9. Kecurigaan Juniawan

1125 Words
"Papa ...," gumam Berliana nyaris seperti berbisik. "Cepat angkat, Liana. Siapa tahu ada hal memdesak." Berliana mengangguk. "Halo Pah," sapa Berliana begitu telepon tersambung. "Liana, kamu ada di mana?" Terdengar suara berat Juniawan. "Aku ada di kafe bersama Oliver, Pah," "Sayang sekali Papa harus mengganggu kencanmu, Liana. Apa kamu bisa kembali ke hotel sekarang?" tanya Juniawan. Nada suara sang ayah terdengar tenang, tapi Berliana tahu betul jika dibalik ketenangan itu ada sesuatu yang serius. Dia menatap Oliver, lalu menjawab dengan hati-hati, "Ada apa, Pah? Suara Papa kok terdengar nggak enak?" Juniawan terdiam beberapa detik sebelum menjawab, "Papa hanya ingin kamu balik ke hotel sekarang, Liana." "Baik, Pah. Aku balik sekarang," ucap Berliana yang mencoba tenang. Begitu sambungan telepon terputus, Oliver memperhatikan wajah Berliana yang berubah tegang. "Ada apa, Liana? Sepertinya Papa kamu mau bicara serius," tanya Oliver pelan. Berliana meraih tasnya, berdiri tergesa. "Papa ingin aku balik ke hotel sekarang. Kayaknya ada hal mendesak yang ingin Papa bicarakan." "Kalau gitu kita balik sekarang," ucap Oliver dengan nada lembut. Berliana menatap Oliver sejenak, lalu mengangguk. "Maaf kalau jalan-jalan kita harus terganggu." "Oliver tertawa kecil. "Nggak apa-apa, Liana. Jalan-jalan bisa dilanjutkan lain hari, tapi kebersamaan dengan orang tua itu adalah momen yang sangat langka." Berliana terkesan dengan kalimat yang diucapkan Oliver, tak menyangka di balik sikap bercandanya, pria itu dapat mengatakan kalimat yang bijak. Mereka berdua lalu berjalan keluar kafe, angin sore Havana yang lembap menerpa wajah keduanya. Di sepanjang perjalanan menuju hotel, Berliana tidak banyak bicara. Pikirannya kalut, berputar pada Jonathan dan nada suara sang ayah yang terdengar aneh di telepon. Sesampainya di lobi hotel, Oliver memegang lembut lengan Berliana. "Aku langsung masuk kamar, ya. Sekalian mempersiapkan bahan kerjaan selama kita di sini." Berliana berbalik menatap Oliver, lalu tersenyum canggung. "Aku jadi nggak enak sama kamu, Ver. Masa kamu yang kerja sendiri, padahal ini kan proyek perusahaan tempatmu dan aku bekerja." Oliver tertawa kecil. "Nggak masalah aku kerja sendiri, asal pembicaraan kamu dan papamu berjalan lancar. Atau gimana kalau sudah selesai, kamu boleh mengetuk pintu kamarku." Berliana mengangguk, lalu masuk ke dalam lift diikuti Oliver di belakangnya. Pria itu turun terlebih dahulu, sebab jarak kamar mereka menginap dengan kamar Juniawan adalah dua lantai. Begitu pintu lift tertutup, Berliana menatap bayangan dirinya di dinding logam yang mengkilap. Wajahnya terlihat pucat, lelah dan … cemas. Dan ketika pintu lift terbuka di lantai tempat kamar sang ayah menginap, Berliana merasa semakin tegang. Tepat saat berada di depan kamar Juniawan, dia melihat Emilia yang menampilkan raut wajah panik. Sementara Clara hanya berekspresi datar. Begitu melihat Berliana, ekspresi Emilia langsung berubah lega. Dia segera menghampiri dan memegang bahu anak tirinya itu. "Liana, akhirnya kamu datang juga. Semoga kamu bisa menenangkan papamu dan Jonathan yang sedang bertengkar." "Kenapa mereka sampai bertengkar, Tan?" tanya Berliana bingung. "Kalau itu Tante juga nggak ngerti," jawab Emilia setelah menghela napas panjang. Clara yang mendengarkan percakapan keduanya merasa janggal dengan panggilan Tante yang ditujukan kepada Emilia. Namun tak lama sebuah pemahaman melintas dalam otaknya, 'Apa jangan-jangan Tante Emilia adalah ibu tirinya gadis sok polos ini? Jika benar pantas saja Jonathan bersikap posesif kepada dia.' "Kalau begitu aku masuk ke dalam dulu ya, Tan," ucap Berliana sembari memegang handle pintu kamar Juniawan. Begitu melangkah ke dalam kamar, suara teriakan Jonathan terdengar menggelegar dari arah ruang tengah suite. "Kenapa Om melarangku untuk menghajar pria b******n yang mendekati Berliana. Apa Om nggak tahu kalau dia terkenal sebagai playboy kelas kakap?!" Berliana langsung memposisikan dirinya di depan Jonathan, matanya menatap tajam pria itu. "Apa hakmu melarangku berdekatan dengan Oliver? Kamu itu cuma kakakku, Joe. Jadi aku nggak akan membiarkan kamu menghajar Oliver." Keheningan pun tercipta beberapa detik sebelum Berliana kembali berbicara. "Dan satu lagi ... aku nggak peduli sama masa lalu Oliver, karena dia sudah berjanji untuk setia," ucap Berliana tegas. Jonathan terpaku beberapa detik mendengar kalimat itu keluar dari mulut Berliana. Sorot matanya yang semula marah kini berubah menjadi tajam dan penuh kekecewaan. "Setia?" ujar Jonathan dengan nada sinis. "Kamu itu nggak kenal dia luar dalam, Liana. Tapi kamu sudah percaya penuh sama pria seperti itu, sungguh lucu sekali." "Setidaknya Oliver selalu ada di saat aku membutuhkannya, tidak seperti seseorang," balas Berliana cepat. Juniawan yang sejak tadi berdiri di samping keduanya hanya dapat menghela napas berat. "Cukup! Hentikan perdebatan tak berguna ini. Joe, kamu bisa keluar dari kamar ini kalau kamu tidak ingin bicara lagi." Namun Jonathan tampak tidak peduli. Dia malah melangkah maju, mendekat ke arah Berliana. "Sepertinya ada yang sudah dibutakan oleh cinta. Lihat saja, Liana. Cepat atau lambat kamu akan menyesal," ucap Jonathan dengan nada datar. Berliana terhenyak saat mendengarnya, ingin melangkah mundur tak dapat dia lakukan sebab kedua lututnya tiba-tiba gemetar. Efek dari terjatuh kemarin. Melihat tubuh Berliana yang sedikit goyah, Juniawan langsung sigap menahan lengan sang putri. "Liana, duduk dulu. Kamu belum pulih benar," ucapnya cemas. Namun Jonathan yang berdiri tak jauh dari sana justru mendengus pelan. "Kamu masih saja keras kepala, padahal tubuhmu aja belum kuat. Kalau sampai jatuh lagi, siapa yang akan kamu salahkan kali ini? Aku?" "Jonathan!" suara Juniawan meninggi, penuh peringatan. "Kalau kamu masih menghormati aku sebagai suami Emilia, keluar dari kamar ini sekarang juga!" Jonathan menatap pria paruh baya itu dengan rahang mengeras. Pandangannya kemudian kembali pada Berliana yang duduk di sofa, wajahnya tampak pucat dan lelah. Suasana hening sejenak. Yang terdengar hanya napas Berliana yang sedikit memburu dan detak jam dinding yang menggantung di ruangan. Jonathan berbalik dan melangkah keluar, menutup pintu dengan keras sehingga menimbulkan bunyi dentuman keras, membuat sepasang ayah dan anak itu terkejut. Setelah detak jantung keduanya mulai stabil, Juniawan duduk di samping Berliana, menatap mata putrinya yang mulai berkaca-kaca. "Liana. Apa kamu baik-baik saja? Wajahmu terlihat pucat, apa kamu mau makan sesuatu? Biar Papa pesankan," tanya Juniawan. Berliana menggeleng pelan, lalu menatap serius Juniawan. "Aku masih kenyang, Pah. Ngomong-ngomong apa yang mau Papa bicarakan?" Juniawan menghela napas panjang sebelum akhirnya berkata, "Liana, Papa nggak bermaksud bikin kamu khawatir, tapi setelah Papa pikir ... Jonathan ada benarnya juga. Kamu nggak boleh terlalu percaya sama yang namanya laki-laki, termasuk Oliver." "Maksud Papa apa aku harus menjauhi Oliver? Itu nggak mungkin, karena aku nggak menemukan pria selain dia yang tulus sama aku," ucap Berliana yang mulai mengarang alasan. "Apa kamu benar-benar tidak keberatan dengan statusnya yang playboy itu?" tanya Juniawan berusaha menyelami isi hati sang putri. Sejenak Berliana merasa ragu dengan jawaban yang akan dia lontarkan, salah menjawab tak memungkiri jika Juniawan akan mencurigai hubungan pura-puranya dengan Oliver. Juniawan yang menangkap ekspresi ragu Berliana segera berbicara. "Apa ada sesuatu yang kamu sembunyikan, Berliana?" "Nggak ada, Pah," jawab Berliana cepat. Juniawan lagi-lagi hanya dapat mengembuskan napas panjang, dia menatap Berliana dari ujung kepala hingga ujung kaki, seakan sedang menyelidiki sesuatu. "Berliana ... cepat katakan yang sebenarnya, jangan coba-coba menutupinya dari Papa," ucap Juniawan yang membuat peluh Berliana menetes deras.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD