BAB 5

1606 Words
Pria berambut pirang tengah berdiri di depan sebuah bangunan megah yang ia inginkan. Berkeliling ke setiap ruangan hingga ke sudut toilet sekalipun. Semua terlihat rapi, bersih dan tertata. Bangunan bergaya klasik dan mewah sudah di bangun selama tiga bulan. Sudut demi sudut sudah dibuat terlihat sangat menawan. Seakan semua tempat memang pas untuk berfoto dan mengambil gambar. Taman besar di bagian belakang dan atas bangunan. Serta disediakan sebuah landasan untuk helikopter mendarat. Dinding bagian belakang di dekat taman sudah di cat oleh para pelukis jalanan untuk menjadi tempat foto paling terbaik. Lantai mewah yang bisa digunakan untuk berkaca. Kolam ikan besar dan ada bagian ruangan yang bisa melihat ikan-ikan koi lewat di bawah mereka. Pria itu sangat puas menjadi investor Joehan. "Terima kasih telah mewujudkan tempat ini!" Menepuk pundak Joe dan memeluknya. "Terima kasih juga telah mempercayakannya ini semua kepada saya!" Joehan terharu masih ada orang yang percaya kepadanya setelah namanya kotor dengan insiden tiga bulan lalu. "Saya percaya pada Anda. Buktinya ini semua bisa terwujud!" "Sungguh saya sangat berterima kasih! Tanpa Anda saya bukan apa-apa!" "Ayolah. Anda orang yang sangat luar biasa. Saya yakin masalah itu akan segera selesai!" "Terima kasih atas dukungan anda! Mari kita tinggal menikmati pertunjukan malam ini!" "Baik tuan Joe!" Panggung tengah di tata rapi untuk sebuah acara. Malam puncak pembukaan Mall termewah di tengah ibu kota yang merupakan hasil pembuatan perusahaan Joehan. Brian sudah lebih dulu berada di lokasi untuk mengamankan dan memeriksa kembali semua tempat. Membantu tim mengatur tata letak dan dekorasi. Setiap designer tengah sibuk di belakang panggung. Mempersiapkan setiap model dengan pakaian yang mereka bawakan masing-masing. Lebih dari sepuluh designer akan menampilkan karyanya. Mall itu memang dirancang untuk memfasilitasi designer-designer ternama di Paris. Paris memang kota dengan julukan pusat mode dunia. Banyak designer ternama yang lahir dan memiliki nama besar yang mendunia. Malam itu designer membutuhkan banyak model untuk tampil membawakan baju-baju dari mereka. Tak heran kepala acara menambah model dari agensi lain yang kurang ternama tapi terkenal memiliki gadis-gadis yang cantik untuk menambah jumlah model yang akan tampil. Ternyata agensi itu menjual gadis-gadis untuk menemani para bos bermalam di hotel. Jumlah harganya juga fantastis karena menjual gadis yang masih perawan dengan harga yang mahal. Banyak tamu undangan yang hadir termasuk para investor dan petinggi-petinggi dari perusahaan lain. Hiburan demi hiburan di tampilkan untuk menghibur tamu undangan yang datang. Disuguhkan beberapa lagu dari penyanyi ternama dan beberapa tarian dari yang tradisional sampai modern. Acara inti malam itu adalah keluarnya model-model cantik membawakan baju dari para designer. Satu demi satu model berjalan dengan anggun. Memperagakan gaya ciri khas mereka masing-masing dalam membawakan pakaian. Ada yang terlihat sexy dengan gaun-gaun yang menampakkan bagian tubuh, ada juga yang tertutup tapi tetap elegan. Joehan duduk di bangku paling depan. Ada seorang wanita yang menarik perhatiannya. Wanita yang terlihat sangat cantik dan menawan. Terlihat anggun dengan gaun terbuka di bagian punggung sampai ke area pinggang. Berbeda seratus delapan puluh derajat dengan tadi pagi saat pertama kali bertemu. Gadis tomboy dan sombong berubah seperti Cinderella yang cantik dan anggun. Mata seakan susah untuk berkedip. Jantung terasa berdegup dengan kencang. Pikiran seakan mengudara hingga orang yang mengajak ia mengobrol juga tidak ia dengarkan. Wanita itu membuat Joehan susah untuk mengedipkan mata. Susah untuk fokus, susah untuk pergi dari khayalannya. Joehan gagal fokus setelah melihat bagian pundak hingga ke pinggang mulus dengan body yang menggoda. Menelan saliva susah payah dengan gaya encok andalan sang gadis saat di tengah panggung. Senyuman manis serta kedipan matanya menghipnotis Joehan. Banyak sekali model cantik yang tampil, tapi yang berhasil mencuri perhatian Joehan adalah wanita tersebut. "Bukankah itu wanita yang kita temui tadi, Bri? Dia malam ini sungguh cantik sekali!" Menunjuk gadis itu dan mengajak ngobrol Brian sang bodyguard. "Benar, itu dia. Kenapa menjadi cantik sekali. Terlihat muda dan menawan!" Brian kagum dengan kecantikan gadis yang tersenyum dan berlenggak lenggok di hadapannya. "Tebak umurnya berapa? Masih gadis atau tidak?" Joehan mengajak Brian untuk menebak-nebak. "Umur dua puluhan. Seperti dilihat dari kepribadian dia yang seperti tadi pada pria tampan seperti kamu. Dia wanita yang menjaga kehormatannya dan tidak mudah tertarik pada seorang pria." Brian menebak melalui sikap gadis yang rambutnya di sanggul dan disematkan bunga hidup nan indah itu sangat cuek. "Wanita lain pasti akan meminta maaf atau meminta nomorku. Ini malah memarahiku. Wanita ini unik sekali! Aku suka!" Joehan menyangga dagu dengan tangan kanannya. Merasa menyukai sosok wanita tomboy bersikap kasar yang sekarang terlihat anggun dan cantik "Mau aku sewakan dia untukmu? Ah iya … aku ingat! Bosnya menawarkan gadis-gadis perawan untuk di jual pada petinggi dan tamu undangan malam ini. Tengok ke sebelah sana Joe." Brian menunjuk ke arah sebelah selatan ada dua orang pria yang tengah sibuk mengobrol. "Itu bos agensinya!" "Hah … kamu serius? Tega sekali menjual gadis-gadis yang masih perawan. Pasti semua gadis tidak mengetahuinya." Joehan mengira-ngira. "Dia sedang menawarkan pada investor kita tuh! Yakin kamu tidak mau, Joe?" Memastikan Joehan apakah mau mencari wanita untuk menghangatkan kasurnya malam ini. "Aku tidak mau mengotori gadis yang masih perawan! Mereka masih terlihat muda dan polos-polos. Bukan wanita nakal yang selalu ada di klub malam," tegas Joehan. Ia tidak suka mengotori gadis yang masih suci. "Yakin Joe? Kalau wanita itu ada dalam list mereka apa kamu akan membelinya?" Brian menggoda Joehan. "Tidak. Aku lebih suka tidur dengan wanita nakal!" Joehan memalingkan wajahnya. Gadis yang tengah berjalan membawakan bunga untuk designernya itu tersenyum bersama designer di atas panggung. Joehan memperhatikan dari atas hingga bawah. Langkah kaki gadis itu seperti kesusahan karena memakai gaun yang berat. Joehan yang duduk paling depan segera terperanjat dan menolong gadis yang hampir terjatuh. Sepatu high heels yang ia kenakan sangat licin saat di pijakan ke panggung. Membuat keseimbangan tubuhnya menjadi hilang dan hampir terjatuh. Joehan sang pahlawan dengan sigap menahan tubuh gadis cantik yang mengenakan gaun biru yang sangat senada dengan jas hitam dan dasi biru yang ia kenakan. Mereka saling bertatapan. Joehan mengedipkan sebelah matanya dan berbisik, "masih ingatkah padaku?" Gadis itu mengerutkan dahi dan menggelengkan kepala lalu berbisik, "bantu aku berdiri, Tuan. Banyak yang memperhatikan kita!" "Ah … iya. Maafkan aku!" Joehan membantu gadis itu untuk kembali berdiri dan merapikan gaun yang ia pakai. “Terima kasih!” Gadis itu kembali tersenyum dan berjalan ke belakang panggung. Semua orang memandang ke arah Joehan dan gadis cantik yang ia selamatkan. Joehan segera kembali ke tempat duduknya dan menghampiri Brian. "Apakah hatimu berdegup kencang?" Brian menyentuh d**a bidang Joehan. Joehan menepis tangan Brian dan berkata, "apa-apaan kamu, Bri? Aku hanya menolong dia saja. Tidak akan membuat hatiku berdegup kencang!" "Wajahmu memerah Joe!" Brian menunjuk wajah Joehan. Joehan refleks menyentuh wajahnya. "Hahahaha …." Brian tertawa melihat sahabatnya dengan refleks menyentuh wajah. Padahal dia hanya berbohong. "Joe. Aku hanya bercanda. Wajahmu tidak memerah, ko!" Brian mengusap wajah Joe dengan sapu tangannya. "Jahil sekali kau, Bri. Awas ya! Sanah kamu saja yang tidur dengan wanita-wanita itu. Aku tidak mau pulang denganmu!" Memalingkan wajahnya. "Ya sudah aku mau satu. Kamu tidak?" Melirik Joehan dengan mata yang menggoda. "Aku mau wanita yang tadi jika ia di jual." Menaikkan kedua alisnya. "Jangan! Aku bayarkan gadis untukmu asal yang lain!" Joehan terlihat panik. "Kau cemburu! Baiklah aku akan tidur dengan wanita lain. Yakin kamu tidak akan menghangatkan kasur dan membuat keringat malam ini?" Brian kembali menggoda Joehan. "Tidak, Bri. Harus aku ulang berapa kali lagi kalau aku tidak suka tidur dengan gadis yang masih suci?" tanya Joehan. "Mungkin sepuluh kali. Baiklah! Jangan ganggu aku malam ini yah!" pinta Brian. Malam ini ia ingin bersantai dan bebas tugas. "Oke!" Joehan menyetujuinya. Brian menghampiri bos agensi model yang tadi menawarkan gadis-gadis untuk menghangatkan kasur malam ini. "Tuan. Tadi anda menawarkan sesuatu pada saya bukan?" tanya Brian untuk memastikan. "Iya Tuan. Apa anda tertarik?" Orang itu bertanya balik pada Brian. "Saya mau satu!" jawab Brian. "Mari saya tunjukan foto-fotonya." Orang itu mengajak Brian untuk ke tempat sepi dan memperlihatkan foto-foto semua gadis yang akan ia jual malam itu. "Ini semuanya gadis yang masih perawan? Apa anda yakin?" "Yakin! Semuanya masih polos dan perawan, Tuan. Saya jamin uang kembali jika saya menjual yang sudah tidak perawan lagi." "Waw … sungguh menarik. Mana foto-fotonya?" Brian melihat satu persatu dan pandangannya tertuju pada gadis tadi. "Ini gadis yang cantik. Aku mau yang itu!" "Mohon maaf, saya sudah menjual dengan harga tinggi pada CEO dari perusahaan lain yang merupakan tamu hadirin malam ini!" Brian tidak bisa memilih gadis itu lagi. "Anda pilih saja yang lain, Tuan." "Mmm … padahal aku inginkan yang itu. Tapi ya sudahlah. Tidak apa-apa jika yang lain!" Brian akhirnya memilih gadis lain untuk menemaninya malam ini. Ia berjalan dan menghampiri Joehan yang tengah mengobrol dengan rekan kerja yang lain. Brian mendekat ke telinga Joehan dan berbisik, "ada berita penting untukmu!" "Apa sih? Aku sedang sibuk. Lihat aku sedang mengobrol dengan mereka?" Joehan tidak menoleh pada Brian. "Iya aku paham. Tapi ini genting Joe. Gadis itu dalam bahaya. Ia juga dijual malam ini dan ada orang yang sudah membelinya ketika aku memilih dia untuk menemaniku." Brian menjelaskan dan ingin tahu respon Joehan. "Sudah ku bilang jangan pilih dia kan. Hah … apa? Ada orang lain yang sudah memilih dia? Berarti dia juga di jual?" Joehan menoleh dan membulatkan matanya. "Nanyanya satu-satu Joe!" Brian menyilangkan tangan di depan d**a. Ia suka respon Joehan saat ini. "Jawab Bri!" Joehan terlihat marah. "Dia ada dalam list gadis yang di jual, lalu ada orang yang sudah membelinya. Kemungkinan sebentar lagi mungkin gadis-gadis akan di bawa ke hotel. Aku juga sudah disediakan kamar oleh orang itu!" Joehan mengepalkan tangan mendengar gadis yang mencuri pandangannya itu juga ikut di jual malam ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD