BAB 8

1857 Words
Selimut tebal menutupi tubuh seorang gadis yang pikirannya sedang tidak karuan. Tubuh berkeringat, mata tak bisa terpejam, jantung berdegup dengan kencang, bernafas begitu cepat. Terus mengingat momen tadi saat di dapur.  Hampir saja bibir merah nan indah itu mendarat di bibirnya yang dingin. "Sial … pria itu menyebalkan!" teriaknya dalam hati. Chyntia menendang-nendang selimut yang menutupi tubuhnya. Ia meremas selimut dan kembali memikirkan kejadian tadi. "Asal kamu tahu! Aku membebaskanmu dari kepala agensi dan orang yang membelimu itu tidak gratis. Aku bayar dua kali lipat!" ucapnya dengan nada sombong. "Hah …." Menutup mulut dengan kedua tangannya. Nominalnya pasti sangat mahal. Apalagi jika dua kali lipat. Ia tidak bisa membayangkan seberapa banyak uang yang Joehan keluarkan. "Artinya. Kamu sudah aku beli, Chytia!" Joehan menatap dan mendekat ke kursi duduk Chyntia. Gadis itu mundur sedikit dan menyilangkan tangan untuk menutup bagian kedua gunung miliknya. "Kamu takut? Temani malam yang dingin ini. Kamu harus memberikan service terbaik karena aku sudah membayar sangat mahal!" Kata-kata yang membuat Chytia seketika ketakutan. "Lihat!" Menunjuk bibirnya yang berdarah. "Ini pukulan dari orang yang membelimu tadi. Dia tidak mau melepaskanmu. Jadi aku mengancam dia dan memberikan uang yang ia keluarkan dua kali lipat." Joehan mengangkat tubuh Chytia dan mendudukkannya di atas meja dapur. Jantung Chytia terasa seperti akan copot. Baru kali ini dia bertatapan dengan lawan jenis begitu dekat. Selama ini dia bersekolah di sekolah khusus perempuan dan ayahnya sangat membatasi dia untuk berinteraksi dengan lawan jenis. "Ayo obati bibirku yang terluka ini!" perintah Joehan sambil mendekatkan bibirnya pada bibir Chyntia. Aliran oksigen seakan berhenti. Tidak ada nafas yang keluar masuk lagi melalui lubang hidung. Paru-paru seakan berhenti memompa udara. Chyntia membulatkan mata dan memalingkan wajah saat bibir Joehan tinggal satu sentimeter lagi mendarat di bibirnya. Joehan tersenyum dengan respon yang didapatkan dari gadis polos di depannya. "Hey … aku sudah membayarmu!" protes Joehan. "Mana buktinya? Orang aku tidak menerima uang itu sepeserpun! Servic macam apa yang kamu maksud. Aku tidak mengerti!" bantah Chytia. "Mau ku antarkan ke agensi itu lagi? Nanti kamu di jual lagi ke bos-bos lain!" Joehan bersiap mengangkat tubuh Chytia. Dengan panik segera menahan tangan Joehan. "Tidak-tidak. Kumohon! Aku tak mau kembali. Please!" "Tidur denganku maka tidak akan ku antarkan kamu kembali ke sarang singa!" ujar Joehan. Chyntia menyilangkan tangan di depan kedua gunung kembar miliknya. "Ti … tidak mau! Aku tidak pernah tidur dengan pria kecuali ayahku! Kamu mau apa?" Joehan tersenyum melihat kepanikan gadis menggemaskan di depannya. "Hey … kan sudah aku bilang aku sudah membelimu! Terserah aku mau tidur denganmu, mau kujadikan pembantu, mau ku apa-apakan juga kan aku sudah bayar!" Menaikkan sebelah sudut hidungnya. "Ih … dasar sombong! Aku tidak mau …." Menggeleng-gelengkan kepalanya. "Aku teriak minta tolong agar orang diluar sana mendengarnya!" "Silahkan saja! Aku tidak akan takut. Ini rumahku. Kamu yang menumpang. Bisa saja aku bilang ke orang-orang kamu yang malah mau mencuri di rumahku!" Menyilangkan tangan di depan d**a dan menaikkan wajahnya. Chyntia menunduk. "Jangan berani mengotoriku, Joe!" lirih Chytia. "Lalu untuk apa aku membayarmu, Chyn?" tanya Joehan. "Anggap saja aku punya hutang. Nanti aku bayar!" "Kapan? Uang sebanyak itu mana bisa kau bayar dengan cepat! Ayolah … lebih cepat dengan tidur denganku!" Joehan memegang pundak Chnyia.  Gadis itu bergeser hingga ke sudut meja. Joehan mengikuti dan terus berada di depannya. "Tidak mau! Aku masih perawan. Pacar saja tidak punya!" Membulatkan mata menatap Joehan. "Masa iya? Ini Paris Chyn, kamu hidup di zaman dan di negara mana?" "Kamu tidak percaya? Bibir aku saja tidak pernah dicium oleh seorang pria. Bibirku hanya menyentuh pipi ayah dan ibuku saja!" tegasnya. "Coba buktikan kalau kamu masih perawan!" Joehan menantang Chytia. "Dengan cara apa?" tanya Chytia. "Dengan cara tidur denganku lah!" jawab Joehan dengan santai. "Ngaco. Hanya untuk suamiku saja! Ayah membatasiku, jadi aku tidak pernah punya pacar sekalipun!" Turun dari meja dan duduk di kursi. "Aku tau negara kita negara yang bebas. Tapi hargailah orang-orang sepertiku!" Joehan tertawa dan Chyntia mengerutkan dahi melihat orang yang tadi dengan serius berbicara dengannya sekarang malah tertawa. Padahal tidak ada yang lucu sama sekali. "Terima kasih atas kejujuranmu, Chyn. Aku tadi mengetes saja. Apa benar adanya kamu masih perawan. Berarti memang agensi itu menjual gadis-gadis yang masih perawan!" Chyntia menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal. Apa yang pria di depannya itu maksud. "Begini, Chyntia! Aku tidak menyukai dan tidak pernah tidur dengan gadis yang masih perawan. Aku juga sempat ditawari agensi itu untuk membeli seorang gadis. Sayangnya aku tidak mau dan menolak tawaran itu. Aku bertemu dan menyelamatkan kamu. Akhirnya membelimu dua kali lipat." Duduk di sebelah bangku Chytia. "Sayangnya kamu masih perawan, jadi aku tidak bisa menidurimu. Coba saja kalau kamu bukan perawan. Sekarang pasti kamu sudah mendesah dibawah tubuhku, eh!" Chyntia mencubit pinggang Joehan.  Joehan sedikit menjerit karena kesakitan. "Maaf refleks! Habis kamu menyebalkan. Jadi kalau aku tidak perawan kamu mau tidur denganku, begitu?" Joehan mengangguk. "Dasar pria m***m!" Chyntia memalingkan wajahnya. "Ayo kita tidur. Ini sudah larut malam. Besok pagi akan kuminta asisten untuk membawakanmu baju kesini. Masa mau pakai baju itu-itu saja!" "Tidur di kamar berbeda, kan?" "Iya lah!" Menyentil kening Chytia. "Au …." "Tunggu. Kau pakai kaos dan celana pendekku untuk tidur. Tidak akan nyaman jika tidur belum mandi dan ganti baju. Nanti aku tidak selera menidurimu!" "Tadi kamu bilang tidak mau tidur denganku!" protes Chyntia. "Bercanda, Chytia!" Joehan pergi ke walk in closet untuk mengambil pakaian ganti. "Nih … pakai agar lebih nyaman!" Memberikan kaos dan celana pendek. Meraih baju ganti yang diberikan Joehan. "Terima kasih. Dimana kamar untuk aku mandi dan tidur?"  "Tuh. Di lantai dua, tepat di sebelah kamarku! Jadi, jika aku kedinginan dan juniorku bangun, aku bisa mendatangimu!" "Joehan!" teriak Chytia. "Maaf-maaf bercanda, Chytia! Ayo naik1” ajaknya. Ia melihat langkah kaki Chyntia yang kesusahan karena telapak kaki gadis itu sedikit lecet. Joehan mengangkat tubuh Chyntia dan mendudukkannya di atas kursi. Mengambil peralatan medis dan mengobati kaki Chyntia. Chyntia merasa gugup saat kakinya tengah di pegang dan di obati oleh Joehan. Ia melirik sudut bibir Joehan yang terluka lalu mengoleskan salep. Mereka saling bertatapan hingga beberapa menit saling tidak bisa berkedip. Suara jam di dinding mengagetkan mereka berdua.    Joehan menggendong Chyntia ala bridal style kedalam kamar dan merebahkannya. “Bisa mandi sendiri, kan? Atau mau aku temani di dalam kamar mandi dan memandikanmu agar kaki itu tidak lagi terkena air.” “Tidak usah aku bisa sendiri!” bentak Chyntia. “Yasudah aku permisi! Selamat beristirahat!" ucap Joehan. Kini dia di kamar yang bersih dan hangat, sudah mandi dan sudah mengganti baju. "Sadar Chytia. Jangan sampai jatuh cinta pada pria sombong dan menyebalkan itu," gumamnya dalam hati. "Ini malam pertamaku di rumah seorang pria. Segeralah tidur Chytia. Kamu butuh istirahat." Berusaha memejamkan matanya. ***** Di kamar tidur king size seorang pria yang mengenakan piyama tidur masih membuka mata dan memeluk guling. Memikirkan seorang gadis polos dan cantik. Pertemuan pertama kali saat di lobby hotel. Gadis yang sombong, tomboy dan angkuh. Di malam hari berubah menjadi gadis anggun, polos, menggemaskan dan penakut. "Gadis itu pintar berevolusi" Joehan tersenyum tipis. Ia beranjak bangun dan menuju ruangan pribadi. Memencet tombol dan masuk melalui ruang sempit. Duduk di kursi nyaman miliknya. Menyalakan benda pipih berbentuk kotak yang tersambung ke papan dengan banyak angka dan huruf. Mengetik sesuatu yang ada dalam otak. Sebuah rencana brilian dan gila. Tanpa pinggir panjang akan memperdaya seseorang. Joehan melirik sebuah benda pipih berwarna hitam. Kartu memori yang berisi rekaman CCTV kejadian saat tragedi yang menyeramkan dalam hidupnya.  Menatap dan memutar kartu memori itu. "Kapan akan berakhir. Aku belum tenang jika belum menemukan keberadaan orang yang menjadi pembunuh sebenarnya!" Seorang gadis mengeluarkan tas besar dan berpenampilan seperti anak laki-laki. Melemparkan tas itu dari jendela kamarnya. Ia lalu keluar perlahan dari jendela. Menutup kembali jendela itu dan pergi mengendap-ngendap di pagi hari. "Yes. Aku berhasil kabur!" Memberhentikan taksi dan pergi ke suatu tempat favoritnya. Melangkahkan kaki keluar dari mobil taksi. Menghirup udara segar. Merasakan angin yang berhembus kencang. Membuka sepatu dan berjalan tanpa alas kaki. Memijakkan pada pasir yang empuk dan terasa hangat pada kulit. Beralih ke bagian yang basah dengan ombak-ombak kecil. Merasakan dinginnya air laut yang berwarna biru. Pantai yang indah dan sangat terlihat menawan. Hari ini ia ada acara untuk melakukan pemotretan. Saat berjalan-jalan di mall tempo hari i berkenalan dengan seorang photografer dan mengajak dia untuk menjadi modelnya. Seseorang mengagetkan ia yang tengah melamun. "Hey … Chyntia kan? Ayo kita ke lokasi pemotretan!" ajaknya. "Iya. Kita sudah berjanji waktu itu. Ayo!" Mengikuti langkah oria yang ada di hadapannya. "Kita akan melakukan sesi foto dengan tema eksplor keindahan alam dan tempat wisata disini. Kamu akan menjadi model dalam setiap gambar banner dan brosur tempat wisata ini." "Ayo kita mulai. Aku sangat bersemangat!" Chyntia berganti baju. Mengenakan pakaian pantai. Tubuhnya terlihat sexy dengan kulit yang sangat mulus. Berpose di setiap sudut dan tempat menarik. Bersama model lain berakting seperti halnya seorang pengunjung yang menikmati keindahan alam dan fasilitas yang ditawarkan di tempat wisata itu. Sebuah mobil berwarna hitam berhenti tepat di depan hamparan pantai. Seorang pria paruh baya keluar dari mobil itu. Menyandarkan tubuhnya sembari berdiri memperhatikan seseorang. Gadis yang ia tunggu sudah selesai melakukan sesi foto. Berusaha pura-pura tidak melihat pria yang sedari tadi memperhatikannya. Ia bergegas mengganti baju dan mencari jalan lain untuk pergi. Langkahnya terhenti saat seseorang memegang telinga dia dengan kencang. "Au … sakit!" Menoleh ke arah orang yang menjewer telinganya. Gadis itu tersenyum. "Ko bisa tahu ada disini?" tanyanya. "Tahu. Tas kamu papah tempelkan pelacak!" "Maaf ya, Pah! Tolong lepasin telingaku!" "Ayo ikut papa pulang!" Menarik paksa lengan gadis itu. Mereka sampai di rumah. Gadis itu berlari mencari ibunya. Memeluk erat tubuh wanita paruh baya yang masih terlihat sangat cantik di usia yang sudah tidak lagi muda. "Mah. Ini telinga ku merah dijewer papah!" "Mana, Sayang?" Memeriksa telinga putrinya yang terlihat berwarna merah. Pria paruh baya masuk kedalam rumah. "Pah. Jangan kasar gitu. Kasihan anak kita. Dia berhak main atau keluar sesuka hatinya  mengejar cita-cita dan hobi. Mumpung masih muda." Ibu itu sangat memanjakan anak gadis kesayangannya. "Masih mending di jewer. Coba kalau papah cambuk dia di depan umum. Dia boleh menginginkan apa saja. Akan papah belikan. Tapi, tidak boleh menjadi model, artis atau hobi kabur-kaburan seperti ini. Berinteraksi dengan orang luar yang tidak dikenal. Papah ingin dia kuliah dan meneruskan bisnis kita, Mah!" "Kasihan dia, Pah!" Mengelus lembut rambut putrinya. "Jangan terlalu keras padanya!" Gadis itu memeluk erat tubuh ibunya. "Bela aku, Mah!" "Hei, kamu juga harus mengalah dan mengikuti kemauan papah. Papah selalu menuruti keinginan kamu. Tapi tidak untuk hal itu. Berbaiklah pada papahmu. Ambil hatinya agar ia menuruti keinginanmu lagi!" "Ide bagus!" Sudah beberapa hari ia dikurung dan berdebat dengan sang ayah. Saling beradu pendapat dan tidak mau ada yang mengalah. Ia kini di rumah merasa sangat bosan. Ia berpikiran untuk kembali kabur sebentar untuk menghirup udara segar. Mengendap-ngendap dan memakai pakaian laki-laki. Akhirnya ia berhasil kabur tanpa satu orangpun mengetahuinya. Berjalan-jalan sesuka hati. Main ke swalayan dan membeli jajanan di sepanjang jalan. Benda pipih dari sakunya berbunyi sangat kencang. Terlihat pada layar ponsel sebuah panggilan masuk dari nomor yang tidak dikenal. Ia menggeser tombol hijau dan menempelkan ponsel pada telinganya. "Hallo. Ini siapa?" "Bisa anda ke rumah sakit? Orang tua anda sekarang dalam kondisi kritis!" Ia segera memberhentikan taksi dan menuju rumah sakit. Mencari keberadaan orang tuanya ke semua ruangan di IGD. Menanyakan pada suster yang tengah berjaga. Ia lalu pergi ke ruangan yang sunyi dan terasa dingin menunggu sebuah tindakan untuk menyelamatkan nyawa orang yang sangat ia cintai. Tepukkan di bagian pundak menyadarkan dia. Terperanjat bangun dan memperhatikan segala arah. "Aku dimana?" tanyanya. "Apa kau lupa? Semalam kau menginap di rumahku." Berusaha mengatur nafas. Syukurlah … aku kira di—" Perkataannya terputus. "Kamu mimpi buruk?" tanya pria yang kini duduk di pinggir kasur. "Sepertinya iya!" "Sudah sadarkan sekarang?" "Kenapa?" "Ini …." Menyerahkan sebuah kertas dan pulpen. Gadis itu mengerutkan dahi. Membaca apa yang tertera di kertas putih dan ada sebuah tempat untuk dia menandatangani surat tersebut.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD