Pria dengan pakaian seragam hitam, memakai topi, lencana di sebelah kanan dan sebuah pistol yang menempel pada pinggang menuju ke ruangan yang menampilkan layar LED besar dengan gambar-gambar orang atau ruangan di setiap lokasi.
Layar LED menampilkan hasil rekaman selama dua puluh empat jam penuh. Kualitas gambar berbeda-beda tergantung pada jenis yang dipakai.
Polisi merogoh ID card dari dalam dompet. Menunjukkan pada petugas yang tengah berjaga.
"Kami dari kepolisian. Ingin meminta rekaman CCTV di ruangan pertemuan saat ada kejadian penembakkan, Pak. Mohon kerjasamanya!" Polisi berdiri tegak menunggu respon dari petugas keamanan di hotel tersebut.
"Silahkan duduk, Pak polisi. Ada tiga CCTV yang mengawasi ruangan tersebut. Di bagian luar satu kamera bagian dalam ada dua. Anda ingin yang mana?"
"Saya ingin semua dan akan memeriksanya di kantor polisi."
"Silahkan, Pak." Petugas itu memberikan hasil rekamannya pada polisi. "Semoga ini bisa membantu, Pak!"
"Terima kasih!" Polisi membawa benda pipih berwarna hitam yang isinya adalah hasil rekaman CCTV.
Ketika polisi itu memeriksa semuanya di kantor polisi. Hasilnya sangat mencurigakan. Kenapa bagian saat lampu dan listrik mati, semua CCTV ikut mati. Padahal CCTV yang digunakan ini canggih.
Jika mati lampu, CCTV tidak akan berhenti merekam bila hotel menggunakan UPS (Uninterruptible Power Supply) semacam sumber daya atau baterai cadangan yang ditempatkan di DVR. Ada beberapa CCTV yang sumber dayanya berasal dari UPS dan apabila mati listrik, CCTV jenis ini tidak akan ikut padam, melainkan akan padam bila UPS nya habis.
Polisi berpikir keras, kenapa bisa CCTV jenis ini bisa mati saat listrik padam. Mungkinkah ada yang sengaja mematikannya. Atau mungkin UPS yang digunakan habis. Kemungkinan yang sangat logis adalah ada orang yang sengaja mematikannya.
Bangun dari posisi duduknya dan kembali ke hotel bersama rekan yang lain. Berniat ingin melakukan pemanggilan dan mengintrogasi semua petugas keamanan hotel itu.
Polisi menuju ruang keamanan lagi. Melakukan pemeriksaan apakah kejahatan ini memang sengaja direncanakan atau memang terjadi mendadak.
Semua staf yang bertugas kemarin dikumpulkan dan di introgasi satu persatu. Menggali kenapa CCTV mati pada saat mati lampu. Kenapa pada saat kejadian bisa ada senjata di dalam. Padahal semua yang masuk sudah diperiksa terlebih dahulu.
Semua di susun rapi sampai ke akar-akarnya hingga polisi sulit mencari kebenaran. Kejadian ini seperti sudah direncanakan dari jauh-jauh hari.
*****
Seorang pria tengah berdiri memandang kaca. Mengepalkan tangan dan memukul kaca tersebut hingga permukaan mengeluarkan darah akibat terbentur kaca dengan kencang.
Sekarang posisinya seperti roda yang berputar. Bisa di atas dan bisa tiba-tiba berada di bawah.
Dengan cepat berita palsu menguak ke permukaan. Dalam satu malam saja dunia dia bisa runtuh seketika.
Joehan segera membersihkan tubuh dan bersiap ke kantor. Hari ini dia ingin melihat kondisi kantornya.
Diluar Brian menunggu sambil memikirkan kemarin saat di kantor polisi. Polisi meminta satu peluru dan mengambil sidik jari yang ada di pistol kesayangannya.
Polisi melontarkan pertanyaan mengenai keterlibatan dia, berapa lama ia bekerja pada Joehan, seberapa setianya dia pada Joe dan apakah ia melihat orang yang mencurigakan atau tidak. Apa mungkin pria mencurigakan itu adalah pelakunya.
Brian mencurigai seorang pelayan pria yang berdiri dan melayani tamu di dekat Joehan. Lalu sering berdiri disitu.
Ia terus membaca artikel-artikel di internet yang membuat berita tentang bosnya. Ada beberapa wartawan dari media massa yang ia punya kontaknya. Brian menghubungi mereka satu persatu.
"Hallo! Apa kabar, Pak?"
"Hallo ini Brian?"
"Iya, Pak. Tolong hapus berita di artikel anda. Karena bos saya belum terbukti bersalah. Bisa jadi terkena imbas dengan berita ini."
"Boleh. Bisa ada syaratnya."
"Saya akan transfer ke rekening, Bapak! Asal hapus berita itu. Kalau bisa semua yang menyebarkan berita palsu, beritanya hilang dari pencarian internet. Itu bisa merugikan perusahaan kami dan mencemari nama baik bos saya," pinta Brian.
"Baik, asal jumlahnya sesuai!"
"Oke. Saya mohon segera di hapus. Dalam lima menit uang akan sampai di rekening anda!"
"Baik, terima kasih!"
Berkat Brian yang cepat dan cekatan dan berkat wartawan itu juga semua berita palsu yang mencemari nama baik Joehan sudah dihapus dari situs internet.
Brian mendengar suara keras dari dalam toilet. Ia lalu mendekat dan mengetuk pintu.
"Tuan, Joe. Apa anda baik-baik saja tuan? Tolong buka pintunya!"
"Tidak apa-apa, Bri."
Selesai mandi Joe keluar dari toilet dan membersihkan darah dengan kain kasa di dalam kotak obat.
"Tangan anda kenapa, Tuan?" Brian khawatir melihat tangan Joehan.
"Hanya kecelakaan sedikit, tolong balut lukaku dengan perban ini!" Joehan meminta tolong.
Brian dengan sigap mengambil kasa steril, cairan natrium klorida. Membersihkan dengan perlahan lalu mengoleskan salep. Membalut luka dengan perban agar luka tidak terkena debu atau kotoran.
"Anda seperti menghantam sesuatu. Apa benar anda memukul kaca, Tuan?" Brian mengira-ngira dari luka yang ia lihat.
"Aku emosi dan tidak bisa mengendalikan diri."
"Mau aku siapkan wanita penghibur untuk malam ini?"
"Boleh. Ide bagus, tapi … lebih baik aku ke klub saja, Bri," tawar Joehan yang dibalas anggukan oleh Brian.
Mereka berdua pergi ke kantor dengan menarik nafas panjang terlebih dahulu. Menyiapkan diri untuk menghadapi kenyataan pahit pagi ini.
Brian yang mengemudi dan Joehan duduk disebelahnya tengah sibuk membaca berita di internet.
"Beritaku sudah hilang, Bri. Ini karena kamu yah?"
"Betul, Tuan. Saya meminta bantuan pada seseorang."
"Kamu memang orang yang bisa diandalkan, Bri. Jangan terus memanggil aku dengan sebutan Tuan. Mana Brian yang dulu adalah sahabatku yang hangat dan tidak dingin. Panggil aku Joe seperti dahulu. Jangan kaku lagi, itu membosankan!"
"Anda bos saya dan kakek anda menitipkan anda pada saya, Tuan."
"Santai saja, Bri. Saya lebih nyaman jika kamu memanggil saya Joehan atau Joe."
"Baik, Tuan. Eh—" perkataan Brian terputus.
"Joehan. Joe!" Joehan berkata dengan tegas.
Sesampainya di kantor. Semua karyawan tengah membicarakan Joehan. Pagi yang cerah mereka gunakan waktu untuk bergosip dan bersantai. Ketika Joehan sampai, mereka panik dan segera memberikan hormat.
Joehan mengerutkan dahi saat mendengar beberapa orang sedang membicarakannya. Berita buruk memang cepat menyebar. Walaupun beritanya sudah di hapus dari internet, tetap saja dibicarakan oleh orang yang telah membacanya dan menyebarkan melalui mulut ke mulut.
Sekretaris Joe menghampirinya. "Tuan, banyak investor yang membatalkan kerjasama pada kita pagi ini. Mereka sudah membaca berita Anda!"
"Tidak apa-apa. Aku hanya ingin bekerjasama dengan orang yang sudah mempercayai dan mengenalku sejak lama, bukan orang yang mudah termakan berita palsu dan mengenalku kemarin sore.
"Baik, Tuan. Ada jadwal pertemuan hari ini bersama investor dari Amerika."
"Mereka tidak memutuskan kerjasama?"
"Tidak, Tuan!"
"Baik. Kapan saya bertemu dengan mereka?"
"Nanti siang, Tuan!"
Siang itu akhirnya Joehan bertemu dengan investor dari Amerika. Mereka sudah biasa bekerjasama. Joehan tidak ditanyakan apapun tentang kejadian yang menimpa dia kemarin. Joehan berpikir mungkin orang ini memang tidak membaca atau mendengar berita buruk tentangnya.
"Anda yakin ingin meneruskan dan mempercayakannya pada saya?" tanya Joehan.
"Ayolah … kita kenal bukan sehari dua hari Joe. Kita sudah saling mengenal sejak lama. Saya tau kinerja kamu. Saya sangat mengenal karakter kamu."
"Apakah Anda tidak melihat berita yang tersebar di internet tentang saya?" Joehan memastikan.
"Saya melihatnya pagi tadi!"
"Investor lain memutus hubungan dengan saya. Kenapa Anda malah tidak mengikuti jejak mereka?"
"Saya sudah bilang kan tadi? Saya percaya, mengenal anda sejak lama dan tahu kinerja Anda seperti apa!" Kembali menegaskan perkataannya.
"Terima kasih Anda tidak mudah untuk percaya dengan berita palsu. Saya benar-benar tidak melakukan hal sekotor itu."
"Saya juga berpikir bahwa Anda dan bodyguard Anda tidak akan melakukan hal sekotor itu!"
"Terima kasih telah bekerja sama dengan kami! Saya akan bekerja lebih giat lagi!"
Saling berjabatan tangan. Joehan bersyukur masih ada orang yang berfikiran baik dan tidak mudah termakan oleh berita palsu.
Kali ini Joehan memenangkan tender proyek pembangunan mall di ibukota. Mall dengan fasilitas lengkap dan akan menyediakan butik-butik dari designer ternama. Pembangunan akan memakan waktu kurang lebih tiga bulan.
Joehan fokus untuk mengerjakan proyek itu dibandingkan dengan kasus pembunuhan yang mencemari nama baiknya.
Dalam beberapa hari, mayat kedua korban di otopsi. Peluru yang tertancap di bagian tubuh korban sudah dipastikan mirip kepunyaan Brian.
Peluru yang terlihat elegan dari pistol colt 1991. Brian dan Joehan akhirnya kembali diperiksa oleh polisi. Terus menerus sampai memakan waktu yang lama. Karena tidak ada bukti kuat lagi.
Menurut keterangan pelayanan. Mereka melihat pistol milik Brian memang ada di tempat pengumpulan barang yang disita. Polisi semakin bingung karena belum lagi mendapatkan bukti kuat untuk memenjarakan Joehan.
Tiga bulan berlalu, belum ada kemajuan dari kasus itu. Joehan berhasil menciptakan impiannya untuk membangun sebuah mall di tengah ibu kota. Investor merasa sangat senang dengan kinerja Joehan.
Dalam beberapa hari kedepan akan ada perayaan pembukaan mall termegah di Paris.
Wanita cantik berambut coklat dengan mata biru indah dan kelopak mata lentik menitikan air mata. Sudah berbulan-bulan ia merasakan kesedihan. Mengurung diri di dalam kamar dan sulit untuk dibujuk makan.
Dimana wanita yang kuat, tegar, mandiri, tidak bisa diam, perfectionist dan bawel. Semua sifat itu sirna saat ia menghadapi kenyataan pahit. Meratapi sebuah foto keluarga yang terlihat sangat bahagia. Dalam foto itu ia ingat bahwa saat sebelum mengambil gambar, ia sempat kabur dan sempat di cari berhari-hari oleh kakak, ibu dan ayahnya.
Mengambil gambar keluarga saat dirinya ditemukan di pantai yang indah. Semua anggota keluarga menyusul ia kesana.
Setelah mengambil gambar. Sang ayah mengomelinya sepanjang rell kereta api. Mengkhawatirkan anak kesayangan yang selalu saja kabur.
Masa-masa indah dulu tidak akan terulang lagi. Ia menyesal tidak menurut dan selalu membantah ayah dan ibunya. Tidak mau menjadi apa yang orang tua inginkan.
Suara ketukan pintu menyadarkan lamunannya. Seorang pria masuk dan mengusap lembut puncak kepala gadis manis itu.
"Ayo makan adik kakak yang cantik. Kamu semakin kurus. Mana adik kakak yang tubuhnya bagus dan bugar. Ayo keluar cari udara segar juga. Lama-lama kamu seperti vampir yang diam di ruangan dan tidak terkena matahari." Kakak wanita itu mengomelinya.
Perlahan ia mau membuka mulut, mengunyah makanan yang disuapi sang kakak.
"Aku merasa anak yang gagal. Tidak pernah menuruti keinginan ayah. Tidak menjadi anak yang diharapkan mereka."
"Sttt … jangan bilang begitu. Kamu anak yang baik. Kaka sayang kamu!"
"Aku akan berhenti mengurung diri di kamar. Tapi kakak jangan menentang keinginan aku saat ini!"
"Apa boleh buat. Terserah! tapi ingat harus menjaga diri, yah!"
Gadis itu mengepalkan tangan dan memukul kasur.