BAB 4

1514 Words
Gadis berambut coklat akhirnya mau keluar rumah setelah selama tiga bulan mengurung diri di kamar, jarang makan dan selalu menangis mengingat masa-masa indah dahulu. Ia memandang foto seorang pria tampan. Menitikkan air mata. Dadanya terasa sesak dan sakit. Ia lalu meraih benda kecil berbentuk kotak dan berwarna coklat. Pergi ke halaman dan berdiri di depan tong sampah. Menggesekan pelatuk korek api dan membakar foto itu sampai habis tak tersisa. Asap dan api terlihat dari dalam rumah membuat seorang pria keluar menghampirinya. "Kamu sedang apa?" tanya pria berambut hitam mengagetkan sang gadis. Ia menoleh lalu tersenyum. "Kak. Aku habis bakar sesuatu." Membersihkan kedua tangannya. "Kamu jadi hari ini mulai pergi? Yah … kakak sendirian disini." Sang kakak dari gadis itu menundukkan kepalanya. "Hanya sementara. Tunggu aku tiga bulan saja. Setelah itu aku akan kembali!" "Awas kalau kamu tidak tepati janji. Kakak akan bawa kamu pulang kembali dengan paksa!" Mencubit hidung adik kesayangannya. "Janji?" Mencangkup wajah sang adik dengan kedua lengannya. "Janji, Kak." Memeluk erat tubuh kakaknya. Sungguh berat rasanya terpisah dengan adik semata wayangnya. Gadis itu sangat bersikeras dan tidak mau mendengar omelannya. Semua ingin ia lakukan sendiri tanpa harus dibantu oleh orang lain. Ia sempat menawarkan bantuan tapi gadis itu hanya ingin semua dilakukan oleh tangannya sendiri. "Jaga diri baik-baik. Kakak ingin merasakan masakan kamu dulu! Baru boleh pergi yah!" bujuk sang kakak. Ia sengaja bermanja-manja agar adiknya lebih lama di rumah. Meminta dibuatkan makanan agar gadis itu mau makan bersamanya. Sang kakak khawatir sang adik tidak mengisi perut terlebih dahulu sebelum pergi meninggalkan rumah. Setelah sekian lama akhirnya gadis itu kembali ke dapur. Menyentuh peralatan yang dulu sering ia gunakan bersama dengan ibunya. Ia membuka kulkas dan memilih bahan makanan yang akan ia buat untuk makan bersama sang kakak. Akhirnya ia memutuskan untuk memasak sandwich. "Mungkin ini saja. Sarapan simple!" Tersenyum dan meraih semua bahan. Mencuci sayuran yang akan ia gunakan. Memecahkan telur dan mengocoknya lalu ia tuangkan di wajan. Memotong roti dan memasaknya bersama telur tadi. Memotong tomat dan daun selada bokor. Menyiapkan saus dan mayonaise. Setelah dirasa sisi bawah sudah matang dan panas, ia balikkan dengan spatula agar sisi lain juga ikut matang. Setelah dirasa kedua sisi sudah matang dan terlihat berwarna kecoklatan. Menata daun selada bokor dan tomat di atasnya. Menuangkan saus dan mayonaise. Ada bahan yang dirasakan kurang. Sudah lama ia tidak memasak jadi melupakan sesuatu yang menjadi pelengkap. Mengambil beef di dalam kulkas, memotongnya dan memanggang bersama irisan bawang bombay. Setelah dirsa masak dengan aroma yang harum, barulah ia tuangkan di atas semua bahan yang sudah jadi. "Ayo sarapan kakak!" Berteriak memanggil kakaknya. "Tidak usah berteriak. Kakak disini dari tadi."  Karena serius memasak, tidak menyadari bahwa sang kakak sejak tadi memperhatikan dia yang asik dengan dunia masaknya. "Kakak senang melihat kamu yang terlihat bahagia ketika sedang memasak!" "Maaf aku tidak sadar kakak disitu!" "Ayo kita makan. Baru kamu boleh pergi!" ajak sang kakak. Setelah menghabiskan dua sandwich. Gadis manis yang berpakaian tomboy itu meraih sebuah ransel berwarna hitam dan bersiap untuk pergi ke suatu tempat. "Ucapkan dulu selamat tinggal!" teriak sang kakak. Sang adik yang sudah melangkahkan kaki menuju pintu menoleh dan menghampiri kakaknya. Ia melupakan sesuatu. "Dah … baik-baik disini, yah!" Mencium pipi sang kakak. "Hati-hati, yah!" Mencium pipi sang adik. Hanya ciuman seorang adik dan kakak. Terasa sangat berharga dan membuat hati pria itu berdegup dengan kencang. Yang ia harapkan adalah ciuman dari seorang kekasih. Hingga saat ini yang ia dapatkan adalah ciuman sebagai saudara. Sebuah ranjang hangat beralaskan sprei berwarna putih dengan selimut yang tebal terlihat menutupi dua tubuh yang sedang beradu dibalik selimut. Selimut bergoyang seirama dengan orang yang ada di dalamnya. Ranjang seakan bergoyang mengikuti gerakan ayunan demi ayunan, guncangan demi guncangan orang yang berada di atasnya. Saling bertukar keringat, bertukar saliva dan bertukar cairan kental dari bagian bawah tubuh. Sepulang dari klub malam, keduanya mabuk dan menjadikan hotel sebagai tempat beristirahat. Setelah terlelap tidur dan bangun di dini hari, kedua insan itu saling menatap dan membuat keringat. Tanpa basa basi dan pikir panjang membuka semua pakaian yang menutupi tubuh mereka. Olahraga pagi di atas ranjang yang empuk tanpa sehelai benangpun menutupi tubuh keduanya dilakukan. Tanpa ada jarak mereka saling berdekatan. Bagian demi bagian tubuh sang wanita sangat terlihat menggoda. Membangunkan junior pria itu pada dini hari. Keduanya mulai dari ciuman hangat dari bibir hingga bagian bawah. Hingga akhirnya saling beradu untuk saling memuaskan masing-masing. Tidak ada yang mudah menyerah sebelum keduanya tumbang di atas kasur. Saling beradu kekuatan dan saling mengalahkan. Tidak ada bagian yang terlewat. Semua seakan di cap dan di cicipi. Jejak kepemilikan berhamburan di tiap tubuh masing-masing. Entah sudah beberapa kali keduanya merasakan di titik pelepasan. Wanita ini membuat pria itu seakan baru menemukan berlian. Belum ada yang sanggup menemani dan mengimbanginya selama itu. Keringat sudah sangat membasahi sprei dan kasur. Peraduan itu tidak sadar mereka lakukan tanpa sebuah pengaman. Keduanya saling merasakan kehilangan nafas karena beradu tak henti dan tanpa jeda. Hingga tiga kali merasakan keluarnya cairan bening kental yang terasa hangat membasahi bagian bawah tubuh dengan sangat amat banyak. Sang wanita mengambil tissue dan mengeringkan miliknya. Pergulatan itu sudah ia rasa cukup dan tak ingin meneruskannya lagi. Matahari sudah bersinar terang hingga kamar hotel yang gelap menjadi terang. Wanita dari klub malam yang tidak diketahui namanya ini tersenyum lebar dan berbisik. "Kali ini tolong pergi dengan kata permisi terlebih dahulu! Jangan main tinggalkan uang dan pergi dariku!" "Maksudnya?" Sang pria mengerutkan dahi. "Malam itu anda pergi tinggalkan saya dengan sejumlah uang di atas meja. Memangnya saya wanita bayaran, hah?" Melepaskan pergulatan mereka dan menutup tubuhnya dengan selimut. "Apa anda lupa wajahku? Terlalu banyak wanita yang anda tiduri, jadi anda amnesia." Menertawakan pria di sampingnya. "Saya ingat! Itu tiga bulan yang lalu. Kita bertemu lagi!" Joehan berhasil mengingat wanita yang menghangatkan kasurnya dan ia tinggalkan tiga bulan lalu sebelum kejadian buruk yang mencemari nama baiknya. "Dasar pelupa! Jika ingin pergi ucapkan dulu terima kasih dan salam perpisahan. Sudah sana pergi!" Mengibas-ngibaskan tangan dan memalingkan wajah. "Jadi, saya di usir? Berapa yang harus saya bayar untuk malam ini?" Meraih dompet dan pakaian yang berserakan di lantai. "Tidak usah. Saya juga punya banyak uang! Bayar saya dengan menjadi kekasih anda. "Terima kasih Nona sombong. Mohon maaf untuk itu tidak bisa. Siapa nama anda?" "Lusi. Kalau nama anda? Aku cukup cantik dan kaya raya jika di jadikan kekasih. Aku tidak butuh uang!" sanggahnya. "Joehan. Saya tidak ingin memiliki kekasih. Saya harus segera pergi Nona Lusi!" Lusi menaikkan sebelah sudut hidungnya. "Dasar pria yang doyan main-main dan tidak mau diajak serius. Padahal dia bisa jadi menantu dari ayahku yang kaya raya!" Menutup seluruh tubuh dengan selimut dan kembali untuk tidur. Joehan tersenyum setelah mendengar gerutu sang gadis. Ia meraih benda pipih di atas meja untuk menghubungi seseorang. "Hallo. Segera kesini dan jemput aku. Apa kamu juga menginap disini? Oh ya … tolong bawakan obat yang seperti biasa!" "Iya, Joe. Sebentar lagi aku akan ada di depan kamarmu dan membawa obat itu!" Benar saja, seorang pria yang Joe hubungi tadi langsung datang dan mengetuk pintu. Menyerahkan sebungkus obat yang Joe minta. Joe mengambil gelas dan mencampurkan serbuk obat itu dengan air. Menepuk dengan pelan pundak gadis itu agar terbangun. "Setidaknya kalau kamu tidak mau di bayar, ayo minum ini!" Memberikan cangkir dengan air yang berwarna kecoklatan. Bangun dari tidurnya dan melihat cangkir yang dibawa Joehan. "Apa ini?" tanya gadis itu lalu meraih cangkir pemberian Joe. "Itu minuman kesehatan untuk daya tahan tubuh. Ayo minum!" Tanpa curiga gadis itu segera meminum obatnya hingga tandas. Yang joe berikan adalah obat untuk menggagalkan benihnya tumbuh di perut sang gadis karena pergulatan tadi dilakukan tanpa pengaman. "Ini, terima kasih!" Menyerahkan gelas kosong pada Joehan. Joehan berpamitan pada Lusi dan segera keluar dari kamar. Mereka berjalan bersama menuju ke depan hotel, ada sebuah acara yang akan diselenggarakan di hotel itu jadi banyak orang yang berlalu lalang. Seorang gadis berjalan dengan tergesa-gesa karena ia sudah terlambat. Bos yang melihat kedatangan gadis itu segera mengomelinya. "Jam berapa ini?" "Maaf saya telat!" membungkukkan badan. "Saya terima kamu untuk menjadi model karena wajah kamu cantik. Masa hari pertama sudah telat!" "Maaf, Pak! Saya tidak akan mengulanginya lagi!" Menundukkan kelapa enggan menatap orang di depannya. "Untuk hukumannya, kamu bawa semua itu sendiri!" Ia lalu berjalan dengan kerepotan membawa kostum yang sangat banyak. Tidak sengaja menabrak Joehan dan menjatuhkan semua barang bawaannya. Gadis itu adalah seorang model yang akan tampil dalam fashion show nanti malam. Ia kerepotan membawa semua barang dan baju yang akan dipakai oleh dia dan rekan-rekannya nanti malam. Berjongkok dan mengambil semua barang bawaannya. "Kalau jalan lihat-lihat!" Menaikkan sebelah sudut hidung dan menatap pria yang ada di hadapannya. Merasa pria itu yang salah bukan dia. "Maaf Nona, anda yang jelas-jelas menabrak tuan saya," jawab bodyguard Joehan sambil membantu mengambil semua barang itu. Joehan diam saja dan memandang gadis manis yang menabraknya. Menyilangkan tangan di depan d**a. "Saya tidak menabrak anda Nona. Sebaiknya anda mengucapkan maaf." Menaikkan sebelah alisnya. "Ish … orang jelas-jelas bukan saya yang menabrak. Sudah ah … malas berurusan dengan kalian!" Ia sudah mengambil semua barangnya di bantu oleh Brian, berdiri dan pergi meninggalkan kedua pemuda itu tanpa meminta maaf. "Kenapa pagi ini aku bertemu dua wanita sombong?" Mengusap rambutnya. "Kenapa, Joe?" tanya Brian. "Tidak apa-apa, Bri! Hanya saja pagi ini sial sekali." Menggelengkan kepalanya. Wanita tomboy yang terlihat sombong itu berlari cepat karena ia sedang ditunggu oleh semua crewnya, ia sudah terlambat sepuluh menit. "Wanita tadi terlihat sombong sekali." Joehan memalingkan wajah.  "Iya …. Anda tidak apa-apa, Tuan?" "Tidak. Ayo kita pulang," ajak Joehan. Keduanya kembali berjalan bersama menuju parkiran mobil. “Hey, panggil aku Joehan saja!”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD