Di atas meja sudah ada kertas tipis dengan tinta hitam tulisan di atasnya. Ada sebuah pulpen juga yang sudah Joehan sediakan.
"Baik Chyntia. Kau harus membaca lagi isi kontrak ini!"
Chyntia meraih kertas itu dan membacanya.
Sebuah kontrak untuk mengikat dirinya selama dua tahun. "Yang benar saja ini Joe. Dua tahun itu lama sekali!"
"Baca dulu, Chyn!"
Chyntia melanjutkan membacanya. Gaji yang lumayan besar untuk penghasilan perbulan selama ia menjadi asisten Joehan. Jadwal kerja dua belas jam, setiap hari, harus menuruti keinginan Joehan, semua ini harus ia setujui karena untuk mengganti biaya yang Joehan keluarkan untuk menyelamatkan dia dari orang yang membelinya.
Chyntia terlihat sudah membaca semuanya.
"Aku baik sekali kan? Kamu punya hutang tetapi aku tetap memberikanmu gaji!"
"Tapi Joe, yang benar saja aku seperti seorang b***k!"
"Mau aku laporkan polisi agar kamu di penjara? Atau aku panggilkan bos agensimu agar menjualmu lagi?" ancam Joehan.
Chyntia memajukan bibirnya. Terlihat sangat menggemaskan.
"Baik, tapi tolong tuliskan lagi disini. Bos dilarang berbuat yang diluar batas pada asisten!"
"Silahkan tulis sendiri lalu tandatangani!" Joehan memperhatikan Chyntia yang sedang menulis.
"Kalau kamu sudah tanda tangan. Nanti giliranku!"
"Bawel. Sabar, Joe!" Tulisan tangan Chyntia sangat rapi dan indah.
Joehan meraih kertas yang sudah ditandatangani oleh Chyntia.
"Tulisan tangan dan tanda tanganmu bagus juga, Chyn!" puji Joehan pada gadis yang saat ini terlihat cemberut.
Joehan menandatangani dan menyimpannya ke dalam map berwarna bening.
"Akan aku simpan. Ingat tugas-tugasmu. Harus menempel denganku! Asisten Chyntia!" Joehan tersenyum.
"Tugas pertama. Buatkan aku sarapan yang enak!"
"Iya, Tuan Joehan!"
"Tetap panggil saja Joehan, Chyn! Silahkan, mulai saat ini. Ini dapurmu! Bibi akan memasak jika kita tidak ada waktu untuk memasak atau makan di luar!"
"Iya, Joe." Membuka kulkas dan mencari bahan-bahan untuk memasak.
Untungnya Chyntia pintar memasak. Kali ini ia akan memasak menu sarapan simple.
Ada keju mozarella, roti, tepung roti, telur, daun selada bokor, mayonaise, saus tomat, beef, tomat dan mentimun. Masak ala-ala Chyntia akan dimulai. Yang penting ada bahan apa saja bisa ia sulap.
Chyntia mencuci semua sayuran. Memotong sesuai ukuran yang diinginkan. Mengambil satu roti, disimpan beef di atasnya, lalu potongan tomat dan mentimun, tak lupa keju mozarella. Memberikan sentuhan saus dan mayonaise, menutup kembali dengan roti.
Memecahkan telur dan mengocoknya. Mencelupkan bahan tadi lalu menutup dengan tepung roti. Menyiapkan penggorengan agar siap untuk menggoreng masakannya.
Sambil menunggu masakannya matang, Chyntia menata daun selada bokor di atas piring layaknya seorang chef. Meniriskan masakan dan menyimpan di atas piring yang sudah ia hias. Menyimpan di atas meja.
"Silahkan di makan Joehan!"
"Duduk, Chyn. Ayo kita makan bersama. Aku jarang berbagi meja makan bersama seorang wanita. Seringnya berbagi kasur!"
"Dasar m***m!"
Mereka berdua makan masakan Chyntia. Joehan memuji masakan gadis tomboy di hadapannya. Mengajak Chytia melakukan tugas kedua yaitu menemani Joehan ke kantor.
"Ayo berangkat!"
Chyntia sudah sampai di kantor Joehan. Seorang pria berbadan proporsional, manis dan terlihat rapi dengan jasnya.
Chyntia melebarkan matanya setelah mengingat orang itu siapa.
"Hey gadis angkuh, tomboy dan sombong yang tidak mau meminta maaf!" Melambaikan tangan ke arah Chyntia.
Chyntia menepuk keningnya. "OMG. Chyntia, bego sekali kamu, kenapa baru ingat!" gerutunya dalam hati.