BAB 7

1737 Words
Darah segar keluar dari sudut bibir pria tampan dan menawan. Ia usap perlahan darah dengan jempolnya. Seseorang menarik kerah kemeja berwarna putih itu. Saling melempar tatapan tajam. "Oh. Ini rupanya orang mengambil wanitaku?" Melemparkan salivanya ke sembarang arah. Joehan tersenyum tipis. Seringai iblis keluar dari wajah tampannya. "Apa kau seorang suami dan mencari istri yang hilang? Lantas kenapa berani mengklaim dia itu wanitamu lalu memukulku!" "Dimana kau sembunyikan dia? Dia hanyalah wanita yang sudah aku beli!" Menarik kerah kemeja Joehan hingga wajah mereka berdekatan. "Hey … santailah tidak usah emosi! Akan ku ganti dua kali lipat! Aku mau wanita itu juga!" Joehan bersikap santai. Melihat kedua pria tengah memperebutkan satu gadis, kepala agensi panik dan berusaha menarik kedua pria itu dengan memerintahkan bodyguardnya agar kedua pria  tidak berkelahi. "Tuan, anda tenang dulu! Tuan Joehan sudah bilang akan mengganti sebesar dua kali lipat, saya mohon anda bernegosiasi dengan kepala yang dingin! Saya masih ada gadis cantik lain untuk anda!" jelasnya. "Aku hanya ingin wanita cantik tadi!" tegasnya sambil membulatkan mata. "Dia sudah jadi milikku!" tegas Joehan. Joehan tidak mau kalah. "Apa kau ingin berkelahi denganku?" Joehan menantang pria yang lebih tua darinya dan melempar tatapan tajam. Joehan tiba-tiba ada ide  "Hey … ingat anak istri di rumah. Aku bisa laporkan pada istrimu. Bagaimana kalau dia tahu dan kau pasti akan diceraikan. Memangnya aku tidak tahu asal usulmu!" Joehan mengancam pria yang ada di hadapannya yang kaya raya berkat mengelola perusahaan keluarga sang istri. "Kurang ajar!" Kembali mendekat dan akan melemparkan pukulan.  Asisten menahan tangan bosnya yang hendak memukul Joehan lagi. "Tuan. Dia bukan lawan yang seimbang dengan anda. Jangan cari gara-gara ayo kita pergi!" bisik sang asisten. "Pembunuh itu kenapa harus di takuti. Malah harusnya dibully." Mengejek Joehan seorang pembunuh. "Jangan seperti itu, Tuan. Meski nama baiknya tercemar. Lihatlah masih banyak investor yang menyukai dia. Ayo kita pergi, masih banyak wanita lain! Saya mohon anda menurut. Ini demi kebaikan kita!" Asisten itu tidak mau bosnya memiliki masalah dengan Joehan dan tidak memiliki investor lagi karena investor banyak yang menyukai Joehan. Pria itu kemudian menghembuskan nafas dan menurut pada asistennya. Kalau di pikir-pikir perkataan sang asisten memanglah benar. "Baiklah. Gadis itu menjadi milikmu!" teriak pria itu pada Joehan. "Oke. Terima kasih, uang akan ditransfer besok melalui asistenku!" Menaikkan sebelah alisnya. "Akhirnya keributan ini berakhir. Modelku memang cantik. Sampai di perebutkan dua pria tampan dan kaya raya! Terima kasih Tuan-tuan!" ucap kepala agensi. "Saya permisi!" ucap Joehan lalu berbalik badan dan berjalan kembali ke parkiran mobil. Benda pipih kecil berwarna hitam dengan tombol bergambar gembok ia tekan. Mobil berwarna hitam dan bersih berkilau berbunyi dan lampunya menyala. Seorang perempuan yang ada di dalam tertidur pulas. Joehan membuka pintu dan memeriksa gadis itu. "Hey. Bangunlah!" Menepuk pelan pipi gadis yang berkulit putih mulus. Joehan khawatir gadis ini pingsan karena tidak ada respon. "Hey. Nona … segeralah bangun! Kau bebas!" teriak Joehan sampai membuat gadis itu kaget. Gadis itu terperanjat dan terbangun dari tidurnya. Berusaha menyadarkan diri. Mengusap kedua mata bergantian. "Ah … maaf aku ketiduran! Hari ini sangat lelah sekali! Apa katamu tadi? Aku bebas?" Joehan mengangguk. "Terima kasih atas bantuanmu, Tuan!" Gadis itu menundukan badannya memberi hormat pada Joe.  "Kenapa bibirmu berdarah, Tuan. Apa anda sudah berkelahi demi menyelamatkan saya?" Gadis itu menebak dan sedikit percaya diri. "Ini hanya luka kecelakaan saja tadi, orang yang membelimu memukul wajahku!" "Maafkan saya merepotkan, Tuan." Memperhatikan luka dan merasa bersalah pada Joehan. "Tidak. Sana pergi, kau kan sudah bebas!" Joehan mengusir gadis itu dari mobilnya. "Ta … tapi …. Aku—" Perkataannya terpotong oleh Joehan. "Sanah pergi! Aku akan pulang. Ini sudah malam." Gadis itu melepaskan jas Joehan dan turun dari mobil. Kepalanya menunduk dan berjalan tanpa alas kaki. Sesekali melirik ke arah mobil Joehan yang melaju meninggalkan dia sendiri di jalanan kota.  Berjalan dengan hati-hati karena takut kakinya menginjak sesuatu yang tajam. Melirik ke kanan dan ke kiri. Ia hanya membawa tas kecil di balik gaun yang berisi identitas diri. Uang ongkos untuk taksi saja tidak punya. Tempat tinggal juga tidak ada. Melihat tempat duduk di halte bus yang kosong, ia langsung duduk dan memeluk lututnya. Memeriksa telapak kaki yang sedikit lecet. Berharap ada orang yang ia kenal lewat dan menolong. Tapi siapa yang akan menolongnya, sahabat tidak ada, orang tua juga tidak ada. Hidup hanya sendirian. Orang-orang yang lewat dan menunggu bus melihat dia dengan iba. Memakai gaun yang sedikit kotor dan bertelanjang kaki. Orang gila bukan, gelandangan bukan, tepatnya yatim piatu dan baru diusir dari kontrakannya. Malam semakin larut, angin semakin kencang. Rasa dingin menusuk dan masuk ke pori-pori. Bulu kuduk seakan semua berdiri.  "Kemana aku harus pergi, yah! Aku rindu papah dan mamah!" Menitikkan air mata. Menghitung detik demi detik. Berharap pria baik tadi kembali untuk menjemputnya. Seseorang memperhatikan dia dari jauh dan enggan untuk mendekat. Gadis itu melihat dan menggelengkan kepalanya. Joehan yang dalam perjalanan menuju rumah melamun sepanjang perjalanan. "Kenapa aku tega sekali. Harusnya antarkan dulu gadis itu pulang, minta nomor telponnya dan berkenalan. Aku terlalu gugup tadi!" Memukul stir mobil. Merasa menyesal tidak mengantarkan gadis tadi pulang  "Gadis tadi tidak mengenakan alas kaki. Bagaimana nasib kakinya, yah!" "Shittt … aku harus kembali. Ini sudah larut malam dan angin sangat kencang. Pasti dia kedinginan. Semoga gadis itu tidak menghilang. Joehan membanting stir. Mengubah jalurnya untuk kembali. Ia ingin mengantarkan gadis itu pulang dengan selamat. Pandangannya terarah ke semua arah. Mencari gadis yang mengenakan gaun yang manis dengan rambut yang terurai panjang. Ia melihat sosok itu di tempat duduk halte bus. Sedang menunduk dan terlihat memeluk lutut seperti seorang yang kedinginan dan kesepian. Setelah lumayan lama menyendiri dan melamun. Mobil hitam mewah terparkir tepat di depan halte bus. Seorang pria keluar dari mobil dan membawa jasnya. Udara sangat terasa dingin dan menusuk ke pori-pori. "Kasihan sekali gadis ini pasti kedinginan." Joehan memasangkan jasnya pada gadis yang tengah melamun menatap dia. "Hey … jangan melamun. Ayo ikut aku!" Joehan merangkul gadis yang diam tanpa kata yang keluar dari bibir manisnya. Gadis cantik yang sedari tadi kedinginan, sedih dan melamun sekarang duduk di mobil mewah dengan penghangat yang sudah menyala. "Dimana rumah kamu?" tanya Joehan sambil menginjak pedal gas. Gadis itu menoleh dan menggelengkan kepalanya. Membuat Joehan mengerutkan dahi. "Kenapa?" Joehan kebingungan. "Aku tidak punya rumah!" jawabnya singkat. "Jika tidak punya rumah. Selama ini tinggal dimana?" Joehan penasaran. "Di kontrakan!" jawab gadis itu singkat. "Ayo aku antar kamu pulang ke kontrakan!" "Aku sudah diusir tadi pagi! Sekarang bingung akan tinggal dimana." Gadis itu menundukkan kepalanya. "Kenapa di usir? Maaf akan rasa keingintahuanku. Maaf juga tadi aku mengusirmu!" Joehan memberanikan diri mengusap puncak kepala sang gadis dengan lembut. Gadis itu menitikkan air mata. "Aku tidak punya keluarga, tidak punya rumah dan tidak punya apa-apa. Hanya hidup sebatang kara! Tadi pagi aku di usir karena sudah lama menunggak. Barang-barangku di titipkan di tempat bos agensi. Dia menerimaku dan mengiming-imingi gaji tinggi untuk membeli tempat tinggal jika aku mau menjadi modelnya." "Bagaimana ceritanya kamu mengenal orang itu? Kenapa tidak mencari tahu terlebih dahulu asal usul agensi itu." Joehan penasaran. "Aku pernah tampil dalam naungan agensi kecil. Agensiku menyarankan aku untuk pindah dan ikut pada orang itu. Memberitahukan jika gaji yang mereka berikan lebih besar dan peluang untuk menjadi terkenal dan menjadi bintang juga cepat. Aku tidak pikir panjang. Sangat membutuhkan uang. Jadi aku langsung bergabung." Joehan menghapus air mata di pipi gadis yang terlihat sangat sedih. "Maaf membuatmu menangis!" "Maaf karena merepotkan mu, Tuan! Sepertinya ada penginapan kecil di dekat sini. Tuan bisa mengantarkan aku sampai sana. Tapi … bagaimana jika kepala agensi itu mencariku dan menjualku lagi?" Gadis itu menggigit ujung jari kelingkingnya. "Tidur di rumah aku saja! Masih banyak kamar kosong untuk kamu tinggali!" Perkataan itu membuat sang gadis senang sekaligus cemas. "Apa anda tidak keberatan, Tuan? Memang jika tinggal di tempat anda aku merasa aman. Tapi aku tidak nyaman karena terus merepotkan, Tuan." "Jangan banyak berpikir. Sudah ikuti saja perintahku!" Bibir gadis itu tertutup rapat. Ia enggan untuk bertanya dan berbicara. Joehan melakukan mobilnya lumayan kencang menuju kompleks perumahan mewah. Rumahnya terletak paling depan dan paling besar. Chyntia yang sudah tidur sebentar tadi tidak bisa memejamkan mata saat perjalanan. Ia khawatir Joehan akan berbuat yang tidak-tidak kepadanya. Rumah mewah dengan halaman yang sangat luas, dominan berwarna hitam dan hijau. Mobil-mobil terlihat terparkir rapi di garasi, gerbang dibuka dengan remote control. Halaman hijau yang luas. Tembok pagar tidak terlalu tinggi jadi orang lain bisa melihat halaman rumah sang pemilik. Joehan memarkir mobil di dekat mobil antik miliknya. "Ehm …." Joe menyadarkan gadis yang duduk disebelahnya. "Ayo turun. Kita sudah sampai! Selamat datang di rumahku!" Joehan membuka pintu mobil dan berjalan meninggalkannya. Gadis itu bergegas menyusul Joehan dengan langkah yang tak selebar pria itu. Melirik ke kanan dan kiri, memperhatikan rumah yang begitu mewah ini. "Hey. Ayo masuk!" Joehan lama menunggu langkah kaki sang gadis. "Kamu lelet sekali!" "Maaf!" Gadis itu berlari masuk ke dalam rumah. Isi rumah itu sangat mewah sehingga ia tidak bisa berkedip. "Seperti yang baru lihat rumah mewah saja!" "Ya kan aku tidak tinggal di rumah semewah ini. Tidak bocor saja juga sudah bersyukur, Tuan! Ditemani suara tikus dan dinginnya malam.” "Apa kau sudah makan?" tanya Joehan yang dibalas gelengan kepala. "Ayo ke dapur akan ku buatkan makanan yang enak-enak!" "Memangnya Tuan bisa masak?" tanyanya penuh keraguan. "Bisa ko. Ayo!" Joehan membawa gadis itu ke dapur. Ia merasa kasihan dan ingin membuatkan makanan. Joehan mengambil semua bahan yang ada di dalam kulkas. Ia akan membuat omelette. Mencuci semua sayur. Mendekatkan semua bumbu. Memanaskan wajan dan mulai mengoleskan minyak. Memecahkan dan mengocok telur. Memasaknya di wajan yang sudah panas. Beberapa menit kemudian, omelette sudah jadi. Joehan menuangkan di atas piring. "Ayo makan! Aku buatkan yang simpel saja!" "Terima kasih, Tuan!" "Jangan panggil aku dengan sebutan itu. Panggil saja aku Joehan. Kenalkan namaku Joehan Moeres!" Joehan mengulurkan tangannya. Gadis itu membalas jabatan tangan Joehan. "Siapa namamu?" tanya Joehan. "Namaku Chyntia, Tuan. Eh … maaf Joehan!" Menggigit ujung jemarinya. "Apakah sopan aku memanggil orang yang lebih tua dariku dengan sebutan itu?" "Tidak apa-apa, santai saja! Ayo makan omelettenya. Jarang sekali aku masak untuk orang lain!" Dengan ragu ia meraih sendok dan mengunyah masakan Joehan kedalam mulutnya hingga omelette itu habis tak tersisa. "Kamu lapar atau doyan?" tanya Joehan yang senang masakannya habis. "Lapar!" jawab Chytia singkat. "Enak?" "Biasa saja!" "Jujur sekali gadis ini!" Joehan menyilangkan tangan di depan d**a. "Ayo tidur!" ajak Joehan. "Aku tidur dimana?" Melirik ke setiap pintu. "Disana!" Menunjuk sebuah kamar yang ada di lantai dua. "Di kamarku!" "Hah … yang benar saja. Katanya masih banyak kamar kosong untuk aku tinggal?" Terlihat raut kepanikan pada wajah Chytia. "Asal kamu tahu! Aku membebaskanmu dari kepala agensi dan orang yang membelimu itu tidak gratis. Aku bayar dua kali lipat!" jelas Joehan. "Hah …." Menutup mulut dengan kedua tangannya. Nominalnya pasti sangat mahal. Apalagi jika dua kali lipat. Ia tidak bisa membayangkan seberapa banyak uang yang Joe keluarkan. "Artinya. Kamu sudah aku beli, Chytia!" Joehan menatap dan mendekat ke kursi duduk Chyntia. Gadis itu mundur sedikit dan menyilangkan tangan untuk menutup bagian kedua gunung miliknya. "Kamu takut? Temani malam yang dingin ini. Kamu harus memberikan service terbaik karena aku sudah membayar sangat mahal!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD