8. First Date

1115 Words
"Apa maksudmu, Joe?" tanya Berliana mencoba terlihat berani di hadapan Jonathan. "Aku hanya mengatakan yang sebenarnya," jawab Jonathan yang membuat Berliana meremang. Oliver yang melihat Berliana mulai terdesak langsung memposisikan dirinya di antara Berliana dan Jonathan. "Kamu tahu sendiri kalau Berliana masih belum pulih benar. Jadi jangan membuatnya stres," ucapnya dengan nada tegas. Jonathan tersenyum sinis saat mendengarnya, "Ada yang mau jadi pahlawan rupanya." "Pahlawan apanya? Aku hanya melakukan sesuatu yang wajar untuk pacarku." Jonathan tersentak saat mendengarnya. Tanpa sadar dia mengepalkan tangannya, bahkan napasnya memburu. Reaksi Jonathan tak luput dari perhatian Clara, dia tersenyum lebar karena merasa mendapatkan kesempatan untuk lebih dekat dengan pria itu. Dia segera berdiri dan memegang lengan Jonathan. "Joe. Aku ngerti kalau Berliana itu adikmu, tapi dia 'kan sudah dewasa. Seharusnya kamu memberikan dia kebebasan." Jonathan menoleh ke Clara yang menampilkan raut wajah simpati."Tapi pria ini playboy, Ra. Aku nggak akan tenang menyerahkan Berliana sama dia." "Joe ... aku mengerti kekhawatiranmu. Tapi apa kamu lupa dengan tujuanmu memanggilku ke mari? Kamu sendiri yang bilang ingin lebih dekat denganku," ucap Clara dengan nada manja. Perasaan Berliana campur aduk saat mendengarnya, di satu sisi dia senang karena akhirnya Jonathan menjalin hubungan dengan wanita lain. Namun sisi hatinya terdalam merasa tak rela. Suara gelak tawa membawa Berliana pada kesadarannya, dia menatap Clara yang sedang tertawa lepas, lalu beralih pada Jonathan yang menatap wanita itu dalam-dalam. Hatinya berdenyut, dia segera menarik tangan Oliver. "Ver. Ayo kita pergi sekarang. Biarkan kakakku bersenang-senang dengan pacarnya." "Oke. Sekalian kita cari sesuatu yang hangat untuk perutmu." Sementara Jonathan melirik keduanya dengan tatapan penuh amarah. Suara Clara selanjutnya hanya terdengar seperti dengungan lebah pada telinganya. *** Dua jam kemudian, keduanya berjalan menyusuri jalanan tua di pusat kota Havana. "Tempat ini indah banget," ujar Berliana sambil menatap bangunan-bangunan kolonial yang berwarna pastel. "Iya. Dan kamu juga terlihat indah di sini," jawab Oliver spontan. Berliana menoleh cepat, memandangi pria itu dengan pipi yang mulai merona. "Pria ini sedang berusaha merayuku rupanya," ucapnya yang berusaha menutupi kegugupnya. Oliver hanya tertawa kecil. "Aku nggak merayu, tapi mengatakan yang sebenarnya. Ngomong-ngomong bagaimana dengan perutmu, Liana?" Berliana menatap Oliver sambil tersenyum. "Perutku sudah tidak apa-apa, tadi kamu lihat 'kan waktu di taksi aku mengunyah obat lambung." "Syukurlah kalau begitu, bagaimana kalau kita ke sana?" tawar Oliver sembari menunjuk sebuah kafe kecil di tepi jalan. Oliver memesankan dua gelas mojito tanpa alkohol. Saat menunggu pesanan datang, Berliana bersandar di kursinya. "Aku nggak nyangka tempat sekecil ini bisa seramai ini," ujar Berliana sambil melirik ke arah beberapa pasangan yang tertawa hangat di meja seberang. Oliver menatapnya lembut. "Havana memang selalu punya cara membuat orang betah. Termasuk aku ... terutama kalau duduknya bareng kamu." Berliana tersenyum samar, tapi segera mengalihkan pandangan saat tatapan Oliver terasa terlalu dalam. "Kamu ini memang suka bicara manis, ya?" Oliver mengangkat bahu. "Hanya kalau lawan bicaraku membuat suasana terasa nyaman." Pelayan datang membawa dua gelas mojito dingin. Berliana mengambil satu, menyeruputnya perlahan. "Segar sekali ... mungkin karena aku butuh sesuatu yang bisa mendinginkan kepala." "Kamu masih kepikiran soal Jonathan, ya?" tanya Oliver dengan hati-hati. Berliana meletakkan gelasnya, menatap permukaannya yang berembun. "Sebagiannya tepat." Oliver menaikkan sebelah alis. "Sebagian?" Berliana lalu kembali menatap Oliver. "Kamu 'kan tahu hubungan kami dulunya seperti apa. Sekarang meskipun kami menjadi satu keluarga, aku kadang ... merasa asing dengannya." "Aku paham maksudmu, Liana. Kalian 'kan terkenal sebagai couple goal di kampus. Banyak iri yang dengan kalian. Dan sekarang kalian adalah saudara tiri ...." Oliver menggantungkan ucapannya, menatap Berliana dengan penuh empati. "Aku nggak bisa bayangin seberapa berat perasaan kamu saat ini." Berliana tersenyum kecut. "Ya meskipun berat, aku harus menerima, Ver. Lagipula yang terjadi sekarang, sebagian besarnya adalah kesalahanku." Oliver mencondongkan tubuh menatap penasaran Berliana. "Kenapa ini jadi kesalahanmu?" "Aku meminta Jonathan menyembunyikan hubungan ini dari orang tua kami, karena merasa belum yakin dengan perasaanku. Ketika akhirnya aku yakin ...." Kali ini Berliana yang menggantungkan ucapannya, tiba-tiba teringat akan tragedi yang menewaskan sang ibu dan ayah Jonathan secara bersamaan. Saat itu ibu Berliana sedang berbelanja dan dihadang kawanan perampok, sedangkan ayah Jonathan yang kebetulan melintas di tempat kejadian menolong. Entah apa yang terjadi sampai kawanan perampok itu melakukan kekerasan hingga nyawa keduanya tak dapat terselamatkan. Oliver terdiam saat melihat Berliana menangis, dia tahu dengan jelas apa yang gadis itu bicarakan. Berita mengenai perampokan dan pembunuhan ibu Berliana dan ayah Jonathan sangat viral 5 tahun lalu. Tidak ada orang di kota asal mereka yang tak membicarakan tragedi itu. Oliver meraih tangan Berliana yang gemetar di atas meja. "Liana, kamu nggak harus menahan semuanya sendirian," ucapnya lembut. Berliana menggeleng pelan, suaranya bergetar. "Kamu nggak tahu, Ver. Setelah kejadian itu ... Jonathan berubah total dan aku seperti nggak mengenalnya lagi." "Kadang dia baik, tapi ada waktu tertentu dia sangat berbahaya," lanjut Berliana lirih. 'Kamu boleh memberikan senyum kepada pria mana pun di luar sana. Tapi ingat satu hal, Liana … hanya aku yang boleh memuaskanmu seperti ini.' Tanpa peringatan suara Jonathan saat mereka bercinta memenuhi pikirannya, membuat Berliana tersentak. Oliver yang memperhatikan perubahan raut wajah Berliana menjadi panik, dia segera mengusap punggung gadis yang terlihat panik itu. "Calm down, Liana. Tarik napas hembuskan. Apapun yang sedang kamu pikirkan ... sekarang buang jauh-jauh." Titah Oliver. Berliana memejamkan matanya, berusaha keras mengikuti arahan Oliver. Nafasnya tersengal, bahunya naik-turun cepat. "Aku … nggak tahu kenapa tiba-tiba bisa kayak gini," gumamnya lirih, nyaris seperti anak kecil yang ketakutan. Oliver menatap iba Berliana. Dia tahu arti tatapan itu, tatapan seseorang yang terjebak di masa lalu yang menyakitkan. "Hey, lihat aku, Liana," kata Oliver pelan. Berliana menatap Oliver dengan mata berkaca-kaca. "Sepertinya kamu memang membutuhkan bantuanku untuk lepas dari pria sakit itu," ucap Oliver yang mencoba bergurau. Namun Berliana hanya diam dan menciptakan keheningan di antara mereka. Suara musik latin dari speaker kafe terdengar samar, menjadi latar belakang keduanya. Berliana akhirnya menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan. "Iya. Dan kamu sudah tahu konsekuensinya saat menjadi pacar pura-puraku 'kan?" Oliver menatap Berliana dengan ekspresi serius, meski senyum tipis masih tersungging di sudut bibirnya. "Aku tahu. Tapi sepertinya hubungan pura-pura ini mulai terasa terlalu nyata buatku." Berliana menatapnya kaget. 'Apa maksudmu?" Oliver bersandar di kursinya, menyilangkan tangan di d**a. "Awalnya aku cuma ingin bantu saat kamu menawarkan hubungan pura-pura ini. Tapi setiap kali kamu lihat aku kayak tadi—" Oliver berhenti sejenak, menatap Berliana dalam-dalam, "aku jadi lupa kalau ini cuma sandiwara." Berliana tercekat, jantungnya berdetak tak karuan. "Oliver … jangan bicara seperti itu. Aku yakin setelah hubungan pura-pura ini berakhir, banyak wanita yang menempel sama kamu." "Kenapa kamu seakan menutup hati untuk pria lain, Liana? Padahal Jonathan saja sudah memiliki kekasih." Berliana terdiam setelah mendengarnya, bingung harus bereaksi apa terhadap pertanyaan Oliver. Keheningan kembali meliputi keduanya sebelum ponsel Berliana berdering, gadis itu memucat saat mengetahui siapa yang menghubunginya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD