Jantung Joehan berdegup dengan kencang. Ia memegang dadanya dan mengusap dengan lembut.
"Kenapa dengan hatiku? Apa aku harus membeli gadis itu agar dia selamat? Ah masa bodo. Siapa dia kenapa aku memikirkannya. Kenal saja tidak!" gerutu Joehan dalam hati.
Joehan masuk ke dalam sebuah lift. Menundukkan kepalanya karena perasaan dia sedang tidak enak.
Pikirannya memikirkan gadis cantik dengan mata indah yang ia tatap tadi saat menyelamatkan gadis itu ketika hampir terjatuh.
Ia mendengar suara hentakan kaki yang mengarah semakin dekat dengan posisinya.
Seorang gadis berlari menuju lift yang masih terbuka. Deru nafasnya tidak beraturan, jantung berdegup begitu kencang. Keringat membasahi pipi. Berlari terus menerus hingga ia tidak mendengar orang mengejarnya lagi. Seorang pria yang menunduk lalu mensejajarkan pandangannya melihat gadis yang tengah berlari ketakutan menghampiri dia yang ada di dalam lift dan pintu lift hampir tertutup semua.
Joehan memencet tombol agar lift kembali terbuka. Gadis itu masuk dan duduk di lantai lift yang dingin. Joe menutup pintu lift dan tidak ingin dulu bertanya pada gadis itu. Menunggunya agar lebih tenang. Dua orang pria terlihat mencari seseorang. Untung saja lift sudah tertutup.
Joehan tidak pulang bersama Brian. Sesuai janjinya tadi. Brian dibolehkan untuk pulang ke hotel untuk tidur bersama dengan gadis bayaran.
"Yakin tidak mau ikut?" tanya Brian untuk memastikan bosnya malam ini tidak mau tidur dengan menghangatkan kasur terlebih dahulu atau tidak.
"Sudah ku bilang beberapa kali. Aku tidak ikut, Bri! Kamu mau tanya berapa kali lagi?" Joehan mengerutkan dahi dan memajukan kedua bibirnya.
"Siapa tau berubah pikiran dan mempertaruhkan gadis tadi! Sungguh kalian seperti di sinetron saja! Pemeran pria menolong sang gadis yang akan terjatuh lalu mereka berdua saling bertatapan. Asiikk …!" Brian menggoda Joehan.
Joehan memukul kepala Brian lumayan keras.
"Auuu … apa salahku?" Brian berteriak kesakitan.
"Kamu dari tadi buat aku emosi!" Joehan menatap Brian dan berbicara dengan ketus.
"Bukan emosi, tapi cemburu! Benar tidak?" Brian terus menggoda Joehan.
Joehan mengepalkan tangan dan bersiap memukul Brian lagi.
Melihat sahabatnya emosi, Brian berlari meninggalkan Joehan sendirian.
"Dah … pria jomblo yang susah move on!" Mengibas-ngibaskan tangannya.
Brian langsung pergi ke hotel yang orang tadi beritahukan kepadanya.
Joehan merasa kasihan kepada gadis yang ada di hadapannya ini. Ia melepaskan jas yang ia pakai.
Sang gadis mengatur nafas agar lebih tenang. Pikirannya memikirkan kejadian tadi saat semua model sudah berganti baju dengan baju pemberian agensi. Gaun pendek dengan pundak terbuka yang saat ini ia kenakan.
Semua dikumpulkan dan di suruh mengikuti dua bodyguard yang menuntun masing-masing model.
Ia merasa aneh sekaligus khawatir, keadaan sangat mencurigakan saat satu persatu rekan model pergi dan dalam pengawalan. Otaknya langsung berpikir bahwa ini seperti penjualan manusia. Ia juga sempat menguping akan hal itu.
"Ada apa ini? Tugas kami sudah selesai. Mengapa kami dibawa satu persatu?" protes gadis itu.
"Jangan banyak tanya. Kalian akan mendapatkan uang yang banyak serta ketenaran!" teriak kepala agensi model yang menaungi gadis itu.
"Aku tidak mau!" teriak sang gadis. Gadis lain ikut panik.
"Jangan membantah. Ini demi kebaikan kalian." Berteriak untuk menakut-nakuti para gadis.
"Alah. Omong kosong. Lepaskan kami semua!" Gadis itu berontak
"Kami lepaskan setelah menghibur bos-bos besar yang sudah membayar kalian semua!" Menyilangkan tangan di depan d**a.
"Kalian mau jadi artis besar bukan? Maka serahkan kesucian kalian pada mereka!"
"Tidak mau!" protes sang gadis.
"Cepat bawa dia. Awas jangan sampai lepas!" perintah kepala agensi pada bodyguardnya.
Gadis itu diseret pergi untuk ke tempat bertemu orang sudah membelinya.
"Tolong …." Gadis itu berteriak meminta tolong tapi sayangnya mall itu sudah sepi, hanya gadis-gadis model yang masih berada di tempat itu.
Gadis ini tidak tinggal diam. Dia tidak mau pasrah begitu saja.
Saat bodyguard mengawalnya, dia beralasan untuk pergi ke toilet.
"Pak. Saya ingin buang air kecil!" Ia mencari alasan untuk kabur.
"Bohong kamu!" Salah satu bodyguard menatapnya dengan tajam.
"Tidak, saya benar-benar ingin. Masa iya saya nanti kencing di celana?" Menggelengkan kepala dan memegangi bagian bawahnya agar bodyguard itu percaya.
"Awas saja jika berbohong. Kami akan mencambuk mu!" ancam pria berbadan kekar dan berkulit hitam.
Pintu toilet dijaga. Sekarang saatnya ia berpikir bagaimana cara terbebas dari dua orang yang sedang menjaganya di pintu masuk.
Tidak ada pintu lain. Hanya pintu tadi jalan utama untuk ia kabur. Ia lepaskan sanggul pada rambutnya agar sedikit tidak di kenali. Melepaskan high heels yang ia kenakan agar ia bisa berlari dengan kencang. High heels sangat mengganggu langkahnya.
Ia menutup pintu-pintu toilet. Menyalakan air di wastafel lalu berdiri dibalik pintu utama. Ia berteriak meminta tolong agar semua bodyguard masuk. Setelah semua pria berbadan kekar masuk karena mencari dia yang meminta pertolongan, gadis itu langsung pergi lewat pintu utama. Berlari sekencang-kencangnya untuk kabur dengan kaki yang telanjang. Kedua bodyguard mengejar gadis itu hingga ke dekat lift. Kini ia khawatir saat membuka pintu lift nanti, mungkin saja kedua bodyguard sudah menunggunya di bawah.
Joehan menunduk dan mendekat. "Anda kenapa, Nona?" Pertanyaan itu tidak mendapatkan jawaban.
"Nona … Nona,!" Tetap tidak mendapatkan jawaban.
Pandangan sang gadis kosong. Joehan akhirnya menepuk pelan pundak gadis yang ada di hadapannya.
Gadis itu terperanjat dan semakin bergeser ke pojok. Merasa terancam dan panik.
Joe berdiri kembali dan agak menjauh agar gadis itu tidak takut kepadanya.
Gadis berpakaian gaun pendek dengan bagian pundak terbuka itu mendekat dan melingkarkan lengannya di kaki Joehan.
"Tolong saya, Tuan!" Tangan gadis itu bergetar.
"Anda kenapa, Nona? tanya Joehan. Ia menutup tubuh gadis itu dengan jasnya karena cuaca dingin dan pakaian yang di pakai gadis itu sedikit terbuka.
"Saya adalah model pada acara fashion show tadi. Saat hendak pulang ada yang mencurigakan dengan agensi saya. Setiap gadis di bawa bergantian dan masing-masing dalam pengawasan bodyguard. Untuk apa lagi perlakuan itu jika bukan untuk menjual dan dibawa paksa tadi. Mereka juga sempat mengaku memang akan menjual kami. Mengiming-imingi kami dengan ketenaran." Ia menjelaskan dengan terburu-buru dan nafas yang tidak beraturan.
"Tenanglah. Anda saat ini aman bersama saya, Nona." Joehan berusaha membuat gadis itu tenang.
"Tolong selamatkan saya, Tuan. Saya takut. Tangannya semakin bergetar.
Joehan duduk di depan sang gadis. Memegang kedua pundaknya. "Bukankah kau orang yang pemberani. Lantas kenapa harus takut?"
Gadis itu mengerutkan dahi. Merasa bingung dengan kata wanita pemberani. "Dimana-mana saat merasa terancam orang juga bisa takut, Tuan." Ia menitikkan air mata.
"Hey … jangan menangis. Ada aku disini!" Joehan menghapus air mata di pipi gadis cantik berkulit putih.
"Memang anda mau membantu saya?" Menatap mata Joehan yang indah dengan penuh harapan.
"Kamu sangat ingin saya membantu kamu?" tanya Joehan.
Pintu lift terbuka. Wanita itu kembali panik.
"Bagaimana jika kedua orang itu bisa menyusul aku lewat tangga darurat atau lift lain?" Menggigit jari jemarinya.
"Jawab dulu pertanyaanku!"
Gadis itu menoleh ke arah Joehan. "Iya … saya ingin bantuan dari Tuan yang baik dan tampan!"
Joehan tersenyum tipis mendengar kata akhir yang diucapkan gadis polos di hadapannya.
"Baik. Saya akan selamatkan kamu. Tapi kamu jangan kabur dari saya!"
"Iya. Apapun perintah Tuan akan saya turuti jika Tuan menyelamatkan saya!" Menggenggam kedua tangan dan menempelkan pada keningnya. Seakan ingin sekali Joehan menolongnya. "Saya mohon, Tuan!"
Joehan merangkul gadis itu dan membawa ke parkiran. "Kenapa tidak mengenakan alas kaki?" tanya Joehan yang melihat gadis itu bertelanjang kaki.
"Ah … demi bisa berlari, sepatu high heels yang aku kenakan tadi, aku buang!" Menatap kakinya.
Joehan menggendong gadis yang ada di hadapannya ala bridal style.
"Tuan—"
"Diam. Kakimu bisa lecet jika berjalan tanpa alas kaki!"
Joehan membuka pintu dan mendudukkan gadis cantik di dalam mobil hitam dan gagah kepunyaannya.
"Tunggu disini. Bersembunyilah. Aku ada urusan terlebih dahulu!"
"Aku takut sendirian!" Gadis itu menggenggam lengan Joehan.
"Tenanglah. Disini kau akan aman. Aku jamin! Ini mobilku. Bersembunyilah jika ada orang yang mendekat!" Joehan menepuk pundak gadis yang terlihat ketakutan.
Ia meraih botol air mineral yang Joehan biasa sediakan di dalam mobilnya.
"Minum ini! Agar kamu lebih merasa tenang." Memberikan botol minuman pada gadis yang mulai merasa tenang.
"Terima kasih, Tuan. Anda baik sekali!" Meraih botol air yang diberikan Joehan.
Gadis itu kesulitan membuka tutup botolnya.
"Sini aku yang bukakan. Masa tutup botol saja tidak bisa buka sendiri?" protes Joehan.
"Apa anda tidak lihat. Tanganku masih bergetar seperti ini!" Memperlihatkan kedua tangannya yang masih bergetar.
"Ah … maaf! Ini minum!" Menyerahkan botol yang sudah ia buka.
Gadis itu meminumnya dengan cepat hingga tandas.
"Kamu haus atau ketakutan?" tanya Joehan.
"Dua-duanya!" jawabnya singkat.
Joehan tersenyum. "Tunggu disini yah. Jangan kemana-mana. Ingat! Jika ada yang mendekat kamu harus sembunyi. Oke!" Mengacungkan jari kelingkingnya.
"Oke! Jangan lama ya, Tuan!" Mengaitkan jari kelingkingnya dengan jari kelingking Joehan.
"Terima kasih. Aku menunggumu disini, Tuan!"
Joehan mengangguk dan menutup pintu. Tak lupa ia kunci dengan remote control agar gadis itu tidak lepas dari genggamannya.
Berjalan kembali ke ruangan para model berkumpul. Menemui kepala agensi yang menjual gadis tadi.
"Ehm …" Joehan berdiri di belakang kepala agensi itu.
Kepala agensi menoleh. "Eh Tuan. Ada apa anda menemui saya? Apa ada yang bisa saya bantu?"
"Ada. Tapi saya takut anda tidak merelakannya." Menyilangkan tangan di depan d**a
"Apa itu Tuan? Apa anda inginkan gadis cantik yang masih tersisa." tanyanya sambil menunjuk para gadis yang belum terpilih.
"Oh maaf saya tidak suka sisaan!" Menegakkan tubuh dan memasukan tangan ke dalam saku celananya agar terlihat cool.
"Maafkan saya, Tuan. Jadi mau anda apa? Saya harus bantu apa?" Menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal.
"Mana foto gadis-gadis yang sudah sold?"
Orang itu meraih benda pipih persegi panjang miliknya." Ini foto-foto mereka, Tuan!"
Joehan memilih dan menunjuk gadis yang ia tolong.
"Ini. Saya inginkan dia!"
"Ah … gawat. Yang ini kepunyaan bos besar rekan kerja anda. CEO dari perusahaan sebelah!" Kepala agensi ketakutan.
Dua orang bodyguard datang dan berbisik ke telinga Kepala agensi, memberitahukan jika gadis cantik yang mereka kawal kabur.
"Gadis yang itu hilang, Tuan!" jelasnya.
"Aku mau yang itu. Dia ada bersamaku!"
Seorang pria berumur dengan perawakan tinggi besar dan proporsional menghampiri dan menggenggam pundak Joehan. Joehan menoleh dan satu hantaman mendarat di pipinya.
Bug ….